Pasukan Langit
Segel Gulungan
Nasura tergopoh-gopoh dengan cepat menuju ruang rahasianya. Kancing bajunya bahkan ada yang belum terpasang di bagian bawahnya, dia pun membenahi kancing itu sambil terus mempercepat langkahnya. ’Ada apa lagi ini, sepertinya bahaya!’ pikir Nasura dan dia pun membuka pintu pertemuan rahasia itu.
Nasura masuk, ”Tuan Malam! Dimana anda?” dia menengok ke kanan dan ke kiri, ruangan itu sangat tertutup dan juga hanya terdapat meja, beberapa kursi dan lemari kayu.
Nasura mendekat kearah meja dan dia pun duduk di kursi, ”Tuan Malam pasti tengah pergi lagi, menakutkanku saja sehingga aku sudah buru-buru kesini.”
Nasura bersantai, dia mengangkat kaki kanannya miring ke kaki kirinya.
”Enak sekali kau bersantai!” suara pelan namun penuh dengan ancaman itu membuat Nasura kaget dan hampir jatuh dari kursi. Dia langsung menengok ke samping, dan di sana sudah duduk seorang lelaki yang memakai tudung kepala dan penutup mulutnya. Matanya yang tajam menimbulkan kengerian sendiri pada Nasura.
”Maafkan..,. maafkan saya tuan Malam, maafkan saya. Saya benar-benar tidak menyadari ada anda disini.”
Nasura kaget, sebelumnya tak ada siapapun di ruangan itu. Nasura tergagap, dia benar-benar tidak memahami bagaimana sosok Tuan Malam itu tiba-tiba sudah duduk di kursi, tanpa disadari sama sekali. Kekuatan orang ini pasti mengerikan.
”Kamu harus bersembunyi dan jangan keluar selama Pasukan Langit masih disini. Jangan pernah keluar dari kediamanmu dan jangan temui tamu siapapun itu!” nadanya pelan namun ada ancaman yang membuat Nasura merasa merinding.
”Tapi Tuan Malam, bukankah aku sudah memerintahkan kepada Kepala Blacksmith bahwa jangan pernah membuat senjata pesanan Tuan Malam, selama Anggota Pasukan Langit masih di sini? Dia pasti mematuhi hal itu karena dipikirannya hanyalah senjata dan uang saja. Lalu... kenapa aku juga jadi korban dan tidak boleh....”
Syuuunnnggg! Klaap!
Mata Nasura melotot begitu saja, kilatan senjata seolah memenggal kepalanya. Itu adalah senjata seperti mata pisau yang bergerak terlalu cepat dan ada energi yang melingkupinya. Itu adalah senjata yang tajam dan sudah menembus tembok di belakang Nasura.
Nasura gemetaran dalam duduknya, hampir saja dia pingsan, wajahnya tampak pucat tapi dia tidak berani bergerak. Wajahnya mencoba menengok sedikit, tembok di belakangnya retak oleh sebuah senjata tajam, dan ada benang yang mengikuti kekuatan dari senjata itu.
Senjata itu dikendalikan oleh tangan Tuan Malam. Dengan menjentikkan jemarinya sedikit saja, senjata itu tadi meluncur deras dan menggores sedikit pipi Nasura. Ada tetes kecil darah yang keluar. Dingin rasanya, hal itulah yang membuat Nasura merinding.
”Maafkan..., Maafkan aku Tuan Malam. Aku akan menurut dan tak akan keluar menemui siapapun di kediamanku.”
Tangan dan kaki nasura nampak gemetaran. Tuan Malam menarik kembali senjatanya itu, benang seperti tali halus kecil itu tertarik begitu saja dan senjatanya kembali. Nasura menghembuskan napasnya perlahan, dia merasa lega.
”Kamu masih bernapas hari ini karena kamu masih bermanfaat bagi kami. Jika tidak, nyawamu sudah lama berpisah dari ragamu itu!”
Nasura semakin bergidik dan sedetik kemudian saat Nasura mengedipkan matanya, sosok Tuan Malam hilang tanpa bekas dari pandangan Nasura dan menghilang dari tempat itu. Sosoknya benar-benar menghilang begitu saja, Nasura untuk beberapa saat tak berani bergerak atau berbicara sembarangan. Dia takut kalau Tuan Malam masih di ruangan itu.
Setelah cukup lama, barulah Nasura benar-benar bisa meyakinkan dirinya bahwa kini dia benar-benar sendiri di ruangan itu. Dia pun bangkit, kakinya masih gemetaran. Tangannya mengusap setitik darah akibat serangan tadi. Garis lukanya cukup perih.
Nasura pun mencoba mengerakkan tubuhnya dan berlari meninggalkan ruangan itu. Dia bergegas pergi kembali ke kamarnya dengan cepat.
’Sungguh mengerikan, hampir saja nyawaku melayang. Benar-benar gila!’ pikir Nasura dan segera menutup pintu kamarnya. Dia harus menurut, tak boleh keluar dari kediamannya, bahkan menemui siapapun juga tidak boleh, selama Pasukan Langit masih di perguruan Bangau Emas.
***
Alicia meminta izin masuk ke ruang latihan pribadi, ada tempat memang di Kota Linggar Emas, yaitu tempat latihan khusus untuk murid perguruan dari semua tempat. Alicia hanya tinggal menyewanya saja. Dia juga meminta penjagaan, agar tidak menganggunya di ruang isolasi latihan pencerahan diri.
Alicia membuka gulungan dari Aji, dia membukanya perlahan. Gulungan itu terbuka, ada tulisan di atas gulungan itu.
Gulungan itu tersegel. Artinya, itu adalah gulungan yang hanya dibuat untuk sekali dan seseorang semata. Itu pesan khusus yang disebuth personal skill, itu adalah sebuah sihir untuk menyalurkan sebuah ajaran yang khusus dibuat untuk seseorang semata.
Ini adalah gulungan segel dan personal skill. Artinya, Alicia harus mengalirkan energi ke dalam segel. Energi yang membuka segel akan menyerap skill di dalam gulungan itu. Metode ini hanya dikhususkan bagi mereka yang mempunyai spesifikasi penyihir. Kali ini, Alicis sedikit ragu, apakah sosok Aji bisa dipercaya? Apakah ini benar kekuatan skill dari kakeknya, Yonan. Namun, Alicia juga merasa bahwa Aji adalah orang yang baik dan tidak mungkin menjerumuskannya.
Seseorang yang belum mempercayai sesuatu seperti gulungan segel, maka dia tidak tahu skill apa di dalamnya. Orang bisa salah ketika mengambil skill yang berbahaya bagi fisiknya. Kali ini, Alicia mencoba mempercayai nalurinya. Aji adalah sosok yang baik, dia juga sedang membutuhkan kekuatan agar diakui oleh keluarganya. Dia tidak ingin dijadikan sebagai tumbal bagi perguruan Bangau Emas, dengan menjadi isteri kedua dari Sengturi.
Alicia menaruh gulungan segel di bawahnya, dia duduk di depannya. Tangannya terhulur dan dia menaruh pedangnya di samping bawah kirinya. Energi tipis mengalir ke tangan Alicia dan kerlip cahaya seperti akar-akar yang kecil keluar dari jemari Alicia. Dia menggunakan kemampuan untuk mengalirkan energinya untuk menggabungkan dan membuka segel.
Ini adalah keputusannya!
Akar energi masuk ke gulungan, segel pun terbuka. Cahaya memendar dari gulungan dan gulungan itu pecah menjadi sebuah butiran cahaya yang melayang. Baru pertama kali ini Alicia melihat gulungan segel. Dia memang pernah mendapatkan informasi soal gulungan segel atau personal skill yang hanya bisa diwariskan pada satu orang.
Butiran bulat cahaya itu terbang tepat di depan Alicia. Itu adalah butiran yang hanya bisa diserap oleh seseorang yang membuka segelnya. Tidak ada yang bisa menyerap kekuatan skill itu kecuali mereka yang membuka segelnya.
Aji datang padanya, memberikan amanat dari kakeknya? Apakah ini sungguh nyata? Seperti sebuah hal yang mustahi di saat dirinya terpuruk dan rasa kasihan pada Ibunya. Kini, hadiah dari kakeknya datang tiba-tiba. Apakah ini adalah jalan yang harus dilaluinya?
Alicia mengambil butiran cahaya itu, dia memegangnya di telapak tangan kanannya. Pendar-pendar cahaya kecil menyelimuti butiran cahaya itu. Sungguh indah, tapi di balik keindahannya ada energi skill yang tersimpan. Alicia sendiri belum mengetahui skill apakah yang ada di dalam butiran cahaya itu.
Tidak ada waktu untuk berpikir lama lagi, Alica segera memasukkan butiran energi itu ke mulutnya dan langsung menelannya.
Seketika, tubuhnya gemetaran, efeknya mulai dirasakannya.