Pasukan Langit
Kembalinya Ksatria Kegelapan
Pejuang Jiro menguatkan pukulan kuatnya tersebut. Seluruh kekuatan dan energi sudah dipusatkan pada pukulan tersebut. Pertaruhan ini adalah dengan menggunakan segenap kekuatan maksimal. Siapapun yang menang, itu adalah sebuah hasil yang adil dan Jiro tak akan menyesalinya.
Kepalan tangan Jiro tertahan oleh energi yang terus menyerang dan menyembur ke arahnya. Ledakan energi itu sangat kuat, energi kegelapan yang menumpuk begitu kuat dan mencoba menghancurkan Jiro.
Sulit untuk menembus kekuatan kegelapan sebesar itu, padahal itu adalah serangan jarak jauh dari kekuatan Tora. Sungguh dahsyat, pantas saja dia percaya diri dengan kekuatannya. Jiro bertahan dan terus mencoba untuk masuk lebih dalam dengan kekuatannya.
Splash!
Pejuang Jiro teringat sesuatu apa yang dikatakan Aji, saat dia kalah dalam satu kali pertempuran dengan Aji di Dompai. Saat itulah, Jiro tahu bahwa Aji adalah murid asli dari Pemukul Halilintar.
”Pejuang Jiro,” Aji duduk di hadapan Jiro, ”Kamu kalah dariku bukan karena kamu tidak kuat. Kamu hanya tidak fokus dalam pertarungan, tenagamu masih terpencar dan kamu seolah dibatasi sendiri oleh kekuatanmu itu. Seharusnya, bukan kekuatan yang membatasi diri kita atau pun diri kita yang membatasi kekuatan kita. Seolah kita paham bahwa kita cukup dengan kekuatan sekian dan sekian.”
Aji berdiri dan menatap atap Dompai, ”Jika kamu ingin melampaui kekuatan apapun di dunia, kamu harus bisa membuang semua keterbatasan. Jika kamu bisa melepaskan ikatan batasan dan belenggu yang membuat ragu dalam melangkah. Saat itulah, kamu bisa terbang sampai ke langit. Benar, manusia itu tidak memiliki batasan. Jadi, jangan buat dirimu terbatasi oleh apapun. Kekuatan itu tidak ada batasnya, pejuang Jiro.”
”Aku tahu sekarang maksudmu, Aji!”
Mata pejuang Jiro menyala. Kekuatannya memancar dan seperti api yang berkobar-kobar mengelilingi tubuhnya. Itu bukan kobaran api, melainkan kobaran energi yang menyala dengan sangat kuat dan terang.
Pemahaman pejuang Jiro akan kekuatan bela diri dan internal serta kemampuan penyerapan alam. Semuanya konsen membentuk kekuatan dan penyatuan berganda, lebih cepat dan efektif. Jiro memahami sesuatu yang sebelumnya tidak pernah dia pahami.
Pantas saja dia sulit melakukan terobosan lebih kuat dalam kekuatannya. Itu semua karena dia sebenarnya belum bisa melepaskan jiwanya dari keterikatan. Keterikatan itu membuat batasan tersendiri dalam kekuatan. Kadang, Jiro merasa apakah dia sudah cukup kuat, kadang juga bahwa kekuatannya melebihi dari fisiknya. Kekhawatiran-kekhawatiran itu membelenggu kehendak dirinya sendiri.
Membatasi kekuatan atau membatasi diri sendiri. Itu semua adalah bentuk ikatan, ikatan itu akhirnya lepas. Pejuang Jiro membiarkan semua energi lepas dan masuk dalam tubuhnya. Dia tak lagi memikirkan seberapa banyak dan seberapa besar energinya. Tidak perlu diukur, karena dirinya sendiri adalah kekuatan itu sendiri.
Woosshhh!
Sebuah cahaya muncul di belakang punggung pejuang Jiro. Cahaya sangat menyilaukan berbentuk sebuah jarum cahaya yang besarnya sebesar kayu. Bentuknya seperti kristal bercahaya. Tidak hanya satu, tetapi tiga jarum yang sangat kuat berpendar dan penuh dengan cahaya.
Jarum itu kini seperti sebuah dorongan energi yang berlebih, yang melebihi fisik dari tubuh pejuang Jiro. Sebuah terobosan baru didapatkan oleh Jiro, itu berkat kekuatan dari pemahamannya. Jika tubuhnya tidak bisa menampung kekuatan yang sangat besar, maka dia membutuhkan energi lain yang mampu terhubung dengannya.
Jarum adalah sesuatu yang dipikirkan oleh Jiro, jarum bisa menusuk lebih dalam dan kuat. Jiro menyimpan energi berlebihan yang diserap dari alam ke dalam jarum-jarum yang merupakan wadah dari kekuatannya. Tiga jarum itu akan mengikuti pergerakan Jiro karena tersambung dengan kekuatan dari dirinya.
Suplai energi yang kuat membuat tubuh Jiro dialiri kekuatan bebas yang sangat besar. Tangannya semakin masuk ke dalam serangan energi milik Tora. Jarum-jarum di belakang punggung jiro beresonansi dan saling terikat energi, mendorong kekuatan yang melimpah dan terus tersalurkan melalui pukulan pejuang Jiro yang menembus energi serangan jarak jauh milik Tora.
Weapon Fist Magic!
Seluruh tubuh jiro bercahaya dan dengan kecepatan penuh, ditambah kekuatan melimpah dari tiga jarum di punggungnya yang terus menyerap energi alam. Dia menembus energi besar yang dikeluarkan oleh Tora dan mereka berhadapan dengan sangat dekat. Tubuh Jiro diselimuti defense yang kuat sehingga serangan energi kegelapan Tora dapat ditahannya.
Kekuatan mereka berdua berbenturan dan tak ada lagi jarak. Mereka saling melewati dan srangan kuat mereka akan berakhir dan menentukan siapa yang terakhir berdiri.
Booommmm!
Ledakan energi berdenyut-denyut dengan sangat kuat pada setiap orang yang berada dalam pertempuran besar itu. Energi yang pecah itu seperti gelombang energi dan angin yang saling menghempaskan. Entah siapa yang menang karena pandangan mereka masih terganggu dengan pecahnya energi yang menyebabkan kabut yang cukup tebal. Ditambah, mereka semua juga sedang bertarung dengan musuh masing-masing.
Semua sibuk dengan pertarungannya sendiri. Tora sendiri sudah merasakan hidup yang panjang dan pertarungan tiada henti. Kini, dia bisa merasakan sesuatu yang tidak pernah dirasakan sebelumnya. Bertarung selayaknya ksatria dan bertemu dengan musuh yang kuat. Pertarungan yang adil ini sungguh suatu hal yang membahagiakan jiwanya. Di udara yang penuh dengan pertempuran di sana sini. Tubuh Tora bergetar.
Di sisi belakangnya, pejuang Jiro mengatur napasnya yang memburu. Dia benar-benar kelelahan setelah mengeluarkan kekuatan penuh yang belum pernah dia kerahkan sebelumnya. Tubuhnya belum terbiasa mengeluarkan energi yang sangat besar. Dia benar-benar kelelahan, butuh waktu untuk mengembalikan kekuatannya kembali.
”Terima kasih untuk pertarungan serunya, Jiro. Aku puas dengan hasil pertarungan kita, sudah panjang pertarungan kita dan aku bisa pergi dengan bahagia.”
Tora menatap langit sejenak, dia merasa kesepian selama ini di tempat pengasingan. Menunggu perintah dari Shura. Dia sebenarnya sudah bosan pada kehidupan jahatnya sebagai pasukan kegelapan. Dia menunggu orang yang kuat untuk mengalahkannya dengan jujur dan pertarungan adil.
Pertarungan sebagai ksatria sejati, ahli bela diri. Dulu, Tora adalah pejuang lemah dari sebuah perguruan bela diri kelas tiga yang tidak terlalu dipandang. Dia mempunyai seorang guru yang sangat baik padanya. Dia belajar bela diri dari gurunya tersebut.
Gurunya itu percaya kalau Tora suatu hari akan menjadi seorang pendekar besar dan menjaga perdamaian dunia. Tora kecil berlatih sangat keras dan tekun, dia ingin bisa mencapai ketinggian dan membawa nama harus perguruan bela diri gurunya itu, meskipun itu adalah perguruan kecil.
Saat pertarungan dengan berbagai perguruan bela diri untuk saling berkompetisi. Bahkan, untuk perguruan kelas tiga seperti perguruan dimana Tora belajar. Dia dikalahkan dengan sangat cepat dalam pertarungan satu lawan satu. Tora pulang dan malu pada gurunya, tapi gurunya itu selalu memberinya motivasi.
Tora putus asa dalam berlatih, tapi gurunya terus memberinya motivasi. Hingga, perselisihan perguruan bela diri terjadi. Tora dan gurunya diserang dan perguruan bela diri mereka ingin dimusnahkan dengan perguruan kelas satu dan dua. Guru dan Tora berusaha keras mempertahankan perguruan bela dirinya.
Guru Tora terbunuh, Tora pun ingin membalas dendam. Namun dia dikeroyok oleh murid perguruan bela diri tersebut. Tora pun bersumpah untuk membuat perhitungan dan malamnya. Dia memasukkan racun yang kuat ke dalam sumur di perguruan bela diri itu, dan semuanya mati karena racun itu esok harinya.
Tora pun sejak itu mendapatkan perhatian dari pasukan kegelapan. Dia dibawa menghadap Lord Demon. Lord Demon tertarik karena dendam yang membara pada diri Tora dan mengajarinya banyak teknik bela diri kegelapan. Setelah kuat, Tora menghancurkan banyak perguruan bela diri dan membantai mereka semua. Lalu..., menyerap kekuatan energi mereka setelah membunuh mereka.
Tora semakin kuat dan dia menjadi salah satu dari Sepuluh Iblis Pemusnah. Suatu kali, dia diberikan tugas setelah Shura mengalami luka pada saat pertempuran dengan Tiga Legenda. Tora diminta mengasingkan diri dan bersembunyi di Second World bersama pasukannya.
Dalam pengasingannya, Tora menyadari ada yang salah dengan perjalanan hidupnya. Gurunya selalu berpesan agar menjadi ksatria yang membela kebenaran namun kini dia telah menjadi sosok yang menghancurkan keadilan itu sendiri.
Gurunya selalu percaya padanya, dan sejak itu Tora ingin segera pulang menemui gurunya itu. Pulang untuk kematian, namun ada satu hal yang ingin dilakukannya. Dia ingin mati sebagai seorang ksatria dengan bertarung mencari pendekar bela diri yang kuat yang akan membunuhnya sendiri dan dengan itu dia akan merasa bahagia.
Sejak itu, dia mencari pendekar kuat namun mereka tak sebanding sama sekali dengannya. Atau bahkan mereka bertarung dengan cara mengeroyoknya. Itu bukanlah cara seorang ksatria. Hingga datanglah perintah dari Lord Demon untuk menguasai dunia dan berperang kembali. Saat itu, Tora bahagia, mungkin saja di akan menemukan sosok pendekar kuat yang akan bertarung dengan adil untuknya.
Pertempuran yang pecah itu membuat Tora bertemu dengan seorang bernama Jiro. Para pendekar menyebutnya pejuang Jiro. Adik dari Dasatama sang pemimpin aliansi bela diri seluruh benua. Bertarung dengannya benar-benar mengingatkannya pada dirinya dulu saat menjadi pendekar bela diri.
Sikap sejati dan ksatria dari pertarungannya dan tidak boleh ada yang mengganggu, maka dia adalah seorang ksatria. Prajurit dari Tora pun dilarang ikut campur saat akan membantu Tora. Dia pun mengatakan pada Jiro untuk bertarung satu lawan satu sebagai seorang ksatria. Pertarungan mereka sangat dahsyat, dan Tora menikmati pertarungan itu. Dia pun berharap bahwa pejuang Jiro dapat mengalahkannya sebagai ksatria.
Dia ingin menyudahi perannya di pasukan kegelapan dan ingin bertemu dengan gurunya di alam sana. Dia akan mengatakan pada gurunya bahwa dia telah salah jalan dan dia sudah bertemu dengan ksatria kuat yang meneruskan perjuangannya, dan mengakhiri kehidupannya sebagai seorang penjahat.
Tora sendiri akan bisa pulang dengan tenang, karena sudah bertarung layaknya seorang ksatria dan bukan mati dalam keadaan pertarungan berkeroyok. Dia sudah bertarung dengan adil dan mempercayakan masa depan para pendekar dan keadilan pada orang yang bisa mengalahkannya.
”Ingatlah pendekar Jiro, lanjutkan perjuanganmu dan tegakkan keadilan di dunia ini. Jangan melihat musuhmu dengan kebencian, para penjahat terkadang hanya tidak punya pilihan dan mereka dipaksa untuk menjadi jahat. Aku akan pergi dengan tenang karena para pendekar sepertimu masih ada untuk menegakkan keadilan!”
Wuush!
Tubuh Tora perlahan bergerak dan dia pecah jadi debu-debu hitam, senyuman terakhirnya terlihat dan menatap Jiro hingga pecah dan hilang jadi debu diterpa angin.
Jiro menyadari satu hal, kejahatan memang buruk, tapi lebih buruk adalah mereka yang mendorong manusia untuk menjadi jahat. Lebih memprihatinkan adalah orang baik yang dipaksa keadaan untuk berbuat jahat.