Pembalasan Mawar yang Layu

Topeng Kerapuhan

Aku menatap Andrian dengan air mata mengalir. "Kenapa kamu peduli sebesar ini padaku, Adrian? Apa sebenarnya hubungan kita?"

Adrian menghela napas panjang. Dia meraih tanganku yang dingin, menggenggamnya dengan kedua tangannya yang hangat.

 

"Kita pernah bertemu sekali, Aruna. Sepuluh tahun lalu, saat kamu masih duduk di bangku SMA."

 

Aku tertegun. "Apa?"

 

"Kamu tidak mengingatku karena itu hanya pertemuan singkat. Saat itu, aku baru pulang dari luar negeri, menghadiri seminar bisnis di sekolahmu. Kamu adalah siswa yang ditugaskan menjadi pemandu untuk para tamu. Kamu membawaku berkeliling sekolah, menjelaskan setiap sudutnya dengan antusias yang luar biasa. Kamu bahkan membelikan aku kopi dari kantin karena aku terlihat lelah."

 

Aku mencoba mengingat, tapi ingatanku tentang masa SMA sangat kabur—terlalu banyak kejadian yang sudah tertimpa oleh trauma kehidupan pertamaku.

 

"Saat itu, kamu bilang padaku: 'Tuan, kalau Anda lelah, jangan dipaksakan. Istirahat itu bukan kelemahan, tapi strategi untuk jadi lebih kuat besok.' Kalimat itu... kalimat sederhana dari siswi SMA yang bahkan tidak tahu namaku, namun telah mengubah hidupku."

 

Adrian tersenyum tipis, senyum pertama yang tulus yang pernah kulihat darinya.

 

"Sejak saat itu, aku tidak bisa melupakanmu. Aku mencari tahu tentangmu, mengikuti perkembanganmu dari jauh. Saat aku tahu kamu bertunangan dengan Bram, aku hancur. Tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa karena kamu tampak bahagia. Lalu, aku menemukan investigasi tentang ibumu, dan aku tahu... aku harus melindungimu, apapun caranya."

 

Aku tidak bisa berkata-kata. Emosi yang bertubi-tubi menyerangku—kesedihan atas kematian Ibu, kemarahan pada keluarga Dirgantara, dan sesuatu yang hangat namun menyakitkan di dadaku saat menatap Adrian yang berlutut di hadapanku dengan tatapan penuh ketulusan.

 

"Di kehidupan sebelumnya..." bisikku tanpa sadar, lalu terhenti. Aku hampir membocorkan rahasia reinkarnasiku.

 

"Kehidupan sebelumnya?" Adrian mengerutkan kening.

 

"Maksudku... sebelum aku tahu semua ini, aku pikir kamu adalah musuhku. Aku pikir kamu ingin menghancurkan perusahaan Ayah karena serakah. Tapi ternyata... kamu melakukannya untuk menghentikan Bram sebelum dia menghancurkanku sepenuhnya."

 

Adrian mengangguk pelan. "Aku tidak pernah ingin merebut apapun darimu. Aku hanya ingin melindungi apa yang kamu miliki.”

 

Dia berdiri, menarikku ke dalam pelukannya. Aku membiarkan kepalaku bersandar di dadanya yang bidang, mendengar detak jantungnya yang kuat dan teratur—sangat kontras dengan detak jantungku yang kacau.

 

"Tidurlah, Aruna. Besok akan menjadi hari yang panjang," bisiknya sambil mengusap rambutku.

 

Cahaya pagi menyusup melalui celah tirai penthouse Adrian, menyentuh wajahku yang masih basah oleh air mata semalam. Aku terbangun di sofa besar dengan selimut tebal yang menutupi tubuhku—Adrian pasti yang menyelimutiku setelah aku tertidur dalam pelukannya tadi malam.

 

Aku duduk perlahan, kepalaku terasa berat seperti habis dipukuli. Semua informasi yang kuserap semalam—pembunuhan Ibu, pengkhianatan keluarga Dirgantara, perasaan Adrian yang sudah berlangsung sepuluh tahun—semua itu berputar-putar di kepalaku seperti badai yang tak kunjung reda.

 

Adrian berdiri di depan jendela besar, membelakangi ku. Dia sudah berganti pakaian dengan kemeja hitam yang rapi dan celana formal. Tangannya memegang secangkir kopi, namun aku bisa melihat bahunya yang tegang—dia juga tidak tidur semalaman.

 

"Adrian..." suaraku serak.

 

Dia berbalik. Matanya yang biasanya dingin kini tampak lelah, namun tatapannya tetap tajam dan penuh perhatian. Dia berjalan mendekat, meletakkan cangkir kopi di meja, lalu duduk di hadapanku.

 

"Bagaimana perasaanmu?" tanyanya lembut.

 

"Hancur. Marah. Bingung," jawabku jujur. "Tapi juga... lega. Setidaknya sekarang aku tahu musuhku yang sebenarnya."

 

Adrian mengangguk. Dia meraih remote TV dan menyalakannya. Layar besar itu langsung menampilkan berita pagi dengan headline yang membuatku tersentak. "Pewaris Wijaya Group Hilang Misterius Setelah Insiden di Pesta Pertunangan."

 

Wajah Ayah muncul di layar, tampak pucat dan kacau. Di sampingnya, Bram berdiri dengan bahu kanan yang diperban tebal, wajahnya dibuat-buat penuh kekhawatiran.

 

"Putri saya, Aruna Wijaya, hilang sejak tadi malam setelah mengalami serangan panik hebat di pestanya sendiri," suara Ayah bergetar. "Kami memohon siapa saja yang melihatnya untuk segera menghubungi keluarga atau polisi."

 

Kamera beralih ke Bram yang mulai bicara dengan nada yang sangat meyakinkan. "Saya mencoba melindungi Aruna dari pria berbahaya yang menyusup ke dalam pesta kami. Saya bahkan terluka parah saat mencoba menghentikannya. Pria itu... Adrian Atmadja, rivalnya bisnis kami. Saya yakin dia yang menculik Aruna."

 

Aku mematung. Darahku mendidih melihat akting sempurna Bram di layar.

 

Adrian mematikan TV dengan ekspresi datar. "Seperti yang kuduga. Bram sudah memutar narasi. Sekarang aku resmi tersangka penculikan di mata publik dan polisi."

 

"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanyaku, panik mulai merayap.

 

Adrian menatapku dengan serius. "Kamu harus kembali, Aruna."

 

"Apa?!" aku berdiri, tidak percaya dengan apa yang kudengar. "Kembali ke rumah itu? Setelah Bram mencoba membunuhku semalam?"

 

"Justru karena itu," Adrian berdiri juga, memegang kedua bahuku dengan mantap. "Bram pikir serangannya berhasil melemahkanmu secara mental. Dia pikir kamu trauma dan patah. Kita harus manfaatkan persepsi itu."

 

Aku menggeleng keras. "Kamu gila! Dia akan membunuhku lagi!"

 

"Tidak. Jika kamu bermain dengan sempurna," Adrian mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam kecil dari saku jasnya. Dia membukanya, memperlihatkan sebuah gelang perak tipis dengan ukiran mawar yang sangat detail melingkari permukaannya. Gelang itu berkilau redup di bawah cahaya pagi, terlihat seperti perhiasan mewah biasa—namun ada aura berbeda yang terpancar darinya.

 

"Ini bukan sekadar gelang," ucap Adrian sambil mengangkat benda itu dengan hati-hati. "Ini adalah teknologi surveillance tercanggih yang pernah kubuat. Di dalam ukiran mawar ini, tertanam GPS berkekuatan tinggi yang bisa melacak lokasimu hingga presisi satu meter. Ada juga mikrofon directional yang bisa merekam percakapan dalam radius lima meter tanpa terdeteksi alat penyadap biasa."

 

Dia memutar gelang itu, menunjukkan bagian dalam yang memiliki permukaan halus seperti kaca. "Ini adalah sensor biometrik. Jika detak jantungmu melonjak drastis—tanda kamu dalam bahaya nyata—atau jika tekanan darahmu turun tiba-tiba, sinyal darurat otomatis akan terkirim ke ponselku dan timku. Kami bisa sampai di lokasimu dalam waktu kurang dari tiga menit."

 

Adrian mengambil tanganku, memasangkan gelang itu di pergelangan tangan kiri ku dengan gerakan lembut namun pasti. Gelang itu terasa dingin saat pertama kali menyentuh kulitku, lalu menghangat—menyesuaikan suhu tubuhku.

 

"Perak murni di gelang ini juga berfungsi sebagai konduktor energi," lanjut Adrian, matanya menatap langsung ke mataku. "Jika Bram atau dukun hitamnya mencoba menggunakan mantra atau kutukan padamu, logam ini akan menyerap sebagian energi negatifnya dan mengalihkannya. Tidak akan sepenuhnya melindungimu dari serangan spiritual, tapi setidaknya akan mengurangi efeknya hingga 60-70 persen."

 

Aku menatap gelang di pergelangan tanganku. Ukiran mawar itu begitu halus dan indah, seperti karya seni yang mahal. Tidak ada yang akan curiga bahwa ini adalah perangkat mata-mata dan pelindung sekaligus.

 

"Ada satu tombol darurat tersembunyi," Adrian menyentuh salah satu kelopak mawar yang sedikit menonjol. "Tekan ini tiga kali dengan cepat jika kamu dalam bahaya mematikan. Sinyal SOS akan langsung terkirim, dan kami akan mendobrak masuk apapun konsekuensinya."

 

"Bagaimana jika Bram curiga?” Aku menelan ludah. “Bagaimana jika dia memintaku melepasnya?"

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!