Padang Sajadah
Hapus Penyakit Hati
“Bolehkah kita berdoa agar musibah itu diperingan Bu?” aku menatap bu Nisa, penjelasannya terasa mencerahkanku.
“Manakala Fudhail bin Iyadh rahimallah membaca ayat-ayat Allah tentang musibah dan ujian sebagai penguji iman, beliau menangis dan berkata, ‘Ya Allah, janganlah engkau memberikan bala’ (musibah) kepada kami, sehingga Engkau memperlihatkan aib kami. Kami berada dalam tutup Allah, semoga Allah menerima untuk tidak memperlihatkan aib kami dan tidak menimpakan fitnah kepada kami. Dan agar menjadikan kami berada dalam kesehatan dan terlindungi hingga kami berjumpa denganNya.’
Dengan kata lain, kita boleh berdoa kepadaNya agar ujian itu jangan dibebankan kepada kita melebihi kemampuan kita. Namun, yakinlah firman Allah menyebutkan bahwa kita akan tetap diberinya musibah dan ujian namun Fudhail bin Iyadh rahimallah berdoa walau musibah datang namun jangan sampai Rabbnya membuka aib-aibnya.
“Apakah ujian yang datang akan membuat manusia semakin mulia?”
Bu Nisa menatapku. Matanya teramat teduh bagai danau jernih yang airnya sangat jernih seolah wajahku berada di dalam kebeningannya, “Jika manusia bisa melewati musibah dengan keimanannya, maka itu akan menambah kemulyaannya di sisi Rabb Semesta Alam.
Namun terkadang fitnah atau ujian itu juga berakibat baik yang Allah hanya memberikannya kepada orang-orang yang sabar, semisal nabi Ayyub as. yang diberikan ujian menderita sakit selama 18 tahun, sehingga semua orang menjauh darinya kecuali isterinya dan dua orang teman baiknya. Sakit yang dideritanya sangat parah, hingga orang lain tidak mau mendekat sama sekali. Namun, ketika nabi Ayyub as. melewati ujian itu, Allah memberinya balasan yang melebihi apa yang dimiliki nabi Ayyub as. sebelumnya. Hartanya ditambah oleh Allah, dan yang paling besar adalah nikmat kesabaran.
Dan ambilah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya). (QS. Shaad : 44).
Bukankah ridha dan pengakuan kebaikan dari Allah yang kita harapkan? Maka, kita harus ridha akan keputusanNya dan mempersembahkan yang terbaik untukNya,” bu Nisa mengambil gelasnya dan meminum air putih, mungkin dahaganya agak kering. Aku mengikutinya dan meminum air putih pula.
“Berarti, sebenarnya ujian yang menimpaku belumlah seberapa Bu?”
“Bukanlah seperti itu, tapi setiap orang akan diberikan ujian atau musibah sesuai dengan kadar keimanannya pula. Semakin tinggi imannya maka ujian yang diberikan Allah padanya juga akan semakin berat. Maukah kau kuceritakan tentang ujian yang menimpa Imam Ahmad rahimallah yang teguh memegang kebenaran?”
Aku mengangguk.
“Cobaan dan fitnah yang ditimpakan kepada Imam Ahmad telah diriwayatkan oleh semua ahli sejarah, dan seluruh penghuni dunia juga telah mendengarnya dari penjuru timur hingga barat, utara dan sebelah selatan hingga hari kiamat.
Cobaan itu ialah berkaitan dengan penciptaan Al-Quran atau ujian yang diwariskan oleh Khalifah Al-Makmun kepada umat ini dan disebabkan oleh pendapat tentang penciptaan Al-Quran. Bahwasanya Al-Makmun telah menjadi rusak disebabkan pendapat logika Mu’tazilah.
Ibnu Taimiyah rahimallah menjelaskan bahwa sesungguhnya Allah melalaikan Al-Makmun tatkala ia memasukkan ilmu mantik di tengah-tengah kaum muslimin.
Al-Makmun adalah Khalifah Daulah ‘Abbasiyah putra dari Harun Ar-Rasyid. Ia mengatakan bahwa sesungguhnya Al-Quran adalah makhluk Allah. Ia telah berdusta kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Al-Quran adalah kalamullah, Allah berfirman dengan cara apa yang Dia kehendaki dan kapan saja Dia kehendaki. Ingatlah, menciptakan dan memerintah itu hanyalah hak Allah.
Khalifah ini mengatakan bahwa Al-Quran adalah makhluk, dan ia menggunakan pedang untuk menegaskan ketetapan batil ini di tengah-tengah umat. Ia telah membunuh kurang lebih seribu ulama besar dari para ulama umat ini, dari teman-teman Imam Ahmad rahimallah. Ia memenuhi penjara dengan seluruh ulama ini. Sebagian dari mereka menjawab dan menyambut seruan Al-Makmun karena takut dengan pedang. Dan sebagian dari mereka menolak, ia menjawab, “Saya tidak menjawab (seruanmu).” Maka ada yang dibunuh saat itu juga, ada yang dilarang mengajar di masjid, dan melarang khutbah-khutbah kecuali untuk kaum Mu’tazilah.
Tersebarlah kejahatan yang banyak saat itu. Allah pun menolong Islam dengan perantaraan Imam Ahmad bin Hanbal rahimallah yang tetap tegak berdiri sendirian. Ia berkata, ‘Tidak! demi Allah, Al-Quran adalah kalamullah.’ Maka Khalifah pun menuntutnya.
Imam Ahmad rahimallah berkata, “Aku diambil dari rumahku pada pertengahan malam, dan aku sedang shalat. Ia meletakkan besi di tanganku dan di kakiku, hingga besi itu lebih berat daripada badanku. Aku diletakkan di atas kuda, dan aku hampir terjatuh tiga kali. Setiap kali akan jatuh aku berdoa padaNya, ‘Ya Allah, jagalah diriku,’ Allah ‘Azza wa Jalla berkehendak atasku hingga aku mampu menjaga keseimbangan di atas kuda (jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu).”
Dan prajurit yang bersama Imam Ahmad rahimallah terus memukuli kuda itu agar Imam Ahmad terjatuh tersungkur di atas wajahnya. Mereka bahagia ketika melihat Imam Ahmad rahimallah terjatuh dan terhina. Tapi Allah tidak akan membiarkan itu terjadi, Dia begitu mencintai Imam Ahmad sehingga kekuatannya diteguhkan demi membela kebenaran.
Imam Ahmad berkata, “Tatkala aku dimasukkan di dalam penjara, aku diseret di atas wajahku. Aku terjatuh dan aku memohon ampun kepaa Allah ‘Azza wa Jalla.” Imam Ahmad berkata, “Aku tidak tahu dimana arah kiblat, dan aku tidak tahu dimanakah aku berada di dalam kegelapan ini. Dalam kesendirian itu tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah, maka aku berdoa, ‘Hasbiyallah la ilaha illa huwa ‘alaihi tawakkaltu wa huwa Rabbul ‘arsyil ‘adzim (Allah telah cukup bagiku. Tidak ada ilah selain Dia. Kepadanya aku bertawakkal, dan Dia adalah Rabb Arsy yang Agung).”
Imam Ahmad rahimallah berkata, “Aku menjulurkan tanganku. Maka kudapatkan air dingin, dan aku berwudhu dengannya. Aku berdiri mengerjakan shalat sampai fajar.” Lihatlah anakku, lihatlah Imam Ahmad, lihatlah kepada penjagaan Allah hingga pada saat-saat sempit seperti ini. Ia tidak pernah melupakan Rabbnya Tabaraka Wa Ta’ala. Karena Dia adalah tempat bernaung.
Berpegang teguhlah tangan dengan tali Allah
Sungguh, ia (Imam Ahmad) adalah suatu pilar ketika pilar-pilar lain telah rusak.
Imam Ahmad berkata, “tatkala datang waktu pagi, aku dibawa untuk kedua kalinya di atas kuda, sedang aku belum memakan makanan sedikit pun. Maka aku hampir terjatuh karena lapar. Aku dihadapkan kepada Al-Mu’tashim, khalifah kedua, khalifah militer, pemilik kemakmuran. Tatkala aku dihadapkan kepadanya sebilah pedang digerak-gerakkan pada wajahku, dan ia berkata, ‘Hai Ahmad! Demi Allah, sungguh aku mencintaimu seperti aku mencintai anakku Harun, maka janganlah darahmu tercecer untuk kami’.”
Betapa lancangnya mereka terhadap Imam Besar yang telah membawa pencerahan bagi umat yang telah banyak yang rusak?
Imam Ahmad berkata dengan tenang, “Datangkanlah kepadaku Kitabullah dan Sunnah RasulNya saw.”
Didatangkanlah dua algojo dan seorang yang kuat dan besar. Al-Mu’tashim berkata kepadanya, “Pukul orang ini.” Yakni Imam Ahmad. Maka beliau dicambuk sebanyak 160 pukulan, hingga ia pingsan, kemudian kembali siuman.
Imam Ahmad rahimallah berkata, “La ilaha illalla, hasbiyallah wa ni’mal wakil.” Inilah kata yang paling panjang yang ada di dunia, inilah sebuah kekuatan yang tinggi, dan kekuatan yang banyak membinasakan. ‘... Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allahlah sebaik-baik Pelindung.’ (QS. Ali-‘Imraan : 173). Ibnu Abbas ra. berkata, “Ibrahim as. membaca kalimat itu, maka Allah menyelamatkannya dari kobaran api. Dan Muhammad saw juga membacanya, maka Allah menyelamatkannya dari tipu daya orang-orang kafir.”
Imam Ahmad rahimallah tetap menolak (mengakui Al-Quran adalah makhluk) hingga robek punggungnya karena banyaknya cambukan yang ditimpakan, maka dia kembali dinaikkan ke kuda dan dikembalikan ke penjara.
Beliau tinggal di penjara selama dua puluh delapan bulan pada kondisi seperti ini dan ia melakukan puasa secara berturut-turut, sebagaimana anaknya Abdullah mengatakan bahwa ia tidak berbuka (tidak menjalankan puasa) kecuali satu hari saja selama di penjara.
Pada akhirnya sebilah pedang dibentangkan kepadanya, dan ia tetap tegar di atas kebenaran dan menolak bahwa Al-Quran adalah makhluk. Tatkala sikapnya itu telah melemahkan mereka, menggerogoti kekuatan dan kesombongan mereka, dan menyusahkan mereka, maka mereka membawanya kembali ke rumahnya. Mereka menurunkannya dan ia dalam keadaan yang terluka.
Anaknya, Abdullah, berkata, “Ayah kami dibawa kepada kami saat malam hari setelah ia dibebaskan dari penjara.” Abdullah berkata, “Kami menurunkannya dari atas kuda, dan ia jatuh tersungkur di atas wajahnya karena kelelahan, letih, lemah, kurus badannya dan sakit. Ia dalam kondisi seperti itu sampai beberapa hari.”
Kemudian kekhalifahan diperintah oleh Al-Mutawakkil. Ia adalah penolong sunnah. Ia datang dengan membawa harta dan emas kepada Imam Ahmad rahimallah. Maka menangislah Imam Ahmad, dan berkata, “Demi Allah, sungguh aku takut dari fitnah kenikmatan lebih banyak daripada fitnah musibah dan cobaan.” Ia menolaknya, ia tidak mengambilnya sedikit pun, dan sikapnya tak pernah berubah.
Ia berkata, “Duh, seandainya aku tidak mengenal kemasyuran. Duh, seandainya setiap suku di Mekkah ini tidak ada yang mengenaliku.”
Tatkala Allah ‘Azza wa Jalla ingin meninggikan namanya, Dia mewafatkannya di hari-hari yang bahagia. Ia sakit selama sembilan hari, dan Allah membersihkan kesalahan-kesalahan, dosa-dosa dan keburukan-keburukan yang masih tersisa. Tidak ada orang yang menemaninya selama sembilan hari itu. Pada hari yang terakhir Khalifah mendengar bahwa ia sakit. Maka Khalifah memerintahkan orang-orang untuk menjenguknya, dan gemparlah Baghdad, ibukota dunia, kampung keselamatan, secara lahir dan batin. Banyak iring-iringan pasukan pemerintah datang menjenguknya di hari terakhirnya.
Anaknya berkata, “Demi Allah, sungguh tempat-tempat berjualan di sekeliling rumah kami tutup, dan kegiatan jual-beli mayoritas masyarakat terhenti. Imam Ahmad rahimallah menolak orang-orang yang akan masuk menemuinya kecuali anak-anak, dan orang-orang yang miskin. Anak-anak pun masuk menemuinya. Ia menangis, menciumi mereka, mengusap kepala-kepala mereka, dan berdoa bagi mereka. Kemudian masuklah orang-orang fakir. Ia memandang ke arah mereka, dan berkata, “Bersabarlah kalian, sungguh ini adalah hari-hari yang singkat, kadang berpakaian dan kadang tidak berpakaian, kadang makan dan kadang tidak makan, hingga kita berjumpa dengan Allah.”
Saat menghadapi sakaratul maut, ia menoleh ke setiap penjuru rumahnya, dan setiap penjuru kamarnya. Beliau berkata, ‘Tidak, sesudah ini. Tidak, sesudah ini. Tidak, sesudah ini.” Orang-orang berkata, “Apa yang terjadi padamu Imam?”
Ia menjawab, “Nampak olehku syetan, dan aku melihatnya menggigit jari-jarinya. Syetan itu berkata, ‘Engkau telah lari dariku hai Ahmad, engkau telah lari dariku hai Ahmad, sungguh aku telah lari dari manusia kecuali kamu.’ Imam Ahmad berkata, “Tunggulah, sungguh aku takut kepada diriku sendiri.” Maka Allah ‘Azza wa Jalla mewafatkannya.
Dan sebelum meninggal, kalimat yang terakhir diucapkan adalah, “Ya allah, maafkanlah orang yang mendzalimiku. Ya Allah, maafkanlah orang yang mencaci makiku. Ya Allah, maafkanlah orang yang telah memukuliku. Ya Allah, maafkanlah orang yang telah memenjarakanku, kecuali para pelaku bid’ah yang telah membuat tipu daya dengannya terhadap agamaMu, maka janganlah Engkau memaafkannya.” Dan tercabutlah nyawa beliau dalam ketenangan.
Yang mengiringi jenazah Imam Ahmad rahimallah sebagaimana dikatakan oleh para ahlul ‘ilmi adalah satu juta tiga ratus ribu orang, sebagaimana ditetapkan oleh sejarah. Kaum Yahudi dan Nasrani pun berhenti dari jual beli mereka pada hari itu. Dan berhembuslah berbagai berita di Baghdad, hingga beberapa orang yang bodoh berkata, “Akan terjadi hari kiamat! Kiamat telah datang!” Para prajurit keluar yang jumlahnya tujuh puluh ribu di hadapan manusia, menertibkan barisan, bergemalah Baghdad dengan suara tangisan dari awalnya hingga akhirnya. Maka sampailah jenazah itu hingga sebagian ahli sejarah berkata, ‘Jenazah seperti hilang di atas kepala-kepala manusia, beliau dibawa dengan jari-jari, dan kembali ke akhirnya. Ia nampak dan hilang. Ketika tidak nampak jenazah itu, maka semakin meninggilah suara tangisan yang ada. Dan semua manusia berdiri menshalatkan jenazahnya.’
Seolah Firman Allah berdengung diantara mereka, ‘Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhaiNya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hambaKu. Dan masuklah ke dalam surgaKu.’ (QS. Al-Fajr : 27-30).
Itulah ketinggian seorang ulama yang tinggi derajatnya di sisi Allah, dia benar-benar tawadhuk, tapi lihatlah ujian yang dideritanya terlalu berat. Dia yang shalat sehari kepadaNya sebanyak tiga ratus rekaat. Lihatlah ujian yang menimpanya, itulah Dzat yang ingin menguji keimanannya sehingga ujian itu bagi mereka hanya menambah kemulyaannya. Musibah itulah tanda cinta Allah kepada hamba-hamba yang dicintaiNya.”
Aku terpaku diam dalam dudukku, tak ada lagi alasan harus kecewa padaMu ya Allah. Secuil maupun sedzarah yang paling kecil sekalipun, hingga tak membiarkan ada sebersit rasa kecewa yang muncul, semuanya lebur dalam lautan cahaya dan cintaMu.
Sore semakin merangkak, malam hampir tiba. Giliran malam akan menggantikan peran siang di bagian Kota Metro, tentu saja siang akan tetap ada di bagian dunia lain, itulah kuasa Allah bagi orang-orang yang mau berfikir.
“Shalat maghrib disini saja, nanti saya antarkan. Bagaimana?” sebenarnya kost dengan rumah bu Nisa sangat dekat, kira-kira dua setengah kilometer. Dan bu Nisa seolah tahu dari gelagatku kalau aku sudah mau pamitan.
“Makanlah dulu disini, Ibu sudah mempersiapkan makanan. Karena tadi, Ibu merasa akan ada tamu ternyata Allah benar-benar menuntun langkahmu kesini,” bu Nisa tersenyum.
Aku tak bisa menolak lagi. Adzan maghrib berkumandang di seluruh seantaro setiap ujung di Kota Metro, Siti menarik tanganku ke belakang untuk mengambil air wudhu. Dia begitu riang dan gembira, bibir mungilnya mengucapkan basmallah dan memulai wudhu. Sungguh, adakah wajah yang lebih jernih darinya? Seusai wudhu dia mengangkat kedua tangannya dan bibirnya kembali mendesah doa. Saat itulah, saat wajahnya tersenyum menatapku, wajah itu semakin bercahaya. Oh cahaya itu...
“Mbak Salwa, ayo buruan. Nanti kita berjamaah,” hampir luruh setiap sendiku ketika ujarnya dan senyum serta wajahnya yang bercahaya itu menatapku mesra, seolah diriku telah luruh dalam setiap cahayaNya, inikah ya Allah sebenarnya yang membuat hatiku tenteram berada disini?
Aku mengambil air wudhu, bersama air yang membasah di wajahku. Bersama air yang menggenang di wajahku, bersama kesejukan yang mengguyur dosa-dosa, ada tangis air yang menetes dan bercampur bersama air yang menetes. Allah, kuleburkan setiap dosa jika Kau mengampuninya. Kuleburkan setiap kesombongan jika masih tersisa. Aku ingin memurnikan diriku, aku ingin menjernihkan diriku dalam petunjukMu hingga wajahku bercahaya ya Allah.
Kumohon dengan sangat.