Nilam (Rahasia)
BUKAN SEKADAR MENANTU
Dinding ketegangan yang tak terlihat membentang di antara Nilam dan Tumpal Dongoran, tak seperti sepuluh tahun di bawah bimbingan Tumpal, atasan sekaligus guru dan orang yang Nilam anggap sebagai bapak.
Nilam menatapnya nanar di seberang meja kayu, suaranya sarat kekecewaan, "Bapak serius menghentikan kasus Teja? Tapi kenapa, Pak? Saya sudah mengumpulkan begitu banyak bukti yang mengarah pada kasus lain yang lebih besar, termasuk illegal logging!"
Tumpal menjawab singkat, sorot matanya tajam namun menyimpan kekhawatiran, "Iya. Kewajiban kita hanya mengungkap kasus kematian Teja. Dan itu sudah selesai. Kau tidak perlu terlibat begitu jauh."
"Bukan masalah terlibat atau tidak, Pak. Tapi ini kewajiban kita untuk mengungkap kebenaran. Kita tidak bisa menutup mata dengan semua ini," Nilam bersikeras.
"Siapa yang kau sebut sebagai kita, hmm?" Tumpal memandang Nilam tajam.
Salah satu sifat Nilam yang sering membuat Tumpal gusar adalah keras kepalanya. Menantunya itu tak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang dia inginkan. Lima tahun sudah Nilam menyandang gelar Nyonya Barton Dongoran, menikah dengan putra sulung Tumpal. Ikatan keluarga itu seharusnya membuat Nilam lebih mengerti, tetapi justru membuatnya semakin berani.
"Maksud Bapak?" cecar Nilam.
"Kau tahu, dalam hidup ini, ada banyak hal yang tak bisa kita sentuh dan kita ganggu. Tak perlu ikut campur urusan orang lain jika tak diminta sama mereka. Sudah puluhan tahun aku jadi pengacara, harusnya kau paham kenapa aku bisa tetap bertahan. Aku tahu kapan harus berperang, tapi aku lebih tahu kapan harus berhenti. Kemenangan itu tak melulu diraih lewat perlawanan. Kadang mengalah dan mundur akan jauh lebih baik untuk semua pihak," Tumpal menjelaskan.
"Tapi kasus ini sudah jelas, Pak. Ada korupsi yang nilainya tidak main-main. Ada konspirasi tersembunyi yang sangat merugikan rakyat dan negara," Nilam mencoba meyakinkan.
"Kau kira aku tak tahu semuanya? Aku lebih tahu dan lebih paham dari kau," Tumpal membalas.
"Lalu, kenapa Bapak malah angkat tangan?"
"Aku tidak angkat tangan. Aku hanya mundur dari peperangan sebentar," jawab Tumpal.
"Dan membiarkan ketidakadilan merajalela?"
"Sekarang aku tanya, apa ada yang meminta kita untuk menghentikan ketidakadilan yang kau sebut sudah merajalela itu? Apa ada yang datang lalu memberikan laporan kalau dia mendapatkan perlakuan tidak adil dan dirugikan? Ada? Bawa ke sini kalau ada. Biar aku yang menanganinya langsung kasusnya," Tumpal menantang.
Nilam diam menciut. Memang, meski dia mampu mengumpulkan bukti-bukti tindak korupsi dan kesewenangan si konglomerat pemilik perkebunan karet itu, namun Nilam juga harus menerima kenyataan kalau tidak ada satu pun karyawan yang mengeluhkannya.
Puluhan ribu pekerja yang tersebar hampir di seluruh Indonesia justru banyak yang berterima kasih karena bekerja di sana. Kasus Teja hanya dianggap ulah oknum yang dalam hal ini adalah si manajer.
"Kenapa diam, hah?" Tumpal melanjutkan, "Kau mau jadi pahlawan kesiangan yang berlindung di balik kata ketidakadilan? Jangan naif. Kalau kita mau perang, kau harus bisa memastikan bahwa kau punya senjata canggih dan kekuatan penuh untuk menghabisi lawanmu. Kalau kau tidak punya keduanya, lebih baik kau mundur daripada mati konyol."
"Jadi, Bapak mau diam saja dan membiarkan masalah ini terjadi?"
"Nilam. Kariermu masih sangat panjang. Sekarang ini yang kau butuhkan cuma belajar dan melatih kesabaran. Kau harus paham kapan waktu yang tepat untuk berperang," Tumpal mengakhiri.
Percakapan itu berakhir tanpa menghasilkan sebuah kesepakatan. Nilam ngotot untuk mengusut kasus yang dia temukan hingga ke akarnya, sementara Tumpal Dongoran pun tidak kalah sengit untuk menutup kasus tersebut. Nilam tahu, dia tak bisa melawan keputusan Tumpal Dongoran. Itulah yang membuatnya frustrasi.
Padahal sudah hampir sepuluh tahun Nilam bekerja untuk Tumpal. Lima tahun menjadi menantu sekaligus tangan kanannya. Seharusnya Nilam paham bagaimana Tumpal akan bertindak.
***
Sebagai mahasiswi hukum semester lima yang idealis, Nilam tak sekadar mencari tempat magang atau pekerjaan sampingan. Ia sengaja mengincar firma-firma hukum besar, didorong oleh ambisi kuat untuk kelak menjadi pengacara andal yang mampu mengungkap kebenaran dan menegakkan keadilan.
Profesor Ferry, dosen pembimbingnya, sangat mengagumi kecerdasan dan tekad Nilam, sehingga ia tak ragu merekomendasikan mahasiswi kesayangannya itu kepada Tumpal Dongoran. Tumpal Dongoran menerima Nilam dengan tangan terbuka.
Dengan rekomendasi yang ditambah sedikit paksaan yang dibalut canda dari Profesor Ferry, membuat Nilam dengan mudah mengantongi kunci masuk ke kantor Tumpal Dongoran.
Nama Tumpal Dongoran membayangi setiap sudut gedung pengadilan, meskipun ia sendiri lebih memilih bekerja di belakang layar dan nyaris selalu menolak wawancara publik. Para kolega dan lawan mengakui sepak terjangnya yang tak terkalahkan; hampir tak ada perkara yang tidak bisa dimenangkan jika sudah ditangani oleh Tumpal Dongoran dan timnya. Kemenangannya bukan hanya diukur dari statistik kasus, melainkan dari reputasi yang terbangun bahwa ia tahu betul kapan harus berperang dan kapan harus mengalah.
Setahun tiga bulan Nilam magang di sana. Status Nilam naik menjadi salah satu tim pengacara di bawah pimpinan Tumpal Dongoran tepat setelah dia berhasil menyelesaikan kuliahnya. Firma Hukum Tumpal Dongoran menjadi pilihan utama Nilam untuk memulai kariernya sebagai pengacara profesional.
Di situ pula Nilam bertemu dengan Barton Dongoran, putra tunggal Tumpal Dongoran. Barton lebih memilih menjadi dosen dibandingkan meneruskan jejak ayahnya , memilih ilmu ekonomi bisnis, bukan bidang hukum.
Sebelum Nilam datang dan menjadi dekat dengan Barton, Tumpal tak bisa menyembunyikan rasa kecewanya atas karir yang menjadi pilihan Barton. Jauh di lubuk hatinya, Tumpal sangat berharap Barton akan menjadi penerusnya di dunia hukum. Tumpal kembali optimis ketika melihat bintang Nilam yang mulai terus bersinar.
Apalagi saat Nilam dan Barton menjadi dekat, restu itu turun tanpa diminta. Tumpal menutup mata dan telinga tentang asal-usul maupun latar belakang keluarga Nilam. Baginya, masa depan jauh lebih penting dibandingkan masa lalu yang bisa dilupakan saat si pelaku menutup buku.
Setelah kurang dari tiga tahun berpacaran, pernikahan megah Nilam dan Barton Dongoran diselenggarakan, digadang-gadang sebagai royal wedding tahun itu. Di mata publik, mereka adalah pasangan ideal; seorang pakar ekonomi bisnis muda berprestasi bersanding dengan pengacara muda yang hebat menjadikan pasangan Barton dan Nilam seolah dua manusia sempurna yang dipersatukan lewat tangan semesta yang bekerja dengan begitu luar biasa.
Namun, di balik citra sempurna itu, retakan-retakan kecil sudah mulai terasa dalam hubungan yang terjalin lebih karena rasa hormat dan ambisi, bukan cinta yang menggebu. Sejak pernikahan itu pula, Nilam tak hanya menjadi menantu, tetapi juga satu-satunya orang kepercayaan Tumpal Dongoran di firma hukumnya.
Ketika Nilam memperoleh beasiswa di Harvard, Tumpal memberikan dukungan penuh tak kalah dengan Barton. Hanya di meja makan rumah Tumpal, diskusi tentang hukum akan berhenti total. Lusiana Ginting, istri Tumpal yang seorang dokter anestesi, adalah satu-satunya orang di rumah itu yang sama sekali tidak memahami atau ingin memahami dunia hukum. Ia tegas membuat aturan tak tertulis yang dihormati semua anggota keluarga: tidak ada obrolan tentang kasus atau pasal-pasal hukum di dalam rumah, apalagi saat makan bersama. Aturan ini, meskipun kadang membatasi, juga menjadi semacam jeda yang menenangkan bagi Tumpal dan Nilam dari dunia profesional mereka yang penuh tekanan.
***