Naura

60. Cinta yang Mengejutkan

Adam sudah berkeliling baik ke Rumah Sakit, hotel maupun usaha yang lainnya. Dia senang berada di taman dan juga berada di kampung bahasa. Anak – anak bersemangat ceria belajar dan bermain.

Water bomb juga ramai, kalau sore hari berjubel keluarga datang bersama anak – anak mereka. Kalau pagi, biasanya sepi.

Adam juga mengecek pembangunan perumahan, jalur gang juga dilihatnya baik namun masih ada saja orang yang membuang sampah sembarangan di got. Hal itu karena kebiasaan lama di sekitar mereka atau rumah yang dulu dibawa hingga kebiasaan saat pindah rumah.

Adam bahkan masuk ke got mengambil sampah, bagian security melihat hal itu lalu dia tak enak.

Adam kemudian berpesan, siapa saja yang membuang sampah sembarangan maka harus diingatkan. Catatan itu kemudian langsung dibawa ke manajer perumahan dan diminta untuk dibuat di ujung setiap gang ada poster atau banner dipajang untuk mengingatkan untuk menjaga kebersihan.

Juga, dituliskan dalam bentuk stiker dan ditempelkan dalam pintu setiap rumah yang berada dalam perumahan proyek Mata Air Surga. Isinya himbauan dan ingatan agar mereka menjaga kebersihan dan tidak membuang sampah sembarangan. Hal itu demi kesehatan dan kebaikan mereka sendiri.

Adam juga menjadwalkan untuk mengadakan pertemuan dengan semua pembeli rumah yang sudah membeli properti rumah di Mata Air Surga sekaligus untuk diskusi masalah lingkungan yang baik dan sharing demi kebaikan perumahan Mata Air Surga di masa depan.

Acara sudah dijadwalkan.

Adam pun kembali pindah ke tempat usaha yang lainnya. Hari mulai agak siang, pukul 10 siang, dia menuju masjid kecil di dekat Danau Kenanga. Masjid itu dibangun untuk mempermudah siapapun di kompleks Mata Air Surga untuk beribadah dan juga untuk shalat jumat.

Adam mengambil air wudhu dan bersiap shalat untuk shalat sunnah dhuha. Air mengaliri wajah dan juga bagian tubuh lainnya. Adam merasakan kesejukan, kelelahan yang baru saja dialaminya seolah hilang begitu saja.

Adam masuk ke masjid, ornamen masjid itu sederhana dilengkapi dengan ukiran – ukiran ayat Quran yang indah.

Adam mengambil posisi dan mulai shalat sunnah. Sungguh nikmat shalat sunnah itu bagi mereka yang paham bahwa shalat sunnah dhuha mampu menjadi sedekah bagi seluruh organ tubuh manusia.

Adam selesai shalat, saat itulah dia melihat sosok wanita cantik sedang memakai mukenanya. Dia hendak shalat, dada Adam berdesir sejenak. Wajah cantik Diandra saat akan shalat dan memakai mukena seperti bidadari.

Benar – benar cantik. Adam tersenyum dan Diandra melihat Adam, mereka saling tersenyum. Adam lalu keluar masjid dan duduk di undakan masjid. Di bawahnya ada air yang menggenang.

Air itu digunakan untuk menghilangkan najis jika ada orang yang akan berwudhu dan saat melepas sandal mereka.

Sesekali kaki Adam mencipak air itu. Sambil menikmati hembusan air dari arah danau Adam menatap langit yang biru ditimpahi kilauan dari pantulan air danau dan juga matahari yang mulai meninggi.

Seseorang datang dari belakangnya, gerakan dengan kelebat putih itu pun duduk di sebelah Adam. Kaki Diandra turun ke air, kaki itu amat cantik dan bersih. Diandra mengangkat sedikit mukenanya dan membiarkan air menyentuh kakinya dan terasa kesegarannya.

Sesudah shalat, rasa kesegaran sempurna didapatkan. Seolah pikiran kembali jernih dan terbebas dari segela pikiran yang semrawut.

Andai saja, banyak orang yang mau melaksanakan shalat, maka tentu saja masalah mereka semuanya bisa lebih mudah diatasi.

Tapi sayangnya, tidak semua mau melakukannya hanya karena tidak yakin bahwa shalat yang dilakukannya itu akan berimbas pada ketenangannya.

Ibadah di pandangan beberapa orang hanya sekedar rutinitas, bukan sarana untuk bicara dengan langsung kepada Tuhannya. Jika orang mengetahui hakikat ibadah seseorang itu sedang bicara dengan Tuhannya. Maka mereka akan betah beribadah dan melakukannya dengan baik.

Setelah shalat, mereka pasti akan tenang karena mereka baru saja berbincang dengan Tuhan yang menciptakan kebahagiaan dan masalah.

”Kenapa pecimu selalu warna hitam Adam, apa kau tidak ingin punya peci lain dengan warna yang berbeda?” Diandra mencari topik pembicaraan, kadang untuk memulai pembicaraan hal – hal sepele dibutuhkan agar suasana tidak menjadi canggung.

Adam tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pelan, ”Kamu ini, apa tidak bisa mencari topik lainnya untuk basa – basi Diandra?” masih tersenyum, Adam menatap sejenak wajah putih milik Diandra. Secara normal, seolah lelaki pasti akan tertarik pada wajah itu, apalagi ditutupi dengan mukena putih, wajah itu laksana mutiara yang begitu menyejukkan.

”Kenapa setiap kali aku bertanya, kamu menjawabnya dengan pertanyaan juga Adam?” suara Diandra juga terlihat seperti agak kesal.

”Aku senang melihat kamu kesal Diandra, itu memperlihatkan kalau kamu benar – benar seorang wanita,” Adam tersenyum kembali.

”Jadi kamu selama ini tidak yakin kalau aku perempuan?” kini, Diandra yang terlihat benar – benar marah.

”Bukan begitu Diandra, jangan marah dulu,” Adam mengangkat kedua tangannya sejajar di pundak. Dia tak mau Diandra marah, ”Jadi, kalau kamu kesal dan wajahmu merah, kamu menjadi wanita yang seutuhnya Diandra.”

”Baiklah..., jadi wanita itu harus mudah kesal dan marah begitu untuk menjadi wanita yang seutuhnya?” Diandra mengejar pernyataan Adam.

”Hmm....” Adam berpikir sejenak, Diandra mulai penasaran, kata – kata apalagi yang akan diucapkan Adam selanjutnya, ”Bukan kesal dan marah sih sebenarnya, tapi manja. Benar, wanita memang akan dicap sebagai wanita kalau dia manja. Mungkin sih, sehingga lelaki akan merasa terpanggil untuk melindunginya.”

Adam sendiri bingung cara mengungkapkannya, yang jelas wanita itu seperti sebuah cermin. Jika ada debu yang menempel maka harus diusap dengan halus, jika terlalu keras maka bisa retak ataupun pecah.

Perasaan wanita sangat sensitif, itu yang dibaca oleh Adam. Meskipun dia tak pernah melindungi seorang wanita kecuali ibunya. Sedangkan..., Naura tidak mau dia lindungi. Adam membayangkan Naura sekali lagi, entahlah perasaan itu kenapa sulit sekali hilang dan seolah sudah menghunjam demikian dalam di dalam relung jiwanya.

”Apakah aku harus manja agar kamu mau melindungiku Adam?” Diandra  menggerakkan jemari tangan kananya dan membenahi lingkaran kerudung di wajahnya sambil menatap Adam.

Adam pun gugup tak bisa lagi bersuara, bahkan yang ada kesunyian di masjid itu. Dari sekilas, Diandra masih menatapnya dan menunggu jawabannya. Mata Diandra tak mau lepas dari memandang wajah Adam. Adam jadi semakin bingung karena kali ini dia benar – benar menjadi gugup.

”Eh.. eh Diandra, apakah pertanyaanmu tadi harus aku jawab?” Adam mencoba mengalihkan pembicaraannya agar Diandra tidak lagi fokus menatap wajahnya.

”Harus! Jawab sekarang Adam, kalau tidak aku tidak akan membiarkanmu pergi!” kini, Diandra terlihat tegas dan serius menunggu jawaban Adam. Dia sangat penasaran apa yang akan dijawab Adam kali ini yang sering menyilat lidah dan bisa memutar balikkan pernyataan orang lain.

”Sebenarnya..., Sebenarnya...” Adam terlihat gugup dan agak bingung memikirkan jawabannya. Bukannya bingung, sebenarnya dia tengah grogi karena begitu dekat dengan Diandra. Jantungnya seolah berdetak demikian cepat, tak pernah dia membayangkan jantungnya berdetak cepat seperti ini.

Dulu, Adam merasakan sensasi seperti  ini kala Aham datang dan dirinya tengah bicara seharian dengan Naura di pinggir Danau Kenanga. Tapi kini, dia mendadak begitu emosi tak bisa berkata banyak karena Diandra. Apakah kini, perasaannya juga mulai berubah dan mulai bisa menerima Diandra?

”Cepat katakan jawabanmu Adam, atau kamu tidak boleh pergi kemanapun sampai kau jawab,” kini, Diandra semakin merasa dirinya menang, Adam sudah kena jebakannya sendiri. Dia merasa kalau tadi Adam mengatakan bahwa dirinya haruskan bersikap manja agar Adam mau melindunginya? Melindungi hatinya agar selalu terjaga?

”Sebenarnya..., aku lebih suka memakai peci hitam. Karena, itu serasi dengan kulitku Diandra. Kalu peci warna putih yang aku pakai maka...”

”Adaaammm!” Diandra berteriak agak keras dan menghentikan ucapan Adam. Kenapa Adam malah menjawab soal peci, padahal itu bukan maksudnya.

”Kamu ini selalu saja begitu! Aku serius kamu sekarang yang bercanda!” Diandra benar – benar kesal.

”Bukankah kamu tadi sejak awal tanya kenapa aku suka memakai peci hitam terus Diandra?” Adam menjawab dengan santai kembali, sepertinya Diandra sudah melupakan pertanyaan yang amat berat dijawabnya tadi.

”Pertanyaan soal peci hitam itu hanya basa – basi saja seperti katamu tadi. Pertanyaannya bukan itu,” Diandra mensedakapkan kedua tangannya di depan, dia terlihat kesal lagi.

”Sudahlah..., kamu memang Adam. Selalu begitu, entahlah kamu memang sudah tahu apa yang menjadi pikiranmu. Suatu hari nanti, mungkin kita tak akan bisa menikmati saat – saat seperti ini lagi Adam.”

Kata – kata Diandra barusan membuat Adam menghentikan senyumnya, kata – kata yang terucap itu seolah serius dan tak lagi ada bercanda dalam diri Diandra.

”Kita nikmati saja saat – saat bahagia seperti ini, kita adalah seperti burung yang terbang bebas dengan sayap – sayap kita. Jika ada teman dalam perjalanan terbang itu, maka syukuri hal itu karena mungkin esok hari. Kita akan terbang sendirian lagi dalam kesepian.”

Kembali, kata – kata Diandra seolah sadar bahwa ada tembok yang sangat besar menghalangi jarak keduanya.

”Jika saja...” Adam menghela napasnya perlahan, entah apa yang ingin diucapkannya namun itu seolah terasa berat untuk diteruskan. Diandra pun diam saja, dia sudah memahami keadaan Adam. Dia mengerti dan dia akan siap menjalani hidupnya. 

Suratan takdir sudah mempertemukan mereka, dari keduanya sama – sama orang yang sakit dan kini mereka sama – sama merasakan kehidupan yang begitu indah.

”Jika saja..., aku tak memiliki janji dengan Tuhanku. Maka, aku akan memintamu untuk menjadi separuh jiwaku Diandra...,”

Saat itu, jantung Diandra seperti hendak keluar begitu saja. Matanya langsung membulat dan kepalanya secara refleks langsung menatap Adam. Adam saat itu tertunduk begitu saja, seperti memikirkan sesuatu yang berat.

Keduanya terpaku cukup lama, hingga Adam berdiri dan berjalan pelan meninggalkan Diandra.

”Semoga kau selalu bahagia Diandra..., Aku akan melindungimu dengan doaku,” Adam menatap Diandra sambil mengatakan itu, lalu berbalik dan berjalan meninggalkan Diandra. Langkahnya biasa, namun terasa setiap langkahnya itu mengandung ucapan. Diandra, Diandra, Diandra, Diandra, Diandra.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!