Padang Sajadah
Saling Mendoakan Sesama Saudara
Senin, tiga hari menginap di Rumah Sakit.
Barang siapa yang mengerjakan amal yang saleh, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barang siapa yang berbuat jahat, maka (dosanya) atas dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Tuhan-mu menganiaya (dzolim) terhadap hamba-hambaNya. (Haa Miim As-Sajdah : 46)
“Itulah Engkau ya Allah..., Kau tidak sekalipun menganiaya hamba-hambaMu, sedikitpun, sekejappun. Hakikat cinta memang kadang memberi namun kadang harus menyakitkan untuk menguji cinta tersebut. Hidupku yang telah berlalu adalah atas kehendakMu. Kini..., aku baru memahamiMu Allah..., kumohon jangan tinggalkan aku sendirian lagi.” Hatiku menjerit, airmataku menetes di mukena putih dan dua tetes terjatuh di mushaf yang sedang kubaca, Al-Quran yang kuambil dari rak mushola Rumah Sakit. Allah, don’t leave me, please.
”Ya Allah, jangan Kau tinggalkan aku untuk diriku walau hanya sekejap mata atau yang lebih sedikit dari itu, karena kalau Kau meninggalkanku, maka Kau tinggalkan aku dalam kelemahan, aurat dan kesalahan. Dan aku tidak percaya kecuali pada rahmatMu.” (HR. Al Baihaqi).
Siluet senja mulai terpendam di ufuk barat, tempat dimana dia harus berteduh dan memulai tugasnya kembali di bagian barat. Gerimis berjatuhan dari langit yang sedikit menggumpalkan awannya, beburung mulai mengatupkan bulu-bulunya di tempat-tempat tidurnya. Beberapa burung nampak menyelip di antara kayu penyangga genting di pinggir-pinggir yang tidak di plafon. Mata-mata mereka sering mengedip, menandakan mereka telah mengantuk, lelah dari kerja siangnya mencari karunia Allah. Kini..., fitrah mereka harus berteduh dari seramnya jubah malam.
Adzan maghrib dikumandangkan.
Allahuakbar Allahuakbar
Allahuakbar Allahuakbar
Hatiku semakin bergetar tak menentu. Aku teringat dosa-dosaku meremehkan semua urusan denganNya, meremehkan setiap pertemuan indah denganNya, meremehkan setiap kali seruan cintaNya diperdengarkan dan menggetarkan arsyNya. Allah, betapa aku terlalu jauh meninggalkanMu.
Asy haduallaa ila ha illallah
Asy haduallaa ila ha illallah
Sungguh, Allah... Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati (Al-Mu’min : 19), Dia mengetahui segala yang ada... Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu (Az-Zumar : 62), sungguh Allah tak ada yang luput dari pengawasanMu walaupun bersembunyi di lubang semut sekalipun. Deest . Dan aku? Selama ini telah mendzalimin diri sendiri. Allah...
Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi
............
Allahuabar allahuakbar
Laa ilaa ha illallaah
Aku memejamkan mata sejenak, buliran bening mulai menyusut. Mencoba menenangkan diri, the try discover of famous. Seolah cahaya dimana-dimana, di dalam hatiku, di gelapnya mata yang menutup, di ujung-ujung jariku yang gemetar, di kedua kakiku yang bertumpu bersimpuh, di telingaku. Semua adalah cahaya, diriku telah menjelma cahaya. Radiance, brilliance, glow, light, ray. Ya, semua adalah cahaya.
Hanya imajinasiku sajakah? Aku membuka mataku. Sejenak, airmataku menetes kembali. Tergesa-gesakah hamba ya Allah? Menganggap dosa hamba telah Kau ampuni? Sedangkan dosa-dosa hamba telah bertumpuk hingga penuh memenuhi dunia dan seisinya.
Beberapa pemuda dan orang tua kulihat masuk dan langsung menunaikan shalat sunnah di mushola Rumah Sakit. Aku sudah sedari tadi disini, dari pukul 17.00, sengaja untuk tilawah Quran walau aku membacanya masih terbata-bata. Relakah aku jika meninggalkannya walau masih belajar dan umurku sudah 21 tahun?
Aku mencium mushaf, ada letupan rindu yang tiba-tiba mendesir dalam hatiku. Belum pernah kualami perasaan begitu teduh seperti ini. Betapa ingin kumengalami apa yang dialami Hafidz seperti yang diceritakan Shafwan dan Salwa, betapa tingginya dia mencintai Al-Quran hingga bergetar dan pingsan? Apa yang membuat hatinya begitu meresapi Al-Quran? Kemuliaan apa yang Kau berikan padanya Allah? Hingga hatiku hanya setitik saja belum dapat mencecap kenikmatan bersamaMu. Allah..., hinakah hambaMu ini?
Shalatku...
Dzikirku...
Puasaku...
Ilmuku...
Hidupku...
Kemanakah kalian semua selama ini? Bahkan aku tak pernah melakukannya. Allah... aku telah benar-benar meninggalkan kalian wahai amal-amal yang dicintai Allah.
Aku menangkupkan kedua tanganku yang terbungkus mukena ke wajahku, aku tak kuat membayang masa silamku. Kemana aku selama ini? Kenapa aku bisa bertahan hidup tanpaMu Allah? Kakiku telah terpeleset jauh. Airmataku tumpah, tak kuhiraukan mungkin akan ada yang melihatku. Aku hanya ingin berbincang denganMu ya Allah, dunia ini adalah milikMu, dimanapun aku berada. Kini..., aku hanya ingin berbincang denganMu, aku ingin minta cinta dan ridhaMu, ampuni hamba karena telah menjauhi cintaMu... Allah...
Allah..., akankah taubat hamba yang berlumur dosa ini Kau terima? Hanya itulah harapanku kini. Allah..., jawablah. Akankah Kau terima taubatku?
Sebuah sentuhan lembut, teramat lembut kurasakan menyentuh pundak kiriku. Aku tersadar dari tangisku. Wajahku telah basah, kubuka mataku perlahan.
Sebentuk wajah yang teramat indah tersenyum padaku, tangannya bergerak mendekati wajahku dan kubiarkan saja kala ia mengusap airmataku. Aku menatap bola matanya yang berbinar cerah, secerah matahari kala bersinar. Dua orang wanita paruh baya tampak memperhatikan kami sejenak, lalu meneruskan dzikir mereka dengan menggunakan tasbih yang berwarna putih pekat.
Wanita itu terus menyusut airmataku tak menghiraukan dua orang ibu yang tadi melihat kami, “Kau menangis Salwa?”
Aku hanya mengangguk.
Dia terus melihat ke kedua bola mataku, “Kau sedang rindu pada Allah? Aku melihat airmatamu itu teramat jernih dan teramat sejuk terasakan.” Dan aku hanya bisa mengangguk, senyumnya kembali terukir begitu indah. Attractive, mampu menyihir siapapun yang melihatnya.
Senyum kami beradu, hatiku dipenuhi kesejukan, selayak bintang-bintang yang gemerlapan rindu untuk memendarkan cahayanya, rindu untuk bertemu kembali dengan sahabat-sahabatnya, rindu untuk menemani malam yang gelap, rindu bertemu bulan yang sendirian di petala langit, rindu untuk bertasbih kepadaNya, rindu untuk memayungi setiap perjalanan manusia, rindu menerangi padang tandus yang sunyi, rindu untuk memantulkan cahaya dirinya di samudera dan laut yang terbentang, rindu menunjukkan arah kepada para pelaut, hanyalah rindu yang membuat mereka memberikan segalanya bagi kehidupan, rindu untuk membaktikan dirinya sepenuhnya kepada Rabb yang menciptakannya. Subhanallah.
Iqomat dikumandangkan
Kami berdiri untuk melakukan shalat, shaf-shaf dirapatkan. Aku mempersiapkan diri sebaik-baiknya, membenahi niat, menghadap Allah karena Dialah yang merupakan kesejatian cinta. Imam mengucapkan takbir, seolah tangan ini tak bisa lagi dikendalikan, dia mengangkat sendiri setinggi daun telinga. Dan... lisan ini juga tak bisa kukendalikan lagi, dia berucap lirih takbir, sungguh aku tak mengendalikannya, aku telah larut dalam semua kehendak hatiku yang hanya ingin bertemu denganNya, memurnikan ketaatan kepadaNya. Airmataku pun tak kuasa mengalir tanpa kuperintah. Allah... hatiku sejuk, seolah Kau meniupkan kesejukan ke dalamnya. Allah, sungguh hamba hanya berharap Kau sudi mengampuni dosa-dosa hamba yang telah meninggalkanMu.
Tidak akan masuk neraka orang yang menangis karena takut kepada Allah sampai air susu bisa kembali ke dalam putingnya. (HR. Tirmidzi).
Aku dan Azizah melipat mukena kami masing-masing. Dua wanita setengah baya yang sedari tadi di samping kami tiba-tiba mendekati kami dan duduk di hadapan kami.
Seseorang dari mereka nampak ragu hendak berujar. Bibirnya ingin berujar namun terkatup kembali, namun akhirnya dengan terlihat memaksakan diri akhirnya kata-kata itu akhirnya meluncur juga, “Adik-adik berdua tampak orang-orang yang sangat bermakrifat kepada Allah, kami berdua adalah orang yang tiap hari beribadah kepada Allah. Namun, kami merasa tidak menikmati ibadah kami dan kami juga tidak bisa meneteskan airmata seperti adik ini,” Wanita itu terlihat malu dan menundukkan wajahnya.
Beginikah Engkau mengatur kehidupan sesuai kehendakMu ya Allah? To pile. Yang telah menciptakan tujuh langit-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? (QS. Al Mulk: 3) Ada orang yang telah tiap saat beribadah kepadaMu namun tidak merasakan indahnya bersamaMu? Dan hamba ini, baru memulainya namun telah mendapatkan pujian sebagai orang yang dekat denganMu? Begitu cepatnya Kau menutupi aib-aib hamba ini. Dosa yang menggunung tinggi, Masyaallah.
Airmataku kembali mengalir, kutatap wajah kedua ibu di hadapan kami. Dadaku berdesir, aku teringat Ibuku. Sedang apa engkau disana Ibu? Semoga Allah selalu memberikan cintaNya kepadamu.
“Maafkan kami jika membuatmu bersedih kembali,” wanita paruh baya yang satunya tiba-tiba turut bicara.
Aku hanya menggeleng pelan, “Tidak apa-apa Bu,” suaraku habis tercekat di tenggorokan. Alangkah limpahan rahmatMu begitu tak terhingga, Kau sendiri yang menutupi semua dosa, kealpaan dan kelemahan hamba. Sungguh, seandainya mereka tahu begitu banyak dosa hamba ini, mereka akan menjauh dari hamba karena jijik dengan banyaknya kotoran dalam diri hamba.
Azizah tersenyum dan menganggukkan kepalanya padaku, dia mempersilakan aku menjawab pertanyaan mereka. Aku turut mengangguk. Bismillah...
“Yang kita butuhkan dalam hidup ini adalah Allah, ya Allah, Dialah yang mengatur angin hingga bertiup sejuk dan kita bisa menghirupnya dengan nikmat, Dia yang menciptakan dan mengatur seluruh organ dalam diri kita agar dapat menikmati kehidupan. Hasilnya, kita dapat makan dengan nikmat menggunakan jemari dan organ perasa kita, kita juga dapat menikmati pemandangan dengan kedua mata kita, kita dapat berkomunikasi dengan siapapun dengan nikmat pendengaran dariNya, kita dapat memilih segala sesuatu dengan nikmat otak dariNya. Semuanya dari Allah, dan kita hanya butuh Allah.
Kita harus berupaya untuk selalu mendekatinya, bukankah Allah berfirman, ‘Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya, dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).’ (QS. Al-An’aam : 162-163) Jika Allah telah berfirman demikian maka kita harus benar-benar menjadikanNya sebagai tumpuan harapan dari setiap keluh kesah kita. Kita harus bisa menahan kenikmatan dunia karenaNya, puasa karenaNya, berjalan karenaNya, tersenyum karenaNya, berdzikir padaNya, melihat daun berguguran karenaNya, mendengar karenaNya, bernafas hanya karenaNya, membaca dunia karenaNya, berucap salam karenaNya, dan semua hal di dunia haruslah ditujukan kepadaNya semata.”
Dua orang Ibu itu menyimak penjelasanku, aku tak mengurangi sedikitpun penjelasan ma’rifatullah dari apa yang kudengar tadi siang saat kak Faza memberikan nasehat kepadaku dan Azizah.
Hening sejenak.
“Apakah kami boleh meminta bantuan pada kalian berdua?”
“Apa Bu?” Azizah menjawab sigap.
“Cucu kami sedang sakit demam berdarah, kami mohon kalian berdua mau mendoakan cucu kami agar segera diberi kesembuhan oleh Allah. Tolong doakan kesembuhan pada cucu kami.”
“Cucu kami? Maksudnya apakah...” aku heran.
Hening sejenak. Ibu yang satunya segera paham, “Kami adalah besan, anak laki-lakinya menikahi anak perempuanku dan kini cucu kami sedang dirawat disini,” aku menganggukkan kepalaku tanda paham.
“Siapa nama cucu Ibu yang sedang sakit itu?” Azizah bertanya antusias.
“Siti Fatimah Munawarah, panggilannya Siti.”
“Nama yang bagus dan indah, alangkah indahnya Allah yang mencipta semua nama,” aku mencoba memberi feed back, ternyata kedua Ibu tersebut tersenyum puas. Bukankah membuat saudara muslim bahagia adalah bagian dari ibadah?
“Insyaallah, kami berdua akan berusaha mendoakan untuk kesembuhan cucu Ibu berdua,” Azizah menimpali, “Alangkah beruntungnya Siti Fatimah Munawarah itu mempunyai dua orang Nenek yang teramat mencintainya, pastilah kedua orangtuanya juga teramat mencintainya,” kalimat lanjutan Azizah itu terasa sedikit menggantung. Ada sedikit rasa yang timbul di hatiku pula. Ibu..., pastilah Azizah lebih merasakannya karena belum pernah bertemu dengan Ibunya.
Mereka sempat salah sangka mengira bahwa kami berdua adalah kakak beradik, kami hanya tersenyum sambil menjelaskan persahabatan kami. Akhirnya kedua Ibu itu pamitan setelah sebelumnya memeluk kami berdua, mereka berdoa semoga akan dapat bertemu lagi. Kami mengamininya. Mereka harus kembali ke kamar rawat cucunya, kami ingin ikut namun Azizah belum bisa hingga akupun mengurungkan niatku.
“Ingin ke kamar kak Faza sekarang?”
“Nanti sekalian shalat Isya’ saja, beliau ingin tilawah katanya,” pandangan Azizah tiba-tiba kosong menatap langit-langit mushola namun tangannya terlihat masih menghitung guratan di garis-garis jemarinya, dzikir yang pelan hingga mungkin hatinya yang merasakannya. Bibirnya pelan mendesah dzikir, gerakan yang lambat. Aku turut berdzikir, atap-atap mushala bertasbih, sajadah-sajadah bertasbih, tembok-tembok bertasbih. Alam semesta bertasbih.