Naura
62. Aku Akan Menjemputmu
Adam sungguh tidak mengerti kenapa sejak tadi Diandra hanya tersenyum dan selalu berbahagia. Menghilangnya Diandra karena alasan dia sedang mengurus sesuatu di tempat tinggalnya, di Ibukota.
Kini, Diandra memberikan secarik lembaran yang diberikan pada Adam. Sambil melirik penuh senyuman. Dia memberikan lembaran itu pada Adam. Berharap Adam tidak bingung lagi dan melihat lembaran tersebut lebih dulu.
Diandra hanya berpikir dia sedang berusaha menolong Adam serta menolong dirinya yang mencintai Adam sepenuhnya.
Keputusan apapun nantinya yang akan diambil oleh Adam. Diandra akan menyerahkan segalanya kepada Allah swt. Entah, apakah Adam tetap pada pendirian janjinya, atau dia akan berubah dengan mencoba untuk bangkit dari sumpah yang tak masuk akal.
Sumpah yang membuat Adam terpenjara dan tak bisa melakukan apapun untuk membuat dirinya sendiri bahagia.
Adam melihat lembaran yang diberikan Diandra tersebut. Lampu taman menyorot lembaran itu dan mata Adam tertuju pada tulisan di lembaran tersebut. Matanya terpaku cukup lama dan pikirannya menerawang membayang dan memikirkan banyak hal.
Diandra sudah melakukan banyak hal soal kisah mereka, begitu gigihnya dia ingin melakukan sesuatu hal demi melepaskan dirinya dari belenggu yang mengekangnya.
Tentang sumpah dan janji keduanya yang memang membuat mereka harus terpenjara. Janji Adam yang tidak akan menikah kecuali dengan Naura dan janji Diandra bahwa dia akan menikah dengan Adam saat mereka datang untuk melakukan pengobatan alternatif.
Dua buah janji dan sumpah yang diucapkan dengan kesungguhan, sumpah dari keduanya yang tak mungkin bisa disatukan. Dengan lembaran kecil tersebut semuanya seolah terjawab begitu saja.
Adam tersenyum kecil, tak menyangka kalau Diandra akan melakukan hal sejauh itu. Bahkan, dirinya tidak terpikirkan sama sekali. Kesungguhan cinta seseorang memang mampu membuatnya melakukan apapun. Mereka akan mengejar cintanya, namun mereka tetap percaya bahwa segala keputusan ada di tangan Tuhan.
Manusia berusaha dan tawakkal. Tidak akan berubah ketetapan dari Tuhan atas setiap hal yang sudah ditetapkan olehNya.
”Apa kamu sungguh – sungguh mencintaiku Diandra? Atau semua ini hanya karena hutang budi semata?”
Adam ingin memastikan jawaban Diandra. Bersatunya hati dan jiwa dua insan manusia haruslah karena cinta. Adam tidak ingin memaksa seseorang untuk membersamainya dalam segala hal di kehidupan ini, karena beragama saja manusia diberikan pilihan oleh Tuhan.
Adam tak ingin ada penyesalan sedikitpun di masa depan. Tidak soal cinta dan tidak pula soal keluarga. Semuanya harus dijalani dengan cinta dan kesungguhan.
”Adam..., kamu adalah satu – satunya lelaki yang menempati hatiku selain Ayah dan kakakku. Jadi, jangan pernah kamu ragukan soal cinta dan kesungguhanku Adam.”
Adam tersenyum sekarang, benarkah dia sudah terbebas dari belenggu sumpah cintanya? Ataukah hanya ilusi? Namun, semuanya akan dijalaninya sekarang, mulai sekarang.
Adam jadi teringat wajah ibunya, mungkin jika sang ibu tahu bahwa dirinya bisa lepas jadi janji dan sumpahnya mungkin Ibunya akan sangat bahagia. Dan..., jika Tuhan berkehendak ibunya itu akan segera menimang cucunya.
Betapa bahagianya kala melihat wajah Ibunya, Halimah bahagia ketika menggendong anak dari sahabatnya, Syarif waktu itu.
Dunia seperti terbalik begitu saja, segalanya menjadi ringan dan mudah.
”Jadi..., apakah kamu akan melamarku Adam?” Diandra bertanya dan bibirnya yang indah itu begitu ceria, semburat senyum itu disinari sinar bulan yang menyorot, indahnya seperti kesegaran telaga kautsar.
Tak bisa Adam membayangkannya, jika dalam hidupnya akan bisa menikah dan bisa membina rumah tangga. Selama ini dia berpikir hal itu hanyalah hal yang mustahil dan tak bisa dilakukannya.
Dia mengira, bahwa dia akan hidup selamanya dalam kesepian dan hanya menemani ibunya semata. Namun, Tuhan berkehendak lain untuknya dan itu adalah kesempatan yang sangat berharga dan tidak bisa dia lewatkan.
Senandung angin malam itu bagi Adam adalah nyanyian surga yang dipetik oleh keindahan yang tak tampak. Musiknya amat merdu mengalun sebagaimana suara gemericik air saat mengalir, alami dan menenteramkan.
Seluruh hidup Adam saat ini dipenuhi kebahagiaan, dia juga tak sabar untuk bertemu dengan ibunya.
”Aku akan segera datang dan meminta izin pada orangtuamu Diandra, semoga Allah mempermudah jalan kita ke depannya. Amin.”
”Amin,” Diandra pun mengaminkan apa yang diucapkan Adam.
Semuanya selesai dengan begitu indah, semua janji dan tembok raksasa yang selalu memisahkan mereka seolah hancur begitu saja. Kini, tinggal bagaimana mereka memulai permulaan bagi kisah mereka berdua.
Jika dua insan sudah saling menautkan hatinya maka segala macam bahaya dan ujian akan dihadapi bersama dengan saling menghormati dan memahami.
Prinsip itulah prinsip cinta sesungguhnya, cinta yang dibalut kesungguhan untuk membina rumah tangga yang bisa menghantarkan orang yang melakukannya untuk dapat bahagia, mendapatkan ketenangan dan juga kenyamanan hingga ujung dunia, hingga di akhirat kelak.
Mereka berdua menatap rembulan tak sempurna bulat, hati mereka tengah bahagia. Bahkan dalam kebahagiaan mereka itu hati mereka seolah sedang saling berpegangan erat meskipun fisik tak melakukannya.
Namun, jika rindu dan cinta saling dipercayakan maka sejauh apapun jarak mereka. Hati mereka tengah berbincang indah. Isyarat cinta lebih tajam dari ucapan dan kata – kata.
Semilir angin sudah menandakan waktu larut, senyuman mereka saling bertemu. Adam meminta Diandra untuk segera pulang.
”Aku antar kamu pulang Diandra, jangan sampai tubuhmu sakit. Angin larut malam bisa berbahaya.”
Diandra diam saja, dia hanya tersenyum dan mengangguk. Keduanya tersenyum kembali, dan Diandra pun berdiri. Adam ikut berdiri dan mensejajarkan dirinya dengan Diandra. Mereka berjalan bersama menuju hotel tempat Diandra menginap jika di Mata Air Surga.
Mereka berjalan perlahan sambil menikmati temaram lampu di sepanjang jalan dari taman ke hotel.
Mereka terus berjalan beriringan namun tak berbicara sepatah kata pun. Mereka terus melangkah dan hanya senyuman mereka masing – masing dan hanya mereka yang memahami arti senyuman itu.
Adam akan mengantarkan Diandra ke hotel untuk istirahat, sementara dia akan langsung pulang ke rumah. Dia juga harus memberitahukan hal bahagia ini pada Ibunya, dia sudah tak sabar menyampaikan hal ini padanya.
Adam memberikan secarik lembaran yang tadi diberikan Diandra padanya. Diandra menerima lembaran itu.
Mereka sampai di hotel, Adam pamitan dan berpesan pada Diandra untuk segera beristirahat karena malam sudah larut. Adam pun meninggalkan Adam di depan hotel.
Diandra melihat lembaran itu, sebuah KTP atau tanda pengenal disana tertulis nama orang dengan foto dirinya sendiri. Diandra sudah berjuang sejauh ini, apapun yang terjadi nantinya Adam akan menerimanya. Jodoh itu di tangan Allah swt. tidak akan tertukar dan tidak akan bisa dipaksakan oleh manusia.
Nama, Diandra Naura Elvina. Diandra menambahkan nama pada namanya atas diskusi dan musyarawarah dengan kedua orangtuanya. Menambahkan nama Naura, yang artinya hal itu menjadi kunci akan janji atau sumpah Adam bahwa dia hanya akan menikah dengan Naura.