Naura
6. Mimpi Pak Karta
Adam masih saja sibuk dengan khayalan cintanya, dia masih saja tak berdaya di tempat tidurnya. Dunia berjalan seperti biasanya, meninggalkan Adam yang pesakitan dan terbuai dengan cintanya yang semu. Semu karena tak akan pernah bertemu, semu karena sudah dipisahkan takdir.
Takdir yang tak berpihak, takdir yang memisahkan harapan, dan takdir yang menghancurkan segala asa.
Adam yang sakit, namun ibunya Halimah lebih sakit dari siapapun. Dia yang telah mengandung Adam di perutnya, dia paham betul bagaimana Adam saat ini tengah berjuang melawan ketidakberdayaannya. Hanya saja, butuh waktu. Adam butuh penguatan dan juga butuh waktu yang tepat untuk bangun dari ketidakberdayaannya.
Di saat dia tengah mencoba untuk berdamai dengan jiwanya, Ibunya dan orang terdekatnya harus bersabar dan menunggunya dengan cinta. Benar, hanya cinta yang dapat menyembuhkan segala rasa, segala sakit yang menjelma. Untuk itulah, Halimah menahan setiap airmatanya untuk teus mengalirkan doa untuk agar Adam bisa segera menemukan kesempatannya untuk bangkit.
Mungkin, waktu juga yang akan menjawabnya. Saat di mana waktu akan berpihak pada Adam untuk menyadarkannya. Dan itulah yang selalu dipanjatkan doa oleh Halimah. Biarlah Adam mendapatkan kepercayaan dirinya dan bangkit dari keterpurukannya. Dan Halimah akan selalu menunggu saat-saat dimana dia mendengar anaknya kembali bercerita tentang indahnya kehidupan.
Hal itu cukup bagi Halimah, dunia sudah lepas dari tangannya. Yang dia inginkan hanya senyuman Adam menyambut kehidupan dan hari-hari yang datang kepadanya. Kebahagiaan seorang anak adalah kesehatan untuk seorang ibu sendiri. Itulah ibu, tak ada yang paling mengerti seorang manusia, kecuali dirinya.
Adam yang masih sakit, dan seorang lelaki memiliki sebuah harapan di desa untuk bertemu dengannya. Dan dari sinilah, kisah cinta yang akan berpijar untuk Adam dimulai.
***
Di sebuah tempat di desa yang ditempati juga oleh Halimah dan puteranya Adam yang sakit karena cinta. Bahkan semua masyarakat menyebutnya Adam yang gila karena cinta.
Seorang lelaki setengah baya mondar-mandir dengan susah payah. Sesekali dia pun duduk di kursi dan mencoba berpikir kuat tentang apa yang sudah dialaminya.
Lelaki itu susah untuk bergerak dengan bebas, ada yang terluka dengan bagian tubuhnya yang membuat geraknya dibatasi dan dirinya kini tak bisa bekerja dan melakukan aktivitas lainnya. Dia merasa kesulitan dengan hidupnya. Saat hidup membutuhkan biaya yang lebih besar, musibah menimpanya.
Lelaki itu nampak berdiri lagi setelah duduk cukup lama, gelisah masih terlihat menghantui pikirannya.
Apa yang sudah terjadi padanya beberapa hari ini masih dipikirkannya matang-matang. Apakah itu adalah sebuah hal yang harus ditempuhnya, atau hanya sekedar sesuatu yang hanya kebetulan dan sekedar lewat saja.
Namun, dia kembali berpikir bahwa hidup memang ada Allah swt, yang mengaturnya. Jadi, tidak ada kebetulan di dunia ini bagi orang yang memiliki iman kepada Tuhan. Segelanya sudah ditentukan dengan takdir yang tertulis dalam kitabnya. Jadi, apakah dia harus percaya dengan sebuah petunjuk yang aneh, yang didapatkannya dari mimpinya.
Lelaki setengah baya itu berjalan dan kesulitan bergerak, tongkat selalu menyertainya dalam setiap dia melangkah. Sejak hari itu, musibah yang menimpanya. Lelaki itu berjalan dengan tongkat, dia tak lagi bisa bekerja dan hanya menjadi orang rumahan yang tak bisa menghasilkan uang untuk keluarganya.
Namun, tiba-tiba harapan itu seolah datang. Meskipun harapan itu aneh. Sebelumnya, lelaki itu sudah sering berobat untuk memperbaiki kakinya dengan berobat tradisional, hasilnya nihil. Ada kaki tambahan yang bisa dibuatkan di kesehatan, hanya saja mahalnya bukan main. Untuk lelaki desa sepertinya, uang sebanyak itu bisa untuk hidup dirinya beserta keluarga. Jadi, lelaki itu pasrah.
Harapan itu datang, tapi harapan yang aneh lewat mimpi itu mengganggu pikirannya. Lelaki itu bernama Karta.
Pak Karta, lelaki desa yang lumpuh kaki kanannya. Saat bekerja sebagai kuli bangunan, dia sedang membangun rumah bertingkat. Saat menginjak kayu sangga, kayu itu patah dan dia terjatuh. Sudah 3 tahun, pak Karta lumpuh kaki kanannya karena sakit tersebut. Dia pun tak bisa bekerja seperti biasa lagi.
Dan, mimpi aneh itu datang sebagai petunjuk untuk menjadi obat bagi kakinya yang lumpuh. Entah itu benar atau tidak, hal itulah yang selama beberapa hari ini mengganggu pikiran pak Karta.
Malam itu, dia mendapatkan mimpi aneh. Seorang lelaki tua datang kepadanya. Lelaki tua yang berbicara dan mengatakan bahwa jika ingin kakinya sembuh maka ambillah airmata Adam dan usapkan pada kakinya yang lumpuh. Pak Karta terbangun dari tidurnya, dia memikirkan mimpi anehnya tersebut.
Mimpi aneh yang seperti tak bisa diterima akal sehat manusia. Mimpi sebagai bentuk dari bunganya tidur. Namun, kenapa pak Karta di satu sisi ingin mencoba hal aneh itu. Airmata manusia, mana mungkin bisa menyembuhkan sebuah sakit atau luka permanen seperti yang dia alami?
Sungguh tidak masuk akal!
Namun, di sisi lain. Betapa inginnya pak Karta bisa sembuh dari sakitnya itu dan dapat bekerja lagi dan membiayai kehidupan keluarganya. Itu adalah kerinduan yang terlalu membuncah untuk dapat diceritakan.
Nikmatnya bekerja dan mendapatkan uang dan diberikan untuk kehipan keluarga. Bagi pak Karta itu adalah surga di kehidupan ini. Tidak perlu barang mewah ataupun uang melimpah, memberikan hasil upah kepada keluarga adalah kebahagiaan dan airmatanya pasti akan tumpah jika mengingat hal tersebut.
Pak Karta terlalu larut dan bingung dengan apa yang akan dilakukannya setelah mendapatkan mimpi aneh tersebut. Lalu, apa yang harus dilakukannya sekarang? Benar-benar membuatnya tak bisa berpikir tenang lagi. Antara percaya dan tidak, antara ingin sembuh dan tak sesuai akal pikirannya.
Adam yang dikabarkan selama ini gila karena cinta, sudah setahun dia meringkuk seperti orang sakit dan ketika Ahad tiba dia akan berjalan seperti lelaki yang akan bertemu dengan kekasihnya. Hanya senyuman yang terlihat di wajahnya dan hanya Naura yang disebut dalam ucapannya.
Airmatanya? Apakah lelaki seperti itu memiliki airmata, sedangkan dia adalah lelaki gila yang hanya mencintai Naura dan tak berdaya menghadapi kenyataan? Tapi..., rasa ingin sembuh dan mimpinya terus menggelayuti pikirannya.
Mimpinya yang aneh, airmata penyembuh yang mampu menyembuhkan kakinya. Ah! Bahkan hampir saja pak Karta hendak membanting tongkat yang dipegangnya. Pastilah itu hanya bunga tidur, kenapa harus memikirkannya terlalu berlebihan. Mana mungkin airmata seorang Adam bisa menyembuhkan kakinya? Memangnya, ada airmata dalam dunia mitor yang mampu menyembuhkan luka? Itu hanya sebuah hiburan bagi orang yang sudah lelah akan kehidupan semata.
Lalu..., pada akhirnya Pak Karta mencoba untuk melupakan hal itu dan tidak ingin berlarut dalam buaian mimpi yang tak pasti. Berharap terlalu tinggi bisa membuat seseorang sakit tanpa henti dan akhirnya pasrah dan menjadi seorang pemimpi seumur hidupnya.
Pak Karta pun melupakan hal itu dan meneruskan hidupnya, pasrah pada Tuhan tentang lumpuh yang dideritanya. Dia mencoba untuk menerima kondisinya itu dan harapan sembuhnya cukup sudah hanya kenangan semata. Meski, di hati terdalamnya, setidaknya ingin sekali dia mencoba airmata Adam tersebut.