Naura

39. Mengejar Kupu-kupu

Diandra tak bisa melepaskan perhatiannya pada Adam. Benar saja, pemuda itu bagaikan seorang malaikat yang tidak pernah terlihat marah, dia selalu saja ingin membuat siapa saja tersenyum.

Mungkin, itu hikmah dari rasa sakit dan ketidakberdayaan dirinya yang lama sakit. Dia menyadari bahwa senyuman dan kesehatan itu sangat penting. Sejak dia bangun dari ketidakberdayaan itu, Diandra hanya dapat melihat ketulusan dalam setiap hal yang dilakukan Adam.

Adam memiliki pribadi yang penyayang dan sabar, dia juga sangat dekat dengan anak-anak. Meskipun dia belum pernah menikah namun yang paling sering ditemui dari Adam adalah, dirinya sering mengaji atau mengajarkan anak-anak tentang cerita-cerita hikmah. Dia menceritakan kisah hikmah biasanya saat sempat yaitu sore hari. Di pinggir Danau Kenanga, dia akan bercerita tentang banyak hal. Anak-anak ramai datang dan mendengarkannya.

Diandra tak bisa membayangkan di dunia ini ada pemuda seperti dirinya. Kesibukannya dan juga aktivitasnya, di sebuah desa yang nyaman. Berbeda dengan kehidupan kota yang hingar-bingar dan dipenuhi dengan saling menampilkan sesuatu yang fana yaitu megahnya dunia.

Kehidupan di kota menawarkan banyak hal, terutama saling memamerkan kekayaan. Di sini, Diandra merasa tenang dalam kehidupan. Mau tidak mau, cinta sudah tumbuh demikian dalam pada Adam. Diandra merasa bahwa surganya ada di Mata Air Surga.

Hidup di sana, menurutnya sepeti yang diangankan ketika dirinya tak bisa melihat. Seperti pemandangan surga. Diandra pun berharap suatu hari nanti, dia akan menjadi pendamping Adam dan Adam menerimanya.

***

Adam sangat perhatian pada anak-anak dan mengajarinya mereka mengaji. Belajar di pondos pesantren bersama Syarif dulu membuatnya harus kembali mengajarkan ilmu yang pernah dipelajarinya. Anak-anak adalah generasi kebaikan di masa depan.

Apa yang ditanamkan pada anak-anak akan menjadi bekal bagaimana kehidupan para pemuda di masa depan. Mereka harus dibimbing dengan nilai-nilai kehidupan yang baik, sehingga dunia ini bisa terus dilanjutkan dengan kebaikan dan saling menolong.

Adam selalu mengajarkan hal-hal baru untuk anak-anak sembari mengaji. Terkadang, Adam bercerita kepada mereka. Anak-anak sangat senang, karena selain mendengarkan cerita Adam. Ada makanan dan minuman gratis untuk mereka, bahkan ada juga hadiah mainan untuk mereka.

Terkadang, Halimah pun menemani Adam melihat cerianya anak-anak bermain setelah mendengarkan kisah-kisah yang diceritakan Adam.

Anak-anak yang mendengarkan kisah-kisah Adam adalah anak-anak yang merupakan anak-anak dari orang yang membeli properti perumahan di sekitar Mata Air Surga. Banyak orang yang juga pindah disana saat mereka susah mendapatkan tempat yang dekat dengan keramaian dan ingin berusaha. Ada juga perumahan yang agak elit itu untuk mereka yang bekerja dari rumah atau freelancer dan juga rumah para pejabat yang mereka mempersiapkan masa pensiun mereka.

Sore itu, Adam bercerita soal kisah hikmah Ali bin abi thalib yang sangat mencintai ilmu dan bahkan menuntut ilmu dengan kemauan keras. Dia mengikuti Nabi dan berkorban untuk Nabi.

Anak-anak mendengarkan dengan khusyuk. Setelah bubar, mereka dibagikan makanan ringan dan juga minuman segar berupa susu atau coklat.

Halimah berada di dekat Adam, dia sangat bahagia dengan semilir angin dekat danau dan juga melihat anak-anak yang ceria. Mereka berlarian dan berebut mainan untuk bermain bersama.

”Kau tak ingin memiliki anak secepatnya Adam? Agar kamu bisa memiliki keturunan dan dengan itu dia akan menjadi penerusmu di kemudian hari dan mendoakanmu setiap saat?”

Halimah menatap puteranya itu, Adam masih terdiam saja. Namun, sedetik kemudian Adam tersenyum dan menganggukkan kepalanya pada Halimah, Ibunya.

”Tentu saja Adam sangat ingin wahai Ibu, namun dalam hati Adam belum memiliki kemantapan. Entahlah Ibu, Adam sendiri masih bingung dengan perasaan Adam.”

”Kamu harus bisa melupakan Naura dan menjauhkannya dari hatimu. Jika kamu bisa melakukan itu maka kamu akan mendapatkan kemantapan untuk menikah dan mempunyai pendamping hidupmu Anakku,” Halimah memperhatikan puteranya itu.

”Mungkin Ibu benar, meskipun aku sudah berusaha melupakan nama Naura dan menjauhkannya dari hatiku, mungkin bekas itu masih membekas sehingga seolah mencegahku mendapatkan kemantapan hati untuk melangkah dalam pernikahan Ibu.”

Ibunya sangat mengetahui perasaan Anaknya itu, ”Apakah kamu tidak memiliki perasaan pada Diandra? Dia sangat mengharapkanmu anakku, meskipun dia tak mengucapkannya namun Ibu rasa dia hanya mengharapkanmu datang padanya dan menjadikan dia isterimu?”

Adam diam saja, dia kembali menarik pandangannya dari Ibunya itu dan beralih ke arah jernihnya danau. Anak-anak masih terlihat riuh bermain setelah mendengar kisah dari Adam.

Adam menyelami hatinya kembali. Diandra adalah wanita yang sangat baik padanya, wajahnya tentu saja sangat cantik dan dia sangat ceria dan enerjik. Dia juga sangat kaya dan semua hal baik sudah ada pada dirinya. Bahkan, Diandra selalu menemaninya saat dirinya dulu belum pulih dan sehat.

Setelah sehat pun, dia selalu membantunya melakukan segala hal, bahkan kini juga dia dan Diandra menjalin kerjasama dengan penuh amanah dan tanggung jawab dengan berdirinya Mata Air Surga dan Diandra adalah penasehat di Mata Air Surga. Segala sesuatu harus atas persetujuannya sebagai pemilik saham terbesar, tentu saja selain dirinya.

Adam mengambil napas dalam. Dia akan memikirkannya dengan baik akan hal yang dikatakan ibunya. Namun, dia selalu teringat sumpahnya, sumpah yang selalu dia ucapkan setiap Ahad dulu.

Sumpah yang selalu membelit hatinya untuk bergerak dan seolah memenjarakan keinginannya sendiri. Janji itu adalah janji yang selalu dia ucapkan pada Naura, yaitu janji bahwa dia hanya akan menikah dengan Naura.

Meskipun Naura menghkhianatinya, namun janjinya itu adalah sakral. Jika Naura bisa menghapus janjinya, dan dirinya melakukannya bukankah dirinya sama dengan Naura yang meninggalkan janji

Hal itulah yang memusingkan Adam, mungkin itu juga yang menghilangkan kemantapan Adam untuk maju menuju masa depannya sendiri.

***

Danau Kenanga masih indah seperti biasanya, bahkan semakin indah. Siapapun yang memandang danau itu akan tersihir hatinya sehingga menjadilah dia tenang dan tidak lagi gelisah.

Diandra pun demikian, betapa tempat terindah yang pertama kali dia lihat dan ingin selalu dikenangnya adalah Danau Kenanga. Beberapa kupu-kupu nampak indah terlihat berkejaran, sambil mengepakkan sayapnya yang indah mereka terbang meliuk dan saling mengejar satu sama lain.

Mereka seperti mengikuti ritme alam yang sudah Allah ilhamkan untuk mereka. Seperti juga manusia, ada kecenderungan dalam diri mereka untuk saling berkasih sayang satu sama lain. Mereka akan lengkap dengan memiliki pasangan hidup yang akan menerima mereka dari mulai kelebihan dan kekurangannya.

Kini, Diandra pun merasakan hal demikian. Rasa ingin dicintai oleh seseorang memang sudah didapatkan dari kasih sayang keluarganya, baik itu; ayah, ibu dan juga saudaranya. Namun, itu belum lengkap tanpa kehadiran sosok yang mampu menjadikan bahunya sebagai sandaran.

Harapan Diandra adalah seorang lelaki yang mampu bertanggung jawab dan mampu membimbingnya jika dia salah dan terpeleset.

Sosok itu memang sudah ada dalam gambarannya. Dia ingin Adamlah satu-satunya lelaki di dunia ini yang akan memiliki jiwa dan raganya. Dia memang sudah jatuh cinta, sudah lama merasa nyaman dengannya dan sudah lama rasanya memendam rasa dirinya ingin menjadi wanita yang selalu menerima senyuman Adam setiap harinya.

Seekor kupu-kupu terbang mendekati Diandra, ada kedamaian yang tercipta. Kupu-kupu itu seolah mengajaknya bercerita dan membagi duka dan bahagia. Dia menari dan mengelilingi Diandra. Diandra pun tak tahan dan terus memperhatikan dengan matanya yang lentik.

Kupu-kupu itu bahkan tertarik dan hingga di jilbabnya yang menutupi pundaknya. Diandra tak bergerak dan diam saja penuh dengan syahdu, dia melirik kupu-kupu berwarna-warni itu. Kupu-kupu itu diam dan kaki-kakinya masih bergerak kesana kemari, bergantian dan lainnya tetap berpijak.

Mata kupu-kupu itu bulat penuh dan sungutnya terus bergerak kesana-kemari. Dia sesekali melihat Diandra, namun Diandra berusaha sebisa mungkin untuk diam dan seperti patung. Kupu-kupu itu kembali berdiam diri dan kembali melakukan aktivitasnya dengan bergantian membersihkan kaki-kakinya yang panjang itu.

Diandra tak tahan, dia ingin memegang kupu-kupu itu. Bukan untuk menyiksanya, melainkan untuk sekedar melihat lebih dekat dan memegangnya dengan tangannya. Tangan kanannya bergerak perlahan, mendekat dan terus mendekat dengan sangat pelan.

Perlahan namun pasti, tangan itu bergerak demikian sangat lambat. Terus mendekat dan ingin melihat lebih dekat sehingga Diandra harus memegangnya dan melihat langsung dari dekat.

Sepersekian detik ketika tangan itu dengan cepat hendak meraih kupu-kupu itu dan meraih sayapnya, mata dan sungut kupu-kupu itu beraksi cepat. Ada sinyal yang didapatkannya, bahaya mendekat. Dia pun langsung terbang menari di atas Diandra. Diandra tak bisa menangkapnya, hampir saja dan sedikit lagi.

Perasaannya tadi sepertinya sih kena. Rasa penasarannya pun tergugah dengan cepat. Harus dapat! Seolah dia ingin mendapatkan kupu-kupu itu apapun yang terjadi. Kupu-kupu itu malah seolah mengejek Diandra dan terbang memutarinya.

Diandra pun semakin tertantang, dia meraih kupu-kupu itu. Namun, gerak cepat kupu itu memang bereaksi sangat cepat pada sesuatu yang membahayakan dirinya. Kupu-kupu itu pergi dari Diandra namun masih terbang rendah.

Diandra yang sudah bernafsu untuk mendapatkannya mengejarnya, langkahnya seolah ringan saja berjalan di rerumputan. Bahkan, Diandra melepas sandalnya dan mengikuti kupu-kupu itu.

Dia benar-benar terhipnotis, dia terus mengikuti kupu-kupu itu terbang, meliuk dan melewati tanaman bunga. Diandar tersenyum, ditimpali sinar matahari yang bersinar menerpa wajahnya. Wajah itu terlihat demikian bersinar, sayap kupu-kupu pun terpias sinar matahari dari pantulan air danau juga membuat sayap terbangnya semakin indah bak cahaya warna-warni yang terpancar.

Diandra terpikat, dia tak sadar kalau kupu-kupu itu mendekati bibir danau. Namun, karena seolah terhipnotis dan saking indahnya dia tertawan. Kakinya tak sengaja terperosok di batas danau dan melewati bunga-bunga.

Diandra kehilangan keseimbangan, kupu-kupu itu pun terkaget dan langsung terbang membubung keatas dengan tinggi. Diandra tak sempat memulihkan keseimbangannya dan tubuhnya terhuyung jatuh.

Byurrr!

Dari sisi danau yang lain, di bawah tempat duduknya. Adam sedari tadi melihat hal itu ketika Diandra tengah bermain-main bersama kupu-kupu itu. Namun, ketika mendekati bibir danau, Adam merasa khawatir dan dia berteriak-teriak pada Diandra untuk menjauh dari bibir danau.

Namun karena tempatnya agak jauh, Diandra tidak mendengarnya. Adam pun akhirnya bangkit dari duduknya dan mencoba mendekati Diandra untuk menegurnya. Namun, belum sempat menegur Diandra sudah terperosok kakinya dan tercebur tubuhnya ke danau.

Adam pun berlari kencang, sangat kencang dengan sekuat tenaganya. Ketika dia melihat Diandra sudah di air dia pun langsung melompat dengan cepat. Baginya, berenang adalah sesuatu yang sering dilakukannya sejak kecil dulu terutama bersama Syarif saat lomba berenang di danau tersebut.

Byurrr!

Adam menceburkan tubuhnya, dia melihat Diandra kesulitan bernapas di depannya. Dia segera mengayuh tangannya berenang mendekat dan meraih pundak Diandra. Diandra sendiri seolah tak sadar dan hanya membuka mulutnya sambil mencari oksigen dan kedua tangannya mencipak-cipak tak jelas.

Tangan kanan Adam langsung melilit di bawah pundak Diandra dan menariknya keatas agar kepala Diandra bisa bernapas dengan lega. Tangan kiri Adam pun langsung menyusul masuk di bawah pundak Diandra dan mempertemukan tangan kanan dan kirinya.

Adam berenang mundur ke belakang sambil menjaga kepala Diandra agar selalu di atas agar tak menelan air lagi. Matahari memanggang mereka. Adam sedikit kesulitan dalam berenang ke pinggir karena membawa beban. Kakinya terus menjejak dan bergantian mengayuh di bawah air.

Mereka pun dengan susah payah sampai di pinggir. Adam meraih sebuah batu besar dan  menariknya sehingga mereka bisa naik ke atas. Adam sampai di dekat undakan yang memang disediakan untuk cuci tangan ketika ingin merasakan air danau. Mereka sampai, Adam manggut-manggut pada Diandra agar dia naik melalui tangga yang dibuat di pinggir danau itu.

Adam mendorong punggung Diandra, dan dia basah kuyup. Diandra pun bisa perlahan naik dan Adam mengikutinya. Mereka kelelahan dan sudah berada di atas dan  Adam pun tergeletak menghadap langit di bawah sebuah pohon besar. Napasnya masih kempis-kempis karena lama tak olahraga dan lama tak berenang tentunya.

Diandra terduduk dan lemas rasanya seluruh badannya, seolah hampir saja dia mengalami kematian dan bisa selamat adalah sebuah kesyukuran mendalam.

”Kamu baik-baik saja Diandra? Uhuk!” Sambil masih menatap langit dan ngos-ngosan, Adam bertanya pada Diandra. Dia pun masih lelah dan batuk-batuk.

”Kamu sendiri bagaimana Adam?” Diandra pun juga tersengal napasnya dan batuk-batuk mencoba menenangkan dirinya.

”Jangan kau kejar kupu-kupu terbang. Kamu kan tahu mereka sangat cepat dan tidak mudah ditangkap?”

Diandra terdiam, langit masih biru dan udara semilir menerpa wajah mereka yang masih membasah.

”Kau ini, kupu-kupu itu seperti dirimu. Kamu terbang sesukamu dan sulit ditangkap. Hmmm... yah, kamu memang seperti kupu-kupu. Apakah aku tak boleh mengejarmu?”

Adam pun diam dan tak meneruskan kata-katanya. Ucapan Diandra itu benar-benar dalam dan menusuk hatinya dengan cepat dan tepat.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!