Padang Sajadah
Keraguan yang Menghantui
Padang sajadah...
Taman yang begitu indah membentang indah di hadapanku. Langit tampak sempurna dengan configurasinya, matahari begitu teduh pula menambah berkilau langit yang jernih nampak di kejauhan angkasa. Ya ada langit disana, jauh sekali tapi kejernihannya nampak biru dan tak menyilaukan mata hingga dapat dilihat dengan mudah serta menenteramkan.
Seolah aku mendengar sayup-sayup bacaan Al-Quran, tapi dimana? Menggema di seluruh penjuru. Aku mencari arah suara itu.
Semilir angin menerbangkan dedaunan yang berwarna kuning kemerah-merahan, dedaunan itu jatuh dengan gaya yang indah, berkelok dan seolah menari bersama sinar matahari, melambai terombang-ambing ke kiri dan ke kanan. Meliuk dan akhirnya jatuh pelan dengan pendaratan yang super indah.
Di hadapanku kuperhatikan hingga ujungnya. Tak berujung. Semuanya adalah padang yang berukiran indah. Ukiran ilalang kecil dan hijau, dedaunan ilalang pun lembut terasa. Ini adalah padang sajadah, karena tak ada lagi selain padang ini. Depan, belakang, samping semuanya adalah padang yang membentang.
Aku berlari kecil, menari bersama angin. Kugapai dedaunan yang jatuh dan menari bersamanya pula. Kaki-kakiku meliuk mengikuti irama angin yang mendesau, Tuhan alangkah indahnya Engkau. Ketelusuri padang itu sambil melangkahkan kakiku, sambil desahan nafasku selalu mengagungkan namaNya dalam lisan dan hatiku.
Aduh!
Kakiku terluka terkena pinggir daun ilalang. Innalillaah, semuanya adalah dariMu dan akan kembali padaMu. Kutinggalkan saja luka itu, aku terus berjalan lurus kearah matahari berpijar. Tak akan berhenti lagi, bersama nyanyian ilalang, bersama dedaunan jatuh, bersama sinar mentari yang hangat, bersama seluruh dzikir makhlukNya.
Tough time never last, but tough people do. (Waktu yang sulit tidak akan pernah bertahan lama, tetapi orang yang kuat akan selalu bertahan)
Padang yang sangat luas, ujung itu? Ya itu adalah sebuah pintu, aku melihatnya. Aku semakin gegas berlari walau sangat jauh namun satu langkah memulai adalah sebuah usaha untuk mendekati tujuan tanpa langkah pertama berarti hanya sebuah perencanaan dan retorika belaka.
Aduh! Luka-lukaku semakin perih. Seolah ilalang itu menusuk-nusuk kulitku yang celahnya terbuka. Dia tidak ingin membiarkan ada sedikitpun keburukan menyisa seperti terminal-terminal untuk meraih surga dalam buku yang diberikan bu Nisa. Ya, Allah tidak ingin menyisakan dosa dan keburukan padaku.
Aku pun tersenyum menyapa ceria pada ilalang yang membentang teduh, mengajakku bersujud dalam dekapannya dan melantunkan tasbih keagungan pada Rabb Semesta.
Aku terus bergegas dan...
Sekali lagi aku terjatuh hingga terjerembab. Mataku menengadah ke langit, kulihat burung yang teramat indah terbang melintasi sinar matahari, begitu gagah. Aku ingat sebuah kisah yang diceritakan Azizah kepadaku tentang seekor ayam, burung dan kambing.
Di sebuah desa di suatu perkampungan, ada sebuah keluarga yang mata pencaharian mereka adalah beternak baik ayam maupun kambing. Suatu hari, kambing yang dipelihara keluarga itu sedang mencari rumput dan saat itu tengah mendongakkan kepalanya ke langit yang jernih. Dan dia melihat seekor burung elang yang tengah terbang membubung, lalu dia menoleh kepada ayam yang tengah mengais makanan di sekitarnya.
Sang kambing berujar tanya, “Wahai ayam, lihatlah ke langit sana. Kau lihat burung elang yang terbang itu?”
Sang ayam mendongak keatas, “Aku melihatnya. Memang ada apa?”
Kambing semakin besemangat, “Wahai ayam, engkau dan burung yang sedang terbang di langit itu sama-sama memiliki sepasang sayap, mengapa burung elang dapat terbang begitu tinggi dan gagah, tetapi engkau hanya dapat mencai makananmu di darat?”
Mendengarkan penjelasan dari sahabatnya itu, ayam bertanya dengan sangat terkejut, “Apa? Benarkah itu? Apakah saya juga memiliki sepasang sayap yang sama dengan burung elang itu?”
Sekarang giliran kambing yang heran terperangah dan balik bertanya, “Apa? Engkau sudah sangat besar wahai ayam, tetapi kau tidak tahu bahwa kau memiliki sepasang sayap?”
“Benakah?” tanya ayam yang masih kebingungan.
“Lihatlah sendiri kalau kau tak percaya!” kambing mulai geram dan kehabisan kesabaran.
Sang ayam melirik ke kanan dan kirinya lalu dengan pelan dia menggerakkan kedua sayapnya keatas, dikibas-kibaskannya hingga menimbulkan desing udara berhembus terasa dan menggerakkan daun berserakan di bawahnya.
“Astaga! Ini sayapku?” sang ayam sangat kaget dan terheran-heran sendiri, “Selama ini aku mengira bahwa ini adalah sepasang mantel yang diwariskan oleh orangtuaku!”
Itulah sebuah kisah yang amat menggugah bagiku. Kita harus sadar dan mengetahui kemampuan kita. Aku bangun dan melihat kembali langit yang jernih, selalu ada harapan di setiap kondisi apapun. Aku tersenyum kembali.
Aku memulai berjalan kembali, sedikit terseok kakiku namun tak kuhiraukan sama sekali hingga sakitnya hilang tak terasa tergantikan semangat.
Hingga, pintu itu semakin dekat. Pintu itu bercahaya berpendar terkena kilauan matahari. Saat dekat itulah, pintu itu terkuak terbuka. Sebuah wajah keluar dari dalam pintu tersebut, senyumnya begitu indah. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, tak percaya.
“Ibu!” bibirku bergetar mengucapkannya.
Tangannya terhulur membuka sempurna mengharapkan aku mendekap dalam pelukannya. Kakiku bergetar dan kumulai langkahku pelan satu langkah.
Namun...
Tepat ketika kakiku menyentuh rumput ilalang buat pertama kali sebuah teriakan dari arah belakang menahanku. Siapakah?
Wajahku kutengokkan ke belakang. Ya! disana ada Siti, bu Nisa dan pak Samsul. Wajah mereka tampak bersedih dan mereka melambaikan tangannya berharap aku menuju tempat mereka. Siti telah sempurna menangis memanggil-manggil namaku.
Kukuatkan langkahku, kupandang kembali Ibuku di pintu bercahaya itu. Dia masih saja tersenyum dan membuka tangannya. Aku telah rindu padamu ibu, aku akan datang. Aku melangkahkan kakiku kembali, namun teriakan di belakang mengejutkanku lagi. Siapa?
Wajahku kembali menengok ke belakang. Selain keluarga bu Nisa, disana ada dua anak asuhku Siti dan Angga serta satu lagi Dion, mereka menggeleng dan airmatanya menetes membasahi pipi mereka.
Tidak! Aku harus memeluk ibuku dan menumpahkan rinduku padanya. Kukuatkan kakiku kembali melangkah satu jejak ke depan. Ibuku masih menantiku. Saat jejak ketiga tepat menyentuh ilalang suara di belakang benar-benar membuatku harus menengok lagi. Siapa?
Mbak Lala dan karyawan Aneka Printing yang sering curhat tentang Islam dan bagaimana mencintai Allah. Mereka mengusap airmatanya dan melambaikan tangan mereka. Keraguanku mulai muncul.
Tidak! aku harus menuntaskan rinduku pada Ibu.
Aku berbalik dan melangkahkan kakiku kembali satu jejak. Ini adalah jejak keempat. Namun suara terdengar lagi mencegahku dari belakang. Terpaksa aku menengoknya disana bertambah orang lagi. Kak Faza, Azizah, Zulfa, Naurah dan Nabil mereka memanggil-manggil namaku. Suaraku begitu ramai diteriakkan dan menggema, memantul dari cermin langit yang terang.
Aku benar-benar ragu dan gamang. Kupandang lagi ke depan, Ibu masih berdiri di pintu itu dan membuka tangannya, senyumnya terukir begitu indah.
Kukuatkan kakiku menjejak kelima ke depan.
Suara riuh kembali memanggilku dari arah belakang. Aku menggelengkan kepalaku, dan aku menengok ke belakang. Begitu ramai manusia, dan penuh sesak disana. Mereka semua memanggil namaku. Aku terkesiap, dan aku terdiam membisu di hadapan begitu banyak lautan manusia menghampar di atas padang rumput yang hijau indah.
Dan seseorang keluar dari kerumunan, wajah yang begitu cantik dan anggun berjalan mendekatiku. Senyumnya tulus terukir bagai keteduhan air jernih dan seolah aku tengah menyelami kejernihan itu.
Dia mendekatiku. Tepat di hadapanku.
“Kenapa kau kemari Nurul?” dia adalah Nurul Fajriah.
“Aku membutuhkanmu saudariku, maukah kau ikut bersama kami?”
“Tapi aku harus ikut dengan Ibuku...,”
Dia menggeleng.
Dia memegangi tanganku dan tangan kanan kami menyatu, dia menarikku kearah manusia yang terhampar. Satu langkah dua langkah yang berat meninggalkan pintu dimana ibuku tengah menunggu disana. Aku melihat wajah Ibuku.
Dia mengangguk, tersenyum dan menutup pintu itu hingga lenyap.
Aku terus dibawa pelan menuju kerumunan manusia.
“Aku ingin bertemu Ibuku Nur,” aku mulai sedikit mengeraskan suaraku. Namun, dia terus menarikku hingga kami menerobos manusia, mereka membuka jalan untuk kami. Dan kami berhenti di tengah-tengahnya.
Seorang anak kecil keluar dari sisi kananku, dia adalah Siti?
Nurul tersenyum pada Siti dan melepaskan pegangan tangannya padaku. Nurul mundur beberapa langkah ke belakang. Siti menarik baju gamisku, aku menatap wajahnya yang kini sempurna ceria. Kutengok arah pintu dimana Ibuku tadi berdiri, lenyap. Tak ada lagi.
Siti mengangkat tangan kanannya dan memegang tangan kananku. Terasa hangat menjalar ke seluruh tubuhku. Dia berjalan di sampingku dan mengajakku berjalan. Kerumunan itu membentuk jalan, jalan yang panjang. Kami melewati jalan itu dengan pagar pinggirnya adalah manusia.
Kami berjalan dan di ujung sana, ada cahaya. Ya, Cahaya.
Kami semakin dekat dengannya. Saat mendekati cahaya itu, mataku silau. Mataku nanar dan aku menutupi kedua mataku dengan tanganku. Terlalu silau. Dan serba terang hingga tak ada gelap celah sedikitpun.
© © ©
Aku mengedipkan mataku perlahan. Kriyip-kriyip namun tetap kupaksakan. Untuk membuka. Sepasang tangan halus tengah memegang kedua tanganku, wajah itu masih samar. Kupaksakan hingga membuka lebih lebar, wajah cantik itu, Nurul. Dia mengucapkan tahmid dan tersenyum kepadaku.
Kulihat airmatanya menetes diantara senyumnya.
Tanganku hendak bergerak keatas hendak menyentuh wajahnya, namun tanganku begitu lemah dan tak berdaya sehingga jatuh dan terkulai kembali. Nurul memegangi tanganku.
“Bagaimana kabar kak Faza?”
“Dia sekarang sudah lebih baik keadaannya, hanya saja dia belum sadarkan diri. Tapi, operasinya berjalan lancar,” Nurul tersenyum.
“Kau sendirian Nur?”
“Tidak. Azizah baru saja keluar untuk menunggui Kakaknya, sebentar lagi mungkin dia kesini. Siti juga dua hari ini menginap disini, dia selalu menungguimu. Kini, lihatlah dia ketiduran di bawah,” Nurul menggeserkan tubuhnya dan terlihatlah Siti tengah tertidur beralaskan tikar di bawah.
“Dia tidak mau pulang sebelum berbicara denganmu, ketika kau tak sadarkan diri dia selalu membacakan ayat-ayat Al-Quran di dekatmu. Dia anak yang baik, dia anak yang sangat mencintaimu,” tangannya memijiti tangan kiriku pelan.
“Kau tak marah padaku kan?”
“Kenapa harus marah?” Nurul menatapku heran.
“Tentang pembicaraan kita tempo hari.”
Nurul tersenyum. Tangannya bergerak dan menyentuh pipiku lembut, “Kau adalah anugerah Tuhan, kau adalah utusanNya yang datang untukku. Aku ingin kita bisa bersama untuk mencintaiNya. Kita akan sama-sama belajar ya? Dan..., kau harus berusaha untuk segera sembuh.”
Airmatanya mengalir basah.
Dan entah kekuatan yang menggerakkan tanganku. Hanya Allah ‘Azza wa Jalla yang menggerakkannya. Tanganku mampu mencapai pipinya dan mengusap airmatanya, mata kami berpandangan. Larut dalam dzikir kami mengagungkanNya.
“Mbak Salwa sudah sadar!” sesosok kecil itu langsung berdiri di atas kursi dan dapat melihatku. Wajahnya sangat ceria, “Mbak Salwa!” dia memelukku, aku merasa sangat bahagia.
“Aduh!” aku menyipitkan mataku.
“Maaf Mbak. Aku tidak sengaja,” Siti terlihat ketakutan dan menarik dirinya dariku.
“Mbak hanya bercanda sayang,” aku tersenyum.
“Mbak jahat!” wajahnya sewot. Baru pertama kali ini aku melihatnya sewot, sungguh lucu. Aku dan Nurul tertawa, dan dunia pun ikut tertawa bersama kami.
© © ©
Hari ini dokter telah mengizinkan aku pulang, kak Faza masih belum namun dia telah sadarkan diri. Sebelum pergi aku mengunjungi kamar kak Faza. Dia menatapku dari berbaringnya, dia berusaha bergerak dan mendudukkan dirinya, dia melihatku sekilas. Mata kami bertemu dan desiran halus timbul kembali dalam hatiku, aku menundukkan pandanganku, dia pun demikian.
“Kak Faza sudah lebih baik?” aku bertanya pelan, Azizah memegangiku mungkin takut dengan kondisiku.
“Alhamdulillah, segalanya dariNya dan akan kembali padaNya. Setiap ketetapan adalah milikNya. Aku sudah baikan, bahkan aku telah dapat shalat berapa rekaat pun,” kak Faza tersenyum, melihat senyumnya walau sekilas bagaikan berteduh di bawah naungan pohon yang lebat.
Aku tak pernah sedikitpun menyesal mendonorkan ginjal itu padanya.
“Kau sendiri bagaimana Salwa?”
“Tidak ada keadaan yang lebih sehat dari keadaanku Kak,” aku pun tersenyum.
Keadaan yang lebih sehat dari siapapun adalah pertanda kesyukuran bukan? Hingga tidak ada keluhan dan kecewa sedikitpun dan jawaban itu sesungguhnya keluar begitu saja dai bibirku tanpa kukendalikan dan kurencanakan sedikitpun.
Hening.
“Boleh kutahu sesuatu yang menjadi pertanyaanku Salwa?” nada suara kak Faza datar kini, aku melihat keseriusan dalam iramanya.
“Ada apa Kak?”
Kulihat Azizah hanya diam saja di sampingku.
“Kenapa kamu melakukan semua ini? Seumur hidupku pun belum tentu aku dan Azizah dapat membalas budi yang kau berikan pada kami. Kami tidak tahu harus membalas apa dengan kebaikanmu pada kami. Jika...,”
“Cukup Kak, kita saudara bukan? Kalian telah melakukan sesuatu yang lebih dari segalanya padaku. Iman yang kutemukan adalah sebuah karunia yang tidak bisa dibayar dengan bumi dan seisinya sekalipun. Jika ini semua bukan karena ketetapanNya mana mungkin semuanya berjalan seperti ini? Semua yang terjadi telah diaturNya dan kita hanyalah manusia yang menjalani dan merubah segala sesuatu yang menjadi pilihan kita.
Seperti burung yang terbang dengan ilham dari Allah ‘Azza wa Jalla, seperti ikan yang berenang di air atas kehendakNya, seperti pohon yang semakin lama menjulang tinggi karena kuasaNya dan seperti daun yang jatuh karena waktunya telah tiba. Sungguh, semua ini adalah kehendakNya.
Jika kak Faza bertanya kenapa aku melakukannya, maka Allah-lah yang memiliki jawabannya.”
“Ya, kau benar Salwa. Tak ada yang perlu diragukan dari kehendakNya.”
Aku pamitan dengan kak Faza untuk pulang lebih dahulu. Ratih dan Rini telah menunggu dengan senyuman mereka di luar kamar. Azizah mengantarku hingga mendekati Rini dan Ratih. Sebelum pamit dia memelukku erat, erat sekali.
“Aku selalu berdoa pada Allah untuk sesuatu hal di setiap shalatku.”
“Apa itu? Bolehkah aku tahu?”
“Aku tak lepas berdoa agar kita dapat bertetangga di surga dan bermain bersama disana.”
“Amiin.”
Dan lorong itu menjadi saksi atas semua hal yang terjadi, Malaikat pun pasti akan mencatat setiap detik dan bahkan ukuan waktu lebih cepat dari itu. Mereka mencatat dan tak akan terlewat sedikitpun.
Rini dan Ratih membersamaiku, walau wajah mereka terlihat agak sedih namun senyum keceriaan mereka kini lebih banyak tergambarkan.
Kak Faza, tak perlu kau bertanya kenapa aku mengambil keputusan ini. Ginjalku kini ada bersamamu, jagalah dan biarlah dia menjadi cahaya dan menjadi bagian dari dirimu semoga seluruh organ tubuhmu menerimanya dan bersinergi untuk terus mendesah dzikir keagungan Allah tanpa henti hingga menghadapNya dan mempertanggungjawabkan kesempatan yang diberikanNya.
Itu saja sudah cukup bagiku, dan Allah ‘Azza wa Jalla adalah sebaik-baik Pelindung dan Penolong. Cukuplah Allah saja.