Nilam (Rahasia)

Takdir Akan Menemukan Jalannya

Mia terdiam, tatapannya sedikit melunak. Ia tahu ayahnya adalah seorang pria yang kejam, tetapi mendengar cerita langsung dari Nilam membuatnya sedikit goyah. Dia baru menyadari, ada sisi lain ayahnya yang tak pernah dia ketahui. Sedikit rasa kagum menelisik dalam hatinya, mengakui betapa hebat Sujono memainkan perannya. Tidak semua orang bahkan politisi yang terkenal lihai pun bisa seperti Sujono.

"Aku tidak berniat menghancurkan Satria. Dia tidak tahu apa-apa. Aku menyesal telah menyeret namanya," lanjut Nilam. "Aku hanya ingin keadilan. Dan aku tahu, dengan menjatuhkan Sudjono, Satria akan ikut terkena dampaknya. Tapi aku percaya dia akan bangkit. Aku percaya dia memiliki kekuatan untuk melewati semua ini".

"Kau sangat yakin pada dirimu sendiri," Mia berkata pelan, nada suaranya kembali dingin. "Tapi kau lupa satu hal, Nilam. Kebenaran tidak pernah semudah itu. Dan kau tidak sendirian dalam permainan ini. Ada begitu banyak pihak yang terlibat dan ingin memenangkan pertempuran atau sekadar menyelamatkan dirinya sendiri. Aku yakin, kamu sudah membaca situasi ini dengan sangat baik.”

Mia berdiri, berjalan ke arah jendela, menatap ke luar seolah mencari jawaban. "Aku tahu tentang kecelakaan aktivis lingkungan itu. Aku tahu bahwa ayahku menyembunyikan semua bukti, dan dia mengancam siapa pun yang berani bicara. Dan aku tahu bahwa Nasrullah Abdullah, ayah Satria, adalah kaki tangannya dalam semua ini".

"Dan aku juga tahu, ada orang lain yang menginginkan kehancuran mereka," Mia berbalik, menatap Nilam. "Tumpal Dongoran. Mantan mertuamu. Dia juga punya agendanya sendiri. Dia memburumu, Nilam. Dia tidak akan berhenti sampai kau kembali ke Jakarta".

Nilam merasakan dingin merayapi punggungnya. Mia tahu lebih banyak dari yang ia duga.

"Aku tidak bisa menghentikannya," Mia melanjutkan. "Tapi aku bisa memberimu sebuah tawaran. Sebuah kesempatan untuk mengakhiri semua ini, tanpa harus menghancurkan dirimu sendiri".

Nilam menatapnya, penasaran. "Tawaran apa?".

Mia berjalan kembali ke meja, menatap Nilam. "Aku tahu kau punya bukti yang lebih lengkap daripada yang aku berikan kepada KPK. Bukti yang bisa benar-benar menjatuhkan mereka hingga ke akar-akarnya. Aku tahu kau tidak hanya ingin membalas dendam, kau ingin memastikan keadilan ditegakkan".

Nilam diam. Mia benar. Ia memiliki informasi yang belum terungkap sepenuhnya.

"Aku akan membantumu. Dengan satu syarat," Mia melanjutkan. "Kau menyerahkan semua bukti yang kau miliki kepadaku. Aku akan memastikan itu sampai ke tangan penegak hukum yang tepat, tanpa ada campur tangan dari pihak mana pun. Aku akan memastikan Sudjono dan Nasrullah mendapatkan hukuman yang pantas".

"Dan apa keuntunganmu?" tanya Nilam, curiga.

Mia tersenyum tipis. "Keuntunganku? Aku akan mendapatkan kebebasanku. Kebebasan dari nama Sudjono, dari bayangan masa lalu. Kebebasan untuk memulai hidup baru, jauh dari intrik dan sandiwara ini". Ia menatap Nilam. "Dan yang paling penting, kita berdua bisa memastikan Satria mendapatkan keadilan. Dia tidak tahu apa-apa tentang korupsi ayahnya. Dia tidak pantas menanggung semua beban ini".

Nilam terdiam. Tawaran ini sangat mengejutkan. Mia, lawan yang ia duga akan menghancurkannya, kini menawarkan aliansi. Mia ingin keadilan, seperti dirinya. Mia ingin melindungi Satria, seperti dirinya.

"Kenapa kau ingin melindunginya?" tanya Nilam. "Kau sudah mengajukan gugatan cerai".

"Cinta itu rumit, Nilam," jawab Mia, pandangannya melayang ke luar jendela. "Dan kebenaran itu lebih rumit lagi. Aku tidak pernah mencintai Satria. Aku tidak bisa hidup dalam kebohongan. Aku tidak bisa hidup di bawah bayang-bayang kejahatan ayahku. Dan aku juga tidak bisa hidup di bawah bayanganmu".

Nilam tahu, Mia berbicara jujur. Ada kesamaan di antara mereka. Keduanya adalah wanita kuat yang terluka, mencari kebebasan dari bayang-bayang masa lalu yang kelam.

"Bagaimana aku bisa percaya padamu?" tanya Nilam.

Mia menatap Nilam, ada sorot tekad di matanya. "Kau punya pilihan. Kau bisa terus bersembunyi, terus dikejar Tumpal Dongoran, dan melihat kebenaran terungkap sepotong demi sepotong. Atau kau bisa bekerja sama denganku. Aku punya jangkauan yang lebih luas, dan aku tidak akan berhenti sampai semua terkuak. Jangan lupa, kau adalah adikku. Kita memiliki darah yang sama dalam tubuh kita".

Nilam berpikir keras. Ini adalah kesempatan emas. Dengan bantuan Mia, bukti yang ia miliki akan memiliki dampak yang jauh lebih besar. Dan ia bisa memastikan Satria tidak akan terlibat lebih dalam dalam semua ini.

"Baiklah," kata Nilam, akhirnya. "Aku setuju".

Mia tersenyum tipis. Senyum yang kini terasa sedikit lebih hangat. "Bagus. Mari kita tunggu Satria".

***

Satria Raja, didampingi Tommy, tiba di Hotel Sacher. Hatinya dipenuhi kegelisahan bercampur harapan. Setelah berbulan-bulan dihantam badai, ia akhirnya merasa dekat dengan jawaban yang ia cari. Meskipun wajahnya masih menyimpan bekas kelelahan, ada tekad kuat di matanya. Ia akan mendapatkan jawaban yang ia cari.

Mereka menuju kamar 305. Satria mengetuk pintu.

Pintu terbuka. Mia yang membukanya. Di belakang Mia, berdiri seorang wanita yang mengenakan trench coat dan scarf, sebagian wajahnya tertutup. Namun, Satria mengenali sosok itu. Jantungnya berdebar kencang.

"Nilam," bisik Satria, suaranya tercekat. Ia melangkah masuk, tatapannya terpaku pada Nilam. Di matanya terpancar kerinduan, kebingungan, dan luka yang dalam.

Nilam menatap Satria. Ada kerinduan yang mendalam di matanya, tetapi juga rasa bersalah. Tommy berdiri di belakang Satria, terkejut melihat Nilam di sana.

"Silakan masuk, Satria," kata Mia, suaranya tenang. "Kita punya banyak hal untuk dibicarakan".

Satria melangkah masuk, ia mengabaikan Mia dan Tommy. Matanya hanya tertuju pada Nilam. Setelah berbulan-bulan mencari, setelah semua kehancuran yang ia alami, akhirnya ia menemukan Nilam.

"Kenapa, Nilam?" tanya Satria, suaranya bergetar. "Kenapa kau menghilang? Apa yang terjadi?".

Nilam menarik napas dalam, melepas scarfnya. Wajahnya kini terlihat jelas, pucat namun penuh tekad. "Ada banyak hal yang harus kau tahu, Satria. Kebenaran yang lebih rumit dari yang kau bayangkan".

Mia melangkah maju, berdiri di samping Nilam. "Kami berdua akan menceritakan semuanya padamu, Satria. Tentang permainan ini, tentang rahasia yang tersembunyi, dan tentang peran kami masing-masing dalam semua ini". Ia menatap Satria, "Satria, ada satu hal lagi yang perlu kau tahu... Nilam adalah adikku, anak dari Sudjono juga. Kami memiliki darah yang sama."

Satria menatap Mia, lalu kembali ke Nilam, kebingungan dan keterkejutan melintas di wajahnya. Dua wanita yang singgah dalam hidupnya, yang menghancurkannya, kini berdiri bersama di hadapannya, siap untuk mengungkapkan kebenaran yang sesungguhnya.

Di luar jendela, Wina tetap tenang, seolah tak peduli dengan drama yang sedang terjadi di dalamnya. Namun, bagi Satria, Mia, dan Nilam, ini adalah momen penentuan. Momen di mana semua rahasia akan terkuak, dan takdir mereka akan menemukan jalannya.

***

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!