Nilam (Rahasia)
Bukan Pernikahan Biasa
Barton mengendarai mobilnya menuju kafe miliknya yang di Kemang. Cuma tempat itu yang terpikirkan olehnya saat ini. Jadwal mengajar yang dia sampaikan pada Tumpal hanya sebuah alasan supaya dia tidak terus ditanya mengenai anak.
Sampai di kafe, Barton memarkirkan mobilnya lalu bergegas masuk menuju ruang pribadinya yang terletak di lantai 2. Sapaan dari para anak buahnya hanya dibalas dengan senyuman oleh Barton.
Dia duduk di kursi kerjanya, sebuah ganjalan mengendap dalam benaknya. Pernikahannya dengan Nilam bukan pernikahan biasa layaknya pernikahan yang dijalani oleh orang kebanyakan. Ada sebuah kondisi yang membuat mereka terikat dalam pernikahan namun tak mungkin bisa menghasilkan keturunan.
Fakta bahwa Barton sangat mencintai Martin, sahabatnya sejak kecil, dan bukan Nilam, telah menjadi rahasia yang mengikat sekaligus membelenggu pernikahan mereka.
Kilas pertemuan pertamanya dengan Nilam membayang dalam ingatan. Sejatinya, dia tidak pernah mencintai Nilam. Mereka bertemu di ruangan Tumpal. Ketika itu, Tumpal memanggilnya untuk berdiskusi tentang sebuah kasus money laundering yang dituduhkan kepada salah satu pejabat di Maluku Utara.
Ada banyak kejanggalan yang ditemukan oleh tim pengacara yang Tumpal bentuk. Pejabat itu menutupi banyak sekali fakta yang mempersulit tim pengacara untuk mengetahui kebenarannya. Tumpal butuh bertukar pikiran tentang bagaimana sebuah bisnis dijalankan dengan seorang akademisi seperti Barton. Meski bayarannya menggiurkan, tapi Tumpal tidak mau mempertaruhkan nama baiknya untuk sesuatu yang sudah jelas salah.
Nilam menjadi satu-satunya perempuan yang hadir di pertemuan itu. Tak dapat Barton pungkiri kalau dia mengagumi kecerdasan Nilam. Selama ini, Barton menilai kalau perempuan yang memiliki kecantikan fisik di atas rata-rata, selalu berbanding terbalik dengan kecerdasannya. Nilam meruntuhkan keyakinan Barton. Kecantikannya berbanding lurus dengan isi kepalanya.
Frekuensi obrolan mereka makin meningkat setelah diketahui kalau Nilam ternyata adik tingkat Barton meski beda fakultas. Usia mereka terpaut empat tahun. Saat Nilam memasuki kampus, Barton sudah terbang melanjutkan S2 dan S3-nya di Belanda. Inilah alasan kenapa mereka tidak saling mengenal walau satu almamater. Interaksi melalui pesan maupun pertemuan hangat di tempat-tempat tertentu membuat Barton dan Nilam merasa kalau mereka saling melengkapi.
Meski tidak pernah memproklamasikan seperti apa status hubungan mereka, keduanya pun tak membantah ketika orang-orang terdekat mereka menafsirkan bahwa Barton dan Nilam dekat dalam arti mereka berpacaran. Barton hanya tersenyum menanggapinya, setali tiga uang dengan Nilam.
Suara ketukan di pintu membuat Barton memutus kenangan bertahun-tahun lalu yang kini sedang menari dengan indah di kepalanya. Pintu terbuka disusul sosok Nilam yang masuk dengan terburu-buru. Saat tiba di kantor Tumpal tadi, Barton basa-basi mengabarkan ke Nilam kalau dia sedang di kantor Tumpal dan akan lanjut ke Kemang.
"Aku mengundurkan diri," kata Nilam, menghempaskan tubuhnya di sofa yang berjarak lima meter dari tempat Barton duduk.
Mau tidak mau Barton beranjak mendekati istrinya. "Aku tahu. Tadi aku ke kantor Bapak," ujarnya.
"Kamu setuju?" tanya Nilam, matanya mendelik menatap Barton, ada kilatan kemarahan di dalamnya.
"Apa aku punya opsi lain untuk kamu?" tanya Barton, suaranya tenang, mencoba meredakan ketegangan.
"Kamu sama Bapak sama saja. Nggak bisa memahami isi kepalaku," keluh Nilam, nadanya sarat kekecewaan.
"Kamu salah. Semua ini kami lakukan karena kami peduli pada kamu. Bapak sangat menyayangi kamu. Aku yakin, kamu tahu itu. Bapak nggak mau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan menimpa kamu," jelas Barton.
"Lalu kamu sendiri? Kamu lupa bagian dari kesepakatan kita adalah kamu akan selalu mendukung karirku," suara Nilam mulai meninggi.
"Aku ingat. Selain itu, aku juga ingat kesepakatan lainnya. Bahwa sebagai suami, aku akan melindungi kamu sepenuhnya. Apalagi dari Sudjono," balas Barton, berusaha untuk tetap tenang.
Dia tahu sekali, sangat tidak mudah untuk bicara dengan Nilam ketika istrinya itu sedang emosi seperti ini. Meskipun terkenal dengan ketajaman berpikirnya, ada saat-saat tertentu yang menampakkan sosok Nilam sebenarnya; seorang perempuan yang kadang mendahulukan emosi dan perasaan dibandingkan logikanya.
"Aku mau menerima tawaran Satria Raja."
"Aku setuju."
Tak ada cara lain untuk menjauhkan Nilam dari obsesinya membongkar kebobrokan Sudjono selain menjauhkan istrinya itu dari jangkauan atau apa pun yang membawanya berhubungan dengan si konglomerat. Barton yakin, keputusan Nilam untuk pergi dari sisi Tumpal Dongoran bisa menyelamatkan hidup dan masa depannya.
"Kamu..." Nilam tak melanjutkan ucapannya. Matanya menatap tajam tepat ke manik hitam milik Barton. Terlihat dengan jelas ada kemarahan dan kekecewaan yang sedang berkecamuk. Barton paham, Nilam datang kepadanya untuk meminta dukungan. Namun sayang, keinginannya itu tidak terkabul.
"Lupakan Sudjono. Aku mohon. Sebagai suami, aku harus memastikan keselamatan kamu. Hidup kamu," pinta Barton.
"Suami? Hmmm... Harusnya kamu sadar, pernikahan macam apa yang kita jalani," sindir Nilam.
"Apa pun bentuknya, pernikahan ini tidak membebaskanku dari kewajiban untuk menjaga dan melindungi kamu. Asal kamu tahu, aku bicara berdasarkan perjanjian kita. Bukan karena pernikahan kita," tekan Barton.
"Sudahlah. Percuma bicara sama kamu. Sepertinya kamu dan Bapak akan bersikeras mendukungku bergabung dengan Satria Raja," kata Nilam menyerah.
"Exactly," jawab Barton.
"Mama tadi pagi telepon aku. Dia bilang weekend ini kita harus pulang," ujar Nilam, mengganti topik.
"Perintah yang sama juga tadi aku terima dari Bapak. Menurut kamu bagaimana? Kita perlu ke sana?" tanya Barton.
"Sejujurnya, aku malas, Bar. Akhir-akhir ini bapak dan mama mulai rajin menanyakan masalah cucu. Aku mati kutu. Semua alasan sudah tidak mempan lagi," keluh Nilam.
"Kalau gitu, kita tidak usah datang. Cukup bilang sibuk. Mereka pasti paham," saran Barton.
"Tapi mau sampai kapan, Bar?" tanya Nilam.
"Apa yang sampai kapan?"
"Kita. Mau sampai kapan kita terus seperti ini?"
"Kamu sudah menemukan lelaki itu?"
"Belum. Kamu tahu sendiri jam kerjaku seperti apa. Jangan lupakan juga fakta bahwa setengah dari jumlah penduduk negeri mengenalku sebagai menantu pengacara kawakan Tumpal Dongoran. Sudah pasti tak ada lelaki yang punya nyali untuk macam-macam denganku," jawab Nilam getir.
"Kamu menyesal menikah denganku?" tanya Barton, menatapnya lurus.
"Aku pulang duluan. Jangan lupa cari alasan yang masuk akal untuk Bapak dan Mama," kata Nilam, alih-alih menjawab pertanyaan Barton, dia malah memutuskan untuk pergi. Bagi Nilam, menyesal atau tidak, faktanya mereka sudah menikah. Meski Nilam tahu, bukan dia yang dicintai suaminya, karena sampai saat ini, Barton masih sangat mencintai Martin, sahabatnya.
Nilam mengayunkan langkah meninggalkan Barton yang masih memandangi punggung indahnya. Entah kenapa, tidak ada sedikit pun ketertarikan Barton melihta fisik Nilam yang sempurna. Awalnya, Barton berharap seiring perjalanan waktu, Nilam akan mengubah hidup Barton. Ternyata harapan itu hanya kesia-siaan belaka.
***