Padang Sajadah

Tergerak karena Allah (2)

Wanita berkerudung itu langsung dibawa ke Rumah Sakit dan lelaki bercelana jeans juga mengantarkannya. Kerumunan itu bubar dan mereka melemparkan senyumnya padaku, aku membalas mereka. Alangkah indahnya hidup ini, jika kita mau sedikit saja memberi dan berbagi. Allah..., kau teramat dekat. Kau sebaik-baik pelindung dan penolong.

Kaki seringan kapas ketika melangkah kembali, menyeberang jalan dan mendekati masjid taqwa. Hatiku teramat tentram melihat bangunan megah itu, masjid terbesar di Kota Metro, bahkan di Lampung. Keindahan menatapnya, bukankah itu rumahMu ya Allah? Kau menjamu siapa saja yang datang kesana, dengan suguhan surga yang telah Engkau persiapkan nantinya. Aku masuk pelataran masjid At-Taqwa melalui samping kiri di depan kantor pos dan berjalan hendak menuju pintu gerbang depat masjid.

Allah berfirman, “Aku telah mempersiapkan surga bagi hamba-hambaKu yang shalih apa yang mata belum melihat, telinga belum pernah mendengar dan tidak terdetik dalam hati manusia.” 

Kesejukan menjalar di setiap sel darah dan organ tubuh ketika melewati masjid Taqwa, semilir angin yang begitu teduh menerpa dan melambai-lambai. Beburung teramat asyik masygul membuat sarang di pepohonan di sekitar masjid, juga di atap atas dekat kubah masjid, lantai paping yang disusun begitu indah menarik perhatian mataku ketika berjalan.

Saat melewati pintu gerbang keluar masjid, mataku tertancap beku pada sosok putih berjilbab. Seorang anak kecil yang teramat indah wajahnya, bukan indah tapi wajah itu teramat bercahaya. Anak kecil yang bergerak riang, anak kecil itu berlari kecil hendak menyeberang jalan menuju tempatku. Kedua mataku teramat betah menatap wajahnya yang bercahaya, seolah dia adalah kenyamanan yang kucari, ada sebuah magnet yang membuatku teramat betah menatapnya. Aku sendiri tidak tahu perasaan apa ini?

Subhanallah. Allah..., wajah itu teramat indah, lebih indah dari seluruh dunia yang pernah kucicipi selama ini. Allah..., kenapa wajah itu begitu meneduhkanku, Kau tulis apa dalam ketetapanMu tentang hal ini? Kenapa aku seolah tak menjejak bumi lagi? Seolah semua terisi cahaya, hilang sudah segala rasa masalah di dunia ini, tiada bunyi knalpot yang menderum dan klakson bersahutan walau mobil yang lewat bagai lebah yang keluar dari sarangnya.

Namun, suara terasa hening kecuali tawa anak kecil berwajah cahaya itu. Aku menikmati setiap gerakan yang dilakukannya, gerakan tangannya yang memegang plastik hitam, mengayun seirama angin yang berhembus melambai-lambai indah. Gerakan tangannya seolah mengusap luka-lukaku, mengipasi wajahku, Allah... apa yang Kau tulis dalam takdirMu tentang ini? Apa yang Kau persiapkan untuk hambaMu ini? Aku ingin menguak takdirMu, izinkanlah...

Bagiku seolah waktu terhenti sejenak, matahari yang tinggal semburat seolah bertahan ingin melihat wajah bercahaya itu. Langkah kaki si gadis kecil berkerudung itu melenggang menginjak pinggir jalan, kaki kanannya pelan menyentuh jalan aspal, jantungku berdetak berbarengan dengan kaki kanannya ketika menyentuh aspal. Kaki kirinya menyusul, seirama hingga gadis kecil itu berada di tengah jalan raya, sempurna di jalan raya. Di hadapanku, dia melihatku, kami bertatapan. Seolah ada yang memaku pandangan kami.

Dan.

“Awas Siti!” teriakan seorang wanita dari arah taman kuat menampar lamunanku. Aku sadar dari kenikmatan singkat itu. Suara-suara dunia kembali menggema, knalpot dan klakson menimpali. Aku menggoyang kepalaku, sadarlah. Gadis kecil itu masih menatapku lekat dan tak bergerak di tengah jalan.

Sebuah mobil kencang bergerak dari arah kanan masjid dan meluncur cepat kearah si gadis kecil, dia tidak bergeming dan masih menatapku.

“Tiin! Tiin!” mobil membunyikan klakson kuat, tak berhenti.

Bagaimana ini? Kakiku menjejak kuat mendekati gadis berwajah cahaya itu, entah siapa yang menggerakkannya begitu cepat. Melesat bagaikan kecepatan yang mungkin jika aku sadar tak kan bisa kuulangi, melesat begitu saja dan singkat. Aku menggapainya, memeluknya dan bergulingan di jalan aspal. Tubuhku membentur undakan setinggi setengah meter arah masuk ke taman Kota Metro.

“Duk!” 

Punggungku terasa nyeri. Seolah remuk. Semoga gadis kecil itu tidak apa-apa.

Masih berbaring, Aku membuka pelukan, memastikan. Wajah itu tersenyum dan menatapku lagi, wajah yang teramat indah, luka-lukaku seolah tak terasa.

“Mbak tidak apa-apa?”

Aku mengangguk. Aku berdiri dan membantunya berdiri.

Seorang wanita berjilbab datang dan langsung memeluk gadis kecil itu dan memeluknya, “Kamu tidak apa-apa anakku? Maaf Umi tadi lengah Nak?” airmata wanita itu menetes. Aku masih sibuk membersihkan debu dan menempel di bajuku, banyak. Seluruh bajuku terkena debu.

“Terima kasih ya Mbak?”

“Sama-sama Bu,” aku menoleh kearah wanita itu. Dan... Masyaallah, dunia seolah kehilangan tempat berpijak, tubuhku bergetar hebat, hatiku menjerit, bibirku kelu tak mampu mengucapkan apa-apa. Hanya satu yang terjadi, airmataku mengalir tak tertahankan lagi. Allah...

Kakiku sempurna lemas.

“Adik kenapa?” wanita itu masih menggendong gadis bercahaya itu.

Aku tak kuasa lagi, tubuhku bergerak memeluk wanita itu. Ya, dialah yang kucari selama ini. Aku menemukannya ya Allah, Kau mengatur segalanya sekehendakMu, Kau takdirkan bagian hamba sesuai ketetapanMu. Akankah perjalananku segera menemukan pangkalnya? Lisanku tak kuat berujar.

Wanita itu memelukku dengan tangan kanannya, membiarkanku menangis dalam pelukannya. Di tengah-tengah deruman knalpot, hatiku tenang dan nyaman berada dalam pelukannya.

©     ©     ©

“Sebenarnya ada apa Anakku? Kenapa kau menangis?” wanita itu menatapku heran. Kami duduk di batu-batu hiasan di taman. Dia mulai berbicara ketika dirasa aku sudah tidak menangis lagi.

Aku mengatur nafasku, “Ibu tahu siapa saya? Masih ingat dengan saya?”

“Saya lupa Dik? Tapi memang wajah adik sepertinya saya pernah melihatnya tapi entah dimana? Ibu benar-benar lupa” kutaksir dia berumur empat puluhan tahun lebih sedikit. Lupakah dia dengan peristiwa yang tak bisa kulupakan? Percakapan di mobil.

“Nama saya Salwa Salsabila, Ibu ingat sekarang?”

“Salwa Salsabila,” Ibu itu seolah berfikir, kubiarkan saja, “Maaf Dik, saya benar-benar lupa, tapi nama adik bagus. Madu yang begitu manis dan sangat bermanfaat bagi manusia dan kesehatan, tidak sembarang madu melainkan madu dari mata air di surga. Tapi..., sepertinya aku ingat nama itu.”

“Iya, Ibu ingat sekarang?” aku sumringah.

“Tapi aku lupa dimana?”

“Di dalam mobil angkot, sekitar satu bulan yang lalu,” aku meyakinkannya. Si gadis bercahaya masih asyik di pangkuannya.

“Di dalam mobil?”

“Iya, saya yang menangis karena ibu saya meninggal dan...”

“Masyaallah!” wanita itu memotong ucapanku cepat, matanya berkaca-kaca, “Ibu ingat sekarang, pantas saja Ibu lupa ternyata kamu sudah memakai mahkota anakku. Dan, wajahmu yang dulu murung dan sedih kini telah tergantikan bersinar seolah cahaya yang berpendar-pendar. Allah mencintaimu anakku,” wanita itu tersenyum dan membelai lembut jilbab putihku.

Aku menatap lekat wajahnya yang tidak berbeda jauh dengan wajah yang kutemui di mobil waktu itu. Wajah itu tetap saja anggun, meskipun usianya telah lebih dari 40 tahun. Si gadis berwajah cahaya tenang berada di pangkuannya, gadis kecil yang sangat penurut. Ada pancaran yang tidak bisa dipungkiri ditolak dari gadis kecil itu, wajah yang menenteramkan.

“Nama Ibu siapa? Salwa belum tahu nama Ibu,” hari makin mendekati waktu shalat maghrib.

“Nama Ibu Nur Anisa, panggil saja Bu Nisa,” wajah bersinarnya terpantul cahaya dari ufuk barat, semburat merahnya terasa menyejukkan hati dan pandangan mata.

“Ibu Nisa,” aku memanggilnya sambil tersenyum, dan beliau membalas senyumku, “Lalu, si adik kecil ini?” aku mengelus jilbabnya, tangan kanannya masih menggoyang-goyangkan plastik hitamnya.

“Namaku Siti Mbak,” si gadis kecil bercahaya itu tersenyum menatapku, tidak kusangka dia sendiri yang menjawabnya.

“Nama lengkapnya Siti Fatimah Munawarah, dia anak kedua Ibu,” aku manggut-manggut sambil mendekati wajah kecil bercahaya itu. Senyumnya begitu indah, aku ingin meresapi cahaya di wajahnya, kucium pelan keningnya. Allah, berilah hamba cahaya di hati hamba, di wajah hamba, di mata hamba, di pendengaran hamba, dan jadikan hamba berisi cahaya.

Seolah angin sore ini memberikan pesona indah dan terasakan lembut di sekujur jiwaku, apakah pencarian menguak ketetapanMu akan tercapai ya Allah? Tapi, pasti tak akan semudah jalanan penuh bunga, namun hamba tak akan berhenti dan tak akan putus harapan.

Aku teringat pesan nabi Yaqub as. Kepada anak-anaknya, beliau tak pernah berputus harapan demi mencari anaknya Yusuf as.

Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir (ingkar). 

“Bu, saya minta alamatnya. Karena banyak hal yang harus saya konsultasikan kepada Ibu. Saya ingin berguru kepada Ibu.”

“Apakah kamu masih penasaran dengan namamu?”

Aku mengangguk.

Bu Nisa menulis di dalam note book, lalu menyobeknya dan memberikannya padaku, “Rumah Ibu mudah dicari kok, melewati Kampus setalah perbatasan Metro dan Lampung Timur,” Aku menerima kertas itu dan memasukkannya ke dalam tas.

“Ya sudah, Insyaallah kita akan bertemu lagi. Pintu rumah kami terbuka selalu untukmu Salwa,” bu Nisa memelukku lagi, “Yang bisa merubah kehidupan ini hanyalah Allah, maka dekatkanlah diri kita selalu padaNya. Jangan pernah berputus asa dariNya anakku,” dia melepaskan pelukannya, “Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam,” mereka mulai melangkah meninggalkanku, biarlah kuperhatikan langkah mereka hingga menghilang. Mungkin mereka akan naik angkot.

Sepuluh meter perjalanan itu. Siti, si gadis kecil bercahaya itu berbalik sambil tetap dituntun berjalan, dia menatapku. Ada sesuatu yang sepertinya ingin dia ungkapkan, aku menunggunya, selalu.

“Mbak Salwa!” Siti melepaskan pegangan tangan bu Nisa, dia berlari kearahku. Bu Nisa membiarkannya.

“Ada apa Siti?” kulihat dadanya turun naik.

Dia diam saja, namun tangannya mengambil sesuatu dari balik plastik hitam yang ditentengnya dari tadi. Dia mengambil sesuatu dari balik tangannya, hatiku bergetar demi melihatnya, dadaku tak kuat menahan haru, hatiku benar-benar mendesir-desir tak tentu. Hatiku luruh, tunduk.

Siti tersenyum, “Mbak Salwa sepertinya membutuhkan ini.” Dia menghulurkan Mushaf Al-Quran plus terjemahan yang berukiran sangat indah di sampulnya.

“Lalu, Siti nanti bagaimana?”

“Tadi Siti beli dua kok, karena bagus-bagus sampulnya,” senyumnya mengembang, “Siti ikhlas memberikannya.”

Aku melihat bu Nisa, dia tersenyum dan mengangguk.

Tanganku bergetar, sempurna menggigil mendekati mushaf yang masih dalam pegangan tangan Siti. Aku menerimanya dengan kedua tanganku, ada resapan kesejukan ketika tanganku menyentuh mushaf.  Hatiku tergetar.

Haa Mim. Diturunkan kitab (Al-Quran) ini dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. 

Aku mencium takzim mushaf pemberian Siti, lalu kumasukkan ke dalam tas. Aku mencium kening Siti dan memeluknya sekali lagi, “Terimakasih ya Dik, kau adalah hadiah Allah yang berharga untuk Mbak,” aku menatapnya.

Tangan kecilnya bergerak dan mengusap mataku yang sedikit berair, “Mbak Salwa sangat cantik, aku tidak punya kakak perempuan seperti Mbak. Maukah Mbak menjadi kakakku?”

Aku mengangguk.

“Pamit ya Mbak, Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam,” Siti berlari dan menyambut uluran tangan bu Nisa, mereka melangkah pergi sambil bergandengan. Angin yang bertiup seolah mengiringi dan mengelilingi mereka membentuk fatamorgana cahaya berpendar-pendar melingkupi mereka. Allah..., izinkanlah hamba memiliki cahayaMu.

Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk Islam... 

Al-Quran. Aku mengambil mushaf  itu kembali dari tas. Kitab ini adalah kitab yang merupakan firman-firman Allah, kitab yang berisi petunjuk tentang agama ini, kitab yang selama ini aku acuhkan. Kini, Engkau melalui perantaraan manusia memberikannya padaku ya Allah. Kitab yang membuat orang-orang hebat berlaku lurus dan ikhlas. Allah, aku ingin menjadikan diriku sebagai cerminan Al-Quran, hamba sangat ingin ya Allah.

Aku tersenyum menatap langit, Kami tiada menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dalam waktu yang ditentukan. Dan orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka. 

Kumasukkan kembali ke dalam tas. Azizah pasti sudah menungguku, menunggu segenap ceritaku, dia pasti akan mendengarkan kehebohan ceritaku hari ini. Dia selalu setia mendengarkan keluh kesahku, sangat jarang aku bertemu dengan teman sepertinya selama ini. Allah, betapa Kau telah mencukupi semua keperluanku tanpa hamba memintanya. Kumulai melangkah menuju Rumah Sakit, aku juga harus mempersiapkan mata kuliah besok, nanti malam harus belajar.

Ketika mendekati jalan raya dari arah taman hendak menyeberang, mataku tajam memfokuskan pada segerombolan anak kecil yang sedang tertawa-tawa dan, asap demikian pekat mengepul di sekitar mereka. 

Dan...

Mataku tak bisa percaya menyaksikan salah satu dari bocah yang sedang tertawa sambil memasukkan puntung rokok ke mulutnya. Dia... Dion. Jiwaku tergerak, bukan karena aku marah padanya, tapi karena aku sayang padanya.

“Dion! Dion!,” aku mendekati mereka sambil menyeberang jalan. Mobil-mobil tiba-tiba melintas terlalu panjang dan macet, Aku belum bisa menemukan celah untuk menyeberang. Kuamati mereka, Dion melihatku, matanya sejenak menatapku. Dia terlihat kaget, tanpa pikir panjang dia berlari ke timur dengan cepat. Teman-temannya bingung, sedikit celah terlihat ketika sebuah motor  lewat. 

“Dion! Mbak pingin bicara!” saat kusampai diantara teman-temannya yang masih bercanda ria, Dion telah raib. Entah hilang kemana, kulihat terakhir dia berlari sekencang-kencangnya. Apakah dia takut?

Allah..., anak sekecil dia. Lalu uangku?

“Mbak mencari Dion ya?” seorang anak yang tengah makan roti mendekatiku, dia bukan dari kelompok  yang sedang bercanda tadi. Dia penjaga warung gerobak yang digelar di emperan jalan.

Aku mengangguk.

“Dia tadi katanya tadi baru dapat uang dari seseorang yang baik, lalu dia membelikanku roti ini. Dan teman-temannya dibelikan rokok, lalu tadi dia berlari ketika melihat Mbak. Apa mbak ini Kakaknya? Saya temannya.”

Mendung kian menggelap, hari semakin petang. Maghrib segera tiba. Uangku tadi dibelikan rokok? Tiba-tiba hatiku sedikit mengkal karena uang yang kupercayakan untuk membeli makanan dibelikan rokok.

Namun angin sore ini tiba-tiba mengelus-elus jilbab dan jiwaku lembut. Bukankah Allah melihat niat seorang hamba? Kenapa kecewa dengan kebaikan yang telah dilakukan? Bukankah pernah ada yang berinfak kepada orang kaya, seorang pelacur dan seorang pencuri, namun dia tidak putus asa. Tapi, ternyata uangnya membuat si kaya sadar dan mengikuti jejaknya menjadi orang yang berinfak, membuat si pelacur sadar dan si pencuri tidak mencuri lagi. Semua karena perantara ikhlas.

Allah, semoga tidak ada yang sia-sia dalam setiap usaha yang berusaha ikhlas. Amiin.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!