Naura

52. Mencoba

Adam merasa bahwa pak Firman sangat tepat untuk menjadi salah satu rekan dari Hotel yang ada di Mata Air Surga. Makanan yang dibuatnya enak, sehingga Adam langsung terpikirkan dengan hal itu agar cita rasa pengunjung hotel saat maka dapat membuat mereka menjadi betah.

Selain itu, rasa yang berbeda saat makan di hotel akan memberikan para pelanggan di hotel tersebut teringat dengan baik masakan disana. Mereka kemungkinan akan kembali lagi saat ada sesuatu kegiatan di luar kembali.

”Jadi begini Pak, saya akan menawarkan kerjasama dengan Bapak,” aku mencoba bernegosiasi tenang agar pak Firman tidak merasa canggung dan kaget, ”Jika pak Firman mau, saya akan memesan banyak makanan pada Bapak setiap harinya.”

Aku menjelaskan satu – persatu agar pak Firman mengerti. Soal hotel bagaimanapun juga kami butuh beberapa  rumah makan sebagai pemasok makanan yang higienis untuk hotel. Oleh sebab itu, kami butuh rumah makan lebih dari satu untuk mendukung program hotel kami untuk menyediakan makanan yang enak, halal dan juga dengan rasa yang unik.

Pak Firman pun manggut – manggut setelah aku menjelaskan dengan detail. Keputusannya tinggal di tangan pak Firman apakah dia mau dan mampu untuk menyiapkan makanan untuk hotel kami. Itu adalah sebuah tawaran yang bagus untuk perkembangan usaha bagi pak Firman tentunya.

”Tapi Mas Adam, apakah kami sanggup untuk menyediakan makanan yang banyak dan apalagi apakah nanti para pelanggan di hotel tidak keberatan dengan rasa masakan kami?”

Ternyata, pak Firman sendiri belum percaya diri jika makanannya enak dan dapat membuat ketagihan.

”Pak Firman, selama anda berusaha dan yakin dengan masakan anda. Maka, masakan anda pasti enak. Apalagi, Bapak pernah cerita kalau bumbu yang anda gunakan adalah bumbu alami racikan sendiri dan tidak menggunakan bumbu matang yang dibeli langsung jadi.”

Kali ini, pak Firman mengangguk lagi. Pak Firman sendiri cerita kalau dia pindah dari tempat yang cukup jauh, karena melihat ada proyek Mata Air Surga yang besar, dia pindah di dekatnya supaya bisa menjadi pelopor baru usaha makanan yang dijualnya lesehan.

Tempatnya awal juga sepi, pak Firman pindah dari kontrakan ke kontrakan yang lain. Kali ini, rumah yang mereka tempati pun adalah kontrakan dan bukan rumahnya sendiri. Pak Firman juga memikirkan jika pesanan banyak mungkin dia gak akan buka lesehan di depan toko elektronik itu.

Adam pun punya solusi untuk hal itu. Adam menawarkan sebuah rumah di kawasan perumahan di Mata Air Surga yang bisa ditempati pak Firman. Pak Firman agak ragu dengan hal itu. Namun, Adam juga menenangkannya kalau rumah itu bisa dibeli pak Firman dengan mengangsur.

Ada beberapa orang yang mengangsur hingga kini pada Mata Air Surga. Dan, pak Firman juga bisa melakukan hal itu dimana nanti ketika katering makanannya dipesan hotel, maka dari situ pak Firman bisa mengangsurnya.

Bagaimana pun, itu lebih baik dari pada terus mengontrak rumah karena setiap tahun membayar namun tak memiliki hak atas rumah tersebut.

Pak Firman pun memikirkannya matang – matang.

”Sebenarnya, saya akan langsung menerima saja apa yang diminta mas Adam. Bagi saya, Mas Adam adalah penyelamat yang diturunkan Tuhan pada saya, dimana berkat mas Adam tangan saya dulu bisa sembuh dan aku dapat bekerja lagi.”

Pak Firman jug bercerita kalau saat datang ke rumah mas Adam yang dulu, tangannya yang sakit dan dia tak punya uang sehingga tidak memberikan kompensasi apapun. Dia tidak memberikan imbalan, namun keluarga mas Adam tak mempermasalahkan hal itu.

”Bolehkan saya diskusi dengan keluarga dulu mas Adam? Kalau saya sih tidak masalah dan saya sangat mau. Tapi, saya adalah kepala keluarga jadi harus bermusyawarah dulu dengan isteri dan anak saya.”

”Silakan Pak, jadi apakah saya menunggu disini atau pulang saja pak?” Adam pun memberi keluasan untuk pak Firman bermusyawarah dengan keluarganya.

”Tidak usah mas Adam, biar kami diskusi sebentar saja.”

”Baiklah.”

Pak Firman masuk ke dalam dan Adam menunggu sebentar. Beberapa menit kemudian pak Firman keluar bersama isterinya. Isteri pak Firman menyapa Adam dan Adam pun demikain.

”Mas Adam, kami memutuskan  untuk menerima apa yang anda inginkan dari kami. Kami akan menyiapkan makanan untuk hotel anda, lalu kapan itu bisa dimulai?”

Adam tersenyum pada mereka dan menjabat tangan pak Firman. Adam menyambut mereka dan selamat datang di Mata Air Surga. Masalah tempat tinggal juga akan dipikirkan Adam dengan memindahkan mereka ke perumahan. Meskipun awalnya Adam ingin mereka tinggal dulu disana namun pak Firman dan keluarga tidak mau jika tidak mengontrak atau membelinya dengan mencicil.

Adam pun memutuskan untuk menjual rumah itu kepada pak Firman dan meminta mereka mencicil setiap bulannya jika demikian. Nanti akan dilaporkan pada bagian pengelolaan perumahan.

”Besok anda bisa memulainya, hari ini anda bisa berkemas dan nanti akan ada orang dari kami yang menjemput anda.”

Adam merasa senang negosiasi berhasil, ”Selain itu, anda juga bisa membeli apapun yang diperlukan untuk menunjang barang dan sarana untuk membuat masakan yang cukup banyak. Tentu saja, setidaknya anda akan membuat makanan yang cukup banyak.”

Pesan Adam ini juga berkaitan bahwa selain membuat masakan untuk hotel, pak Firman juga akan membuat makanan untuk menu yang berbeda pada pegawai yang lain termasuk pegawai Rumah Sakit, pegawai di tempat usaha yang lainnya juga.

Di Mata Air Surga sendiri semua usaha memerlukan menu yang berbeda tentunya untuk karyawan sehingga satu rumah makan belumlah cukup untuk membuat rasa menu yang berbeda setiap mereka makan.

Sambil asyik bicara, seorang wanita yang tadi menyambu Adam keluar membawa minuman. Adam berbicara tidak usah repot – repot, namun pak Firman memang membuat seorang tamu harus setidaknya minum di rumahnya jika ada yang datang.

Pak Firman juga memperkenalkan bahwa itu adalah puteri pertamanya, namanya Nada. Dia masih baru lulus kuliah dan baru pulang dari kota. Adam pun mengangguk dan memperkenalkan dirinya. Namun, pak Firman bercerita bahwa dari dulu Nada ingin melihat sosok yang airmatanya ajaib bisa menyembuhkan tangan pak Firman.

Akhirnya bertemu juga. Dan mereka tertawa bersama, sungguh sebuah takdir dimana Nada ingin sekali bertemu tapi orang itu datang sendiri ke rumahnya.

Setelah bicara cukup lama, Adam pun berpamitan karena masih ada yang harus dikerjakannya di Mata Air Surga dan melaporkan hal itu kepada pengelola hotel sehingga langsung bisa dijadwalkan dengan baik.

Adam mengucapkan terima kasih sekali lagi pada keluarga pak Firman dan begitu pula sebaliknya pak Firman mengucapkan terima kasih juga. Adam pulang membawa perasaan senang karena satu urusannya telah selesai dan segera menuju hotel kembali untuk melaporkan hal ini pada pengelolanya.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!