Padang Sajadah
Langkah Cinta (2)
“Memang sudah saatnya kamu menikah Salwa, kamu butuh pendamping yang bisa menjagamu,” Ratih menatapku menguatkan.
“Iya Salwa, Allah telah mengatur kehidupanmu begitu rapi dan indah,” Rini menatap kedua mataku.
“Siapakah lelaki itu Bu?” aku mengalihkan pandanganku ke bu Nisa.
“Lelaki itu alhamdulillah hafidz Quran, baru khatam. Dia adalah lelaki yang menolongmu saat kau terjatuh pingsan ketika naik mobil saat akan pulang dari toko. Kau ingat?”
Aku mencoba mengingatnya. Ya, memang ada seorang lelaki yang terakhir kulihat sebelum semuanya gelap saat itu.
“Tapi Bu, saya tidak mempermasalahkan lagi apalagi dia telah hafal Quran. Tapi, bagaimana dengan keadaan saya yang baru belajar ini? Apakah nantinya tidak menjadi permasalahan?”
“Dia telah mendengar kisahmu dan dia akan berusaha bersama denganmu menetapi ketaatan kepada Allah.”
Hening. Kemulyaan apa lagi ini ya Allah. Apakah hamba telah pantas untuk melangkah ke pernikahan?
“Kau tahu anakku?” kini pak Samsul yang berbicara, “Kau begitu berharga bagiku, maka aku mohon kamu pertimbangkan. Lelaki yang melamarmu ini adalah anak pertamaku yang telah menyelesaikan sarjananya di Malaysia, dia adalah Muhammad Iqbal, kakak dari Siti.”
Masyaallah.
Lemas sudah seluruh syarafku. Sempurna benar semua kejadian ini.
Aku merenung dalam mencari segala ketetapanNya.
“Allah yang mengatur segalanya, apapun ketetapanNya adalah yang terbaik untuk hamba-hambaNya. Maka, aku akan meminta petunjuk kepadaNya terlebih dahulu. Aku akan memberikan jawabannya setelah ada keyakinan yang kuat dari hatiku.”
Dan semuanya mengangguk setuju. Langit dan bumi menjadi saksi atas ketetapanNya padaku. Dan kupasrahkan diri ini, jiwa dan raga ini, hanya kepadaMu Allah. Hamba ingin melakukan yang menjadi kehendakMu ya Allah.
Allah..., dan semua hal adalah dengan izinNya.
© © ©
‘Besarnya pahala sesungguhnya berbanding dengan besarnya cobaan. Sungguh, apabila Allah ‘Azza wa Jalla mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka. Maka, barangsiapa ridha maka dia mendapatkan keridhaan (Allah) dan apabila dia murka (benci/kecewa) maka dia mendapatkan kemurkaan Allah ‘Azza wa Jalla. ’
Balance, impasse.
“Apakah kau telah memiliki keyakinan untuk menikah?” lelaki berbaju kemeja putih itu terus menunduk, aku pun tak berani curi pandang padanya. Itu semua karena iman, aku hanya melihat sekilas tadi sewaktu ta’aruf . Wajahnya sangat mirip dengan adiknya, Siti. Sama-sama bercahaya. Dan kini, dia sedang menanyakan kepastian kesediaanku? Dan ini adalah kenyataan.
“Bagaimana Ukhti?” mas Iqbal kembali bertanya.
Hening, kini suarakulah yang sedang mereka tunggu. Bu Nisa, pak Samsul, Siti dan mas Iqbal datang ke kost-ku sesuai kesepakatan yang telah aku berikan. Bahwa aku telah menemukan jawabannya. Ratih dan Rini duduk di sebelah kanan dan kiriku, kami semua duduk di alas tikar di depan kost.
“Bolehkah aku bertanya tentang beberapa hal kepada mas Iqbal?”
“Silakan,” mas Iqbal nampak tenang.
“Pertama, kenapa mas Iqbal ingin menikah? Maksud saya, apa tujuan mas Iqbal menikah?”
“Aku menikah untuk menjaga Allah ‘Azza wa Jalla di hatiku, kecintaanku kepadaNya membuatku harus melangkah untuk menutup celah kemaksiatan. Rasulullah saw menjelaskan bahwa hanya dua langkah untuk menangkal setiap keburukan bagi pemuda, yaitu menikah atau berpuasa. Dan, aku mengambil alternatif yang pertama yaitu menikah.
Allah berfirman, ‘Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat dzalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat) bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaanNya (niscaya mereka menyesal).
Bukankah dengan pernikahan akan lebih menyucikan jiwa, bisa saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran. Sesudah menikah dua orang mukmin akan saling mencintai karenaNya dan akan meneguhkan dalam menetapi ketaatan kepadaNya,” jawabannya sangat jelas dan mantap.
“Kedua, bagaimana menurut mas Iqbal tentang wudhu dan shalat?”
Mataku tanpa sengaja melihat lelaki itu. Ada desir yang melanda, lelaki itu masih saja tertunduk dan akupun segera mengalihkan pandanganku.
“Maka, wudhu itu menjadi wajib karena syarat sahnya shalat adalah berwudhu terlebih dahulu. Itulah kenapa ketika ada sebuah sarana yang harus dilakukan merupakan rangkaian dari syarat suatu amalan wajib, maka amalan itu menjadi wajib. Seperti itulah jika ada seorang lelaki yang juga menikah bisa menjadi hukum wajib, sunnah, makruh dan sebagainya dengan beberapa keadaan yang dihadapinya.
Tentang wudhu, Rasulullah saw bersabda, ‘Barangsiapa berwudhu’ dan memperbaiki (menyempurnakan) wudhunya, maka keluarlah kesalahan-kesalahan dari badannya hingga keluar dari bawah kuku-kukunya.’
Hadits ini mengajak kita untuk berwudhu’ dengan sebaik-baiknya, bukan hanya sekedar menggugurkan kewajiban karena merupakan salah satu syarat shalat. Lebih dari itu, bukankah Bilal bin Rabbah ra. dikatakan Rasulullah saw bahwa terompahnya telah terdengar berjalan di surga walau dia masih di bumi. Kenapa? Karena dia menjaga wudhu’nya dengan sebaik-baiknya, dan juga mengiringinya dengan shalat sunnah. Subhanallah.
Atau di lain tempat Rasulullah saw bersabda, ‘Apabila berwudhu’ seorang muslim atau seorang mukmin maka dia membasuh wajahnya keluarlah dari wajahnya semua dosa-dosa yang pernah dilihat dengan kedua matanya bersama-sama dengan tetesan air yang terakhir. Dan apabila dia membasuh kedua tangannya keluarlah setiap dosa yang disentuh dengan kedua tangannya bersama dengan tetesan air yang terakhir. Dan apabila dia membasuh kedua kakinya keluarlah setiap dosa yang dilakukan dengan kedua kakinya bersama dengan tetesan air yang terakhir sehingga dia keluar dengan bersih dari semua dosa.’
Itulah indahnya Islam, itulah keagungan Allah ‘Azza wa Jalla. Dari hal wudhu yang mudah dilakukan saja dapat mengugurkan dosa-dosa. Namun, banyak yang tidak memikirkannya dan melalaikan lalu menganggap sepele,” mas Iqbal mengakhiri penjelasannya dengan menunduk. Matanya berkaca, “Dan jangan sampai kita juga menyepelekan hal-hal apapun dalam agama ini. Karena, bisa jadi Allah ‘Azza wa Jalla nanti akan menyepelekan kita di akhiratNya kelak.”
Aku terdiam. Ratih dan Rini mengangguk, aku bahagia ya Allah mendapat ilmu baru kali ini.
“Lalu, selanjutnya. Bagaimana menurut mas Iqbal tentang ketentuan dan ketetapan Allah pada hambaNya?” aku bertanya ketika kami sudah meresapi penjelasan mas Iqbal.
Mas Iqbal tersenyum, “Allah, Dialah yang menciptakan dan menjaga kehidupan ini. Maka, pastilah si Pembuat akan mengetahui apa yang lebih baik untuk buatanNya. Ketentuan Allah adalah kebenaran bagi setiap makhlukNya, karena jika kita sudah tidak percaya kepadaNya kita akan percaya kepada siapa lagi?
Semua hal yang terjadi adalah atas ketetapanNya sesuai dengan kehendakNya. Setiap ujian bisa menjadi tanda cintaNya dan bisa menjadi azabNya, hanya Dialah yang mengetahui segala rahasia. Manusia hanya boleh berpikir positif kepadaNya, maka itulah iman dan keyakinan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Dan bahwasanya kepada Tuhan-mulah kesudahan (segala sesuatu), dan bahwasanya Dia-lah yang menjadikan orang tertawa dan menangis. Dan bahwasanya Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan.
Semua takdirNya berlaku atas kita semua selaku ciptaanNya. Dan hamba-hamba Rabb Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik. ”
“Menurut mas Iqbal, dimana letak pilihan manusia dihadapkan pada ketentuanNya. Bukankah manusia juga dibolehkan memilih?”
“... Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri... , permasalahan pilihan adalah mutlak hak manusia. Manusia yang lahir adalah fitrah Islam, namun setelah dewasa dialah yang menentukan jalan yang akan diambil, jalan ke surgakah atau jalan ke neraka.
Dalam hal tadi dapat dengan mudah dianalogikan seperti ini. Ketika waktu shalat datang dan adzan menggema, kita mengambil pilihan untuk shalat tepat pada waktunya dan itulah keinginan Allah untuk kita. Tapi saat akan melaksanakan shalat tiba-tiba datang seorang teman dan mengajak mengobrol dan kita diminta menunda shalat kita barang sejenak dan si teman mengatakan bahwa waktu shalat masih panjang dengan sedikit menyepelekan pertemuan dengan Allah.
Inilah kaitan yang sangat erat yang kadang dirisaukan manusia, mereka melulu menyalahkan Tuhannya karena ketetepanNya. Bahwa waktu shalat yang tiba itu adalah ketetapan Allah, kedatangan teman anda yang mengajak untuk menunda-nunda shalat juga ketetapan Allah, sedangkan pilihan kita adalah kita akan melakukan shalat tepat waktu atau menyepelekan pertemuan denganNya. Jika ketetapan Allah tidak akan dihisab olehNya, semisal kita tersandung sebuah batu di jalan. Namun pilihan kita selanjutnyalah yang akan dihisab, apakah kita akan mengerjakan kebaikan atau menundanya. Apakah setelah tersandung batu kita akan berdzikir dan mengembalikan segalanya pada Allah atau kita akan mengumpat dan menyalahkan keadaan.
Dengan kata lain, bahwa ketetapan Allah adalah yang terbaik karena Allah lebih tahu dari diri kita sendiri.”
“Apakah mas Iqbal dapat ridha dengan apapun keputusan saya nantinya?”
“Insyaallah, saya akan berusaha ridha padaNya. Dan pilihan yang Anti ambil itulah pilihan dan juga ketetapan Allah bersatu disana. Karena kita semua harus berusaha ridha pada setiap ketetapanNya, karena itulah harta terindah setiap Muslim.”
Kini, heninglah suasana di antara kami. Giliranku yang berbicara.
“Bismillah, semoga keputusan yang saya ambil ini adalah atas kehendakNya dan bukan karena nafsu. Dan saya berharap apapun keputusan ini, harap dimaklumi dan dimaafkan jika ada yang melukai hati,” keenam orang di teras itu benar-benar terdiam menunggu ucapanku. Kemulyaan apa yang Kau berikan wahai Tuhanku, sehingga suaraku ini ditunggu? Bukankah hanya Engkau yang berhak atas segalanya?
“Semoga Allah meridhai keputusan saya, semoga Allah meridhai keputusan saya, semga Allah meridhai keputusan saya,” aku mengulanginya karena aku benar-benar takut jika Engkau tak meridhainya ya Allah, “Bismillah, saya menerima lamaran ini dan semoga inilah ketetapan dariNya yang terbaik, amiin.”
Airmataku luruh, hatiku teramat lega.
Dan tahmid seolah berkumandang dari seluruh penjuru jagad dan bukan hanya enam orang yang berada di sekitarku. Seolah, aku mendengar nyanyian syukur dari dedaunan dan reranting, dari mendung yang sedang berpindah, dari bumi yang terhampar dari rumput yang pelan melambai di tiup angin. Allah, aku mencintaiMu maka ridhailah hambaMu ini...
Allah...