Pasukan Langit
Perebutan Artefak Sudah Dimulai
”Tidak perlu!” Jinho tak ingin membuktikan apapun dari kemampuan Aji, dia paham untuk apa hal itu dibuktikan. Toh, dirinya tidak mau berjuang saat diminta oleh saint Yonan dua puluh tahun yang lalu.
Menurut Gayatri, Aji merupakan sosok yang memiliki kemampuan yang misterius dari warna energi dan juga jenis energinya. Gayatri bahkan tak mampu mengukur kekuatan energi pemuda tersebut. Itu artinya, kekuatan Aji memang mendalam dan Jinho pun menyadari hal itu. Namun, untuk urusan benarkah dia murid dari Tiga Legenda, Jinho tidak mau berkomentar lagi.
”Baiklah, aku tak akan bertanya lagi soal itu. Tapi berhati-hatilah! Kamu tetap harus bekerjasama dengan yang lainnya,” pesan Jinho.
”Tentu saja kakek Jinho.”
Sore mulai tiba, mereka memakai pakaian biasa dan pergi dengan kelompok masing-masing yang sudah dibentuk sebelumnya. Aji dan kelompoknya pergi menuju lautan di sebelah barat Hutan Tulisma. Mereka menaiki kuda dan ketika mencapai pinggir hutan mereka pun turun dan meneruskan perjalanan dengan jalan kaki. Mereka melompati pohon dan melesat diantara dahan-dahan pohon untuk masuk ke dalam hutan Tulisma lebih dalam.
Hutan Tulisma sendiri adalah hutan yang sangat lebat, bahkan merupakan hutan paling lebat di seluruh benua dan hutan terbesar.
Belum lama mereka masuk ke dalam hutan, suasana semakin pekat karena mendung seolah menutupi langit di atas pepohonan. Hujan sebentar lagi turun, mereka sudah mempersiapkan tenda yang dibawa oleh salah satu Pasukan Langit di setiap tim. Mereka bersiap jika memang cuaca memburuk. Mereka juga bisa menemukan celah di sebuah bukit atau gua yang bisa digunakan untuk bersembunyi jika badai datang.
Benar saja, langit gelap semakin pekat dan halilintar menyambar-nyambar. Angin bertiup kencang yang membuat pepohonan seperti akan roboh.
Aji dan kelompoknya sudah bersembunyi di dalam gua, mereka yakin bahwa tim yang lain juga sedang beristirahat baik di goa maupun di dalam tenda. Aji segera duduk sambil bersandarkan dinding goa, dan mengalirkan energi dan mencoba merasakan energi di sekitar hutan Tulisma.
Energi yang disalurkan itu menembus bumi dan menyebar hingga jarak yang sangat jauh. Aji sudah biasa melakukan hal itu dengan pengamatannya. Para anggota Pasukan Langit yang lain pun mereka bersemedi, dan ada yang berbincang memurnikan kekuatan mereka dan menunggu badai berhenti.
Energi yang dikeluarkan oleh Aji seperti akar pohon dan masuk ke semua pori di bumi, dan menyebar dengan sangat cepat hingga ke seluruh tempat di hutan Tulisma.
Aji konsentrasi penuh dan fokus mencapai semua titik pada energi yang menyebar. Dan saat itu, dia mendapatkan penglihatan yang mendalam ke seluruh hutan dan merasakan energi dari semua hal yang berada di atas tanah.
Energi yang dirasakan Aji sempurna dapat dirasakan, betapa banyak energi di atas tanah di seluruh hutan Tulisma. Hutan ini telah menjadi tempat berkumpulnya banyak pendekar dan juga pasukan kegelapan. Meski tidak mengetahui tempat mereka bersembunyi, tapi Aji merasakan energi yang begitu banyak yang mewakili orang yang menyimpan energi tersebut.
Di antara beberapa energi itu, energi kegelapan sangat banyak. Artinya, mereka semua sudah berkumpul di hutan Tulisma ini. Bahkan, ada di antara mereka yang memiliki kekuatan dengan jumlah energi gelap yang tinggi. Itu adalah..., itu pasti mereka!
Aji membuka matanya, ”Pasukan kegelapan telah berkumpul di hutan Tulisma!”
Kalimat Aji itu sebagai peringatan kepada rekan-rekan setimnya. Gayatri dan Alicia menyadari juga kekuatan yang terkumpul di hutan Tulisma. Mereka menyadari adanya banyak energi dari jiwa-jiwa manusia. Namun, perkataan dari Aji bahwa yang dikatakan mereka itu pastilah mereka yang mempunyai pengaruh besar dari kekuatan kegelapan.
Lima Gerbang! Itu pasti mereka. Jika itu benar mereka, hutan Tulisma akan menjadi pertempuran besar. Mereka harus mengirim sinyal kepada yang lain untuk mengabarkan pada pasukan pertahanan untuk mengabarkan situasi ini.
”Apakah itu benar Lima Gerbang, Aji?” tanya Gayatri.
”Siapa lagi kalau bukan mereka, kekuatan mereka besar dan mampu menghancurkan apapun.”
Tujuh orang dalam tim Aji itu menjadi waspada, dan Alicia memberi sinyal dari artefak komunikasinya, dia mengabarkan dengan bahaya komunikasi. Suaranya akan terpantul dari sinyal dan kepada siapa yang dituju.
Alicia mengirimi pesan bahwa Pasukan kegelapan sudah di hutan Tulisma dan bahkan Lima Gerbang. Alicia mengirimi Barsha dan Astro. Mereka terpisah dengan tim mereka masing-masing. Pesan itu meminta mereka waspada, dan jika bertemu dengan mereka maka mereka harus segera memberi peringatan.
Tim Barsha yang berada di hutan dari arah Timur, mereka membuat sebuah tenda. Tanda komunikasi milik Barsha pun menyala dan mendapatkan pesan dari Alicia. Lima Gerbang, artinya memang di hutan inilah Bunga Bulan akan muncul. Barsha meminta Lao untuk merasakan energi dari sekeliling tempat mereka berteduh dari badai yang kencang tersebut.
Lao pun segera mengeluarkan energi dari kedua tangannya, dan menghentakkannya ke tanah. Dia merasakan energinya menyebar hingga radius dua kilo meter menyebar ke setiap penjuru dimana dia berada.
Sejauh energinya menyebar, dia memang merasakan ada energi dari jiwa manusia yang lain, entah itu dari pasukan kegelapan atau dari aliansi bela diri. Namun itu cukup jauh, mereka juga mungkin sedang berteduh.
”Kondisi kita aman, mereka jauh. Namun, kita harus tetap waspada!”
Barsha dapat tenang, dia pun segera mengirim pesan telekomunikasi kepada ketua Yarko, bahwa Hutan Tulisma menjadi tempat bagi para pasukan kegelapan berkumpul. Kemungkinan besar bahwa Bunga Bulan akan muncul di hutan tersebut.
Setelah menyampaikan hal itu, artinya pasti pasukan pertahanan akan segera bergerak. Atau bahkan mereka juga sudah mengirim orang ke dalam hutan Tulisma.
Di sisi lain, kelompok ketiga yaitu kelompok Astro yang bersama kakek Jinho juga mendapatkan pesan dari Alicia.
Mereka bersembunyi di celah sebuah bukit. Mereka sudah melewati air terjun Baikra dan masuk ke hutan melalui areal perbukitan. Saat badai datang, mereka bersembunyi di celah tebing. Kakek Jinho seperti mengerti saat Astro mendengarkan pesan dari Alicia.
”Apakah itu soal Lima Gerbang?” tanya kakek Jinho pada Astro yang membuat yang lainnya segera waspada.
”Benar kakek!”
”Aku juga merasakannya, perang ini tak akan bisa dihindari.”
Halilintar menyambar dan suaranya memekakkan telinga. Mirip dua puluh tahun yang lalu, pertarungan dengan pasukan Lord Demon tak bisa dihindari lagi. Kali ini, kakek Jinho berjanji akan menjadi bantuan bagi para pendekar, untuk berjuang melawan pasukan kegelapan. Dia tidak akan lari lagi.
Beberapa jam kemudian, badai berhenti. Para Pasukan Langit saling memberi sinyal untuk berkumpul di sekitar tengah hutan. Mereka terus mengirim koordinat untuk bertemu. Hari sudah pagi dan karena luasnya hutan mereka masih belum bertemu. Mereka terus bertahan hidup dengan bekal mereka, dan juga mempersiapkan diri jika bertemu dengan musuh yang tak terduga.
Kelompok Aji terus berjalan melewati pepohonan besar, beberapa pohon terlihat tumbang karena badai yang besar. Bekas halilintar sepertinya habis menyambar pohon sehingga nampak ada pohon yang terbakar dan gosong.
Intensitas badai yang luar biasa.
Saat dalam perjalanan itu, mereka melihat suara pertarungan dari jarak yang cukup dekat.
Klang!
Trang!
Klang!
Mereka segera melompat ke atas pohon dan melompati pohon untuk melihat pertarungan tersebut lebih dekat.
Saat mulai dekat, mereka melihat pertarungan sengit tengah terjadi. Itu adalah pasukan kegelapan yang bertarung dengan puluhan murid dari suatu perguruan bela diri. Pasukan kegelapan sekitar 10 orang, tapi mereka mampu mengimbangi pertarungannya melawan 50an orang murid suatu perguruan bela diri.
”Mereka dari perguruan Sinarya Sun. Itu adalah perguruan terkenal dan ada di seluruh benua,” Nagada menjelaskan hal itu. Dia paham dari baju yang mereka kenakan. Perguruan Sinarya Sun sendiri, memiliki perwakilan cabang di setiap benua. Mereka pasti juga mendengar kalau artefak Bunga Bulan akan muncul di hutan Tulisma.
Murid dari perguruan Sinarya Sun dan juga dua orang yang menjadi pemimpinnya, nampak kewalahan menghadapi para pengikut pasukan kegelapan. Pasti mereka bertemu saat sedang saling mencari tempat keluarnya artefak Bunga Bulan.
”Kita harus membantu mereka,” kata Nora.
Aji melihat kearah Nora, ”Baiklah, cukup dua orang saja. Itu sudah cukup.”
Nagada dan Nora pun saling mengangguk dan mereka turun dengan cepat. Mereka dapat mengontrol kekuatan dengan sangat baik, dan turun sambil mengeluarkan senjata mereka. Nagada sendiri langsung melesat dan menghadang serangan dari pasukan kegelapan.
Pendekar bela diri kaget dengan kedatangan mereka dan mulai terdesak. Nagada melempar pedangnya dan pedangnya itu bergerak sangat cepat dengan kontrol di tangannya, serangannya mampu mengenai pasukan kegelapan, dan beberapa tumbang. Begitupun dengan Nora, dia menyambut serangan pasukan kegelapan dengan pedang besarnya.
Pedang besarnya mampu menembus pasukan kegelapan dan mampu mengalahkan mereka semua. Para murid dari Sinarya Sun kagum dengan kemampuan dua pendekar yang membantu mereka tersebut, dan mengucapkan terima kasih.
Para murid dari perguruan Sinarya Sun diminta untuk menyelidiki tempat ini karena diyakini akan muncul Bunga Bulan. Seperti dugaan para Pasukan Langit. Nagada dan Nora memperkenalkan diri mereka, mereka pun baru menyadari kalau mereka adalah Pasukan Langit. Mereka pun berpisah, Nagada dan Nora langsung menyusul rekan-rekan mereka.
Di kelompok Barsha, mereka juga menyusuri jalanan di dalam hutan. Saat mereka masuk untuk bertemu dengan rekan-rekan mereka. Mereka melihat pemandangan yang membuat mereka hampir saja muntah. Pembantaian.
Banyak pasukan bela diri yang sudah menjadi mayat di mana-mana. Itu adalah murid dari suatu perguruan bela diri. Jumlahnya bahkan ratusan, mereka semua dihabisi dan ada sisa energi kegelapan yang ditinggalkan.
Perguruan yang dikalahkan itu tidaklah memiliki kemampuan rendah, artinya bisa jadi salah satu dari Lima Legenda sudah turun tangan. Itu pendapat dari Barsha, hal itu juga disetujui oleh anggota Pasukan Langit yang lain.
”Mulai dari sini, semua hati-hati!” semuanya mengangguk dan menyembunyikan energi mereka, dan bergerak dengan sangat hati-hati melalui dahan pepohonan. Jarak mereka masih cukup jauh dengan kelompok yang lain. Mereka harus bertemu segera.
Tidak berbeda dengan kelompok dimana kakek Junho ada di sana. Mereka menemukan sebuah tenda yang hancur karena ledakan. Di sana, ada beberapa pendekar yang sudah mati karena serangan dari pasukan kegelapan.
Bunga Bulan memang merupakan artefak yang kuat, sehingga memancing banyak pendekar untuk berkumpul dan memperebutkannya. Bahkan, seolah nyawa menjadi hal yang tidak punya nilai lagi. Para pendekar juga diliputi oleh keserakahan, sehingga mereka tidak membuat tim bersama dan malah sendiri-sendiri.
Itu semua karena ingin menguasai artefak Bunga Bulan sendirian.