Nilam (Rahasia)

Mia adalah Kesalahan

Dua minggu setelah malam itu, mereka sepakat mengajukan perceraian secara damai. Tidak ada drama. Tidak ada media. Barton mengambil satu koper dan pindah sementara ke rumahnya yang lain di Cipete. Rencana ke Berlin mulai disusun. Nina dan Mbak Inem melepas kepergian Barton dengan air mata dan isak yang samar.

Tahun-tahun mereka membersamai Barton dan Nilam, cukup untuk menorehkan kebaikan-kebaikan Barton pada mereka. Beruntung, keduanya sudah terbiasa menyikapi setiap kejadian di rumah itu dalam diam. Tidak pernah bertanya tentang apa pun yang mereka lihat.

Nilam kembali ke pekerjaannya. Tapi sesuatu dalam dirinya berubah. Dia tidak lagi merasa bersalah. Tidak lagi harus berpura-pura. Dia tahu langkah berikutnya tidak akan mudah, tapi setidaknya dia akan menapakinya sebagai dirinya sendiri. Pikiran tentang ayahnya sesekali muncul, samar, namun dorongan untuk menemukan kebenaran tentang dirinya sendiri terasa lebih kuat dari sekadar membalas dendam.

Dan ketika suatu sore Satria menemuinya di halaman belakang kantor, di mana pohon ketapang menjatuhkan daun satu per satu, ia hanya berkata, "Barton tahu."

Satria menatapnya, matanya mencari-cari jawaban.

"Dia tidak marah. Dia malah memberiku keberanian untuk jujur."

"Lalu apa rencanamu selanjutnya?"

Nilam menatap langit yang mulai meremang. "Aku tidak tahu. Tapi kali ini, kalau aku melangkah, itu bukan karena pelarian. Tapi karena aku ingin menuju sesuatu."

Satria mendekat, lalu berkata pelan, "Maukah kamu melangkah ke arahku?"

Nilam tersenyum kecil. "Jika kamu bisa menerima semua yang menyertai aku. Termasuk luka. Termasuk ketakutan. Termasuk hujan."

Satria mengulurkan tangannya, menyentuh lembut lengan Nilam. "Aku juga penuh luka, Nilam. Mungkin dua luka bisa saling menghangatkan."

Ketika hujan kembali turun, mereka tidak lari. Mereka berdiri bersama, di tengah deras yang tak bisa dihindari. Mereka tahu, tak ada tempat lebih jujur dari tempat di mana dua orang berhenti bersembunyi.

***

Pekan-pekan setelah hujan itu menjadi masa transisi yang pelik. Jakarta masih sibuk dan bising, tapi bagi Nilam dan Barton, waktu berjalan dalam ritme yang berbeda. Lebih lambat, lebih sunyi, seolah memberi ruang bagi hati mereka yang sedang belajar melepaskan dan menerima.

Barton menata hidup barunya dengan Martin. Tidak lagi ada sandiwara dalam pertemuan mereka. Di sebuah kafe kecil di Kemang, Barton menggenggam tangan Martin di atas meja, tak lagi peduli siapa yang melihat. Martin memandangnya dengan mata yang selama ini hanya bisa menunggu.

"Aku pikir kamu akan terus memilih diam," katanya.

Barton menggeleng pelan. "Aku memilih diam karena takut. Tapi aku tidak mau hidup di balik tirai lagi." Suaranya tegas, penuh keyakinan yang baru ia temukan. Bertahun-tahun ia bersembunyi di balik dinding ketakutan, kini ia merasa bebas, ringan, seolah beban berat terangkat dari pundaknya.

Martin mencium punggung tangannya. Tidak perlu banyak kata. Yang mereka butuhkan hanyalah waktu yang jujur.

Sementara itu, Nilam mulai menjalani hidup seperti yang ia inginkan, tidak lagi demi menyenangkan siapa pun. Ia menyibukkan diri dengan proyek sosial di pelosok Jawa Barat, mengajar anak-anak tentang lingkungan dan literasi. Ada pelarian dalam pekerjaannya, tapi juga penyembuhan.

Satria sesekali memintanya meluangkan jadwal dan menghabiskan waktu berdua. Tidak dengan janji, tapi dengan kesediaan. Mereka tidak buru-buru menyebut hubungan mereka dengan nama apa pun. Ada sore-sore yang mereka habiskan hanya dengan duduk bersebelahan, membaca buku di taman kota.

Kadang Satria memasak makan malam untuk Nilam, lalu mereka makan tanpa lampu, hanya lilin kecil di antara piring. Keduanya memilih berkomunikasi dengan nomor khusus yang tidak diketahui oleh siapa pun. Selain itu, mereka sepakat untuk bertemu secara pribadi di Singapura. Melepas rindu sekaligus melupakan siapa mereka sebenarnya.

Suatu malam, setelah makan malam yang sunyi tapi hangat, Satria berkata, "Aku belum bicara pada istriku. Tapi aku akan mencari waktu untuk membicarakannya. Aku janji."

Nilam menatapnya, lembut tapi tegas. "Jangan janji untukku. Janji untuk dirimu sendiri. Karena kejujuran bukan hadiah untuk orang lain, tapi penghargaan untuk diri sendiri."

Satria terdiam sejenak. Lalu mengangguk. Ia tahu, setiap langkah yang diambilnya kini bukan hanya soal hati, tapi juga melibatkan nama besar Raja dan potensi sorotan publik yang bisa menghancurkan segalanya.

***

Pada akhir musim hujan, Barton mengirimkan pesan singkat pada Nilam.

Tiket ke Berlin sudah di tangan. Terima kasih, Nilam. Karena menjadi bagian dari hidupku yang paling sunyi sekaligus paling bermakna.

Nilam membalas dengan satu kalimat.

Selamat menemukan terangmu.

Nilam tidak menangis. Hanya memandang jendela apartemen yang kini sunyi, tapi terasa lebih lapang. Tidak lagi penuh rahasia. Satu tugas berat tersisa. Menjelaskan secara baik-baik kepada orang tua Barton. Ia tahu Tumpal tidak akan mudah menerima. Impian ayahnya untuk menjadikannya penerus di perusahaan besar itu akan terancam, apalagi jika Tumpal mengetahui hubungan Nilam dengan Satria Raja, calon lawan politiknya.

***

Beberapa bulan kemudian, hujan kembali turun di Jakarta. Tidak selebat sebelumnya, tapi cukup untuk membasahi genting dan jendela. Di bawah payung yang sama, Nilam dan Satria berjalan perlahan menyusuri trotoar. Tidak tergesa. Tidak juga menahan diri.

"Maukah kamu memulai dari awal?" tanya Satria.

Nilam tersenyum. "Mungkin bukan awal. Tapi dari titik kita berhenti berbohong."

Mereka tertawa kecil. Hujan tidak membuat mereka lari. Mereka berjalan terus, payung bergoyang tertiup angin, sepatu mereka basah oleh genangan, tapi ada ketenangan yang sulit dijelaskan. Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang bersih dari luka, tapi siapa yang berani merawatnya bersama.

Untuk pertama kalinya, mereka tidak berjalan di atas panggung. Mereka berjalan pulang. Ke arah satu sama lain. Dengan jujur. Dengan berani.

***

Tommy masuk ke dalam ruang kerja Satria tanpa mengetuk pintu, langkahnya mantap, tatapannya tajam menembus kesibukan sahabatnya. "Sudah sejauh mana hubunganmu dengan Nilam?" ia bertanya, nada suaranya sedikit mendesak.

"Dari mana kamu tahu?" Satria tetap fokus pada tablet di depannya, gestur yang Tommy kenal betul sebagai bentuk penghindaran.

"Aku punya mata untuk melihat gerak-gerik kalian, Sat," jawab Tommy, melangkah lebih dekat, suaranya kini lebih rendah, sarat kekhawatiran yang tak bisa disembunyikan.

"Bukankah aku sudah bilang kalau Nilam adalah belahan jiwa yang akhirnya aku temukan?" Satria mengangkat pandangan, ada keyakinan yang terpancar di matanya.

Tommy menghela napas berat, lalu menjatuhkan tubuhnya di sofa panjang yang ada dalam ruangan. Rasa frustrasi tampak jelas di wajahnya. "Kamu masih percaya ramalan itu?" Nada suaranya mengambang antara skeptisisme dan keputusasaan, perpaduan emosi yang menunjukkan betapa dalam masalah ini mengganggunya. Ia telah menyaksikan sendiri bagaimana ramalan itu perlahan mengambil alih hidup Satria, mengubahnya.

"Tom, kamu ada di sana saat aku mengalami kejadian aneh dan mendengar ramalan tentang hidupku. Satu per satu semuanya terbukti benar," Satria membalas, suaranya tenang, nyaris seperti sedang meyakinkan dirinya sendiri.

Tommy meremas rambutnya, jemarinya mencengkeram erat. Pada bagian itu, dia tidak bisa membantah ucapan Satria. Dia masih ingat dengan baik setiap ucapan Abah Yusman, peramal tua yang misterius itu.

Selepas kuliah, Tommy tidak terjun ke politik seperti Satria, memilih jalur bisnis untuk tetap berada di dekat sahabatnya. Dia menjalankan beberapa bisnis milik Satria, menjadi sandaran, garda terdepan ketika Satria membutuhkan penopang.

Semua ucapan Abah Yusman memang terbukti nyata hingga saat ini. Ini yang paling membuatnya takut. Jika bagian baiknya terbukti, bagaimana dengan bagian buruknya?

"Tapi apa betul perempuan yang dimaksud itu adalah Nilam?" Tommy kembali mendesak, matanya tak lepas dari Satria. "Bisa saja perasaan kamu salah, Sat. Sama seperti saat kamu salah mengartikan kehadiran Mia dulu." Ia mengaitkan jari-jarinya, mencoba menemukan celah dalam keyakinan Satria.

"Aku yakin dengan perasaanku. Mia adalah kesalahan," jawab Satria tegas. "Saat itu, aku tidak berusaha mengartikan perasaan seperti apa yang harus aku ikuti. Nilam berbeda. Dalam sekali pandang, hatiku langsung meyakini kalau dia adalah bagian dari diriku."

"Bisa saja perasaanmu itu hanya ketertarikan sesaat," Tommy mencibir, mencoba meruntuhkan benteng keyakinan Satria.

"Awalnya aku pun berpikiran seperti itu," aku Satria. "Makin aku menghindar, rasanya makin kuat aku tertarik dalam poros yang menuju ke arah Nilam. Perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan. Nilam juga merasakan hal yang sama."

Tommy mendengus. "Aku tahu. Aku tidak akan bertanya kalau kalian tidak punya perasaan yang sama. Sat, kamu harus ingat juga perkataan Abah Yusman, bencana besar itu akan datang kalau kalian salah memilih pasangan sebelumnya. Bukankah kamu dan Nilam sudah salah saat menikah dengan pasangan masing-masing? Kalau kamu percaya ramalan itu, kamu harusnya juga percaya dengan malapetaka yang menunggu. Atau kamu sudah dibutakan oleh cinta?" Pertanyaan Tommy menusuk, langsung ke inti kekhawatirannya.

***

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!