Naura

42. Doa yang Terbaik

Adam mengantarkan Diandra ke hotel tempatnya menginap. Bi Jamilah kaget melihat Diandra yang terlihat basah dan ditutupi dengan jaket. Bi Jamilah langsung membantu nona Diandra. Dia terlihat masih kedinginan.

Adam pun menitipkan Diandra pada bi Jamilah dan dia juga harus segera pergi untuk membersihkan diri di rumah. Awalnya, bi Jamilah meminta Adam untuk membersihkan diri di sana, namun Adam menolaknya. Adam juga menceritakan kronologi nona Diandra bisa jatuh ke danau.

Adam pun berpamitan, dia memang keras kepala. Tidak suka merepotkan siapapun. Adam pun langsung pulang. Adam juga berpikir takut ada fitnah.

Diandra pun dibantu bi Jamilah masuk ke dalam dan Diandra segera masuk untuk membersihkan dirinya. Hawa dingin menyergapnya, itu semua karena air di dalam danau sungguh sangat dingin.

”Kenapa nona Diandra ceroboh? Jika Tuan Hamid tahu, bi Jamilah pasti dimarahi nantinya.”

Diandra tersenyum, ”Tenang saja Bi, Diandra baik-baik saja kok. Diandra hanya terpeleset dan Adam datang menyelamatkan Diandra Bi.”

Bi Jamilah membantu dan mencarikan handuk untuk Diandra. Bi Jamilah harus segera membantu Diandra. Bi Jamilah takut kalau Diandra masuk angin karena terlalu lama kedinginan.

Meskipun terlihat kedinginan dan menggigil, Diandra masih saja terlihat tersenyum bahagia. Bi Jamilah bahkan menggelengkan kepalanya, pasti itu karena ada Adam yang membantunya. Hm.., anak muda, jika sedang kasmaran tak peduli apapun. Itulah yang dipikirkan bi Jamilah, dia pun ikut tersenyum pada akhirnya.

Diandra membersihkan dirinya, dia memakai baju longgar lainnya. Dia pun menyisiri rambutnya di kamarnya. Dia memiliki kamar khusus di hotel yang ada di Mata Air Surga itu. Dia bersama Adam adalah pemilik puncak mega proyek Mata Air Surga.

Kini, usaha mereka sudah sangat tenar, Mata Air Surga. Sesekali, Diandra mematut – matut dirinya di cermin. Rambutnya tergerai sebahu, kali ini dia sangat bahagia. Begitu dekat dengan Adam meskipun mungkin tak bisa memiliki namun perasaan memilikinya saat itu walaupun sejenak sudah merupakan hadiah dari Tuhan dan itu sangat menenangkan hatinya.

Di cermin yang dipandangnya pun, wajah Adam muncul dan menatap senyuman penuh makna padanya. Kini, Diandra yang benar – benar tertawan oleh cinta. Cinta itu memang membingungkan hingga orang yang merasakannya hampir – hampir tak merasakan hal lain di luar cinta. Nalar seolah hilang begitu saja dan semua hanya terisi keindahan.

Tentang perasaan Adam yang dia katakan tadi di danau Kenanga, cukup menjelaskan satu hal. Jika di dalam hati Adam, memang ada nama Diandra disana. Dan itu membuat Diandra tersenyum kembali menatap cermin.

Namun, dia tak akan tertipu dengan perasan kosong seperti itu. Lalu, bagaimana cara bagi Diandra untuk mendapatkan Adam sepenuhnya dan tidak sekedar dalam angan? Ada yang harus dilakukannya dan wajib dilakukan oleh Diandra. Diandra pun berpikir keras bagaimana agar Adam bisa melupakan janjinya dan bisa hidup bahagia seperti kebanyakan orang.

Tidak terkungkung dan terpenjara oleh janji semunya itu. Namun, Adam memang orang yang keras kepala. Dia tidak akan bergerak jika tidak memiliki keyakinan seperti yang diceritakan Syarif kepadanya. Itulah pribadi Adam, Syarif mengenal betul Adam sejak mereka masih kecil.

Beberapa ide berlintasan di pikiran Diandra. Apa yang harus dilakukan Diandra. Hingga cara buruk pun terpikir oleh Diandra dengan membuat Adam harus bertanggung jawab pada dirinya, namun dia segera ingat pada Tuhan. Perbuatan yang dimulai dengan dosa dan pelanggaran maka hasilnya akan buruk, seperti uang korupsi maka hasilnya juga akan buruk untuk masa depan.

Hasil yang bersih didapatkan dengan niat dan perilaku yang bersih, sebaliknya cara kotor dan tercela akan membuat hasil yang buruk dan tercela. Diandra segera mengusir ide pikiran buruk yang kadang dilihatnya di televisi. Untuk mendapatkan pacarnya dengan menjebaknya.

Diandra menggelengkan kepalanya, dia tak akan melakukan hal nista dan buruk. Cinta yang suci tak akan dikotori oleh hal-hal hina dan buruk. Begitu keyakinan Diandra sekarang.

Hufff! Diandra menghembuskan napasnya perlahan. Orang yang keluar dari niat buruknya, biasanya akan diilhami oleh Tuhan dengan sesuatu yang baik. Barang siapa meninggalkan keburukan karena Tuhannya, pasti Tuhan akan gantikan hal baik untuknya. Dan, Diandra yakin akan hal itu.

Baiklah! Diandra akan shalat terlebih dahulu. Waktu dhuhur tepat datang, dia pun mengambil air wudhu dan segera bergegas menggelar sajadah. Diandra memakai mukenanya, di hotel itu semua kamar dilengkapi dengan peralatan shalat tentu saja itu bagi muslim yang ingin beribadah.

Diandra menghadap kiblat dan berniat shalat, sekaligus ingin memohon ampunan dan agar dibukakan kejernihan pikirannya. Segalanya adalah dari Tuhan dan tentu saja Tuhanlah yang menentukan hasil akhirnya. Manusia hanya bisa berdoa dan berusaha dan dia harus pasrah pada kehendak Tuhannya, barulah manusia itu akan menemukan ketenangan dan kebahagiaan.

Diandra pun shalat dengan khusyuk, sampai airmatanya tak terasa menetes. Begitu banyak kelupaan dan kesalahan yang diperbuat. Diandra menyadari itu semua, dia pun memasrahkan masa depannya pada Tuhan.

Dalam doanya, Diandra meminta yang terbaik untuknya pada hubungannya dengan Adam dan tentu saja untuk kebahagiaan dirinya dan keluarga. Jika Allah berkehendak, Diandra berdoa agar Adam dibukakan kejernihan pikirannya hingga bisa menentukan mana yang terbaik dari yang baik.

Diandra mengakhiri doanya, dia melipat mukena dan sajadahnya. Saatnya makan siang tentunya dan juga melihat beberapa hal dalam proyek Mata Air Surga dan perkembangannya. Saat mematut dirinya lagi di cermin dan memakai kerudungnya, Diandra mendapatkan sebuah ide, entah ini bisa mementahkan sumpah Adam ataupun tidak. Tapi, sepertinya ide ini akan membuat segalanya selesai.

Benar! Dirinya sudah memutuskan untuk mencintai Adam sepenuhnya, perasaan cinta dan rindu harus diakhiri, apakah akan menuju pelaminan atau tidak usah sekalian. Semuanya butuh kejelasan dan Diandra hanya butuh kejelasan itu.

Menatap wajahnya di cermin, Diandra meyakinkan dirinya yang terpantul di cermin itu. Bayangannya seolah dirinya tengah menyepakati sesuatu, dan mereka menyimpulkan bahwa cinta harus diperjuangkan. Tidak peduli pada hasilnya, biarlah Tuhan yang menentukan hasilnya.

Kini, Diandra mantap melangkah. Dia siap menerima takdirnya apapun itu. Dia pun juga siap misalnya hasil terburuk sekalipun. Dia juga ingin membebaskan kekangan Adam dari janji dan sumpah yang tak masuk akal dan membawanya keluar dari kungkungan itu.

Adam harus bebas! Meskipun kebebasannya bukan berarti kebahagiaannya. Kali ini, Diandra akan membantu dirinya sendiri dan membantu Adam. Dia bersiap dan menyiapkan segalanya.

Diandra keluar dari ruangannya dan menuruni lift. Semuanya akan dimulai, takdir harus berupaya kita bentuk sehingga hasilnya bisa seperti yang kita inginkan. Ataupun jika tidak sesuai dengan harapan kita maka itu sudah yang terbaik dari Tuhan. Dan, manusia sekali lagi adalah makhluk yang harus menetapi setiap hal yang menimpanya dengan kesabaran dan keimanan.

Di atas segalanya, Tuhanlah yang menciptakan manusia dan menentukan takdir mereka. Semua dari Tuhan adalah pasti yang terbaik untuk hamba – hambaNya.

Dan, Diandra tersenyum kali ini. Siap memulai langkahnya dengan senyuman terindahnya.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!