Naura
72. Akhir Kisah
Hari-hari berlalu. Dunia terus berjalan, mereka yang terus hidup menjalani hari-harinya. Orang yang sudah meninggal akan menghadapi ujiannya selanjutnya yaitu pertanyaan dari para Malaikat dan tentunya mendapatkan buah dari perbuatannya saat di dunia dahulu.
Mereka yang sudah meninggal dan meninggalkan dunia ini, mereka tidak akan mengganggu kehidupan mereka yang masih hidup.
Kehidupan terus berjalan. Dua tahun berlalu begitu saja.
Diandra bersama Ibunya tengah menghadiri sebuah pernikahan yang cukup megah. Mereka melihat dua pengantin yang sudah melalui akad. Kini, mereka sedang menerima tamu.
Di samping pasangan itu, ada lelaki yang sudah menjadi koki yang cukup lama melayani hotel di Mata Air Surga. Dia adalah pak Firman, hati ini adalah hari yang paling membahagiakan bagi puternya, Nada Naura. Nada Naura menikah dengan lelaki yang shalih dan juga seorang pengusaha, dia bernama Rendra.
Diandra kemudian mengucapkan selamat dan mendoakan Rendra dan Nada. Setiap orang akan berjalan dengan jalannya sendiri-sendiri. Setiap keputusan mereka akan berimbas pada jalan hidup mereka di masa depan.
Diandra dan ibunya meninggalkan acara tersebut. Ada tetes airmata yang jatuh di pipi wanita cantik itu.
Kebahagiaannya terenggut saat menjelang pernikahannya dua tahun yang lalu. Itu membuatnya terguncang. Tapi, dia selama itu selalu menjaga Mata Air Surga dan tidak mau berpaling hati. Dia menjaga cintanya, dia memilih untuk tidak menikah.
Meskipun orangtuanya sering meminta Diandra dapat melupakan Adam. Namun, Diandra belum bisa melakukannya, meskipun setelah dua tahun.
***
Seorang lelaki nampak melangkahkan kakinya pada sebuah rumah, kakinya agak ragu melewati pagar rumah itu. Namun, dia meyakinkan dirinya dan seolah tak percaya bahwa dirinya sampai di rumah itu.
Tangan lelaki itu cukup kotor dan pakaiannya juga seperti pakaian orang dari sebuah tempat yang terpencil.
Rambut lelaki itu cukup panjang hingga melewati telinga bawahnya. Dia perlahan memasuki halaman rumah itu. Langkahnya nampak perlahan dan ketika hampir mendekati pintu. Pintu itu nampak terbuka.
Seorang anak berusia dua tahunan keluar dari pintu tersebut. Anak laki – laki berusia dua tahun. Matanya langsung menatap tamu yang baru datang di halaman rumah itu.
Anak kecil itu terdiam dan kedua matanya masih menatap pemuda di halaman rumah tersebut. Keduanya saling bertatapan, hingga si kecil berteriak.
”Neneeekk! Neneeekk! Ada tamu!”
Lelaki itu terdiam dan berdiri di halaman, seorang wanita paruh baya keluar. Matanya melihat tamu tersebut, rambutnya sedikit panjang dan mata wanita tua itu tiba – tiba menetes.
”Adaaammm!”
Pemuda itu gemetar di tempatnya dan sekuat tenaga berlari kearah wanita separuh baya itu. Dia langsung memeluk wanita itu sambil menangis tiada henti.
”Ibuuu!”
Keduanya larut dalam isak tangis.
”Kemana saja kamu Nak?” Halimah pun tak bisa membendung perasaan bahagia dan sedihnya.
Dari dalam rumah karena suara seperti orang menangis, wanita cantik lagi anggun dengan jilbab itu keluar dan berada di pintu. Matanya melihat kedua orang yang tengah berpelukan dan dia pun kaget dan mengangkat tangannya ke mulutnya.
”Adaammm,” bibir wanita itu gemetaran dan dalam berdirinya, seluruh tubuhnya ikut gemetaran.
Adam pulang, setelah dua tahun. Dan, apa yang terjadi semuanya masih dalam tanda tanya. Namun, pulangnya Adam sudah membuat mereka bahagia tak terhingga tentunya.
***
Satu hari sebelumnya.
Seorang lelaki tengah mencari ikan di pinggir sungai. Rumahnya tidak jauh dari sungai, dia mencari ikan bersama Ayahnya.
Mereka mencari ikan dengan tombak yang dipasang bilah tajam di ujungnya. Saat ikan kelihatan dari atas permukaan maka mereka akan melempar tombak itu hingga tepat mengenai ikan.
Kadang dapat dan kadang tidak dapat.
Mereka sudah mengumpulkan ikan yang cukup banyak. Lelaki yang merupakan anak itu melihat ikan yang cukup besar dan dia langsung sigap.
’Kali ini, ikan yang aku dapat pasti lebih besar dari punya Bapak,’ begitu pikiran lelaki muda yang tak memakai baju itu.
Clup!
Tombak itu melesat dan menancap mengenai ikan yang besar. Itu adalah ikan paling besar yang dilihat lelaki muda itu selama ini.
Tombak itu bergerak di pangkalnya, kena! Lelaki itu langsung memegang tombak itu dan meraihnya. Ikan itu memberontak, karena besarnya lelaki itu bahkan hampir terseret tarikan ikan itu.
Bapaknya melihat itu dan mencoba membantu, namun sebelum dapat membantu puteranya itu ikan besar itu kembali menggelepak di dalam air. Tubuh lelaki muda itu seperti tersabet dan dia mundur menatap lempengan di pinggir sungai.
Kepalanya pun terbentur dan lelaki itu memegangi kepala bagian belakangnya. Lelaki yang lebih tua atau bapaknya lalu merebut tombak dan manariknya kencang. Ikan itu kewalahan dan dapat ditangkap lalu di lempar ke atas sungai.
”Kamu tidak apa – apa Nak?”
Tidak ada jawaban, lelaki muda itu hanya memegangi kepala bagian belakangnya dan dia seolah memikirkan sesuatu.
”Aku dimana? Dimana ini?”
Bapak pemuda itu pun merasa bahwa sesuatu terjadi pada anaknya itu. Mungkinkah dia telah sadar.
Bapak itu kemudian menanyai lelaki itu, ”Nama kamu siapa?”
Pemuda itu mendongak lelaki tua di dekat ikan besar itu, ”Nama saya Adam.”
Lelaki tua itu pun mengantarkan pemuda itu pulang kembali ke rumah. Disana ada isteri lelaki tua dan Adam yang sudah mengenakan bajunya.
”Kamu sudah ingat siapa dirimu? Kami menemukanmu dua tahun yang lalu hanyut di sungai dan kami merawatmu. Kamu kehilangan ingatanmu Nak.”
Pemuda itu pun kaget, ”Dua tahun? Jadi...”
Pemuda itu pun berterimakasih dan pamitan segera, dia berjanji akan kembali berkunjung kesini. Dia berpamitan dan bergegas untuk pergi.
***
”Naura..., apakah kamu bahagia?” Adam meneteskan airmatanya, ”Apakah kau terlalu lama menungguku?”
Naura yang dimaksud Adam tak menjawab Adam. Adam merasa takdir Tuhan begitu berliku dan sulit diterka oleh manusia.
”Ingatkah kamu saat kita dulu sering bersama di hari Ahad? Itulah hari – hari paling bahagia dalam hidupku. Jujur, aku hancur ketika kamu menikah dengan Sandi dan aku tak bisa melupakanmu sama sekali.
Namun, itulah yang diingkan Tuhan. Agar kita bisa menjadi lebih kuat, aku menanggung derita dan kamu pun menanggung derita.”
Airmata Adam tak bisa tertahan dan terus menetes.
”Aku janji padamu Naura. Aku akan mencarimu di kehidupan nanti, dan aku tidak akan membiarkanmu menangis lagi. Jadi, tunggulah aku Naura.”
”Hiks! Hiks!”
Adam tak bisa membendung perasaannya. Dia memegangi nisan kayu itu dengan kuat dan kemudian membelainya lembut. Ada tulisan nama disana dan nama itu adalah nama Naura.
”Aku akan selalu datang berkunjung Naura, untukmu.”
Adam berdiri dan berbalik. Dua orang tengah berdiri agak jauh dari Adam, itu adalah anak lelaki dan juga Diandra yang menunggu Adam di pinggir Danau Kenanga.
Naura meninggal setahun yang lalu karena sakit yang dideritanya karena sakit pada rahimnya. Naura membuat permintaan jika dirinya meninggal, maka makamkan di bawah pohon jambu di dekat Danau Kenanga.
Selama hidupnya, Naura terus merawat anak kecil yang merupakan anak Sandi dan Firla. Setelah itu, anak itu dirawat oleh Halimah dan Diandra.
Diandra selalu tinggal bersama Halimah dan menggantikan Adam untuk mengobati kesedihan Halimah meskipun tidak sepenuhnya bisa.
Adam kembali setelah dua tahun.
Adam bangkit dan berbalik, dia meninggalkan pekuburan Naura dan menemui Diandra dan anak kecil itu bernama Amar.
Adam memegang tangan kanan Amar dan tangan kiri Amar di pegang oleh Diandra. Mereka pun melangkah meninggalkan Danau Kenanga, Danau tempat paling bersejarah dalam cinta Adam dan Naura.
Mereka berjalan menuju arah matahari tenggelam, di pinggir danau.
”Kenapa kau menungguku Diandra?” Adam bertanya tanpa menoleh kearah Diandra.
Diandra tersenyum dan menatap Adam, ”Karena hatiku selalu mengatakan bahwa kamu akan kembali untukku Adam. Maka, tidak ada lelaki lain dalam hatiku selain dirimu.”
Keduanya pun bertatapan, matahari sore itu menghiasi pandangan mereka. Rumput bergoyang di bawah mereka menyanyi syahdu, seperti syahdunya lagu hati Adam dan Diandra.
Saat senja itu mulai gelap, Tuhan meniupkan kebahagiaan kepada setiap hamba – hambaNya yang ikhlas menjalani hidupnya dengan senyuman kesyukuran.
Diandra selama ini menjaga anak kecil itu, dia sudah menganggap anak kecil itu sebagai anaknya sendiri. Kepergian semua orang telah membuatnya sedih, dan untuk melupakan semua itu. Diandra menjadi ibu bagi Adam yang merupakan anak dari Sandi dan Firla.
Dunia memang aneh, namun semua berjalan atas kehendak Allah swt. Jika seseorang bergantung pada Tuhan. Maka, jalan hidupnya akan dituntun untuk selalu bisa memilih yang terbaik untuknya. Apapun itu, itu semua adalah yang terbaik untuk manusia.
--- TAMAT ---
(Sebelumnya, Penulis berpesan agar jangan baper ya pada ending novel kali ini. Apapun yang terjadi semua itu hanya sebuah karya fiksi. Jadi..., jangan marah sama penulis ya).