Pasukan Langit
Kenangan Terakhir Bersama Yonan
Gayatri dan Lao merasa senang, karena Jinho hadir dalam pertemuan tersebut, sebelumnya Jinho memberi salam pada nenek Silvi. Mereka adalah kawan lama, Jinho menyebutkan bahwa dia kesini karena mendengar dua muridnya pulang ke Frost Line.
Jinho pun langsung mampir menemui mereka. Padahal, itu semua gara-gara pemuda bernama Aji, yang membujuknya untuk bergabung dengan anggota Pasukan Langit dan menemui mereka semua.
”Apakah Kakek selalu minum teh setiap pagi?” tanya Gayatri pada kakek Jinho sebagai bentuk perhatiannya. Biasanya saat bersama, Gayatri selalu membuatkan teh hangat untuk kakek Jinho. Jinho adalah sosok yang menggantikan orangtua mereka, dan menjaga mereka sejak Lao dan Gayatri berumur 10an tahun.
”Meskipun kamu dan kakakmu pergi, aku selalu menjaga diri dengan baik Gayatri. Kamu tidak perlu khawatir,” Jinho pun tersenyum dan membuat Lao dan Gayatri lega.
Setelah jamuan makan, mereka pun berpamitan dan akan merencanakan rencana mulai dari kantor Pasukan Langit. Pemimpin Ronald juga menyebutkan, pasukan di Frost Line akan siap membantu Pasukan Langit dan tidak perlu sungkan ketika meminta bantuan.
Sesampainya di kantor Pasukan Langit di kota Samarkan. Kantornya terletak di pinggiran kota. Mereka semua berkumpul termasuk Jinho yang diajak oleh Pasukan Langit dan Pasukan Langit menerimanya.
Mereka berkumpul untuk mempersiapkan pembahasan pencarian Bunga Bulan, waktunya sekitar seminggu lagi jika menurut pada catatan kuno dan juga ciri-ciri alam. Hal itu ditambahkan dengan pengetahuan dari Jinho, yang mengetahui tempat yang paling kuat nantinya muncul artefak Bunga Bulan.
Tempat yang mengalami tekanan alam paling tinggi.
”Aku sudah memperhatikan cukup lama, ada aktivitas dari pasukan kegelapan yang memang terus bergerak di benua Frost Line. Mereka juga pasti mencari tempat di mana Bunga Bulan akan muncul, karena reaksi alam yang berlebihan pada suatu tempat,” tambah dari kakek Jinho.
Keterangan kakek Jinho cukup melengkapi informasi dari intelejen dari pasukan pertahanan. Kali ini mereka mendapatkan tempat yang sangat akurat, sebagai tempat nantinya artefak tersebut akan muncul.
”Hutan Tulisma!” itu kata kakek Jinho, sebelumnya laporan dari intelejen pasukan pertahanan menyebutkan ada tiga tempat dengan aktivitas alam yang tinggi. Satu di Hutan Tulisma, dua di air terjun Baikra, dan ketika di pegunungan Alpen.
Selain berpetualang di Frost Line, Jinho memberikan keterangan bahwa dia memang sedang meneliti tentang artefak Bunga Bulan. Menurutnya, para pendekar bela diri dan juga pasukan kegelapan sudah banyak yang ditemuinya, dan tengah mencari tempat dengan aktivitas alam yang tinggi.
”Aktivitas alam seperti apa yang anda maksudkan terjadi Hutan Tulisma, kakek Jinho?” kali ini, Nagada yang bertanya pada kekek Jinho yang ikut dalam diskusi Pasukan Langit tersebut.
”Hujan badai dan sambaran halilintar sangat intens disana!”
Kakek Jinho juga menjelaskan sebenarnya, tempat yang lain juga ada sejenis aktivitas alam yang tinggi. Misalnya tanah longsor ataupun ledakan gunung berapi di pegunungan Alpen. Namun, intensitas tertinggi adalah hujan badai yang terjadi di Hutan Tulisma sangat pekat, dan sering terjadi. Halilintar juga sangat sering terjadi dan bahkan bisa terjadi sangat lama.
”Apakah di Hutan Tulisma juga banyak pasukan dari pendekar bela diri, dan juga pasukan kegelapan Kakek?” Nora bertanya penasaran.
”Benar! Aku mampu merasakan energi mereka!”
Malam harinya, mereka akan membagi kelompok untuk tetap menyelidiki tiga tempat tersebut. Mereka hanya menyelidiki dan tidak bergerak sembarangan untuk menyimpan energi. Tim tetap dibagi tiga kelompok seperti sebelumnya. Artefak komunikasi harus selalu digunakan untuk memberi informasi jika terjadi sesuatu.
”Kakek harus membantu kami kali ini!” kata Lao berkata pada kakek Jinho, kakek Jinho pun mengiyakan karena dia merasa bahwa kali ini Pasukan Langit, adalah satu kesatuan yang memiliki tekad untuk melawan pasukan kegelapan.
Entah kenapa, semangat Kakek Jinho seolah terbakar. Sudah cukup lama usianya digunakan. Namun, dia dulu menghilang dan tidak ikut berperang bersama Tiga Legenda. Padahal, saint Yonan memintanya sendiri secara langsung untuk membantunya.
Saat itu, kakek Jinho beralasan menjaga keluarganya. Kepada Yonan dia beralasan bahwa perang itu tidak akan dimenangkan oleh para pendekar, karena melihat bobroknya peringai para pendekar yang masih saja berebut kekuasaan dan terjebak dalam keserakahan.
Jinho menolak, tapi Tiga Saint itu tetap bertarung dan mempertaruhkan nyawa mereka dan peperangan saat itu terjadi di Benua Fosfit. Ketua Yonan tidak menyalahkannya saat itu, karena sebenarnya perjuangan itu diketahui sebagai perjuangan yang menyerahkan nyawa.
Namun, di sisi terdalam dari Jinho. Sebenarnya, dia ketakutan karena kekuatan yang jauh tidak berimbang. Dan malam itu, saat peperangan terjadi. Jinho merasakan ledakan dan bunyi seperti kiamat terjadi. Peperangan yang dahsyat yang bahkan mungkin tidak bisa dilihat oleh manusia, siapapun yang dekat dalam pertempuran yang menggegerkan seluruh benua itu pasti akan hancur.
”Kakek memikirkan sesuatu?” Lao melihat guru yang merawatnya sejak kecil itu seperti melamun.
”Tidak apa-apa Lao, kita semua harus bersatu untuk perjuangan kali ini. Tidak peduli apapun, persatuan kalian akan menjadi kunci kemenangan kita semua melawan pasukan kegelapan!”
”Benar kakek Jinho!” jawab Lao dengan semangat.
Aji melihat Jinho bersemangat, dia pun tersenyum.
Malamnya, para Pasukan Langit bergerak sesuai perintah dari Barsha. Tim dibagi tiga kelompok seperti sebelumnya dan mereka semua berpakaian dengan pakaian biasa, dan tidak menunjukkan identitas mereka sebagai Pasukan Langit.
Kelompok pertama terdiri dari; Barsha, Lao, Nanji, Yara, Samuel, Rosa dan Binto. Mereka bertujuh akan menyelidiki sisi dari arah pegunungan Alpen menuju Hutan Tulisma. Mereka mengambil sisi dari pegunungan sekaligus, untuk melihat daerah pegunungan Alpen dan langsung menuju sisi Timur dari Hutan Tulisma.
Kelompok kedua, terdiri dari; Gayatri, Aji, Nagada, Alicia, Nora, Sanjo dan Arion. Mereka mengambil sisi dari arah lautan di sebelah barat Hutan Tulisma. Luasnya hutan Tulisma membuat mereka harus berpencar menjadi tiga kelompok dari sisi pegunungan, dari sisi lautan dan dari sisi pemukiman di sebelah utara dari hutan Tulisma.
Kelompok ketiga, terdiri dari; Astro, Midan, Domar, Hamda, Namud, Aria dan Mega. Mereka akan mengambil sisi utara dari Hutan Tulisma, dan akan melewati sisi bukit dari air terjun Baikra dan sekaligus melihat tempat tersebut sebelum menuju ke Hutan Tulisma.
Sisi-sisi ini sudah dicermati bersama, kakek Jinho akan bersama dengan tim ketiga. Dia akan membantu mempermudah perjalanan kelompok ketiga, dan sebagai pemandu jalan untuk melewati air terjun Baikra.
Semua pun menyiapkan diri baik-baik, dan saat sedang berdiri di samping pintu kediaman Pasukan Langit, Aji didekati oleh kakek Jinho.
”Benarkah kamu adalah murid dari Tiga Legenda?” kakek Jinho terlihat penasaran dan akhirnya bertanya hal itu pada sosok pemuda, yang telah menyadarkannya dan membuatnya mau bergabung dengan Pasukan Langit tersebut.
Aji pun tersenyum, pasti dia telah diberitahu oleh Gayatri tentang dirinya. Kakek Jinho pasti sangat penasaran padanya, sehingga mencari informasi tentang dirinya hingga bertanya pada murid kesayangannya tersebut.
”Benar kakek Jinho! Aku adalah murid dari Tiga Legenda, kalau anda tidak percaya anda dapat mencoba melakukan tes kekuatan pada saya.”
Jawaban dari pemuda itu cukup membuat kakek Jinho semakin penasaran. Bagaiman tiga saint itu memiliki seorang murid? Apalagi, Pemukul Halilintar yang bahkan selama hidupnya tidak mau menerima seorang murid pun. Begitu banyak para pendekar yang ingin menemui dan menjadi muridnya, setidaknya mendapatkan pengarahan dari saint Pemukul Halilintar.
Namun, semuanya gagal dan hanya diberikan kesempatan untuk adu tanding semata. Dan, semua berakhir kalah dengan telak tanpa mampu membuat Pemukul Halilintar kerepotan sama sekali.
Pemuda ini begitu percaya diri bahkan Jinho mengakui kekuatan internal dari pemuda tersebut. Usianya yang tua dan sebagai seorang elemental support menyadari, bahwa ada kekuatan yang luar biasa pada pemuda tersebut, yang membuatnya bahkan seolah sedang berhadapan dengan seorang pendekar dengan kemampuan dominasi energi yang kuat. Dirinya seolah berada dalam sebuah tekanan energi saat berhadapan dengannya.
”Anda boleh tidak percaya pada saya, tapi Tiga Legenda telah memberikan warisan berharga mereka pada saya. Kekuatan mereka sudah diwariskan pada saya dengan baik. Saya juga mengemban tanggung jawab dari mereka untuk menghentikan Shura! Dan itulah kenapa saya bergabung dalam Pasukan Langit.”
Ketegasan pemuda itu mampu menggetarkan tubuh kakek Jinho. Dia ingat bagaimana saat dirinya didatangi oleh Yonan untuk yang terakhir kalinya. Saat dirinya diminta membantu untuk memberikan support pada Tiga Legenda.
Namun, dia menolaknya. Jinho teringat kejadian malam itu sekali lagi, saat petir menyambar dan kegelapan menyelimuti dunia.
”Bantulah kami untuk memberikan supportmu Jinho! Kamu bisa lari ketika kami semua sudah tak mampu melawan,” pinta saint Yonan dengan tongkat panjangnya yang berkilauan di ujungnya. Wajahnya terpias dari halilintar yang menyambar dan suaranya yang menggelegar.
”Aku tidak bisa saint Yonan. Aku punya keluarga, kenapa tanggung jawab ini harus kita emban, sedangkan para pemimpin sedang sibuk dengan keserakahan mereka!” jawab Jinho putus asa.
Saint Yonan tersenyum, ”Aku tidak peduli dengan mereka Jinho. Aku ingin melindungi para generasi muda. Jika malam ini kami tidak bergerak, maka dunia akan hancur dan kehidupan akan berakhir di kaki Shura. Untuk itu, kami sepakat untuk menghentikannya selama dia masih dalam tahap penyulingan Blood Supreme. Jika tidak malam ini, semuanya akan terlambat dan nasib manusia akan berakhir.”
Jinho kebingungan mendengar penjelasan dari saint Yonan, saat itu halilintar menggelegar kembali dan wajah senyum dan saint Yonan dilihatnya untuk terakhir kalinya.
”Aku tidak bisa saint Yonan, maafkan aku! Aku terlalu takut, aku akan melindungi keluargaku dan bersembunyi sekuat tenagaku. Kita tidak akan bisa menang melawan Lord Demon dan pasukannya!”
”Baiklah Jinho, kami tidak akan memaksamu. Jika itu keputusanmu, katakan kepada generasi muda selanjutnya. Perjuangan kami harus mereka teruskan, kami akan mengorbankan diri kami agar mereka punya kesempatan untuk berbenah, dan menghadapi ancaman Lord Demon selanjutnya. Kami akan mengulur waktu.”
Halilintar kembali menyambar. Jeglaaarrrr!
”Selamat tinggal Jinho, Aku sudah ditunggu!”
”Tuan Saint! Tuan Saint! Hati-hatilah!” halilintar menyambar dan tubuh saint Yonan menghilang. Itulah hari terakhir Jinho bertemu dengan saint Yonan. Hari ini, dia bertemu dengan muridnya? Apakah itu mungkin?