Pembalasan Mawar yang Layu

Cermin yang Membusuk

Kematian tidak sedingin yang kukira, tapi ia berbau busuk—seperti dagingku yang luruh hanya dalam semalam.

Aku terbaring di atas lantai semen yang lembap di gudang belakang kediaman megah keluarga Wijaya. Tubuhku, yang dulunya dipuja sebagai "Mawar Ibu Kota," kini tak lebih dari seonggok tulang yang dibalut kulit keriput keabu-abuan. 

Paru-paruku terasa seperti diisi oleh pecahan kaca setiap kali aku mencoba menarik napas. Sakitnya luar biasa, namun rasa sakit di hatiku jauh lebih membakar.

Di lantai atas, suara denting gelas kristal dan tawa renyah bergema. Malam ini adalah perayaan ulang tahun Sheila yang ke-25, sepupuku yang malang, yang selalu kuberikan segalanya—mulai dari gaun rancangan desainer hingga posisi direktur di perusahaan ayahku.

"Aruna? Kamu masih bangun?"

Pintu gudang berderit terbuka. Cahaya lampu dari lorong menusuk mataku yang mulai kabur. Sosok pria jangkung melangkah masuk dengan setelan jas tuxedo yang sangat ku kenal. Itu Bram, suamiku. Pria yang kunikahi dengan janji sehidup semati tiga tahun lalu. 

Di sampingnya, Sheila berdiri menggelayut manja di lengan Bram, mengenakan gaun merah menyala yang sangat kontras dengan gaunku yang sudah compang-camping dan berbau nanah.

"Lihat dia, Bram," Sheila menutup hidungnya dengan sapu tangan sutra, matanya berkilat penuh kemenangan. "Wajahnya bahkan sudah tidak bisa dikenali. Apa menurutmu penyakitnya semakin parah?"

Bram menatapku, tapi tidak ada setetes pun rasa kasihan di matanya. Hanya ada rasa jijik yang murni. "Biarkan saja. Dokter bilang organ dalamnya sudah gagal fungsi. Dia tidak akan bertahan sampai fajar."

Aku mencoba bersuara, tapi yang keluar hanyalah sedu sedan yang serak. Kenapa? tanyaku dalam hati. Kenapa kalian melakukan ini padaku?

Seolah bisa membaca pikiranku, Sheila berlutut di hadapanku, menjaga jarak agar gaun mahalnya tidak menyentuh kulitku yang membusuk. 

"Kamu ingin tahu kenapa kamu jadi begini, Kak?” Sheila menunduk lebih rendah dan bicara lebih pelan. “Itu karena setiap kecantikan, keberuntungan, dan kesehatan yang kamu miliki adalah milikku. Jimat di bawah ranjangmu... itu adalah jembatannya. Kamu menderita agar aku bisa bersinar. Kamu menua agar aku tetap muda."

Sheila tertawa, suara yang dulu kuanggap merdu kini terdengar seperti pekikan iblis. 

"Dan sekarang, setelah perusahaan ayahmu sepenuhnya jatuh ke tangan Bram, kamu sudah tidak berguna lagi. Mati saja dengan tenang di sini, Aruna. Jangan khawatir, aku akan menjaga suamimu dengan sangat... sangat baik."

Bram membungkuk, membisikkan kata-kata terakhir yang menghancurkan sisa-sisa kewarasanku. 

"Terima kasih atas sahamnya, Sayang. Selamat tinggal."

Mereka pergi, mengunci pintu gudang dari luar. Kegelapan kembali menelanku. 

Dalam kesunyian yang mematikan itu, aku merangkak perlahan menuju sebuah cermin tua yang bersandar di dinding gudang. Dengan sisa tenaga terakhir, aku menatap bayanganku.

Wajah di cermin itu bukan wajah wanita berusia 26 tahun. Itu adalah wajah mayat hidup yang berusia 80 tahun. Mataku cekung, kulitku mengelupas, dan rambutku rontok menyisakan kulit kepala yang berdarah. Air mata darah mengalir dari sudut mataku.

Inikah akhir dari Aruna yang terlalu naif? Mati sebagai tumbal dari orang-orang yang paling aku cintai?

Tuhan... jika Engkau ada... beri aku satu kesempatan saja, jeritku dalam diam. Aku bersumpah akan menyeret mereka ke neraka bersamaku.

Tiba-tiba, cermin di depanku bergetar. Retakan halus muncul di permukaannya, mulai dari tengah lalu menjalar ke seluruh penjuru seperti jaring laba-laba. Cairan hitam kental seperti tinta mulai merembes dari retakan tersebut. Bau busuk di gudang itu mendadak hilang, digantikan oleh aroma kemenyan dan darah segar yang menyengat.

Detak jantungku yang melemah tiba-tiba terhenti. Rasa sakit yang luar biasa tadi menghilang, digantikan oleh sensasi dingin yang menyedot jiwaku masuk ke dalam cermin yang pecah.

Aku melihat kilasan balik hidupku berputar mundur dengan kecepatan gila. Pernikahanku... kematian ayahku... hari pertunanganku... terus mundur hingga mencapai sebuah titik cahaya yang menyilaukan.

"Aruna! Bangun! Ini hari besarmu, kenapa kamu masih malas-malasan?"

Suara itu. Suara yang sangat familiar.

Aku membuka mata dengan sentakan hebat. Napas ditarik masuk ke paru-paruku dengan rakus, seolah aku baru saja tenggelam. Aku tidak mencium bau busuk semen lembab. Sebaliknya, hidung ku menghirup aroma parfum melati dan linen bersih yang baru disetrika.

Aku duduk tegak di atas ranjang king size yang empuk. Tanganku gemetar saat aku meraba wajahku. Halus. Kenyal. Tidak ada luka. Tidak ada pembusukan.

Aku melompat turun dari tempat tidur dan berlari menuju meja rias. Di sana, di balik kaca bening yang bersih, seorang wanita muda dengan mata jernih dan kulit secantik porselen menatapku balik. 

Itu aku.

Aruna Tiga tahun yang lalu. 

Tanggal di ponselku menunjukkan: 15 Mei 2024. Hari pertunanganku dengan Bram.

Air mata jatuh, tapi kali ini bukan darah. Aku tertawa di antara tangisku. Takdir benar-benar memberiku kesempatan kedua.

Namun, kegembiraanku terhenti saat pandanganku jatuh pada bingkai fotoku dan Bram di sudut meja. Aku teringat kata-kata Sheila. Jimat di bawah ranjangmu... itu adalah jembatannya.

Dengan tangan gemetar karena amarah yang dingin, aku berlutut dan meraba bagian bawah kolong ranjang yang tertutup kain penutup mahal. Jari-jariku menyentuh sesuatu yang kasar dan dingin. Aku menariknya keluar.

Sebuah bungkusan kain hitam kecil, diikat dengan rambut manusia dan jarum karat. Baunya persis seperti kematian yang baru saja kualami.

"Jadi, ini sudah dimulai," bisikku, suaraku kini terdengar tajam seperti sembilu.

Baru saja aku hendak merobek jimat itu, pintu kamarku terbuka tanpa diketuk.

"Aruna? Sayang, kamu sudah bangun? Kenapa belum bersiap? Bram sudah hampir sampai," suara Sheila kembali terdengar dari ambang pintu, penuh keceriaan yang sangat ku kenal sebagai racun.

Aku segera menyembunyikan jimat kain hitam itu di balik punggungku, memutar tubuh dengan senyum paling manis yang pernah kuberikan padanya—senyum yang akan menjadi awal dari mimpi buruk yang panjang bagi mereka berdua.

Sheila melangkah masuk dengan gaun yang serasi denganku, namun matanya yang tajam tiba-tiba menyipit, tertuju pada tangan yang kusembunyikan di belakang tubuhku. Ia melangkah lebih dekat, aroma parfumnya yang menyengat seolah mencoba menguar bau busuk jimat yang sedang kugenggam erat.

"Apa yang kamu pegang itu, Kak? Kamu tampak sangat pucat... apa kamu merasa kurang sehat?" 

Sheila mengulurkan tangannya, mencoba meraih apa pun yang ada di belakang pinggang ku, tepat saat bayangan cermin di belakangnya seolah-olah bergetar dan retak untuk sekilas mata.

 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!