Nilam (Rahasia)

Pilihan Satria

Keesokan harinya, suasana kantor kembali normal. Tapi ada ketegangan yang tidak bisa disangkal saat Nilam dan Satria kembali duduk berdua dalam mobil dinas menuju pertemuan dengan pihak kementerian kesehatan.

"Setelah kunjungan ke NTT, program kita bisa jadi sorotan nasional," ujar Satria sambil memeriksa agenda di tabletnya. "Kamu siap?"

"Saya selalu siap," jawab Nilam.

"Tapi tidak semua orang akan nyaman dengan kedekatan kita dalam program ini. Banyak yang mulai bertanya-tanya."

Nilam menoleh. "Maksud Bapak?"

"Ada laporan ke media yang mencoba menyudutkan," kata Satria, pandangannya serius. "Menuduh kamu jadi orang dalam yang dimanfaatkan untuk menyabotase program lawan politik kita, yaitu klien Tumpal Dongoran. Atau sebaliknya, kamu sengaja dikirim ke saya. Laporan-laporan ini bukan sekadar gosip, Nilam. Mereka mulai menginvestigasi latar belakangmu, menggali koneksimu dengan Tumpal dan kemungkinan adanya agenda tersembunyi. Ini bisa jadi awal dari badai."

Nilam menghela napas. "Siapa pun bisa membuat narasi. Tapi saya tahu apa yang saya kerjakan," jawabnya mantap, meski ada gelombang kekhawatiran yang tak bisa disembunyikan.

Satria menatapnya lama. "Saya percaya kamu. Tapi kita harus berhati-hati. Dunia kita tidak akan memaafkan kesalahan yang sebenarnya tidak pernah kita lakukan."

"Apa kamu percaya pada kebetulan?" tanya Satria pelan.

Nilam menatapnya. "Tidak. Semua hal dalam hidup saya terjadi karena pilihan. Termasuk hari ini."

"Termasuk kita di sini?"

"Termasuk saat Bapak memilih saya."

Hening sejenak. Satria berkata, nyaris berbisik, "Kalau suatu hari semua ini harus berakhir, saya harap kamu tahu, saya tidak pernah ingin menjadikanmu pion dalam politik."

Nilam membalas, lirih, "Dan saya tidak pernah ingin menjadikan Bapak alasan untuk memberontak pada hidup saya."

Tak ada pelukan. Tak ada sentuhan. Tapi hari itu, dunia diam-diam mencatat dua orang yang seharusnya asing, sedang berdiri di ambang pertemuan yang terlalu rapuh untuk disebut hubungan, tapi terlalu dalam untuk disebut sekadar kerja sama. Di luar mobil, hujan terus turun.

***

Beberapa hari setelah pertemuan itu, Nilam berusaha menghindari perasaan yang tidak bisa dia beri nama. Dia memendam, menyibukkan diri, mengulur jeda setiap kali Satria mengajaknya berdiskusi empat mata. Sialnya, waktu selalu mempertemukan mereka lagi.

Kali ini, dalam perjalanan kembali dari Kupang. Setelah serangkaian agenda padat yang sukses, pesawat mereka tertunda karena cuaca buruk. Penerbangan malam dipindahkan menjadi subuh. Di ruang tunggu bandara yang lengang, hanya tersisa suara hujan dan pengumuman keberangkatan yang terus berubah.

Satria duduk di seberang Nilam. Membaca laporan akhir kunjungan. Nilam menggenggam termos kecil berisi kopi hitam yang dibawanya dari hotel. Tak ada percakapan selama beberapa menit. Hanya kesadaran akan kehadiran satu sama lain, sebuah magnet yang tak bisa diabaikan.

"Dulu saya pikir cinta itu sesuatu yang bisa diatur," kata Satria tiba-tiba, tanpa menoleh. "Asal kita memilih orang yang tepat, segalanya akan berjalan."

Nilam mengangkat wajahnya, sedikit terkejut. Ia tak menjawab, hanya mendengarkan.

"Lalu saya bertemu kamu," lanjut Satria pelan. "Dan saya sadar, beberapa hal dalam hidup tidak bisa direncanakan. Tidak bisa dikendalikan."

"Bapak pasti mencintai Bu Mia," tegas Nilam, pelan. Langsung. Dingin. Ia ingin menampar dirinya sendiri karena menanyakan hal itu, tapi kata-kata itu sudah terucap.

Satria menoleh, lama menatap Nilam. "Saya menghormatinya. Meski kami belum memiliki anak, kami memiliki komitmen. Tapi setiap kali saya ingat ada seseorang yang sudah mengikatmu dalam pernikahan, dada saya sesak. Perasaan seperti itu tidak saya miliki untuk Mia." Dulu, Satria menikahi Mia karena itu jalan yang "benar", yang diatur. Tapi tidak pernah ada sesak atau gairah seperti ini.

Nilam menarik napas dalam. "Jangan lakukan ini."

"Saya sudah jatuh terlalu dalam untuk tidak mengatakan yang sebenarnya," jawab Satria, suaranya sarat emosi.

"Bapak pikir saya tidak terguncang tiap kali kita duduk berdua?" Nada suara Nilam naik sedikit, tapi masih tertahan. "Saya selalu merasa bersalah setiap kali pulang ke rumah, melihat suami saya menyisakan teh hangat di meja."

Satria tak menyela.

"Saya tidak mencari ini. Saya tidak datang ke tempat Bapak untuk jatuh cinta pada pria lain," lanjut Nilam, nadanya gemetar.

Satria menunduk. "Saya tahu. Tapi cinta tidak menunggu izin."

Dan untuk pertama kalinya, Nilam melihat Satria bukan sebagai politisi, bukan sebagai tokoh publik, tapi sebagai seseorang yang juga sedang tersesat. Atau mungkin bukan tersesat, tapi menemukan arah yang tepat. Sama seperti dirinya.

Sepanjang perjalanan kembali ke Jakarta mereka tidak saling bicara. Mobil dinas yang menjemput hanya berisi suara radio yang pelan dan ketukan jari Nilam di kaca jendela. Saat sampai di depan gedung tempat tinggalnya, Satria mencondongkan tubuhnya sedikit mendekati Nilam namun dengan gerakan yang wajar agar Wisnu tidak curiga.

"Aku tidak akan meminta apa pun darimu," katanya. "Tapi jika suatu hari nanti kamu perlu tempat untuk bernapas, kamu tahu ke mana harus datang."

Nilam menoleh, dan untuk pertama kalinya, matanya berkaca-kaca. "Saya takut bernapas terlalu dekat dengan Bapak. Takut nanti saya lupa jalan pulang."

***

Hari-hari berikutnya, perasaan itu tak pernah disebut lagi. Tapi ia hidup, tumbuh diam-diam di balik file kerja, dalam chat singkat soal rapat, bahkan dalam jeda saat mereka bersenggolan di lorong kantor tanpa sengaja.

Di suatu sore mendung, Satria memanggil Nilam ke ruang kerjanya lagi. Kali ini, tanpa agenda resmi. Ia hanya ingin mendiskusikan hasil evaluasi awal dari proyek NTT. Tapi saat Nilam duduk dan membuka map, Satria menatapnya lama.

"Kenapa kamu masih datang setiap kali aku panggil?"

"Karena pekerjaan," jawab Nilam cepat, terlalu cepat.

Satria tersenyum tipis. "Bukan karena perasaan?"

Nilam membalas tatapannya. Ada gejolak yang tak tertahankan di matanya. "Saya sudah belajar menempatkan perasaan di belakang pintu."

"Pintunya tidak pernah terkunci."

Nilam menelan ludah. "Saya tidak tahu apa yang lebih menyakitkan. Mengabaikan perasaan ini atau mengakuinya dan kehilangan diri sendiri. Tapi kalau Bapak ingin tahu, ya, saya juga jatuh. Sama seperti Bapak. Saya tidak tahu bagaimana caranya merangkak pergi."

"Tidak usah pergi."

Mereka sama-sama tahu, mereka berdiri di ambang yang berbahaya. Bahwa sekali saja salah melangkah, akan ada yang terluka. Tapi mereka juga tahu, luka itu bukan lagi kemungkinan. Dia sudah terjadi, setiap kali mereka memilih diam.

***

Sudah lewat tengah malam saat Nilam menerima pesan singkat dari Satria. "Saya di kantor. Tidak bisa tidur. Kalau kamu masih terjaga, datanglah."

Awalnya Nilam menatap layar ponselnya lama. Dia bisa mengabaikannya. Bisa membiarkannya tenggelam seperti pesan lain yang tak penting. Tapi detik itu juga, dia sudah berdiri dan mengambil kunci mobil.

Kantor itu sepi. Hanya lampu di ruang Satria yang menyala. Langkah Nilam menggema di lorong, jantungnya berdetak terlalu cepat, tak bisa dikendalikan. Saat dia membuka pintu, Satria berdiri, seolah sudah menunggunya sejak lama.

Tak ada kata-kata. Satria hanya menatapnya. Dalam satu tarikan napas yang terlalu lama, mereka akhirnya berhenti saling berpura-pura.

Tubuh Nilam jatuh dalam pelukan Satria. Untuk pertama kalinya sejak mereka saling mengenal secara langsung, dunia yang mereka tahan-tahan selama ini runtuh. Hening. Keduanya tahu, apa pun yang akan terjadi setelah ini, tak akan pernah bisa dikembalikan seperti semula.

Malam itu, mereka tidak bicara banyak. Di sela pelukan dan desahan lelah, mereka hanya saling mendengar napas. Tidak ada janji, tidak ada rencana. Tapi mereka tahu, garis telah dilintasi.

***

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!