Padang Sajadah
Adakah Orang yang Lebih Buruk Dariku?
Ba’da subuh,
Azizah meminta kak Faza untuk memberikan kultum sebelum beliau kembali ke rumah kontrakan. Dokter hanya bilang untuk menjaga kesehatan dulu, perbanyak istirahat karena ginjalnya tidak bisa berfungsi normal seperti semula. Ya. Kak Faza telah mengetahuinya setelah shalat malam tadi, Salwa dengan tenang menceritakannya.
Sekali lagi, kak Faza tersenyum kecil mendengarkan bahwa dia terkena infeksi ginjal. Hatinya telah menyatu dalam irama kehidupan, baik kenikmatan maupun setiap musibah sehinga apapun yang diberikan Allah, manusia akan ridha. bundle, sheaf, cluster kesyukurannya dalam setiap alunan kehidupan.
”Aku akan bercerita tentang soerang lelaki bernama Sholeh yang lama menuntut ilmu dengan seorang Syaikh. Suatu hari yang cerah, Sholeh menghadap sang Syaikh untuk memohon izin agar dapat meninggalkan Syaikh-nya untuk mengajarkan agama di lahan dakwah yang lain karena dirasa telah sepuluh tahun belajar ilmu bersama Syaikh-nya tersebut. Setelah meminta izin, legalah hati Sholeh yang baru berani mengutarakannya setelah lama dipendam sendiri.
Syaikh itu tersenyum, ’Baiklah muridku, tapi penuhilah satu permintaanku. Ini, sekaligus sebagai ujian terakhir untukmu. Jika kau bisa lulus, aku akan mengizinkanmu pergi dari sini dan mengajarkan agama.’
’Apa itu Syaikh?’
’Hadapkanlah kepadaku yang lebih buruk perbuatannya daripadamu.’
Setelah menghadap sang Syeikh, Sholeh pamit untuk memenuhi permintaan Syaikh. Waktu yang diberikan untuknya adalah tiga hari. Hatinya begitu lega, jangankan tiga hari, satu hari saja pasti mudah menemukan yang lebih buruk darinya. Hatinya berbisik ringan mengingat dia adalah termasuk telah banyak mempelajari agama sedangkan banyak di luar sana yang lengah dalam menggunakan waktunya.
Siang hari, Sholeh berkeliling sepanjang jalan, ditujunya sebuah perempatan yang sering digunakan beberapa pemuda yang sering bermabuk-mabukkan dan menghabiskan waktunya untuk kesia-siaan. Sholeh tersenyum lega, apa yang menjadi permintaan Syaikh-nya begitu mudah untuk dipenuhi. Bagaimana tidak mereka lebih buruk? Dia yang menghabiskan waktunya untuk beribadah dan menuntut ilmu sepanjang hari lalu mereka hanya bermaksiat dan menghabiskan waktunya untuk kesia-siaan dan dosa. Besok Sholeh berencana membawa salah satu pemuda itu untuk dihadapkan pada Syaikh-nya.
Malam harinya, sebelum tidur. Sholeh bermuhasabah dirinya. Matanya yang jernih meneteskan buliran-buliran bening, hatinya yang semula mantap kini telah kehilangan keyakinan. Hatinya merasa resah karena merasa dirinya lebih baik dari beberapa pemuda di perempatan jalan yang dia lihat kemarin siang. Bisa jadi, pemuda-pemuda itu malam ini bertobat dan jika paginya meninggal dunia, insyaallah akan diterima Allah ’Azza wa Jalla taubatnya dan bisa jadi besok pagi dirinya melakukan kemaksiatan lalu meninggal dunia, ’Apakah aku lebih baik darinya?, naudzubillah, maafkan dosa hamba yang telah sombong ya Allah.’
Di hari kedua, Sholeh kembali berkeliling sepanjang jalan untuk memenuhi permintaan Syaikh. Di pinggir jalan dilihatnya seekor Anjing, ’Ini dia, Insyaallah dia lebih buruk dariku,’ batinnya mantap mengiringinya pulang. Bagaimana tidak Anjing adalah hewan yang bernajis dan dirinya adalah orang yang rajin beribadah.
Malam harinya hatinya kembali gelisah dan tak menentu, semakin memikirkan, lantunan istighfar semakin membuat buliran airmatanya menetes tak tertahan. Bisa jadi Anjing itu besok atau saat ini mati, maka pasti putuslah semua urusannya di dunia dan di akhirat, tapi jika esok atau saat ini dia meninggal, maka dia akan mempertanggungjawabkan perbuatannya di dunia dengan hisaban seadil-adilnya, ’Ya Allah, ampunilah kesombongan hambaMu, dan tetapkanlah hati ini untuk selalu menetapiMu.’
Dua malam pencarian terlewati sudah, siang hari ini di hati ketiga sebelum subuh sholeh memberanikan diri menghadap Syaikh. Dengan wajah lesu dikatakannya bahwa dia sudah menyerah, dia mengaku belum dapat lulus dari ujian tersebut. Sholeh menceritakan semua pengalamannya selama dua hari mencari yang lebih buruk darinya.
’Maaf Syaikh, saya tidak akan lulus karena sebenarnya tidak ada lagi yang lebih jelek perbuatannya dari diriku.’
’Anakku, engkau telah lulus ujian terakhir dariku, engkau telah menguasai kunci kehidupan yaitu rendah diri dan tidak sombong. Engkau merasa tidak lebih baik dari orang lain karena pakaian kesombongan hanya hak-Allah. Engkau dapat mengalahkan kesombongan dalam dirimu, aku menginzinkan engkau pergi mengajarkan agama dan memanfaatkan ilmumu pada orang lain.’
Cerita tadi menunjukkan bahwa ketika kita menjawab pertanyaan adakah manusia di dunia yang sekarang merasa kesepian? Kita akan setuju jawabannya adalah orang yang berlaku sombong berjalan di muka bumi. Orang yang tidak mau menghormati orang lain, maka orang lain pun akan meninggalkannya dan tidak menghormatinya.
Kedudukan manusia yang satu dengan manusia yang lainnya bersifat horizonal dalam pandangan Ar-Rahmaan selain itu juga akan ditinggikan derajatnya bagi orang-orang yang paling bertakwa. Secara spesifik, orang yang berlaku sombong berarti melawan tuhanNya dalam dalam hal hak-hak Allah. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan melecehkan orang lain.
Kesombongan mempunyai beberapa hal yang membuatnya merasa lebih baik dari orang lain, tidak tahu secara jelas tujuannya, dan memperlihatkan alangkah lemahnya keikhlasan yang dimiliki. Orang yang mempunyai knowledge (ilmu pengetahuan) dan menganggap orang lain bodoh atau lebih buruk dari kita sendiri, berarti dia belum bermakrifat padaNya.
Ada di antara manusia yang berusaha mengharapkan uang, pujian dan penghormatan serta popularitas. Ada orang yang menganggap kastanya kaya sehingga tidak merasa pantas bergaul dengan orang-orang yang lemah dan miskin. Karena paras wajahnya yang memikat (beautiful), orang yang mempunyai harta kekayaan (capital), orang yang mempunyai kekuatan (the Power) dan berbuat dzolim pada orang-orang lemah, orang yang mempunyai banyak pengikut dan pendorong yang mendukung di belakangnya.
Rasulullah saw bersabda, ’Cukuplah seseorang dinilai telah berbuat kejahatan, bila ia merendahkan suadaranya sesama muslim.’ (HR Muslim). Apabila ada seseorang yang mengatakan bahwa pada saat ini semua orang kelakuannya telah rusak, maka bisa jadi yang rusak adalah diri kita sendiri diantara saudara-saudaraya yang telah dikatakannya rusak. Imam Syafi’i berpesan, ’Manusia mencela zaman, padahal tidak ada cela dalam waktu. Cela itu hanya berada pada manusianya.’
Sebab-sebab kesombongan itu hendaknya kita netralisir sehingga kita menggunakannya sebagai sarana untuk bertaqarrub pada Allah ’Azza wa Jalla dengan rendah hati, ketundukan dan ikhlas serta rendah diri kepada sesama muslim dan juga menunaikan hak-hak mereka.
Perwujudan dari kerendahan itu adalah kesetaraan, saling menghormati sesama manusia, tidak membeda-bedakan. Maka, akan terpola suatu iklim penciptaan life environment yang kompetitif, saling berkompetisi dengan sehat, berlomba-lomba dalam kebaikan dan kebenaran menuju persatuan dan kemulyaan untuk Allah ’Azza wa Jalla. Alangkah nikmatnya kehidupan yang mengatasnamakan keadilan.
Untuk mengobati kesombongan dari hati kita, perlu kiranya kita ibaratkan sebuah pohon, maka kikis dan habiskanlah akar-akar kesombongan itu. Janganlah memberi sedikitpun sisa celah di hati untuk masuknya virus-virus kesombongan.
Cobalah kita selalu berkumpul dengan para sahabat, anggota keluarga, jika ada di antara mereka menyampaikan suatu kebenaran atau sebuah ide yang bagus dan hati kita merasa berat untuk menerimanya ada indikasi virus kesombongan telah bersemai di hati kita. Tidak mau menerima kebenaran ataupun berat ketika orang lain menasehati kebaikan kepada kita.
Kesombongan itu dapat diobati selangkah demi selangkah dengan mengenal diri kita sendiri secara total, kenalilah kekuatan dan kelemahan-kelemahan yang ada dalam diri kita dengan sering bermuhasabah diri. Mempelajari ilmu mengenal Allah ’Azza wa Jalla, dengan begitu insyaallah kita akan menyadari bahwa tidak ada yang akan kita sombongkan karena setiap kelebihan yang dimiliki pada dasarnya karunia Allah yang harus disyukuri dan dimanfaatkan sebaik-baiknya. Wallahua’lam bishawab .”
Kak faza mengakhiri kultumnya dengan membacakan syair pendek yang begitu menyejukkan.
Keburukan adalah kegelisahan
Kebenaran adalah ketenangan hati
Kesombongan adalah hakikat kesepian
Kesederhanaan adalah rendah diri
Seolah kami dibawa terbang, fly. Ke negeri yang entah berada dimana, namun semuanya terisi keindahan yang membuat segalanya teduh dan menghilangkan sifat-sifat sombong yang melekat. Kita memang diciptakan Allah demikian hebat, namun bukan itu maksud kita diciptakan. Seperti, ’Kapal dipelabuhan akan aman, namun bukan karena alasan itu kapal diciptakan bukan?’
Pagi itu, kak Faza pulang. Kakinya sedikit susah melangkah, namun wajahnya yang tenang seolah beban tak ada. Wajah bercahaya itu persis seperti milik Siti dan bu Nisa, juga Azizah dan Zulfa. Wajah-wajah bercahaya, sahabat-sahabat penyejuk hati ketika bertemu, sahabat-sahabat menetapi iman, sahabat-sahabat yang berada bukan di negeri dongeng.
Allah,
Telisik daun yang jatuh atas kuasaMu
Yang terlewat di setiap episodeku
Adalah ketetapanMu
Kini...,
Aku mulai mengerti
Dan akupun tersenyum menyambut hari depan, pasti akan lebih ceria. Bukankah Allah ’Ázza wa Jalla berdasarkan persangkaan hamba-hambaNya? Dan Malaikat yang bertugas mengawasi manusia senantiasa mengamini doa manusia, sehingga kita harus berkata baik selalu dan berprasangka baik selalu padaNya. Aku sudah mulai mengerti ya Allah, maka tetapkanlah dan mantapkanlah hati hamba ini.