Naura
58. Canggung
Pilihan Adam untuk mengambil Pak Firman menjadi salah satu koki di hotel sangat tepat. Banyak orang bahkan karyawan hotel menyukai makanan pak Firman. Awal kisah pak Firman mulai membuatkan makanan untuk hotel.
Masakan pak Firman dikirim ke hotel, pihak hotel ada yang mengambil makanan pak Firman. Awal pengiriman mereka sedikit ragu, apakah makanan itu akan bisa membuat banyak pelanggan hotel suka.
Makanan itu sudah rapi dalam berbagai wadah besar. Nanti, petugas makanan di hotel yang akan memisah – misahkannya dan dibagikan kepada tamu hotel.
Saat makanan sudah di hotel dan dipisahkan. Diandra mendapatkan laporan soal itu. Dia jadi penasaran seperti apa rasa makanan yang khusus dicari oleh Adam untuk melengkapi menu di hotel. Diandra sedikit ragu, apa Adam bisa mencicipi makanan dengan baik.
Lihat saja nanti, Diandra paling bisa soal mencicipi makanan. Hal itu karena sejak dulu, dia hanya bisa merasakan dan tak melihat suatu makanan. Jika merasakan makanan, maka dia akan mampu melihat apakah makanan itu memang memiliki bumbu yang tepat dan memiliki rasa yang lezat.
Dia bertemu dengan petugas makanan, ”Tolong bawakan aku makanan dan lauknya, saya ingin mencicipinya.” Diandra harus mencicipinya. Dia harus memastikan makanan itu memiliki rasa yang bisa membuat pelanggan hotel betah.
Petugas itu pun mengangguk dan Diandra menunggu di ruang bawah tempat yang luas untuk diskusi dengan pengelola di lantai bawah. Makanan itu pun sampai diantarkan ke meja dimana Diandra duduk.
Diandra mencium makanan itu, aromanya cukup nikmat. Baunya cukup membuat lidah ingin segera merasakannya. Diandra akan mencoba percaya terlebih dahulu soal Adam yang berusaha mencari koki yang tepat. Diandra mendapatkan laporan kalau makanan di hotel dikeluhkan.
Hal itu karena makanan yang disediakan kurang bervariasi dan terkesan monoton. Makanan dengan resep yang sama, mereka menuliskan saran agar makanannya lebih bervariasi. Adam lalu berusaha mencari koki yang tepat untuk menambah variasi makanan di hotel.
Diandra mengambil ponselnya dan mengetik sesuatu di chat.
”Assalamu’alaikum, Adam, aku sedang mencicipi makanan dari koki yang baru yang kamu cari.”
Adam menjawab salam dan belum juga menjawab perkataan dari Diandra. Teleponnya sudah ditutup. Benar-benar Diandra, dia seperti biasanya. Terkadang, dia memberitahu tanpa mau mendengar. Ya, mungkin dia ingin mencicipi segera makanan itu sehingga Adam memakluminya.
Diandra menutup kembali ponselnya dan bersiap mencicipi. Satu kuah dulu, hmm.. rasanya enak juga. Diandra mulai ke menu lauk dimana saat itu ada udang yang dimasak kemerahan. Apakah pedas? Jika terlalu pedas, maka itu tidak baik untuk pengunjung hotel. Mereka akan sakit perut dan itu membuat mereka tidak akan kembali menggunakan jasa hotel lagi.
Namun ..., itu baru perkiraan dari Diandra. Dia harus benar-benar merasakan dan mencicipinya. Tidak bisa hanya sekedar percaya kalau Adam bisa mencari koki, melainkan bagaimana membuktikan makanan itu layak.
Diandra pun mulai mencicipi dagingnya dengan menusuknya memakai garpu. Saat itu hanphone-nya berdering. Diandra menaruh kembali garpu ke piring dan melihat hanphone. Dari Adam. Ada apa lagi Adam mengirimkan pesan? Diandra membuka pesan tersebut.
”Jangan lupa baca bismillah.”
Oh iya, Diandra tersenyum sendiri. Dia benar-benar lupa. Dia sampai lupa belum berdoa, dia pun memulai makan lagi dengan berdoa makan jika terlupa. Lalu, dia mengetik chat lagi ke Adam.
”Sudah!” Diandra membalas pesan dari Adam dan hanya satu kata tersebut, benar-benar, kenapa doa saja bisa lupa.
Diandra mulai menggigit daging udang panami itu, kemerahan karena bumbunya itu apakah juga bagian dari khas masakannya? Dan sekali gigit, Diandra kaget dengan rasanya. Dia tak bisa menahan diri, itu benar – benar enak rasanya. Diandra langsung mengunyah seluruh udang itu. Rasanya begitu nikmat.
Satu, dua hingga lima udang habis sudah. Rasanya nagih menurutnya, Adam pintar juga memilih dan mencari seorang koki masakan. Jika begini, tentu saja para tamu hotel pasti akan suka rasa makanan khas ini.
Setelah menginap dari sini, tentunya mereka akan kangen juga dengan rasa makanan yang menggugah selera.
”Enak makanannya Diandra?” Suara seseorang berada di dekat Diandra dan menanyakan begitu saja. Diandra bahkan tidak menyadari siapa yang bertanya dan dia hanya mencicipi makanan yang sedang dimakannya.
”Enak banget ini, Adam memang pintar mencari koki!”
Kata – kata Diandra itu begitu saja meluncur tanpa ada pembatas, dia masih makan dan seolah tersihir tanpa tahu siapa yang tiba – tiba menanyakan hal itu. Biarkan saja orang bertanya, dia sedang mencicipi makanan dan itu sangat penting untuk bisnis hotel yang sedang mereka jalankan.
Ups! Diantara menutupi kedua mulutnya dengan kedua tangannya. Dan dia baru sadar kalau Adam sudah berada di tempat duduk di sebelah, tepat di sebelahnya. Kapan dia duduk disitu?
”Kamu... kamu kapan datangnya Adam?” Diandra pun kaget dan mengambil tisu di meja dan mengusapnya di bagian sekitar bibirnya. Mungkin, masih belepotan dia pun merasa malu.
”Sejak kamu makan dengan nikmat tadi, sampai matamu terpejam menikmatinya. Ha.. ha.. ha..”
Adam sedikit tertawa, Diandra pun jadi sedikit malu mendengarnya. Dia bahkan tak sadar ada orang lain yang tiba – tiba duduk di sebelahnya. Bagaimana bisa”
”Kamu juga sih, datang tidak pakai salam dan langsung duduk begitu saja!” Diandra agak sewot, ditatapnya Adam yang mengenakan peci hitam itu sekali lagi. Adam malah masih terlihat tertawa seolah mengejeknya.
”Makanya, kamu percaya saja sama Adam. Kalau soal suatu pekerjaan yang penting, kamu bisa percayakan itu padaku Diandra. Pasti beres!” Adam tersenyum seolah percaya diri.
Diandra merasa Adam terlalu percaya diri, ”Baiklah... Baiklah. Tapi bagaimana bisa aku percaya padamu kalau kamu masih suka membuat orang bingung?” Diandra merasa itu gurauan yang cukup sempurna untuk Adam.
Namun, Adam seperti terpojok dengan kata – kata itu. Dia langsung diam, dan membenarkan apa kata Diandra tersebut. Dirinya memang tidak bisa membuat orang lain merasa tenang dan membuat bingung semua orang dengan pendiriannya.
Diandra menyadari hal itu, ternyata Adam menanggapinya dengan serius. Dia langsung merasa tak enak. Terkadang, Adam memang demikian, dan dirinya juga kadang keceplosan. Ada diam di antara mereka, kesunyian tercipta untuk beberapa saat.
”Maafkan aku Adam.. maaf aku tidak bermaksud...” Diandra menghentikan ucapannya.
”Kamu benar Diandra, kamu tidak salah.”
Keduanya diam lagi, dan angin berhembus membuat mereka dalam kesunyian untuk beberapa menit. Kadang, dalam diam mereka sebenarnya saling menyadari bahwa mereka memang saling berkomunikasi. Berkomunikasi dengan baik namun terhalang tembok yang besar memisahkan mereka kembali.
Hal ini sering terjadi pada pembicaaan mereka, terhenti dalam sebuah dilema. Ada rasa ingin semakin akrab, namun ada pembatas tembok yang seolah membuat mereka harus diam lagi.
Mereka menjalani hari-hari mereka dengan akrab dan canggung. Entahlah, apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka. Mungkin, waktu yang akan menjawabnya.