Nilam (Rahasia)
Pertemuan
Nilam menatap langit Jakarta yang muram malam itu. Ada rasa enggan dalam hatinya untuk bertemu dengan Mia. Namun, profesionalisme harus tetap dijunjung tinggi. Ia memiliki tujuan yang lebih besar, dan pertemuan ini adalah salah satu langkah pentingnya. Hujan turun pelan-pelan, seperti menyeka debu dari gedung-gedung tinggi yang tampak temaram. Dari lantai 28 restoran La Vela, lampu-lampu kota berkilau samar di balik tirai hujan, diselingi oleh samar-samar alunan jazz lembut dan aroma kopi yang baru diseduh. Sebuah sudut ruangan telah dipesan khusus untuk dua perempuan penting dalam pusaran kekuasaan, meski hanya satu yang akan terlihat di layar kaca.
Mia sudah duduk lebih dulu. Anggun dalam balutan kemeja satin putih gading, rambut disanggul rapi, bibirnya berbalut merah anggur. Di hadapannya, teh melati mengepulkan uap tipis. Tangannya memainkan sendok kecil tanpa benar-benar mengaduk apa pun.
Saat Nilam datang, waktu menunjukkan pukul tujuh tepat. Ia mengenakan blazer hitam dengan garis emas di kerahnya, celana panjang senada, dan sepatu hak tinggi yang tidak berisik saat menyentuh karpet tebal. Seperti biasa, penampilannya tidak bisa dianggap remeh. Elegan, tangguh, dan terlalu menawan untuk dilabeli "tim di balik layar".
"Maaf menunggu, Bu Mia," sapa Nilam dengan suara hangat namun terukur.
Mia menoleh. "Kau tidak pernah terlambat, Nilam. Duduklah."
Keduanya saling tersenyum, seperlunya. Bukan senyum sahabat, melainkan dua perempuan yang sudah terlalu lama berada di panggung dengan peran masing-masing. Berpura-pura tidak saling mengganggu, padahal keduanya tahu, panggung ini terlalu sempit untuk dua tokoh utama.
"Saya membawa revisi final untuk pidato besok," ujar Nilam sambil meletakkan map biru di meja. "Kita ubah narasinya sedikit. Ada bagian tentang keluarga. Tentang ibu negara."
Mia menyentuh map itu dengan ujung jarinya, namun tak segera membukanya. "Dia akan menyebutku di atas panggung?"
"Secara langsung. Itu bagian dari pendekatan emosional untuk pemilih perempuan. Kita sudah riset efeknya," jawab Nilam.
"Aku tidak keberatan. Tapi aku hanya ingin tahu, itu ide siapa?"
Sesaat, Nilam diam. "Idenya kolektif. Tapi saya yang menyusun narasinya."
Mia mengangguk, pelan. Matanya tidak meninggalkan wajah Nilam. "Kau selalu tahu harus bicara apa. Bahkan kadang, sebelum Satria tahu apa yang ingin dia katakan."
Nilam tersenyum. "Tugas saya memang membentuk cerita."
"Ya," gumam Mia. "Tapi aku tahu, cerita yang baik tidak selalu sama dengan kebenaran."
Kata-kata itu menggantung. Tidak ada nada tinggi. Hanya bisikan yang cukup tajam untuk menusuk diam.
"Saya hanya ingin memastikan semuanya berjalan lancar, Bu. Kita semua di perahu yang sama."
Mia menegakkan punggungnya. Wajahnya tenang, tapi tajam seperti belati yang disimpan di balik senyum. "Perahu ini punya banyak awak, Nilam. Tapi hanya satu nahkoda. Kau tahu siapa itu."
"Satria."
Mia tidak mengangguk. Tidak juga membantah.
"Saya tidak pernah berambisi menjadi lebih dari yang seharusnya," kata Nilam pelan. Matanya menatap lurus ke arah Mia. "Saya tahu tempat saya."
"Benarkah?" Kali ini, suara Mia lebih rendah. Dia menyandarkan tubuhnya, menyilangkan kaki dengan tenang. "Kau tahu, sejak awal, aku tidak pernah sepenuhnya percaya pada siapa pun di lingkaran Satria. Terlalu banyak kepalsuan yang kulihat dari dekat. Bahkan pada diri sendiri, kadang-kadang. Tapi kamu, Nilam. Kamu selalu berbeda."
"Karena saya perempuan?" tanya Nilam, mencoba tersenyum.
"Karena kamu terlalu pintar untuk hanya jadi pion," jawab Mia cepat.
Hening sejenak.
"Aku tidak akan bertanya lebih dari yang perlu aku tahu. Kau punya sejarah sendiri dengan dia. Aku tidak bodoh," lanjut Mia.
Nilam menahan napas. Tapi dia tetap tenang. Sudah terlalu lama ia berlatih untuk menyimpan segalanya di balik wajah datar yang profesional. "Saya sudah lama tidak punya sejarah, Bu. Yang ada sekarang hanya pekerjaan," katanya.
Dalam hati, Nilam mengakui bahwa ada dilema nyata dalam dirinya. Perasaannya pada Satria memang dalam, ia tak bisa menyangkalnya. Namun, api ambisi dan rencana besarnya—balas dendam atas kehancuran yang pernah menimpa keluarganya dan kebebasan mutlak dari belenggu masa lalu—telah menyala jauh sebelum Satria hadir. Hubungan mereka terasa seperti kepingan puzzle yang baru ditemukan, cocok, namun datang di waktu yang rumit, mengancam untuk menunda atau bahkan mengacaukan tujuan utamanya. Apakah ia akan rela membuang semua yang telah ia susun rapi demi cinta yang baru ditemukan?
Mia menatapnya lama, lalu menghela napas. "Baiklah. Aku akan mainkan peran yang kau tulis dalam pidato itu. Tapi aku hanya minta satu hal—"
Nilam menunggu.
"Jangan membuat Satria terlihat lemah. Bahkan jika kau kecewa, bahkan jika kau marah. Apa pun yang terjadi, jangan jatuhkan dia di depan publik. Aku mohon."
Permohonan itu datang dari tempat yang dalam. Dari seorang istri yang mungkin sudah lama tahu tapi memilih diam. Dari seorang perempuan yang tahu dia berbagi panggung, tapi tetap berdiri di tengah sorotan.
"Saya tidak akan menjatuhkannya, Bu," jawab Nilam. "Saya janji."
Tapi Nilam tahu, dalam waktu dekat, bukan dia yang akan menjatuhkan Satria, melainkan ketidakhadirannya—sebuah kekosongan yang akan lebih terasa daripada badai apa pun. Mia tidak tahu, setelah pemilu ini selesai, Nilam akan pergi. Menghilang, membawa serta semua rahasia dan jaringannya, meninggalkan hanya jejak yang samar. Dan Mia juga tidak tahu, bahwa sebelum Satria menikahinya, sudah ada bagian dari hidup pria itu yang pernah diberikan diam-diam kepada Nilam. Dan tak pernah benar-benar dikembalikan.
Mereka berbincang sedikit lagi. Tentang detail kampanye. Tentang siapa yang akan menghadiri acara amal minggu depan. Tentang polling terakhir. Semua pembicaraan formal yang terdengar seperti kerja tim, padahal masing-masing sudah menyimpan rahasianya sendiri.
Ketika Mia pamit lebih dulu, hujan masih turun. Di luar jendela, Jakarta terus menyala. Nilam duduk beberapa menit lagi, memandangi sisa teh di cangkirnya yang tak disentuh. Dia meraih ponsel rahasianya, ponsel yang hanya dia dan satu orang tahu keberadaannya. Di layar, pesan itu masih terpampang: Raffles Hotel. Pekan depan. Jam 10 pagi. Tanpa nama. Tanpa kata sampai jumpa. Tapi cukup jelas.
Nilam memejamkan mata sesaat. Setelah ini, tinggal empat minggu. Dan setelah itu, semua akan berubah. Termasuk dia.
Langit semakin pekat di luar jendela, hujan tak kunjung reda. La Vela mulai lengang, pelayan berdiri berjaga di sudut-sudut dengan tatapan kosong, menanti akhir giliran kerja.
Nilam berdiri. Mantelnya disampirkan di lengannya, langkahnya ringan namun mantap. Ponsel rahasia itu masih dalam genggaman, tersembunyi di balik mantel. Empat minggu. Hanya itu yang tersisa dari hidup yang selama ini ia jalani dengan begitu terencana. Tapi tak semua rencana miliknya. Dan bukan hanya dia yang menyimpan rahasia.
***