Naura

44. Menemukan Pencerahan

”Jodoh itu sudah diatur oleh Allah swt yang menciptakan kita. Jadi, tidak ada yang bisa mencegah sesuatu yang sudah ditetapkan oleh Allah. Jika kita mencintai seseorang namun pada akhirnya kita tak memilikinya, maka itu sudah digariskan. Jadi, kita akan bisa hidup dengan tenang jika merasa kehilangan.”

Kata-kata Adam itu bagaikan sengatan lebah. Rendra merasa tertampar mendengarnya. Dia sendiri belum menceritakan perihal kedatangannya dan Adam sendiri tidak tahu apakah dirinya datang untuk Diandra.

Jika memang berjodoh, maka apapun yang terjadi keputusan Tuhan tidak bisa diganggu gugat. Orang yang berpikir demikian, tentu hidupnya dipenuhi ketenangan dan tidak merasa khawatir terhadap hidupnya.

Dalam hati Rendra, dia memang menyukai Diandra. Apalagi, keluarganya selalu mengarahkan dirinya untuk mendapatkan wanita tersebut untuk menjadi pasangan hidupnya. Hal itu akan mengubah nasib bisnisnya dan juga keluarganya, dengan menikahi Diandra. Harta warisan dari Diandra nantinya akan menjadi miliknya.

Kini, Rendra menyadari bahwa apapun yang sedang diperjuangkannya, semuanya hanya bernilai dunia dan keserakahan dunia.

Harta dan dunia sudah mengisi hatinya, Rendra merasakan bahwa pencerahan itu masuk ke dalam hatinya. Dunia yang sementara, dikejar seperti apapun dia akan terus membuat manusia gelisah.

”Apakah Anda tidak takut jika suatu hari anda kehilangan Diandra?” tanya Rendra yang langsung bertanya soal Diandra. Dia ingin tahu, apa perasaan Adam terhadap Diandra.

Adam tersenyum, ”Anda ingin mengetes saya rupanya,” Adam kembali menatapi air jernih di danau Kenanga, ”Aku lebih takut kehilangan Tuhanku lebih dari siapapun. Jika aku sudah kehilangan Tuhan maka aku sudah kehilangan diriku sendiri. Orang yang kehilangan diri sendiri, adalah orang yang tersesat di dunia ini.”

Rendra masih bingung dengan penjelasan dari Adam, ”Jadi ..., maksud anda itu ..., apa?”

Adam menoleh ke arah pemuda tersebut. Dia terlihat sangat kaya dan baju jasnya terlihat mahal. Adam menyentuh pundak pemuda bernama Rendra tersebut.

”Dunia ini hanyalah tempat untuk singgah dan meminum air kesabaran dan kesyukuran. Jika kita sudah bisa ikhlas pada setiap apapun di dunia ini, apapun itu. Maka, kamu sudah menemukan surga sebelum bertemu dengan Tuhan!”

Lagi-lagi, Rendra merasa tertampar akan hal itu. Dunia bukan sekedar mencari wanita dan harta. Adam sudah memahami kehidupannya dengan baik sebagai hamba Tuhan.

Orang sepertinya, tentu tidak akan merasa susah dan sedih dalam setiap keadaan. Dia hanya memiliki keikhlasan pada apapun yang menimpanya. Sedangkan dirinya, dia masih saja terjerat dan dunia melilit kakinya. Dia masih saja bingung hendak memakai apa dan peduli dengan pandangan manusia. Tapi, dia benar-benar lupa pada pandangan Tuhan terhadap dirinya.

Dia merasa selama ini sudah lalai. Bertemu dengan sosok Adam membuatnya merasakan bahwa segalanya di dunia ini tak ada lagi yang perlu dirisaukan. Semua akan berjalan sesuai kehendak Tuhan.

Orang yang memaksakan dirinya dengan harapan dia memiliki segalanya, akan tetap kalah dengan ketetapan Tuhan.

Selama ini, Rendra sudah menganggap bahwa uang dan kekuasaan sudah bisa melakukan segalanya. Hal itu hanya menambah perasaan khawatir dan cemas, dia selalu dihinggapi dengan perasaan itu setiap harinya. Ketenangan seperti yang dialaminya di pinggir danau ini telah membuatnya merasakan surga itu ada.

Keindahan dan ketenangan yang dirasakannya, semuanya adalah kenyataan yang seolah hanya ilusi bagi orang-orang yang sibuk mementingkan nafsu dan dunianya.

Pantas saja. Diandra begitu kagum pada sosok lelaki di sampingnya tersebut. Rendra kini merasakan malu yang luar biasa. Bahkan, dirinya mungkin tidak akan bisa dibandingkan sama sekali dengan lelaki bernama Adam tersebut.

Meskipun dia bukan berasal dari keluarga kaya atau pun punya kekuasaan. Namun, dia sudah menjadi raja bagi dirinya sendiri di dunia ini. Dia bebas dan tidak tertawan oleh apapun, kecuali sadar bahwa dia adalah seorang hamba Tuhan.

”Bagaimana cara agar kita bisa menerima segalanya dengan ikhlas?” tanya Rendra kali ini.

Adam berdiri dan mengambil sebuah batu. Dia melempar batu itu ke atas air danau. Batu itu terlempar hingga memantul beberapa kali di permukaan Danau Kenanga.

”Anda tahu kenapa saya melempar batu dan melihat pantulan batu itu di atas permuakaan air?” tanya Adam.

Rendra menggelengkan kepalanya.

Adam duduk kembali di sebelah Rendra, ”Saya melempar batu untuk melihat keindahan saat batu itu terpantul dari satu permukaan ke permukaan air yang lain. Rasanya indah ketika melihat air itu terbentuk dari pantulan batu yang saya lempar.”

”Jadi ...,” Adam melanjutkan penjelasannya, ”Dengan mengharapkan tujuan kepada Allah sajalah, kamu akan mencapai keikhlasan. Dunia akan mengikutimu jika kamu sudah bisa membuat hatimu selalu rindu dan ingin selalu bertemu dengan Allah swt.”

Tujuan kepada Allah saja?

”Jika tujuan hidupmu hanya bersandarkan pada Allah, maka seluruh hidupmu akan dipenuhi dengan ketenangan. Kamu akan hidup dan melangkah dalam perlindungan Allah, dan kamu tidak akan pernah merasa kesepian dan gelisah.”

Benar apa yang dikatakan Adam. Rendra merasa hidupnya selama ini hanya dipenuhi dengan tujuan dunia. Usaha yang maju, rumah mewah, penghargaan semu dari para bawahan, senang dipuji padahal itu adalah bentuk dari penghormatan dan ketakutan. Jadi, apa tujuannya selama hidup. Tidak pernah terpikirkan!

Semua tujuan hidupnya hanya untuk mengejar pujian, popularitas dan juga harga. Sudah terlalu banyak wanita yang ditaklukkan oleh Rendra. Meskipun Rendra tidak pernah menodai mereka. Hanya saja, dia akan bangga bisa menggandeng seorang wanita cantik dan kaya.

Lalu ..., dia kini ingin mendapatkan Diandra? Sungguh, dia tak tahu malu. Diandra sendiri begitu kagum dengan sosok Adam dan dirinya bahkan punya niat buruk pada awalnya. Dia telah salah sangka, dia telah menemukan tujuan hidupnya.

”Bolehkah aku sering ke sini untuk menenangkan pikiran?” tanya Rendra yang merasakan ada perubahan dalam hatinya. Dia merasakan kesejukan mendengar kata-kata dari Adam.

”Tentu saja, Anda bisa berkunjung kapan saja di sini. Dimana pun anda datang, semua adalah bumi Allah. Di dunia ini tidak ada musuh, yang ada adalah persaudaraan.”

”Anda benar!” lagi-lagi, Rendra merasa ditampar. Selama ini, dia selalu menganggap rival bisnis sebagai musuh yang harus dihancurkan. Dia menganggap anak buah sebagai bahan untuk dicaci-maki saat usaha tidak sesuai dengan prediksi. Selama ini ..., dia telah salah mengambil jalan.

Jika semua orang berpikir dan berprilaku seperti Adam. Mungkin, di dunia ini tidak ada perang dan permusuhan. Semuanya damai dan penuh keindahan. Orang yang tidak memiliki musuh dan tidak mau menyakiti orang lain.

”Saya akan selalu datang. Jadi, anggap saya bagian dari Mata Air Surga,” kata Renda sambil menghulurkan tangannya. Dia akan berpamitan.

”Tentu saja!” Adam menerima uluran tangan tersebut, ”Kapanpun anda datang kesini, kami tidak akan pernah keberatan.”

Mereka pun berpisah. Adam tidak mau diantar pulang, dia akan jalan kaki. Dia masih ingin menikmati sore hari di depan Danau Kenanga. Rendra pun berpamitan pulang, dia sempat melihat punggung Adam saat akan pergi dengan mobilnya.

Sungguh, orang yang puas dan tenang terhadap hidupnya. Tidak ada yang dikhawatirkan dalam hidupnya. Rendra pun tersenyum dan akan memulai hari-harinya yang indah dan ceria. Dia berjanji akan mulai berubah.

Bukan untuk siapapun, tapi untuk dirinya sendiri.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!