Padang Sajadah
Sahabat Menetapi Iman
Angin malam menerpa jilbab-jilbab kami, semakin malam semakin dingin di Kota Metro walau pada siangnya panas teramat terik. Zulfa teramat cantik dengan jilbab biru lautnya, Azizah tetap selalu tampak riang dengan senyumnya. Kak Faza dari tadi membaca buku, kasihan dia. Kak Faza belum boleh pulang, demi menyelamatkan diriku dia terkena musibah ini. Ginjalnya terkena infeksi, namun lihatlah wajahnya yang selalu ceria. Siapapun yang menatap wajah teduhnya, wajah bercahaya yang bisa membuat siapapun tersihir. Dan..., apakah perasaan di hati ini padanya? Inikah yang sering dikatakan orang sebagai cinta?
Salahkah jika aku mencintainya ya Allah? Dia adalah seorang yang shalih, lihatlah wajah ketundukan kepadaMu itu, apakah salah jika aku mengharapkannya sebagai pendampingnya?
Tapi..., pantaskah ya Allah. Aku harus berkaca, siapakah aku ini?
“Kamu melamun Salwa?” Zulfa menepuk pundak kiriku. Nama lengkapnya Ad-Zulfa Fikri, dia sangat cantik dan cerdas, matanya indah kebiruan. Sungguh, seumpama bidadari.
“Ti..., tidak Zulfa,” aku kaget.
“Ayo ceritakan pengalamanmu hari ini? Kami siap mendengarkannya,” Azizah tampak menatapku antusias, “Ayo ceritakan. Kak Faza juga ingin mendengar ceritamu. Benar kan Kak?” Azizah menatap kearah kak Faza.
“Iya, kalian semua sudah kuanggap keluargaku sendiri. Kita seperti satu keluarga, aku juga ingin mendengar cerita Salwa. Dari kemarin, Azizah yang menceritakan kisah-kisahmu mencari apa yang kau cari. Kini, kami ingin utuh mendengarnya darimu,” wajahnya tersenyum. Lihatlah Allah, betapa hatinya tidak sedikitpun memendam dendam karena aku yang telah mengerjainya dahulu dan membuatnya mengalami musibah ini. Setelah tahu ceritaku tentang ulah usilku dahulu, dia langsung memaafkanku.
Dengan senang hati aku akan menceritakan peristiwa siang tadi, semuanya. Mereka bertiga seolah tersihir dan tenang mendengarkanku. Bercerita tentang mengejar wanita yang selama ini kucari hingga aku terjatuh dan kehilangan jejaknya, bercerita tentang bapak tua yang tiba-tiba muncul dan memberi nasehat untuk tidak berputus harapan, cerita tentang doa si pengemis tua, tentang Dion si kecil yang berpakaian lusuh dan telanjang kaki, mereka manggut-manggut dan memintaku meneruskan ceritaku.
Aku kembali bercerita tentang kecelakaan yang terjadi di depan kantor pos, tabrakan sepeda motor. Si Ibu yang terluka dan dua orang yang hampir saja berkelahi, aku yang tak bisa diam dan berusaha meleraikan mereka hingga karena Allah mereka akur dan bersama ke Rumah Sakit mengantarkan si Ibu yang masih terluka.
Dan...
Ceritaku semakin menarik ketika aku bertemu dengan gadis kecil bernama Siti Fatimah Munawarah yang wajahnya teramat bercahaya, wajah yang benar-benar memaku tubuh di bumi, terpesona demi bertahan melihat wajahnya yang teramat meneduhkan. Hingga detik-detik cerita menegangkan ketika Siti hampir tertabrak mobil, dan aku berlari melindunginya. Hingga, Allah ‘Azza wa Jalla mengatur sebuah pertemuan yang teramat rumit dimengerti akal pikiran manusia. Aku bertemu dengan wanita yang selama ini kucari, ya. Dia adalah Ibu kandung si gadis kecil berwajah cahaya, Siti Fatimah Munawarah.
Mataku berkaca-kaca menceritakan kisah itu.
“Subhanallah, begitu indah Allah mangatur kehidupan kita. Salwa, apakah kisahmu itu boleh saya tuangkan dalam bentuk novel atau cerpen? Ya, itupun jika si empunya cerita membolehkannya?” kak Faza tersenyum, wajahnya yang tenang tetap menunduk.
“Ye, dasar Penulis. Apa saja dijadikan sumber inspirasi,” Azizah nimbrung sambil mengerucutkan bibirnya. Aku tersenyum geli melihat bibirnya yang manyun, sungguh, betapa Kau menghilangkan kesedihannya dengan cepat ya Allah. Atau, dia hanya menutupinya di depan kak Faza? Tapi aku yakin dengan ucapannya tempo hari, ‘Selalu ada jalan jika kita bertawakkal padaNya, kita harus ridha pada setiap putusanNya karena itulah yang terbaik.’
“Jangan boleh Salwa, kecuali kalau kak Faza mau bagi-bagi royaltinya jika diterbitkan,” Salwa menatapku, “Ya kan Salwa?” anggukan kepalanya mantap memintaku menyepakatinya.
“Tidak apa-apa Iza, jika kisah kita bisa menjadikan orang lain menjadi lebih baik bukankah itu akan menjadi amal yang bermanfaat?” aku mencandainya dengan menjadi rivalnya.
“Bukankah Inspirasi lebih penting dari ilmu pengetahuan, kemudian si empunya saja sudah mengizinkan, berarti aku tinggal menuliskannya bukan? Tenang saja, nanti jika diterbitkan insyaallah akan kuinfakkan atas nama Salwa. Bagaimana adil kan?”
“Itu baru rencana briliant, kisah itu akan bermanfaat membuat orang lain terpacu untuk melakukan kebaikan-kebaikan tanpa memperhitungkan balasan kecuali mengharapkan wajah Allah ‘Azza wa Jalla semata,” Zulfa yang berada di sebelahku berujar lembut sambil memegangi tanganku, ada resapan indah yang menjalar hingga ke hatiku dan seluruh sel dalam tubuhku. Dia termasuk salah satu orang yang mengajariku tilawah dan shalat serta kesungguhan beribadah. Matanya yang biru mampu membuat siapapun akan menaruh empati padanya.
“Oya, bagaimana perkembangan novel ‘Langit Masih Biru’ Kakak yang di penerbit Gemintang Press?”
“Alhamdulillah, kemarin dapat sms pemberitahuan bahwa naskah masih dalam proses percetakan dan sedang dibaca penulis terkenal sebagai pengantar bukunya.”
“Subhanallah,” kami hampir berbarengan mengucapkan tasbih padaNya pertanda kesyukuran dan bahagia karena keberhasilan yang saudara seiman mampu mencapai keberhasilan. Bukan iri maupun mendengki saudara seiman yang mendapatkan nikmat dan karunia, iri dan dengki hanyalah milik orang-orang yang lemah iman dan ilmunya.
“Iza yakin pasti best seller,” Azizah tersenyum menatapku dan Zulfa.
“Yakin darimana?” aku ingin tahu jawabannya.
“Karena Kakakku yang membuatnya, tanpa berkata maupun menulispun wajahnya adalah prestasi bagiku. Novel itu insyaallah akan meledak di pasaran buku Republik ini.”
“Iza, tidak boleh berlebihan. Allah yang mengatur setiap apa yang ingin diberikan pada hambaNya dan apa yang diperlambat maupun dihentikan buat hambaNya. Kita harus optimis, tapi jangan terlalu berlebihan.”
“Iya-iya Kak, Salwa hanya terlalu bahagia hingga sedikit berlebihan.”
Lihatlah mereka berdua, hubungan yang dulu aku sangsikan ada di bumi yang sudah mulai rusak ini. Tiada kata perdebatan, kecuali saling percaya dan nasehat-menasehati. Saling mempercayai dan bukan mencari kelemahan, saling melengkapi demi kesempurnaan bersama dan bukan saling menjatuhkan. Ikatan mereka jauh lebih kuat daripada ikatan yang dimanipulasi semodel ikatan kerja maupun dinas yang menggerus uang sebanyak apapun di negara ini.
Tapi, ada ikatan yang lebih kuat lagi, ya! Sempurna sudah aku memahami sms dari kak Faza sewaktu aku mengerjainya dulu. Hingga saat ini, sms itu masih kusimpan di memori Hp-ku, bahkan kuingat kuat dalam memori otakku, ‘Kekasihku itu tahu dari setiap gerakku, dia tahu dari sorot mataku jika aku khianati cintanya, dia tahu jika hatiku mendua, dia tahu jika berpaling darinya walau hanya besitan dalam jiwaku.kau tak akan bisa menyainginya. Kata-kata yang dulu teramat rumit untukku mengerti.
Kata yang terlalu indah untuk dimaknai, kata yang terlalu sejuk untuk diyakini. Kekuatan yang dimiliki Kekasih, hanyalah hak Allah ’Azza wa Jalla semata, tidak bisa dilakukan yang lain dan tidak akan sanggup disaingi oleh apapun dan siapapun. Dialah Allah, Kekasih sejati yang tahu mana pandangan mata yang khianat kepadaNya dan tahu apa yang disembunyikan oleh hati walau hanya besitan yang lewat sepintas.
Subhanallah, alangkah hebatnya manusia yang memiliki kekasih sejati Allah? Tak akan tersisa dalam hatinya kecuali kekuatan dan motivasi untuk melakukan yang terbaik dari seluruh usianya. Dia akan memegang rumus terbaik menghadapi kehidupannya, dengan melaksanakan setiap pekerjaan dan amalnya dengan sebaik-baiknya dengan segenap potensi dan semangat yang ada untuk memberikan yang terbaik pada Kekasih, Allah ’Azza wa Jalla, mempersembahkan yang terbaik.
”Bolehkah aku bicara sebentar sekarang?” kak Faza tiba-tiba memecah keheningan setelah aku bercerita panjang lama, sepertinya ada yang penting yang ingin dikatakannya.
”Katakanlah Kak, kami akan mendengarnya,” Azizah duduk di sebelah kak Faza, aku dan Zulfa duduk agak jauh dari ranjang.
”Besok kak Faza ingin pulang. Aku ingin menjenguk dan mendampingi Hafidz. Aku rindu dia. Aku rindu keceriaan Shafwan, aku rindu bertemu Rasyid setelah dia menikah ini, aku ingin kembali kuliah setelah beberapa hari tertunda tak bisa masuk kuliah, aku ingin bekerja kembali dan yang paling penting. Aku telah lama beristirahat dari dakwah yang telah memanggil-manggil jiwaku. Walau dokter belum mengizinkan, entah alasan apa karena belum jelas, namun Kakak yakin padaNya. Ini hanyalah ujian kecil dariNya.
Besok kakak harus pulang Iza, meneruskan hidupku. Aku bosan disini terus, aku juga berhutang pada orang yang membiayaiku di Rumah Sakit ini. Sebenarnya Kakak sudah tahu ada yang kalian rahasiakan, tapi aku tidak akan mengungkitnya. Biarlah, mungkin ’Memang kita tidak bisa mengontrol angin, tetapi kita bisa mengontrol kemana kapal akan kita jalankan.’ Kita tak akan bisa menahan air hujan, tetapi kita masih bisa menampungnya. Iza, tolong urus segalanya malam ini. Kakak mohon, Kakak rindu perjuangan untuk mempersembahkan yang terbaik untuk Allah.”
Hening. Aku dan Zulfa menunggu apa yang akan dijawab Salwa, karena memang kak Faza belum mengetahui penyakitnya, Salwa melarang siapapun untuk menceritakannya.
”Kak. Dokter bilang, Kakak harus beristirahat minimal seminggu lagi. Kakak har...,”
”Tidak Iza, demi Dzat yang telah memanggil orangtua kita. Uruslah, besok kak Faza ingin pulang. Bagiku tak masalah, segala apa yang menimpa diri ini. Asalkan Allah ’Azza wa Jalla meridhai itu sudah cukup sebagai perjuangan yang indah. Kakak tidak menghiraukan apa yang Iza sembunyikan, bagi Kakak tidak ada bedanya. Kita dapat merasakan kenikmatan hidup, ketika kita mampu bersabar (Petikan mutiarah Umar bin Khattab ra). Uruslah, itu keputusan Kakak Iza.”
Hening menyapa, seperti angin malam ini yang berhembus terlalu pelan seolah mengiringi irama lagu kehidupan yang terjadi.
”Iza akan mengurusnya besok Kak, sekarang Kakak istirahat dulu ya? Sudah malam, Kakak mau makan lagi biar besok lebih kuat untuk pulang?”
”Baiklah, Kakak juga sedikit lapar nih,” senyumnya mengembang, percakapan tegang tadi telah sirna tergantikan suasana renyah canda kembali. Iza mengambilkan sendok dan piring, kemudian menuangkan nasi ke dalamnya. Mengambil sayur dan lauknya lalu memberikan makanan itu pada kak Faza, ”Mau disuapin Kak?”
”Tidak usah, Kakak sudah sehat kok.”
”Ya sudah, Iza keluar sebentar Kak, mau tanya prosedur pengurusan besok. Kalian disini dulu ya?” aku dan Zulfa hampir mengangguk bersamaan.
Azizah keluar kamar, kak Faza menawari kami untuk ikut makan. Aku dan Zulfa menjawab nanti saja, dan kami akhirnya mengobrol persoalan lain-lain untuk mengalihkan perhatian, agar kak Faza tidak tanggung melahap makanannya.
”Triing!” sendok makan kak Faza terjatuh, dia hendak turun dari ranjang.
”Biar aku ganti Kak,” Zulfa bergerak berdiri.
”Tidak usah, aku bisa mengambilnya.”
”Tidak apa-apa,” Zulfa mengambil sendok yang baru dan memberikan kepada kak Faza. Kak Faza tersenyum dan menerima sendok itu, mereka sepintas bertatapan.
Hatiku tiba-tiba tumbuh perasaan aneh. Entah apa yang kurasakan, ada perasaan iri? Aku juga tidak tahu. Apakah aku cemburu? Aku sendiri tidak tahu. Ada yang berusaha bermain-main di hatiku, perasaan halus tiba-tiba muncul seandainya tadi aku yang mengambilkan sendok itu dan memperoleh senyumnya. Astaghfirullah, Allah, teramat lemah hamba ini.
Zulfa mengambil sendok yang terjatuh dan menaruhnya di meja, ”Salwa, kita keluar yuk? Biarkan kak Faza makan disini,” aku hanya mengangguk dan kami pamitan untuk keluar. Kami duduk di kursi panjang bercat putih di depan kamar, aku membiarkan Zulfa duduk.
”Aku cari angin dulu Zulfa, sambil jalan-jalan,” aku menatap mata birunya yang indah. Dia menatapku lekat, alangkah indahnya Engkau ya Allah, begitu sempurna segala ciptaanMu, apalagi pertemuan indah denganMu kelak di akhirat. Subhanallah.
Aku berjalan menyusuri koridor Rumah Sakit, jalan membentang berkelok ketika ada papan tertulis menggantung di atas, bagian atau ruangan yang tersedia di Rumah Sakit tersebut. Beberapa orang menyisa lalu-lalang, kebanyakan mereka sedang berjalan kearah luar. Maklum, ini sudah mendekati pukul 22.00 WIB, karena jadwal jenguk sampai pukul 22.00 WIB. Oya, aku akan menyusul Azizah, dia pasti menuju ruang pengawasan penyakit dalam.
Aku mempercepat langkahku kearah pengawasan blok ruangan kak Faza. Langkahku terhenti demi melihat seorang wanita berjilbab yang terduduk di kursi depan ruangan dokter Anita, wajah itu sesekali menatap langit lalu menatap kosong. Matanya berkaca-kaca, beberapa kali jemarinya mengusap airmatanya sendiri dengan sapu tangan. Azizah ...
Aku pelan mendekatinya dari arah samping kanannya, kurasa dia tidak menghadiri kedatanganku.
Aku duduk di sebelahnya, ”Boleh kutemani?” wajahnya tiba-tiba tergerak ke samping, refleks. Matanya yang jernih menatap wajahku. Dia hanya mengangguk sambil membersihkan sisa-sisa Airmata yang masih menghiasi kelopak matanya.
”Kamu sengaja menyusulku kesini?”
”Gak, tadi ingin jalan-jalan. Akhirnya sekalian menyusulmu.”
”Inilah hidup Salwa, kadang Allah membuat kita tersenyum dan kadang dia membuat kita harus menangis. Aku tidak peduli atas keadaan susah dan bahagiaku. Karena aku tak tahu, manakah diantara keduanya yang lebih baik bagiku. Mungkin dengan kesedihan itu sebenarnya yang terbaik untuk kita, karena Allah tahu jika manusia diberikan kesenangan dia akhirnya lupa padaNya. Jangan kau kira, aku kecewa pada keputusanNya, aku menangis karena aku bahagia di satu sisi Kakakku adalah orang yang sangat tegar dan pantas menjadi contoh bagiku.
Yang kedua, aku bahagia karena Kakakku tak pernah mementingkan dirinya sendiri. Dalam pikirannya selalu terframe untuk melalukan yang terbaik dan terbaik, aku juga bahagia karena disaat dia lemah dan sakit dia selalu memotivasi dirinya untuk bangkit dan bersemangat kembali. Aku juga menangis lantaran aku tak kuat lagi bertahan di hadapannya, dia begitu tegar, dan aku begitu lemahnya belum bisa menerima dengan ridha segala keputusanNya.”
Kami bertatapan, ”Kita akan selalu belajar bersama untuk menguak apa sebenarnya misteri yang disimpanNya untuk kita Iza. Kita akan bersama menetapi dan menemukan kesejatian cintaNya,” Azizah mengangguk, senyum tipis cerianya telah tergurat begitu indah dari gambar wajahnya.
Dan angin kembali mengabarkan apa yang telah dilewatinya, menyampaikannya melalui tasbih dzikirnya. Kelak, angin pun akan bersaksi ketika semua ciptaanNya menjadi saksi atas perbuatan manusia dalam mengisi kehidupannya.