Nilam (Rahasia)

Bisa Bertemu Malam Ini?

Mia masuk ke mobil tanpa banyak bicara. Sopir membuka pintu belakang dengan sopan, namun Mia tidak menatap siapa pun. Di dalam, dia melepas sanggulnya perlahan, menghela napas panjang, dan membuka ponsel keduanya yang tersimpan dalam kompartemen rahasia di tas kerja hitamnya. Ada satu pesan baru. Dari nama yang tidak pernah disimpan sebagai nama sungguhan.

"Bisa bertemu malam ini?"

Mia menatap pesan itu cukup lama. Lalu membalas singkat. "Kamar 1206. Jangan terlambat."

Sopir menatap Mia dari kaca spion, ingin memastikan arah tujuan. "Hotel Diplomat," katanya akhirnya, nada suaranya nyaris tak terdengar.

"Jangan lewat tol."

Hotel Diplomat tak jauh dari Senayan. Bukan hotel mewah, tapi cukup tersembunyi, dengan lorong-lorong yang berbau karpet tua dan kelembapan yang samar. Seorang laki-laki sudah duduk di lounge kecil dekat lift saat Mia masuk. Usianya sekitar empat puluh, dengan kemeja biru laut yang digulung hingga siku, dan tatapan mata yang lelah namun penuh pengertian. Dia adalah Arif, mantan staf kampanye Satria yang dulu dipecat karena dituduh membocorkan informasi. Mia mengenalnya dari rapat-rapat internal dulu, dan sejak lama sudah mencurigai ketidakberesan. Arif adalah jembatan bagi Mia untuk mendapatkan informasi "dalam" yang tidak akan pernah Satria atau timnya berikan.

Matanya langsung menangkap Mia. Mereka tidak saling senyum. Mia hanya melangkah lewat, tanpa bicara, dan laki-laki itu mengikutinya naik ke lantai dua belas. Kamar 1206 terbuka. Mia melepas sepatunya sebelum masuk. Laki-laki itu menutup pintu, lalu berdiri diam.

"Aku hanya punya satu jam," kata Mia.

"Seperti biasa," jawabnya. "Aku juga."

"Kau terlihat lelah," kata Arif, mendekat dan mengusap pipi Mia.

"Tim sukses Satria... mereka ingin aku lebih banyak tampil," jawab Mia. "Dan Nilam... dia terlalu pintar."

Arif mengangkat alis. "Kau mencurigainya?"

"Selalu," Mia mengangguk. "Dia terlalu sempurna untuk seorang pendatang baru. Dia tahu bagaimana membaca Satria. Terkadang, aku merasa dia membaca pikiranku."

Mia berjalan menuju jendela, menatap gedung-gedung tinggi yang berkilauan di kejauhan. "Dia ingin aku menjual narasi keluarga sempurna. Memoles citra ibu negara idaman."

"Dan kau akan melakukannya?"

"Tentu saja," senyum sinis tersungging di bibir Mia. "Aku tidak pernah keberatan bermain peran. Aku adalah aktris, ingat? Panggung ini adalah duniaku. Hanya saja, kali ini, aku akan menulis skenarionya sendiri."

Arif mendekat, memeluk Mia dari belakang. "Apa rencanamu?"

"Aku akan membiarkan mereka membangun menara mereka," bisik Mia. "Satria dengan obsesinya pada 'belahan jiwa' yang diramalkan Abah Yusman itu. Nilam dengan ambisinya yang tersembunyi. Mereka berpikir mereka mengendalikan permainan. Tapi mereka tidak tahu, aku sudah punya kartu as di tangan—bukti nyata yang akan mengguncang pondasi yang mereka bangun dengan begitu hati-hati."

"Apa yang kau tahu?" Arif mendesak, rasa ingin tahu memuncak.

Mia menoleh, menatap Arif dengan mata penuh rahasia. "Aku tahu segalanya tentang hubungan bisnis antara ayahku dan ayah Satria. Aku tahu tentang konsesi tambang ilegal yang mereka lindungi. Aku tahu tentang kekayaan tersembunyi yang mereka bangun di balik nama-nama bersih. Dan aku tahu tentang kecelakaan misterius yang melibatkan salah satu aktivis lingkungan yang mencoba membongkar semua itu bertahun-tahun lalu."

Arif menahan napas. Ini jauh lebih besar dari yang ia bayangkan. "Dan kau tahu siapa yang terlibat?" Arif bertanya, suaranya tercekat.

"Semuanya," jawab Mia dingin. "Termasuk nama-nama yang kini disanjung publik. Termasuk nama yang tak pernah diduga siapa pun."

Mia berpaling dari jendela, menghadap Arif. "Aku tidak akan menjatuhkan mereka dengan cara yang kotor. Aku akan membiarkan mereka terjebak dalam jaring mereka sendiri. Aku akan menunggu. Menunggu sampai mereka mencapai puncak, dan kemudian..."

Mia tidak menyelesaikan kalimatnya, tetapi tatapan matanya sudah berbicara seribu kata. Arif tahu, ini adalah strategi yang dingin, penuh perhitungan, dan mematikan.

"Bagaimana dengan Satria?" Arif bertanya, meskipun ia sudah tahu jawabannya.

"Satria adalah bagian dari panggung itu," Mia berkata, tanpa emosi. "Dia hanya aktor utama yang tidak menyadari bahwa ia adalah bagian dari plot yang lebih besar. Plot yang aku tulis."

"Dan jika rencanamu melibatkan bahaya bagi dirimu?"

Mia tertawa kecil. "Bahaya adalah bagian dari permainan. Tapi bayangan adalah tempat paling aman untuk menikam. Mereka tidak melihatku datang. Tidak ada yang pernah melihatku datang."

Mia bukan sekadar istri politisi atau putri konglomerat. Dia adalah pemain catur ulung, yang selama ini dengan sabar menyusun bidak-bidaknya, menunggu momen yang tepat untuk skakmat. Mereka tak bicara banyak. Tidak perlu. Ini bukan tentang cinta, bukan tentang pelarian. Ini tentang sesuatu yang Mia tak bisa temukan di rumah atau di lingkaran kekuasaan. Sebuah jeda. Sebuah napas. Dua pasang mata saling tatap hingga lambat laun tatapan itu meredup dan mereka tak lagi berjarak. Berbagi deru dalam lenguh bercampur peluh. Perlahan, pagutan yang semula seirama nadi, berubah liar mengikuti ritme jantung yang makin berdetak kencang. Tak ada lagi batas. Semuanya terasa sah atas nama cinta.

***

Sementara itu, di apartemennya yang tersembunyi di kawasan Menteng, Nilam menyalakan kembali ponsel utamanya. Deretan pesan menumpuk. Sebagian dari staf komunikasi, sebagian dari tim riset, dan satu dari Satria.

Terima kasih untuk revisinya.Kalimat tentang keluarga sangat kuat. Aku akan sampaikan langsung besok pagi.

Lalu satu baris tambahan:

Kita masih jadi kita.

Meski dalam diam, bukan?

Nilam tidak membalas. Ia hanya menatap layar itu lama, sebelum mematikan ponsel dan menaruhnya jauh dari tempat tidurnya. Kepalanya penuh, tapi matanya tetap tenang. Dia sudah menyiapkan semuanya. Yang tidak ia siapkan dan tak pernah bisa dia kendalikan adalah kemungkinan Mia juga punya permainan sendiri.

Nilam merasakan dinginnya ubin di bawah kakinya saat ia mondar-mandir di ruang tengah. Ia baru saja selesai memeriksa beberapa berkas yang ia yakin akan memberinya celah untuk menyusup lebih dalam ke dalam gurita bisnis Sudjono. Informasi yang Mia miliki, pasti jauh lebih besar dari yang Nilam duga. Ia teringat tatapan Mia di restoran tadi sore. Tatapan yang bukan sekadar sinis, melainkan penuh perhitungan. Mia adalah pemain, bukan pion. Nilam tahu itu. Tapi seberapa besar Mia tahu tentang rencana Nilam sendiri, atau tentang hubungan Nilam dengan Satria?

Ponsel rahasianya bergetar. Pesan dari Satria: Bergegaslah. Aku sudah tidak sabar.

Jantung Nilam berdebar. Ada kehangatan yang menjalar di hatinya setiap kali ia menerima pesan dari pria itu. Setelah semua kepura-puraan, Satria adalah satu-satunya yang melihatnya apa adanya, yang memvalidasi perasaannya, mengingatkannya pada malam-malam panjang mereka membicarakan impian, jauh sebelum panggung politik ini menyatukan mereka dalam rahasia. Empat minggu. Waktu terasa semakin sempit. Nilam harus bergerak lebih cepat, lebih cermat. Ia harus menyelesaikan misi lamanya, membalas dendam masa lalu, sebelum rahasia yang ia pegang menjadi bumerang.

Ia mulai mengemas barang-barang pribadinya ke dalam kotak-kotak kecil, satu per satu. Buku-buku, beberapa pakaian, foto-foto lama yang tak ingin ia buang. Ini bukan hanya tentang menghilang, tapi tentang menciptakan identitas baru, hidup baru, bebas dari bayang-bayang masa lalu dan dendam. Namun, ia tahu, sebuah bagian dari dirinya akan selalu terikat pada Satria. Ikatan yang mungkin tidak bisa ia lepaskan, bahkan jika ia harus menghilang dari dunia ini. Dan pertanyaan yang tak terjawab: Akankah Satria menepati janjinya untuk berbicara dengan Mia, atau akankah ia terus bersembunyi di balik kekuasaan dan ambisinya?

Hujan kembali turun di luar, menciptakan suara gemerisik yang menenangkan, sekaligus melarutkan jejak-jejak yang ditinggalkan. Nilam tahu, dalam empat minggu ke depan, tak hanya pemilu yang akan mencapai puncaknya, tetapi juga sandiwara besar yang melibatkan tiga hati, ambisi politik, dan rahasia yang siap meledak.

***

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!