Naura
8. Airmata Phoenix
Kehidupan malam di desa itu seperti biasa. Suara hewan dan binatang malam masih sering terdengar dan membuat syahdu manusia yang tinggal di desa. Mereka yang pergi ke kota untuk merantau bahkan hanya sekedar merindukan suasana malam di desa.
Indah dan tenang, ditimpali suara hewan malam yang syahdu indah.
Malam itu menyapa, semua binatang malam memulai aktivitasnya mencari makan. Pagi pun datang. Matahari cerah menyembul dari ufuk timur, di keluarga pak Karta terjadi kehebohan. Pak Karta berjalan seperti biasa tanpa sadar dari bangun tidur. Dia berjalan biasa dan menemui isteri dan anak-anaknya di saat pagi gelap masih menyisa.
Seolah cacat lumpuhnya hanyalah mimpi, pak Karta sendiri baru sadar dia berjalan dengan kedua kakinya tanpa tongkat penyangga. Tak ada sakit, kakinya sembuh dan keajaiban terjadi.
Pak Karta bergetar saat dia berjalan biasa dan semua keluarganya, termasuk Heri yang menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
”Bagaimana mungkin keajaiban ini terjadi? Ini benar-benar tidak masuk akal bagi Heri. Mimpi kemarin yang dialami oleh Bapaknya dan juga kedatangan mereka ke tempat bu Halimah dan anaknya yang sakit, Adam.
Heri bahkan tak sadar dan menggaruk kepala dengan kedua tangannya, ”Adam adalah seorang wali! Adam bukan orang gila! Dia adalah seorang yang diturunkan Allah untuk menyembuhkan manusia!”
Entah apa yang terjadi pada Heri. Hal itulah yang tiba-tiba dia teriakkan.
Isteri dari pak Karta bahkan kebingungan mendengar teriakan dari puteranya itu. Apa yang terjadi dengan Adam dan juga apa hubungannya dengan kesembuhan suaminya itu.
”Apa yang sebenarnya terjadi Hero! Ibu tidak paham dan bagaimana bisa Bapakmu bisa berjalan dengan baik. Alhamdulillah syukur, tapi ceritakan padaku ada apa dengan Adam?”
Heri kehabisan kata-kata dan membuat ibunya duduk terlebih dahulu. Dia harus menceritakan berita besar itu dengan sulit karena saking tak percaya dan bahagia karena Bapaknya sehat seperti sedia kala dan berjalan seperti tak pernah terjadi kecelakaan padanya.
”Begini Bu...,” Heri pun menceritakan bahwa kemarin pagi, dia diminta mengantarkan Bapaknya tiba-tiba ke rumah Adam. Heri terus bercerita dan pak Karta masih tak percaya dan wajahnya gembira dan dia terus berjalan mondar-mandir sambil melihat kakinya. Dia seperti seorang bayi yang baru bisa berjalan.
Heri melanjutkan ceritanya dengan antusias. Bahwa Bapak bermimpi tiga kali bertemu lelaki tua dan menyuruhnya untuk datang pada Adam untuk meminta airmatanya agar bisa sembuh dari lumpuhnya. Maka, mereka pun kesana dan meminta izin pada bu Halimah.
Bu Halimah mengambil airmata Adam dan Bapak langsung mengoleskannya dan pagi ini, pak Karta sembuh total.
Isteri pak Karta kaget bukan main. Ini adalah berkah, Adam adalah seorang manusia yang dikirim Tuhan. Mereka akan mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya pada keluarga Adam. Dengan begitu, semoga kesehatan yang diberikan pada pak Karta menjadi berkah dan berkelanjutan.
Sejak kejadian pagi itu, masyarakat kaget melihat pak Karta yang bisa berjalan dengan kedua kakinya tanpa tongkat lagi. Lumpuh yang dideritanya sudah sembuh total, dan mereka mendapatkan kabar yang lebih mengejutkan karena yang menyembuhkan kaki pak Karta yang lumpuh adalah karena airmata Adam yang dioleskan pada kaki pak Karta yan lumpuh.
Masyarakat gempar. Orang yang lumpuh tiga tahun karena terjatuh, Karta sembuh total. Itu semua karena Adam. Keajaiban airmata Adam. Adam yang sakit karena cinta, dia disebut gila karena cinta namun semua kini beranggapan lain. Mungkinkah, dibalik musibah Adam, Tuhan mengirimkan kebaikan untuknya?
***
Keluarga pak Karta langsung datang dan bersiap semuanya. Mereka berangkat mendatangi rumah bu Halimah dan Adam untuk mengucapkan terimakasih. Keajaiban itu benar-benar nyata dan pak Karta sudah sembuh total.
Siang waktu dhuha, matahari naik sepenggalan. Bu Halimah kaget dengan kedatangan keluarga Karta ke rumahnya, dan, Karta bisa berjalan normal tanpa tongkat. Masyaallah! Bibir Halimah tak berhenti berdzikir.
Pak Karta orang yang paling bahagia mungkin di dunia ini. Dia membawa banyak hadiah yang dibawa dengan motor, penuh dengan bahan makanan sembako seperti; beras, gula, minyak, hingga perlengkapan mandi bahkan baju yang seukuran dengan bu Halimah dan juga Adam. Bahkan, pak Karta membawa amplop yang sudah disiapkannya.
Kesembuhannya tak bisa dibayar dengan apapun. Pak Karta kini bisa berjalan dengan baik, bisa bekerja kembali, tak merasakan sakit saat malam tidurnya. Adam baginya seperti malaikat, orang mengatakan dia gila pun tak peduli, baginya Adam adalah penyelamat hidupnya.
Bu Halimah sempat menolak, namun pak Karta memaksa dan meminta izin untuk bertemu dengan Adam. Halimah mengizinkannya, Syarif selalu datang dan menemani pak Karta masuk ke kamar kecil milik Adam.
Begitu memasuki kamar yang kecil dan juga sosok kurus tanpa tulang terbaring ke kanan itu. Hati pak Karta langsung terenyuh, hatinya ikut nelangsa. Dia bahagia setengah mati, namun di sisi lain kesedihannya melihat kondisi Adam juga memprihatinkan. Bahkan, tubuh lelaki itu seperti tubuh dengan tulang saja dan kulitnya lemir sekali serta tipis
Nelangsa hidup pemuda itu. Cinta seperti apa yang membuat pemuda seperti Adam yang dulu terkenal paham akan agama dan juga rajin mengaji. Kini, seperti mayat terbaring hanya napasnya yang terlihat naik turun pertanda ada kehidupan.
Pak Karta gemetaran dan mendekat ke arah Adam.
”Terimakasih nak Adam, Kau adalah malaikat yang diturunkan Allah untukku. Seumur hidupku, aku akan selalu mengingat kebaikanmu nak Adam. Dan ..., aku mendoakan kebaikan untukmu,” pak Karta mengelus rambut Adam. Hening tak ada sahutan.
”Naura...” desahan lirih Adam dapat didengarkan pak Karta. Betapa besar cintanya pada Naura. Adam mengalami nasib yang tragis dengan cintanya, namun dengan itu pak Karta menemukan jalan bagi kesembuhan kakinya. Pak Karta pun mengangguk dan meminta pamit pada Adam.
Tak kuasa bagi pak Karta terus melihat penderitaan Adam dan hanya berdoa untuk kesembuhan pemuda itu.
Syarif menemani pak Karta keluar dan mengantarkan keluar rumah karena berpamitan, tak lupa amplopnya diberikan pada bu Halimah. Halimah menolak namun tak kuasa karena Karta terus memaksa. Pak Karta pulang, Halimah merasa hidup seperti roda. Adam sakit sudah berbulan-bulan, namun dia bisa menyembuhkan orang yang sakit. Allah memang Maha Segalanya.
Kabar kesembuhan pak Karta cepat tersebar, beberapa orang awalnya malu datang ke rumah Adam dan bu Halimah. Namun, karena derita sakit yang dideritanya lebih perih dirasa, mereka pun akhirnya memberanikan diri datang ke tempat bu Halimah. Mereka yang awalnya mengejek Adam, kini malu.
Ada yang datang dengan sakit gatalnya yang tak kunjung sembuh, meminta air mata Adam pada bu Halimah. Bu Halimah pun meminta izin Adam, Adam pun mengangguk saja. Satu tetes, dan esoknya gatalnya benar-benar sembuh total.
Kini, orang semakin banyak yang datang ke rumah bu Halimah. Syarif mengatur orang-orang itu agar tidak membuat keributan. Mungkin, ini jawaban Allah atas sakit yang diderita sahabatnya demikian lama karena cinta.
Tamu antre di depan rumah, mereka masuk ke ruang tamu. Syarif mengatur para tamu; ada yang sakit kanker payudara, ada yang sakit diabetes, sakit ginjal, sakit kulit bekas terbakar, sakit pinggang hingga sakit telinga atau matanya, ada juga yang datang karena sakit lumpuh dan stroke. Ajaibnya, meski setetes di sendok yang diberikan bu Halimah, esoknya mereka sembuh.
Hadiah menumpuk di rumah bu Halimah, Syarif membantu menangani orang yang datang memberikan amplop atau hadiah. Syarif sigap dibantu beberapa orang yang merasa sudah disembuhkan Adam. Mereka membuatkan bu Halimah rekening bank dan semua uang dimasukkan ke tabungan bu Halimah oleh Syarif.
Syarif sesekali masuk ke kamar Adam, hanya dia dan Halimah yang memasuki kamar itu. Sahabatku..., lukamu mungkin yang menyembuhkan orang-orang yang sakit, dan kau seperti yang menanggung sakit mereka semua. Siapakah engkau Adam? Aku yang selalu bersamamu di pesantren dan kita selalu bersama, seolah aku tak mengenalmu, bangunlah dari rasa sakitmu itu.
Airmata Syarif menetes lagi, dia mendekati Adam dan menepuk pundak sahabatnya itu, ”Cepatlah sembuh dan bangkit Adam, tak peduli orang yang datang untuk mengobati sakit mereka. Sakitmu ini lebih berhak untuk diobati daripada apapun.”
”Naura hanya untuk Adam, Syarif dengarlah itu, nyanyian takdir akan bersenandung untuk Naura,” suara lirih Adam semakin membuat Syarif tak bisa menahan airmatanya dan dia menyeka airmata itu.
Semakin banyak orang berkunjung, bahkan banyak orang kaya memakai mobil-mobil, pejabat yang sakit menahun bahkan tahu dan datang ke rumah Adam yang sempit itu. Mereka bertahan hingga ada yang memasangkan tenda di depan rumah bu Halimah. Semua datang untuk menyembuhkan sakit yang mereka derita bertahun-tahun, bahkan ada yang lumpuh dari kecil.
Berita cepat beredar, koran dan media televisi menyiarkan itu. Banyak di ujung kota dan di ujung provinsi di seluruh Indonesia yang mengetahui berita itu, berita viral airmata Adam, seorang yang terluka karena cinta.
Orang yang mendengar dan melihat berita itu hanya saling bercerita. Mungkin itu hanyalah mitos yang dibesar-besarkan, begitulah media mencari yang viral dan menjual isu demi agar uang mengalir dalam kantong-kantong mereka. Dan, konsumen adalah korban berita yang mereka sebarkan.
Kisah Adam sang penyembuh, airmatanya yang lebih berharga dari apapun bahkan viral diberitakan. Media datang ke tempat bu Halimah, namun mereka tak diizinkan meliput Adam. Bu Halimah menolaknya, kalau sekedar bertanya padanya dan Syarif maka mereka memberitahunya.
Adam bukanlah siapa-siapa, dia adalah anak dan juga teman dari Syarif. Orang yang datang percaya pada Adam bisa menyembuhkan sakit mereka. Namun, Adam hanyalah orang biasa, dialah yang sedang sakit sebenarnya.
Jangan ekspos Adam, itulah pesan bu Halimah agar jangan dibesar-besarkan. Sejak awal mereka tidak mengatakan bisa menyembuhkan orang sakit, orang yang sakit datang pada mereka dan mereka tak bisa menolak. Jika sembuh maka itu dari Allah dan jika tidak sembuh maka itu bukan urusan mereka. Halimah tak pernah meminta bayaran, namun orang yang sembuh datang berbondong-bondong memberikan hadiah dan uang dan Syarif yang mengurusnya. Bu Halimah tak tahu menahu soal uang dan hadiah itu, yang dia pikirkan hanyalah kesembuhan anaknya sendiri, Adam Zulkarnein yang setiap hari hanya menangisi nasibnya sendiri.
Kesedihan hati seorang ibu tak bisa dibayar dengan uang sebanyak apapun, bahkan permata di seluruh dunia dikumpulkan dan digulung untuk berikan pada seorang Ibu demi kebahagiaan anaknya, tak akan terbeli. Kebahagiaan anak bagi seorang ibu adalah napas itu sendiri.
Berita semakin tersebar, dan siapakah Adam sebenarnya? Itulah yang menjadi berita hangat di seluruh Indonesia. Airmata Phoenix, bahkan itulah sebutan yang banyak dibicarakan di internet dan berita.
Phoenix, binatang burung yang dalam cerita mitos diceritakan airmatanya bisa menghidupkan orang mati dan menyembuhkan segala penyakit.