Padang Sajadah

Maafkan Aku, Ibu

Dialah yang menghidupkan dan mematikan, maka apabila Dia menetapkan sesuatu urusan, Dia hanya berkata kepadanya, ‘Jadilah,’ maka jadilah ia. (QS. Al-Mu’min : 68) Engkau sungguh berhak ya Allah, karena Engkaulah Raja dunia langit-langit dan dunia ini.

Aku menggenggam gundukan tanah baru di atas pusara Ibuku. Seorang yang selama ini kulecehkan dan kuhina, seseorang yang dengan santun dan lembut mengajarkan banyak hal padaku, mengasuhku tanpa pamrih, mengorbankan hidupnya demi seorang anak yang tak tahu diri. Kenapa aku begitu bodoh! Why I am not cobscious.

Dua bayangan di siang terik ini menyembul dari belakangku dan melewati di bawahku, seolah menembus gundukan tanah pekuburan baru itu. Sebuah tepukan pelan menyentuh pundakku pelan.

“Ayo pulang?” suara seorang wanita yang selama ini telah kuanggap sebagai Ibuku, dan ternyata itu hanyalah sandiwara. Sandiwara yang benar-benar sempurna melebihi artis-artis papan atas saat memainkan perannya dalam sinetron-sinetron yang mengisi tayangan televisi di Indonesia.

Setelah pingsan tadi siang Papi dan Mami yang ternyata tak mempunyai hubungan apa-apa denganku menceritakan semuanya. Bi Murni adalah seorang wanita yang terusir dari desanya karena hamil di luar nikah, dia diperkosa oleh seorang pejabat di desanya. Bi Murni difitnah telah melakukan hubungan di luar nikah, Ibuku diusir keluarga dan warga desa. Bi Murni hanya pasrah, berjalan siang malam tak tentu arah, membawa janin yang telah berusia satu bulan dalam kandungannya hingga kakinya terus melangkah di kota Bandar Lampung. 

Hingga melihat sebuah pengumuman di tempel di papan pengumuman membuatnya tergerak untuk mendatangi rumah si penempel. Menjadi pembantu rumah tangga.

Nasibnya mujur, karena tuan rumah tersebut memberinya kebebasan banyak karena mereka jarang di rumah. Bi Murni diminta menjaga kebersihan rumah, karena rumah selalu seringnya ditinggal pemilik rumah. Si wanita sibuk dengan bisnis catering yang telah bertaraf nasional, sehingga memiliki cabang di beberapa kota di Indonesia sedangkan si Bapak pemilik rumah entah tak diketahui kerja apa, namun sering keluar untuk menghadiri rapat-rapat dan sebagainya.

Bi Murni jujur menceritakan kejadian yang menimpanya, kedua suami isteri itu menaruh empati padanya. Bi Murni merasa selalu ada pertolongan Allah, dimanapun hambaNya berada. Hingga proses persalinan itu..., ternyata harus dioperasi dan bi Murni dihadapkan pada dua pilihan karena ada kelainan dalam rahimnya dan itu baru diketahui saat hendak melahirkan.

Kedua pasangan tuannya diberi pilihan untuk lebih mengutamakan keselamatan Ibunya atau Anaknya? Karena jika diteruskan akan berakibat buruk bagi kesehatan sang Ibu.

Bi Murni yang mendengar itu berkata kepada kedua tuannya, “Yang paling penting adalah anakku. Aku telah mengalami banyak hal buruk, biarlah anakku mencicipi indahnya dunia dan bersujud dengan sempurna pada Allah. Tolong saya Pak, Bu. Selamatkan anakku, aku akan membalas budi kalian sebisaku hingga mungkin seluruh hidupku sekalipun. Aku bersedia menjadi pembantu di rumah Bapak dan Ibu,” airmata Siti Murniyati mengalir lembut, terpancar ketulusan di wajahnya. Pasangan suami istri itu tak kuat menolak permohonan pembantu di rumahnya itu.

Persalinan berjalan lancar, anak yang sangat cantik itu lahir ke dunia. Bi Murni memberinya nama Salwa Salsabila, mata air yang mengalir dari surga, menyejukkan pandangan mata dan hati siapapun yang melihatnya. Namun, Dokter memberikan wanti-wanti bahwa ada gangguan dalam rahimnya setelah itu, bi Murni tidak bisa melahirkan lagi karena rahimnya sudah diangkat, begitu kata Dokter. Namun masih ada lagi, ada gangguan dalam kesehatan bi Murni. Dokter hanya menyuruhnya untuk banyak beristirahat dan menjaga dirinya baik-baik. Dokter juga belum tahu pasti gangguan yang diderita bi Murni.

Bi Murni pulang ke rumah majikannya. Kedua majikannya yang baik hati ternyata sudah menikah tujuh tahun namun tak juga dikaruniai seorang anak, maka dengan sedikit ragu bi Murni memohon sebuah permintaan yang aneh. Bi Murni meminta mereka untuk menjadi orangtua bagi puterinya, biarlah bi Murni hanya sebagai pembantu dan pengasuh bagi anaknya sendiri. Dia tak ingin anaknya nanti mengalami penderitaan karena tahu dia adalah anak tanpa memiliki seorang Bapak. Lagi-lagi, kedua pasangan itu tak bisa menolak permintaan pembantunya itu, mereka sangat berempati pada nasib bi Murni. 

Bi Murni meminta mereka untuk tidak memberitahu identitasnya sebagai ibu kandung Salwa jika dia masih hidup di dunia. Jadilah sandiwara itu tertutupi, seolah nyata dan tiada yang mengetahui, para tetangga pun tidak ada yang ambil peduli. Masyarakat di Kota memang tenggang rasa terhadap tetangga tidak nampak karena kesibukannya masing-masing, dengan kariernya. Sangat beda dengan masyarakat di pedesaan.

Dan nasib itu menimpaku, menimpa seluruh rangkaian hidup yang telah kulewati. Tak tersisa bagian manapun, sedikitpun. Akulah korban sandiwara yang memilukan dan menggores hati seorang Ibu. Ibu yang melahirkan, mengasuh, mengurusi semua keperluanku sejak kecil, yang selalu kucampakkan segala kebaikannya.

Airmataku menetes, menembus tanah yang merah bergembur di bawahku. Lututku sempurna menyentuh tanah, Ibu..., dengarlah suara hatiku. Sungguh, maafkanlah puterimu yang tak tahu diri ini. Begitu hinanya hati ini, begitu kerasnya hati ini hingga membatu tak dapat menangkap percikan cintamu yang tulus setiap saat menemani setiap hari-hariku.

Aku menatap langit menjulang, arakan awan sedikit menutupiku dari sengatan matahari terik ini. Terlihat kawanan burung serba putih terbang melintasiku, memberi bayangan sejenak memberi rasa syahdu pertemuan kesadaran dengan ibuku. Dalam terbangnya burung-burung itu, kulihat bayangan senyum ibuku di setiap balik sayapnya yang mengepak indah, lembut, teramat teduh, menyedapkan seluruh pandangan. Hatiku mendesir, merindukanmu ibu. Sungguh...

Kawanan burung berwarna putih itu terbang membentuk huruf V, forming and shape yang tak akan tertandingi oleh siapapun, karena Allahlah yang menggerakkannya. Allah..., indahnya kau menuntun dan mengilhamkan burung berwarna putih itu terbang membentuk huruf V dengan ujung runcing ke depan. Persis mata panah raksasa, terbang kearah selatan untuk pulang ke sarang mereka kembali setelah paginya terbang kearah utara untuk mencari rezeki. Tiadakah mereka memperhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang di angkasa bebas. Tidak ada menahannya selain dari Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang-orang beriman. 

Dalam bukunya 7 habbits, Sean Covey mengemukakan bahwa para ilmuwan telah menemukan sesuatu yang menakjubkan dalam cara terbang burung yang terbang membentuk mata panah itu. Dengan terbang dalam formasi, seluruh burung mampu untuk terbang 71 persen lebih jauh ketimbang kalau masing-masing burung terbang sendiri. Mengapa? Ketika seekor burung mengepak sayapnya terciptalah arus angin bagi burung berikutnya, yaitu burung yang terbang berada di belakangnya namun agak serong sedikit. Terjadilah efisiensi energi yang luar biasa akibat energi ini. Jika burung paling depan letih, ia akan mundur dan mengambil tempat di belakang kemudian segera akan ada yang menggantikannya menjadi pemimpin perjalanan. Burung-burung yang terbang di belakang pun mengeluarkan suara yang keras untuk menyemangati rekannya yang di depan. Setiap kali seekor burung keluar dari formasi, ia akan merasakan tekanan dan tolakan angin yang besar sehingga buru-buru ia akan kembali ke formasi.

Tidaklah kamu tahu bahwasanya Allah, kepadaNya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) shalat dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. (QS. An-Nuur : 37)

Dalam formasi terbang burung tersebut setidanya ada lima hal yang bisa dijadikan pelajaran. Pertama, tolong-menolong untuk mendapatkan kemanfaatan yang lebih besar. Dengan bekerja sama hal yang berat akan terasa ringan dan lebih cepat diselesaikan ketimbang sendirian. Kedua, jika ada yang keluar mencoba mencari jalannya sendiri maka akan terbentur dinding angin yang besar. Ada berat yang melanda hati dan jiwa seseorang jika hanya ingin sendiri, karena Rasulullah saw mengibaratkan seorang yang berjalan sendiri akan mudah digoda oleh syetan, atau seperti kambing yang keluar dari kawanannya akan mudah disantap serigala dan binatang buas lainnya.

Ketiga, saling memahami. Ketika burung yang di depan yang ditunjuk sebagai pemimpin perjalanan dan ketika lelah dia dapat mundur untuk dapat digantikan dengan yang lainnya. Pada dasarnya pemimpin adalah pelayan bagi orang-orang yang dipimpinnya, rela mengorbankan kebahagiaan dirinya sendiri demi keselamatan dan kebaikan orang-orang yang dipimpinnya. Itulah pemimpin yang adil, yang akan mendapatkan naungan Allah di padang mahsyar, dimana tidak ada lagi naungan kecuali naungan dan pertolongan Allah ’Azza wa Jalla. Ketika seorang pemimpin sudah sekiranya lelah, dan mengetahui ada yang juga lebih pantas menggantikannya maka dia akan mundur untuk digantikan. Alangkah indahnya berbagi dan saling memahami tanpa tamak berebut kedudukan?

Keempat, saling mendukung. Suara burung-burung yang di belakang yang menjadi sahabat pemimpin mereka yang berada di depan berteriak semangat, memberi semangat agar pemimpin perjalanan mereka merasa ada yang memperhatikan dan melihat kerja kerasnya menghalau angin dan memberi kemudahan terbang bagi sahabat-sahabatnya. Alangkah indahnya jika hidup ini, manusia bisa saling menghargai. Menghargai perbedaan pendapat, menghargai hak dan martabat, dan akhirnya saling memberi semangat untuk dapat mencapai apa yang diinginkannya. Allah ’Azza wa Jalla ingin agar umat Islam bersatu, bersaudara dan saling memberi semangat untuk mencapai tujuan penciptaan, yaitu sebagai khalifah di muka bumi dan untuk beribadah kepadaNya.

Kelima, berkorban. Ketika ada salah satu burung yang terluka semisal terkena tembak atau terkena sesuatu yang menghantamnya dan dia terjatuh. Maka, minimal akan ada dua burung yang akan keluar dari forming and shape untuk memberi bantuan. Dua burung itu akan meluncur turun hingga mendapatkan si burung yang terluka, jika jatuh mereka akan menungguinya dan menolong sebisa mereka, jika burung itu mati maka mereka baru akan meninggalkan si burung yang terluka. Allah ‘Azza wa Jalla-lah yang mengilhamkan kepada mereka jiwa cinta dan kesetiakawanan.

Dari point kelima bisa dilihat bahwa sebagai umat Islam hendaknya kita lebih mulia dari burung-burung tersebut, kita diberikan hati nurani dan akal pikiran. Jika ada saudara kita yang terluka, hendaknya kita menjadikan diri kita sebagai pelipur lara dan penyembuh bagi lukanya. Karena jika satu tubuh seorang muslim terluka maka tubuh muslim yang lain ikut merasakannya. Tapi kini, alangkah senangnya umat manusia saling menyakiti? Tidak lebih muliakah kita ketimbang burung-burung yang bertasbih padaNya, yang hanya memiliki nafsu? Yang mereka bertasbih dengan mengepakkan sayap-sayapnya? Yang mereka hanya mengagungkan Rabbnya? Yang mereka tidak memiliki banyak nikmat seperti yang manusia miliki. Masihkah manusia hendak merasa dirinya hebat dan sombong?

Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu , “Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah ‘Azza wa Jalla akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi, sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah terhadap) orang-orang dahulu. (QS. Al-Anfaal : 38).

Airmataku luluh, mengalihkan pandanganku dari langit ke bawah, wajahku lurus dengan tanah. Sempurna, berharap Allah sudi mengampuni dosa-dosaku dan dosa-dosa Ibuku.

”Ayo anakku, kita pulang?” wanita yang kuanggap sebagai Ibu kandungku mengulangi kata-katanya.

Kukuatkan ragaku berdiri, tergetar kakiku. Kubalikkan wajahku ke belakang. Kutatap wajah-wajah mereka berdua, ”Terima kasih..., selama ini kalian telah mau bersedia membahagiakan Ibuku dengan memenuhi permintaanya untuk bersandiwara menjadi orangtuaku. Terima kasih, aku tak tahu bagaimana membalas budi baik kalian. Tapi biarlah...,” aku menatap mereka, wajah mereka begitu tulus kurasakan.

”Biarlah semua sandiwara ini berakhir disini, di pekuburan Ibuku. Kita jalani hidup kita sendiri-sendiri mulai kini. Terima kasih Tuan dan Nyonya,” airmataku tak kuat kubendung, meleleh. Kutahan sekuat tenaga, namun semakin banyak keluar.

Wanita di hadapanku ikut meneteskan airmata, ”Tidak ada yang akan berubah, sandiwara ini akan berlanjut dan menjadi nyata. Kami akan selalu menjadi orangtua bagimu anakku.”

”Tidak perlu Nyonya, terima kasih atas kebaikan kalian selama ini. Aku ingin menemukan kesejatian diriku, menangkap takdirNya dengan kehendakNya. Selamat tinggal,” aku berbalik. 

Kukuatkan langkahnya mulai menginjak tanah di depanku. Terasa berat pada langkah pertama, sangat gemetaran.

”Anakku..., kembalilah pada kami Nak?” suara wanita itu parau.

”Benar Puteriku, kau tidak punya siapa-siapa kecuali kami,” suara lelaki yang selama ini kupanggil dengan sebutan Papi itu kini juga semakin memberatkan langkahku.

”Biarlah Allah yang akan menjawabnya, Tuan dan Nyonya. Aku ingin tahu, apa kehendakNya sehingga aku mengalami hal ini. Aku ingin menemukan jawaban itu, selamat tinggal,” aku berhenti sejenak dan mengusap airmataku, menguatkan azzamku, ”Assalamu’alaikum,” dan kakiku melangkah, terasa lebih ringan. karenaNyakah?

Aku terus berjalan, walau tak tahu ada apa di depan perjalananku nantinya. Aku hanya mengikuti irama kehidupan yang menuntunku, aku tak tahu tapi..., bukankah Engkau Mahatahu ya Allah? Akan kuikuti kemanapun jiwa ini melangkah dan menemukan apa sebenarnya yang dicarinya.

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah ‘Azza wa Jalla yang telah menciptakan manusia menurut fitrah (kesucian) itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.  Seperti itulah fitrah menuntun manusia. Seolah bayi yang lahir dalam keadaan bertauhid, ‘Seperti bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah (bertauhid), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan Yahudi, Nasrani atau Majusi.’  Maka sudah menjadi tugas manusia di bumi ini untuk menemukan fitrah kelahirannya. Tugas menemukan hidayah.

Manusia yang hidup di dunia berhak memilih apa yang hendak dilakukannya, life is the choice. Ya, hidup ini penuh dengan pilihan-pilihan.

Maka Allah ‘Azza wa Jalla mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaan. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwanya, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. 

©     ©     ©

Dan aku akan memilih jalanku, menguak misteriNya.

Dari Nawwas bin Sam’an r.a. Rasulullah saw bersabda, ‘Allah Swt. membuat perumpamaan sebuah jalan lurus. Di sebelah kanan dan kirinya terdapat dua pagar. Pada masing-masing pagar terdapat pintu terbuka (tanpa daun pintu). Pada setiap pintu terdapat tirai penutup yang menjuntai. Di pangkal jalan tersebut terdapat penyeru yang memanggil, “Wahai manusia, masuklah kamu sekalian ke jalan ini dan jangan berbelok!” Di atas jalan itu juga ada yang menyeru manusia, apabila manusia mencoba membuka pintu-pintu tersebut, maka sang penyeru memanggil, “Celaka engkau, jangan membukanya, sebab bila telah terbuka, kamu akan memasukinya.”

Jalan lurus itu adalah Islam. Dua pagar adalah batas-batas yang telah ditetapkan Allah ‘Azza wa Jalla. Pintu-pintu yang terbuka adalah hal-hal yang diharamkan Allah. Penyeru di pangkal jalan adalah kitabullah. Sedang penyeru di atas jalan adalah penasihat dari Allah yang ada dalam  hati setiap muslim.’  (HR. Ahmad).

Aku memasukkan kembali figura foto yang membuat hatiku teramat rindu padanya ke dalam tas. Inginku membersihkan dan mencium kedua kakinya, aku ingin memeluknya, aku ingin bersandar di hatinya yang selalu menaungiku. Ibu..., sedang apa kau disana sekarang? Sungguh..., maafkanlah anakmu yang durhaka ini. Maafkanlah aku, Ibu.

Aku membuka restleting di bagian tas kecilku, sebuah amplop yang terlihat lusuh. Pandanganku tertancap padanya, mataku pilu menatapnya. Tanganku gemetaran hendak meraihnya, benar-benar sempurna bergetar.

Pelan kudekatkan amplop itu di depan wajahku, kedua tanganku gemetar membuka amplop kecil lusuh itu. Surat dari Ibuku sebelum menghadapNya, aku ingin membacanya lagi. Aku rindu...

 

Assalamu’alaikum warahmatullah

Salwa puteriku yang dicintai Allah

Ibu sudah lupa bagaimana caranya menulis Nak, Ibu tidak bisa merangkai kata dengan baik, wong ibu hanya lulusan SMP.

Kurasakan seperti sedang berbincang dengan Ibu yang selalu kusakiti hatinya, seolah dia tersenyum lugu tanpa mau tahu apapun yang telah kuperbuat padanya. Ibu..., kau seumpama mentari yang merelakan bahagiamu untuk seluruh manusia, untuk sesuatu yang kau anggap berharga. Lebih berharga dari dirimu. Aku tersenyum getir, kupaksakan. Namun, airmataku menetes membasah pipiku.

Saat hariku sudah terasa dekat,

Anakku, maafkan Ibu karena telah menutupi semua sandiwara besar ini. Ibu tidak ingin kau menjadi bagian dari masa lalu ibu yang buruk. Ibu hanya ingin melihat senyummu mengembang menyapa kehidupanmu tanpa terbebani dengan masa lalu Ibu yang suram. Maafkan Ibu, Ibu yakin ketika kau membaca surat ini kau telah mengetahui segalanya tentang Ibu.

Dunia ini begitu indah dalam naungan dan genggamanNya. Sungguh, betapa indahnya Dia yang telah menciptakanmu begitu cantik dan menawan siapapun yang menatapmu. Anakku, kau bahagia dan ridha kan dengan kasihku selama ini? Aku takut pada Allah jika kau tak ridha dengan cinta dan kasihku. Bagaimana nanti di padang mahsyar jika Ibu ditanya Allah, bagaimana jika Dia bertanya, ‘Wahai Siti Murniyati, kau apakan amanah puteri yang Aku berikan padamu?” kaulah yang akan menjawabnya anakku. Aku minta keridhaanmu anakku, aku telah berusaha menjadi penjagamu sekuat ibu Nak.

 

Airmataku tak kuat lagi bertahan, satu-persatu gugur, menembus hatiku yang perih. Aku yang seharusnya meminta maaf padamu Ibu, bukan Ibu yang meminta keridhaan padaku. Harusnya aku yang akan menjawab pertanyaan Allah ‘Azza wa Jalla, ‘Apakah kau telah membahagiakan Ibumu?’ lalu, apa yang harus kujawab padaNya? Kecuali ridhamulah Ibu yang akan menyelamatkanku, ridhamu adalah ridha Allah, Ibu. Apa yang harus kulakukan agar kau ridha padaku?

 

Anakku, bisa melihatmu bercanda dengan dunia, melihatmu tersenyum menatap hidupmu adalah kebahagiaan yang menggantikan seluruh duka yang ibu alami. Allah Mahaadil, Dia memberikan ganti dari setiap ujian yang diberikanNya. Melihat wajahmu saja sudah cukup, sungguh cukup membuat hati Ibu bahagia Nak.

Ibu mohon padamu Salwa, anakku...

Jadikan ini permintaan terakhir Ibu padamu. Ibu ingin kau melaksanakan amanah nama yang Ibu berikan, carilah arti namamu dan belajarlah mengikuti alur namamu. Ibu yakin, kau akan menjadi wanita shalihah, belum pernah sekalipun Ibu kecewa dalam berdoa pada Allah ‘azza wa Jalla. Setiap detik nafas Ibu, doa Ibu hanya agar kau menjadi wanita shalihah. Kumohon, dan surat ini menjadi perwakilannya. Ibu yakin, Allah akan mengabulkan doaku.

Maka bantulah Ibu, agar Ibu tak kecewa dengan doaku padaNya. Jadilah kau memegang amanah nama indah yang Ibu sematkan padamu, carilah jati dirimu hingga dirimu hanya terisi cintaNya.

Salam terindah,

Dari Ibumu

Ibu, sungguh aku merasakan senyummu mengembang. Aku mengusap airmataku yang sempurna membasah setiap bagian dari bajuku. Aku akan menjadi yang kau inginkan dengan izinNya, aku akan berusaha keras wahai Ibu. Aku tak akan pernah mengecewakanmu lagi, sedetikpun dan sekejappun. Salwa akan berusaha memenuhi amanah nama ini duhai Ibu.

Tapi, bagaimana caranya?

Subhanallah. Aku tersenyum di sela-sela airmataku yang masih menetes. Iya, iya. Aku ingat. Wanita di dalam mikrolet itu, percakapan dengannya itu. Aku mengingat-ingat percakapan menjelang pulangku setelah menguburkan almarhum Ibu, ya aku ingat sekarang. Tentang namaku....

 

 “Kau punya masalah anakku?” wanita paruh baya di sebelahku menyentuh pundakku, mobil itu masih menunggu penumpang lainnya.

“Aku merasa tak siap menerima segala ujian yang tiba-tiba datang, apakah memang semua karena dosa-dosaku yang terlalu banyak?” Aku berbicara seolah melantur.

Wanita paruh baya itu memerhatikan pandangan mataku yang kosong, “Siapa namamu gadis cantik?”

Aku menoleh kearah wanita itu, “Salwa Salsabila.”

“Nama yang bagus. Madu yang begitu manis dan sangat bermanfaat bagi manusia dan kesehatan, tidak sembarang madu melainkan madu dari mata air di surga.”

Aku menatap wanita itu, “Tapi, aku telah mengecewakan orang yang telah menyematkan nama ini padaku. Aku telah menyakitinya, aku telah sering membuatnya sakit, bahkan akulah yang telah menyebabkan kematiannyal, ”ada bening yang menetes di pipinya yang bersih.

“Kau sudah minta maaf padanya?”

“Sudah, namun setelah itu dia pergi meninggalkan dunia ini.”

“Dia sudah memaafkanmu?”

“Jauh sebelum aku meminta maaf, dia telah memaafkanku.”

“Itu lebih mudah bukan?” wanita berjilbab itu tersenyum padaku.

“Maksud Ibu?” Salwa meneliti wajah keibuan yang selalu tersenyum.

“Kau tinggal melaksanakan amanahnya saja, melaksanakan amanah nama yang telah disematkan padamu.”

“Apakah dia masih bisa melihatku di sisi Allah?”

“Tentu saja. Jika dia kini diberikan kenikmatan oleh Allah, maka sebenarnya dia ingin bertemu denganmu dan mengatakan kabar gembira dengan rahmat Allah yang luasnya seluas langit dan bumi namun Allah menahannya. Sebenarnya dia sangat ingin berkata padamu, Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikanNya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka bahwa; tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati . Dia akan sangat bahagia jika engkau mau memaknai namamu menjadi yang terbaik dan bermanfaat bagi agamamu.”

“Dia adalah Ibuku, aku telah durhaka padanya. aku baru tahu ketika dia hendak meninggal dunia, dan sepanjang hidupku aku selalu mencaci dan menghinanya.”

“Bukankah kau bilang tadi bahwa dia telah memaafkanmu?”

Aku menatapnya dan mengangguk.

“Sekarang kau tidak punya alasan lagi untuk mengelak  mengemban amanah dari Ibumu itu. Kau tidak ingin lagi mengecawakannya kan?”

“Iya. Saya ingin melihatnya tersenyum dari sana.”

Wanita berjilbab itu tersenyum.

 

Aku ingat jelas wajah wanita berjilbab itu. Aku harus mencarinya, dia pasti bisa menjelaskan amanah nama ini. Aku menatap langit-langit mushola, Allah... Kau memang mengatur kehidupan ini sekehendakMu, dan itu pasti yang terbaik menurutMu. Jika memang ini yang terbaik untukku, maka aku akan menjalaninya dengan cintaMu.

Terima kasih Allah....

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!