Naura

48. Ingin Menimang Cucu

Lelaki yang menyapa Adam adalah pemilik dari rumah makan sederhana di pinggir jalan tersebut.

”Benar Pak, ada apa ya?” Adam menjadi penasaran, lelaki itu mendekat dan berdiri di dekat meja dan di dekat mereka yang tengah duduk lesehan itu.

”Apakah anda Adam yang dulu memiliki airmata ajaib itu ya?” Lelaki itu terlihat makin sumringah wajahnya, seolah wajahnya menunggu jawaban dengan segera.

”Iya, saya orangnya pak. Dan, ini sahabat saya Syarif, dan ini Ibu saya bu Halimah.”

Lelaki itu mencoba mengingat, benar saja itu ibu Halimah dan juga Syarif yang dulu selalu menjaga para tamu rumah Adam yang ingin berobat dengan air ajaib yaitu air mata milik Adam.

Lelaki itu tersenyum, ”Saya adalah Firman Mas, saya adalah salah satu pasien anda saat itu. Saya belum sempat mengucapkan terima kasih kepada anda secara langsung karena saya belum sempat datang.”

Adam jadi tahu sekarang, siapa dia dan bagaimana dia mengenalnya. Adam pun menerima ucapan terima kasihnya dan tak perlu memikirkan soal yang lalu. Pak Firman pun akhirnya ikut duduk dan bercerita bahwa dirinya dulu sakit karena jatuh dan tangan kannya seolah patah dan susah dibenahi oleh medis.

Dia pun datang ke tempat Adam, dan saat besok pagiya tangannya itu sembuh secar ajaib. Sejak itu karena bahagia, pak Firman pun meneruskan hobinya dulu yaitu memasak.

Bantuan dari Adam waktu itu benar – benar membuat dirinya atau pak Firman menjadi bersemangat bekerja. Motivasi nya pun naik dan dengan kesembuhannya itu dia berjanji akan belajar dan memasak dengan sepenuh hati untuk dapat memberikan orang lain rasa makanan yang super enak.

Buktinya, rumah makan milik pak Firman juga lumayan ramai dan juga banyak pengunjung. Adam melihat beberapa tempat meja makannya, semuanya memang penuh. Walaupun hanya menyediakan 5 meja namun itu semuanya sedang dipakai berarti rumah makan lesehan pak Firman sudah punya pelangan tetap dan juga ramai pengunjungnya.

”Apakah ini merupakan tempat milik pak Firman untuk ngetem atau berdagang?”

Firman menatap Adam, ”Tentu saja bukan mas Adam. Ini kami hanya numpang dagang di depan ruko besar ini karena di sini pinggir jalan jadi bagus untuk usaha kecil – kecilan mendirikan rumah makan lesehan.”

Penjelasan Firman barusan juga menggetarkan jiwa Adam. Dengan tulus, apapun yang bisa dikerjakan tetap akan dikerjakan oleh orangtua untuk anaknya. Pak Firman bercerita kalau dirinya punya dua anak dan mereka semua butuh biaya yang lumayan sehingga saya harus bekerja apapun caranya.

”Dengan bantuan dari mas Adam dan tangan saya pulih dan sembuh. Maka, saya meneruskan hobi memasak saya dan buka lesehan tempat ini.”

Dengan kedua tangannya yang sudah sehat dan terampil, pak Firman memulai dagang rumah makan dengan tempat masih menebeng. Uang sewa pun tak ada, pemilik toko begitu baik mempersilakan Firman untuk  membuka warung makan lesehan dan syaratnya hanya ringan yaitu membersihkan kawasan toko itu agar selalu terjaga dan bersih.

Saat akan tutup di waktu malam larut, Firman membersihkan daerah areal tempat dirinya berdagang. Sehingga, bos pemilik toko menyukai Firman dan hingga kini, Firman berdagang terus dan diperbolehkan untuk menggunakan kawasan ruko itu sesuka hatinya.

Dengan tidak adanya uang sewa dari tempat dagang, maka cost menjadi rendah. Ada trik unik milik Firman adalah fokus pada rasa. Untuk tempat tidak menyewa, Firman menjadi lebih tenang dan akhirnya dia belajar membuat masakan terbaik dengan terus belajar.

Proses yang terus – menerus, membuat masakan pak Firman begitu nikmat. Adam dan bu Halimah menjadi buktinya bahwa masakannya memang sangat enak. Syarif dan Aisyah mendengarkan kisah mereka dengan seksama. Aisyah juga sering dibawakan makanan yang dibungkus dari warung lesehan milik pak Firman, jadi Aisyah paham betul cita rasa masakan pak Firman.

Adam memuji masakan pak Firman, ”Masakan anda sungguh enak, biasanya ibu saya kurang suka makanan di luar. Kali ini, dia bahkan memuji makanan pak Firman.”

Pak Firman pun mengucapkan terima kasih atas pujian itu. Dia berdagang bersama isterinya. Hingga Adam makan disana isteri pak Firman terlihat kewalahan karena banyak tamu yang ingin membeli makanan dan banyak juga yang minta dibungkus. Adam melihat bahwa pak Firman merupakan salah satu aset yang tepat untuk seorang koki untuk rumah makan.

Pak Firman izin undur diri untuk membantu isterinya menyiapkan pesanan para pelanggan. Adam mempersilakannya. Kini, pikiran Adam memang terpacu untuk menyediakan apa saja ada di Mata Air Surga.

Mereka pun selesai makan, cukup lama karena memang mereka intinya ingin berbincang. Adam pun tak enak karena terlalu lama makan di tempat lesehan pak Firman, dia meminta dibungkuskan beberapa nasi bungkus dan lauknya. Nanti, makanan itu akan dibagikan kepada beberapa tetangganya di perumahan yang ada di Mata Air Surga.

Juga, akan dibagikan pada beberapa pegawai yang memang shift malam. Adam pun meminta semua dibungkus yang masih tersisa. Sedapatnya, jika di situ ada orang yang sudah memesan maka jangan diambil. Selesaikan dulu semua pesanan di tempat dan sisanya akan dibawa pulang oleh Adam.

Pak Firman pun mengucapkan terima kasih, dia pun sigap segera menyelesaikan apa yang perlu dipersiapkan untuk memasak. Dia sendiri menggunakan bumbu – bumbu racikan sendiri dan tidak ada yang membeli bumbu matang. Dia tak menyukai hal itu, karena keunikan khas makanan tidak akan didapatkan menurutnya.

Sebagai koki dan orang yang menekuni dunia memasak, maka memiliki ciri khas dalam bumbu dan menjadikannya makanan adalah syarat paling utama. Tidak sama dengan masakan orang lain merupakan keunikan tersendiri dalam menciptakan rasa yang nikmat dalam makanan.

Itu yang dipercaya oleh pak Firman.

Sambil menunggu makanan yang dipesan, Adam memesankan lagi minuman jus buah untuk mereka. Mereka juga bisa banyak berbincang lagi, bagaimana Syarif juga bercerita masalah toko bangunan yang kini harus membuat bangunan baru untuk gudang dan juga untuk toko sendiri kurang besar. Hal itu karena semakin ramainya permintaan pada beberapa item yang semula tidak di sediakan.

Syarif pun meminta izin hal itu pada Adam. Adam tidak mempermasalahkan hal itu, itu semua terserah pada Syarif dan bagaimana dia mengelola toko bangunan tersebut. Juga, jika membutuhkan modal tambahan maka Syarif tinggal bilang saja, Adam akan mengusahakannya.

Namun, Syarif tak meminta tambahan modal lagi. Baginya itu sudah cukup, dengan keuntungan yang ditahan untuk membuat aset lebih banyak lagi. Perlahan namun Syarif yakin bisa melakukannya tanpa harus menambah modal lagi.

Adam juga yakin kalau Syarif pasti mampu, hal itu juga yang menjadikan dia percaya sepenuhnya tentang usaha yang dikelola sahabatnya itu. Keuntungan bagi hasil untuk Adam pun mulai bulan ini tidak usah ditranfer melainkan untuk penambahan modal saja biar besar dulu.

Dengan begitu, usaha pembesaran toko dan penambahan untuk gudang akan cepat terealisasi. Syarif pun menyetujui hal itu dan berharap Adam menunggu dengan selesainya proyek ini, baru akan dibagikan bagi hasil kembali setelahnya. Adam tak mempermasalahkan itu dan menyerahkan segalanya pada Syarif.

Pembicaraan mereka harus berhenti karena pak Firman menyerahkan bungkusan nasi dan lauknya serta semua sambil dan kelengkapannya. Semuanya ada 35 bungkus, Adam berterimakasih dan membayar semuanya. Mereka pun pamitan, pak Firman meminta suatu hari dia ingin bersilaturahim ke rumah Adam. Adam pun mempersilakannya.

”Kapanpun bapak ingin ke rumah, pintu kami selalu terbuka. Tanya saja dengan beberapa orang di Mata Air Surga, mereka akan menunjukkan rumah kami.”

Mereka pun pamitan. Di sisi pak Firman pun mereka segera memberesi tempat dagangan dan beberapa perabot untuk lesehan tersebut. Dagangannya kali ini cepat selesai karena biasanya dia tutup sekitar pukul 11 malam, dan ini masih pukul setengah sepuluh. Makanannya sudah habis karena diborong mas Adam tadi.

Firman tersenyum dan membantu isterinya membersihkan wadah makanan dan kemudian menutup terpal dan lain-lainnya. Lalu membersihkan sampah.

Saatnya pulang.

***

Adam berpisah dengan Syarif di persimpangan. Adam pulang ke desa di dekat rumah mereka yang dulu dan Adam belok ke kanan menuju perumahan Mata Air Surga. Adam masih membonceng Ibunya dan menawarkan ingin langsung pulang atau membagikan makanan tersebut dulu.

Ibunya belum mau pulang dan ingin menemani Adam. Adam pun membawa Ibunya itu ke Rumah Sakit dahulu. Mereka membagikan beberapa nasi kepada pegawai dan perawat yang mendapatkan shift malam. Mereka berterimakasih pada pak Adam, mereka memanggil Adam dengan Pak, meski muda dia adalah bos disana.

Adam pun tak mempermasalahkan, jika ada yang memanggil Mas pun dia juga tidak keberatan. Hidup Adam biasa saja dan memang ingin biasa. Tak ada yang istimewa menurutnya kecuali bisa membantu sesama manusia. Itu yang luar biasa.

Setelah membagikan nasi di Rumah Sakit mereka pun ke hotel sebentar, dan membagi yang juga shift jaga malam terutama ke satpam. Setelah itu baru mereka pulang dan masih tersisa 10 bungkus. Adam membagikan ke beberapa tetangganya, mereka juga belum tidur dan menyambut Adam dengan baik dan menerima nasi bungkus itu.

Adam dan ibunya selesai menghabiskan Nasi bungkus dari pak Firman dan mereka pun pulang ke rumah mereka. Saatnya untuk istirahat, Adam melihat wajah ibunya terlihat bahagia dan ceria. Dia bersyukur ibunya itu mau diajak makan malam, mungkin suatu saat harus sering – sering mengajaknya keluar.

”Ibu bahagia...” Adam menatap Ibunya di ruang tamu rumah mereka.

”Tentu saja Anakku. Apalagi..., bertemu dengan bayi lucu anak Syarif.”

Deg!

Jantung Adam berdebar, benar saja kebahagiaan dan keceriaan ibunya dari tadi adalah karena melihat bayi kecil itu. Semakin tersadar Adam soal itu bahwa Ibunya memang ingin menimang cucunya sendiri.

Itu menjadi bahan pemikiran Adam hingga di bawa ke kamar tidur. Dia sudah berwudhu dan akhirnya bersiap tidur. Namun, bayangan bayi dan Ibunya itu mengganggu tidurnya.

Ibu... maafkan aku. Adam  pun berusaha memejamkan matanya dan berdoa, hingga akhirnya dia tertidur juga.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!