Padang Sajadah
Musibah Menghapus Dosa-dosa
Terminal keempat adalah musibah yang menghapus dosa-dosa. Kenapa? Jika kita melakukan maksiat, sementara kita tetap ingin masuk ke surga, maka Allah ‘Azza wa Jalla akan memasukkan kita dengan musibah.
Allah menciptakan kita dengan kelengkapannya adalah untuk siap dan kuat menghadapi setiap musibah. Tinggal, bagaimana kita menghadapi musibah yang datang dariNya. Ridha ataukah menghujat yang akan kita ambil. Kita ditakdirkan untuk menghadapi musibah, karena ia adalah ujian yang menyucikan jiwa kita. Dia menimpakan cobaan untuk menyucikan dan memasukkan kita ke dalam surga.
Demi Allah saudariku, di dunia yang sekejap ini kita hanya punya empat terminal ini. Jangan sampai kita lengah terhadapnya.
Kemudian, tiga terminal di kubur.
Jika kita belum bertaubat, belum beristighfar, kebaikan yang kita lakukan adalah sedikit, belum diuji oleh Allah ‘Azza wa Jalla dengan musibah, dan belum disucikan di dunia, maka dengan kasih sayang Allah ia akan disucikan di tiga terminal di alam kubur.
Terminal kelima itu adalah shalat jenazah. Oleh karena itu, jika orang yang kita kenal meninggal, mari cepat kita berkumpul dan melakukan shalat jenazah. Yang penting bukanlah jumlah, tetapi yang menshalatinya adalah orang-orang yang beriman dengan kesungguhan iman.
Mari bersegara menshalati orang yang meninggal. Dan doa manusia memberikan syafaat kepada si mayit di kuburnya. Setelah dia mati, ia disucikan. Ia mati dan membawa sedikit dosa yang bisa melemparkannya ke neraka, maka shalat jenazahnya akan datang untuk mensucikannya.
Terminal penyucian keenam adalah fitnah di dalam kubur.
Pertanyaan dua malaikat di liang kubur yang gelap lagi pengap. Kesendirian kita di kuburan itu menyucikan kita dari dosa-dosa.
Pertanyaan dua malaikat. Kita berdiri di hadapan mereka, sedang mereka bertanya kepada kita tentang Tuhan, tentang agama, tentang pengetahuan kita tentang Rasul yang diutus, dan tentang ketakutan kita pada peristiwa itu. Kesendirian kita di alam kubur yang ditutup, gelapnya kuburan, semua itu menyucikan dosa-dosa kita, tetapi jika kita sudah suci di dunia maka kita tidak akan disucikan lagi di kuburan.
Maka Rasulullah saw bersabda, ‘Kuburan itu mungkin kebun dari kebun surga dan mungkin jurang dari jurang neraka.’ (HR. At-Turmudzi).
Dan, manusia yang takut pada alam kubur. Siapa bilang kalau di dalamnya itu hanya ada kegelapan, ular dan kesempitan yang menakutkan? Kuburan bisa jadi berupa kebun dari kebun-kebun di surga. Bagi siapa? Bagi yang sudah suci di dunia, dan bagi yang belum disucikan, maka ia pun layak begitu sebagai gantinya masuk ke dalam surga.
Terminal ketujuh itu adalah hadiah pahala amal manusia di dunia.
Ulama sepakat ada empat hal yang pahalanya akan dapat sampai pada si mayit di kuburan, yaitu; haji, umrah, sedekah dan doa.
Tahukah kita pada keagunan Islam ini? Pada kemulyaan dan keagungan Allah? Jika kita mati, maka kebaikan terus dapat mengalir pada kita, membersihkan dosa-dosa kita yang tersisa. Rasulullah saw bersabda, ‘Apabila anak adam mati, maka terputuslah amalnya, kecuali tiga hal ; ilmu yang dimanfaatkan, shadaqah jariyah atau anak yang shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim).
Aku menghentikan ujaranku. Aku teringat almarhum Ibuku. Aku akan selalu mendoakanmu Ibu, selama aku hidup aku akan selalu memohonkan ampun padamu. Dan, syaratnya ialah menjadi anak yang shalih, wanita yang shalihah. Allah, mudahkan jalanku untuk menjadi wanita yang shalihah, amiin.
“Jika orang yang kita cintai meninggal dunia, orangtua kita misalnya. Daripada kita bersedih dan menangis lebih baik kita menghadiahkan pahala untuknya dan mendoakannya.
Jika ketiga terminal di alam kubur ini belum cukup menyucikan manusia, maka apakah masuk akal? Dengan segala kemurahan yang Allah anugerahkan. Tiga terminal di kuburan belum menyucikannya, bagaimana ini bisa terjadi?
Ya, tak ada seorang pun yang menyalatkannya. Karena dosa-dosanya yang mengerikan, maka Allah ‘Azza wa Jalla tidak menundukkan seorang pun untuk melakukan shalat padanya.
Kejadian ini pernah terjadi, ada dua mayat yang datang bergantian. Ketika mayat yang diusung ke dalam masjid, dan orang-orang setelah shalat di masjid tersebut memilih bubar yaitu di sebuh tempat yang penghuninya tiga juta orang. Hanya 15 orang yang melakukan shalat jenazah. Setelah lelaki itu wafat, tiada seorang pun yang mengingatinya. Keluarganya lebih memilih menangis daripada mendoakannya. Sehingga ia tidak mendapatkan pahala, fitnah kubur tak mampu menyucikannya, karena dosanya begitu banyak, tetapi dengan rahmat Allah padanya, ia akan disucikan pada hari kiamat dengan empat hal.
Empat terminal terakhir ada di hari kiamat.
Terminal kedelapan itu adalah kengerian hari kiamat.
Ini kadang sudah mencukupi. Dengan keyakinan bahwa kiamat pasti terjadi, dengan keimanan yang mantap. Kengerian itu seharusnya cukup untuk menghapus dosa-dosa. Melihat matahari yang digulung, bintang yang berjatuhan, lautan yang meluap-luap, bumi seperti digulung dan digoncang-goncangkan. Semua kengerian ini menghapus dan menyucikan kesalahan.
Jika kita bertemu peristiwa ini sekalipun, Rasulullah saw mengingatkan kita untuk menanam biji pohon yang berada di tangan kita. Allah, Dia masih mau menerima pahala itu kapanpun, bahkan menjelang kiamat itu terjadi di depan kita sekalipun. Subhanallah. Alangkah murahnya Dia, Rabb Semesta Alam.
Terminal kesembilan itu adalah berdiri di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla.
Hanya berdiri di depan Allah ‘Azza wa Jalla ini mampu menyucikan kita dari dosa. Renungkan, anda berdiri di depanNya dan ditanya, “Hambaku, bukankah Aku telah memberimu rizki? Bukankah Aku telah melihatmu saat kau melakukan perbuatan haram? Bukankah Aku telah melihatmu saat lisanmu menggunjing orang lain? Bukankah Aku telah melihat kakimu saat kau langkahkan untuk melakukan perbuatan haram? hambaKu, kau telah menganggap remeh pertemuan denganKu. Apakah bagimu Aku ini hina? Apakah kau berhias untuk manusia, dan datang kepadaKu sebagai orang yang jelek dan acuh tak acuh? Apakah yang menipumu hingga kau melakukannya padaKu?”
Sungguh, Pemberhentian ini menyucikan kita dan menghapus kesalahan-kesalahan kita jika kita belum disucikan di dunia dan di kuburan.
Terminal kesepuluh itu adalah Syafaat Nabi saw.
Nabi saw memberikan syafaat kepada orang-orang yang beriman, “Wahai Tuhanku, ummatku..., ummatku.” Nabi saw bersabda, “Setiap nabi mempunyai permintaan yang dikabulkan, dan setiap nabi menyegerakan permintaan mereka, dan aku menunda permintaanku untuk syafaat umatku di hari kiamat kelak, dan dia akan menyelamatkan, dengan kehendak Allah, siapa yang mati dari umatku dalam keadaan tidak menyekutukan sesuatu dengan Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Ini juga akan menyucikan kita, di saat semua amalan telah habis dan kita hampir jatuh dari sirath. Syafaat Rasulullah saw datang menyelamatkan dengan izinNya karena kita tidak pernah menyekutukanNya dengan apapun.
Dan, terminal kesebelas yang terakhir itu adalah Ampunan Allah ‘Azza wa Jalla.
Nabi saw bersabda, “Allah berfirman, ‘Malaikat telah memeri syafaat, para nabi telah memberi syafaat, dan orang-orang yang beriman telah memberikan syafaat, maka tinggallah Yang Paling Pengasih...”
Ampunan Allah ‘Azza wa Jalla adalah terminal terakhir. Bahwa pernah ada seorang yang membunuh seratus orang dan ditunjukan padanya untuk mendatangi sebuah tempat kebaikan untuk bertaubat dan Allah akan menerimanya. Lelaki itu berjalan menuju tempat tersebut dan meninggal di tengah jalan. Saat malaikat azab akan membawanya, tiba-tiba malaikat rahmat datang dan akan membawanya. Maka Allah mengutus malaikat penengah dengan meminta keduanya mengukur, mana yang lebih dekat antara tempat awal dan tujuan. Jaraknya hanya satu jengkal, dan orang itu dibawa malaikat rahmat padahal belum melakukan kebaikan apapun. Itulah ampunan Allah ‘Azza wa Jalla.
Atau cerita tentang pelacur yang bertaubat kapada Allah ‘Azza wa Jalla, lantaran sebuah pahala kecil yaitu ketika melihat seekor anjing hampir-hampir meninggal dunia. Hatinya tergerak masuk ke dalam sumur dan mengambil air dengan sepatunya kemudian meminumkannya kepada anjing itu, dan Allah mengampuni semua dosanya dan karena ampunanNya itu si wanita tersebut masuk surga. Allahubakbar!
Ampunan Allah juga dapat kita jumpai ketika seorang lelaki yang saking takutnya kepada Allah, dan seluruh hidupnya digunakan untuk melakukan dosa dan dosa. Kemudian ketika akan meninggal dunia dia berpesan kepada keluarganya untuk membakar jenazahnya kelak dan abunya sebar ditempat yang terpisah. Agar dia tidak disatukan, karena malunya dengan Rabbnya, karena ketakutan yang sangat. Dan karena itu, ampunan Allah untuknya tetap.
Itulah ampunan Rabb Semesta Alam yang luasnya tak terbatas.
Masih adakah dosa yang akan tertinggal? Sebelas terminal sudah dilalui dan masih adakah dosa yang tertinggal? Kita akan merenung, tentu kita semua akan masuk ke dalam surga, dan itu pasti karena Rahmat Allah ‘Azza wa Jalla amat luas. Tapi saudariku tercinta, ada sebagian manusia nanti akan terjatuh ke neraka, mereka berhak jatuh? Kenapa mereka harus jatuh?
Empat terminal di hari kiamat : kengerian di hari kiamat, berdiri di hadapan Rabb Semesta Alam, Syafaat Rasulullah saw, serta ampunan Allah ‘Azza wa Jalla ternyata belum dapat menyucikan dosa-dosanya. Ia tetap harus disucikan, maka ia jatuh ke dalam neraka Jahannam bagi yang dosa dan kesalahannya belum disucikan. Seakan neraka itu menyucikannya. Setelah ia suci, ia akan dimasukkan ke dalam surga. Ibarat emas, yang berukuran kecil dengan emas berukuran berat. Jika emas itu ingin mengkilap, maka kita harus membakarnya lebih lama. Ya, sama, kondisi ini sangat sama.
Untuk memasuki surga, kita harus bersih sebersihnya dari kejelekan meski sebesar atom. Jika setelah terminal penyucian, kita masih memiliki kejelekan, maka –naudzubillah- akan masuk ke dalam neraka. Tetapi kita berhak atas kasih sayang Allah, disucikan dan dimasukkan ke dalam surga, dan kadar waktu tiba di neraka sebesar dosa yang kita miliki. Jika sudah bersih, suci dari kejelekan-kejelekan, maka malaikat akan berkata kepada kita.
“Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! Maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya.” (QS. Az Zumar : 73)
Kita hidup ini mencari kebahagiaan, tetapi di dunia ini kita tidak akan pernah menemukan kebahagiaan sejati, dan kebahagiaan itu hanya ada di akhirat. Kita pasti memimpikan surga, bertemu dengan Allah ‘Azza wa Jalla, bertemu dengan Nabi saw, bercakap-cakap dengan Allah ‘Azza wa Jalla serta melihatNya, tetapi kita tidak akan masuk surgaNya kecuali kita telah benar-benar suci.
Tapi sekarang kita berlumur dosa, apa yang harus kita kerjakan?”
Aku berhenti sejenak, kutatap wajah kedua sahabatku. Lihatlah Allah, wajah-wajah mereka nampak bercahaya, mereka amat merindukanMu, wajah-wajah yang hanya mengharapkan wajahMu semata. Allah, alangkah indahnya bertuhankan Engkau, itu sudah cukup bagi kami. Hapuskan dosa-dosa kami ya Allah, karena hanya Engkau Yang Maha Mengampuni.
“Allah ‘Azza wa Jalla telah menjadikan sebelas terminal untuk menyucikan dosa-dosa kita. Jika itu tidak mencukupinya, maka kita akan masuk ke dalam neraka. Na’udzubillah...
Terminal manakah yang kita miliki?
Kita hanya memiliki tiga terminal saat ini. Musibah tidak berada di genggaman kita. Jika Allah ‘Azza wa Jalla berkehendak, Dia akan menguji atau membiarkan kita untuk diadzabNya. Kita hanya memiliki terminal taubat, istighfar, dan kebaikan-kebaikan yang menghapus keburukan.
Jika kita merindukan surga, dan takut kepada neraka, inilah jalan yang berada di depan kita. Jangan pernah biarkan diri kita menghadapi kengerian di hari kiamat! Sungguh itu sangat mengerikan. Kita tidak akan menemui hari kiamat jika kita beriman lagi taat padaNya. Di depan kita amal yang sangat mudah itu ada tiga.
Dia adalah taubat
Dia adalah istighfar
Dia adalah melakukan kebaikan-kebaikan yang banyak dengan kesanggupan kita, meskipun kita juga masih melakukan kemaksiatan. Kita harus menutupi setiap maksiat kita dengan kebaikan-kebaikan dan ketaatan kepadaNya. Kita harus saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran dalam menetapiNya. Kita harus saling membantu dan saling bersama untuk ketaatan.”
Aku mengusap airmataku.
“Kita harus saling membantu dalam menjauhi kejahilan sahabat-sahabatku. Bersediakan kalian untuk saling membantu dalam mencintai Allah? Dalam ketaatan kepadaNya?”
Aku menatap kedua wajah bersih di hadapanku, wajah yang pula berlumuran airmata.
Tak ada jawaban, namun tindakan mereka cukup menjawab segalanya. Rini mendekatiku dan merangkulku, begitu pun dengan Ratih yang memeluk kami berdua.
Allah, tunjukkanlah jalanMu pada kami yang lemah ini. Kuatkan kami menghadapi setiap cobaan yang akan menghadang, menerpa layaknya angin yang menerpa pepohonan yang mencoba terus berdiri tegar.
Kami larut dalam keimanan, angin pagi menerpa airmata kami yang berjatuhan, meleburkan dosa-dosa yang masih mengikat kami. Cinta menyelubungi kami, di mana-mana cahaya begitu gemerlapan terasakan melalui hati-hati kami. Keindahan ini hanya ada ketika kita mengikhlaskan segalanya padaNya, kita ridha akan setiap ketetapanNya, dan kita ikhlas menjadikanNya sebagai sandaran, sebagai Pelindung, sebagai tempat mengadu setiap persoalan.
Radhii tu billaahi rabbaa wa bil islaami dii naa, wa bimuhham madin nabiy ya warasuu laa. (HR. Abu Dawud, Tirmidzi , Nasa’i dan Hakim).
Aku ridha Allah Tuhanku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad saw sebagai nabi dan rasulku.