Naura
23. Antara Adam dan Syarif (1)
Naura yang mengisi seluruh ruang hati dan jiwa Adam. Menghilang bagai sebuah mimpi yang indah dan akhirnya bangun lagi. Adam tak mengerti dengan itu semua, dirinya berusaha bangkit dari keperpurukan dan ketidakberdayaan.
Meskipun itu sangat berat diterima oleh kenyataan. Namun, dia tak tega lagi melihat airmata ibunya terus menetes.
Lama dipendam, akhirnya ketidakberdayaan yang selalu menjadi bebannya lama-lama runtuh. Adam melawan sekuat tenaga untuk bisa bangkit kembali. Di matanya, hanya ibunya yang menjadi harapannya untuk bisa sembuh kembali.
Tak ada yang lain! Jika Naura saja meninggalkannya, lalu dia akan bangkit untuk siapa kecuali untuk Ibu yang sudah melahirkan dan menjaganya setiap saat.
Setidaknya, hari ini harus dimulainya kembali dengan menjadi dirinya sendiri. Berjuang dengan pijakan yang kuat sebagai seorang Adam. Hamba Tuhan yang baru dilahirkan kembali. Adam mulai meyakini, hari-hari di depannya akan selalu diiringi kebahagiaan.
Jika tak bisa bermanfaat bagi orang banyak, cukup tidak membuat sedih orang tua dan temannya, Syarif. Mereka adalah sosok yang selalu ada bersamanya dikala dirinya menghapus kesedihan. Karena ribuan teman yang bersamamu tersenyum itu tidak sebanding dengan mereka yang mengusap airmatamu.
Bismillah! Adam mencoba untuk bisa bangkit dari keterpurukannya. Dia akan berusaha untuk memperbaiki jalan hidupnya kembali.
Adam masih terduduk di depan Danau Kenanga, tempat kenangan terindah dalam hidupnya bersama orang yang sangat dicintainya, Naura. Perlahan, Adam mulai bangkit dari duduknya. Kakinya masih sangat ringkih, perlahan Adam mengambil batu di bawah sekitaran kakinya. Ada batu dengan lempeng yang indah berbentuk bulat pipih.
Diambilnya batu tersebut. Adam berdiri meski agak goyak berdirinya, dia mengambil ancang ancang dan menarik batu itu dengan tangan kanannya ke belakang. Mencari angin posisi yang tepat dan lemparan pun terjadi.
Air mencipak, batu itu memantul sebenyak 5 kali di permukaan air. Adam tersenyum, kekuatannya masih ada. Sudah lama rasanya dia tidak memiliki kemampuan untuk menggerakkan badan dan anggota tubuhnya. Kesembuhannya ini merupakan berkah baginya, Adam kini yakin. Dia sudah bersiap untuk mengarungi hidup dengan kesungguhan.
”Lemparanmu bagus Adam! Meskipun sudah tertidur bertahun-tahun, kini kamu sudah bisa melemparkan batu kembali dengan baik. Seperti hidupmu mulai sekarang, harus kamu tata dengan baik pula. Dan satu lagi, jangan pernah kecewakan Ibumu,” Syarif mengangkat tangan kanannya dan telunjuknya menunjuk kearah Adam.
Adam terseyum, ”Kau tidak pernah berubah. Selalu mengoceh soal apa yang harus kuperbuat. Ha.. ha.. ha.., tapi dengan itu kamu memang sahabatku Syarif,” Adam menepuk perlahan pundak sahabatnya itu dan melewatinya lalu duduk lagi di kursi kayu tersebut.
Syarif entah kenapa kebahagiaannya sudah merupakan suatu berkah jika Adam bisa mengenalnya dan berbincang lagi dengannya. Sudah sangat lama sekali mereka tak bersama dan ngobrol bersama. Hari ini, mungkin Syarif merasa bahwa hari Ahad ini lebih dari hari raya idul fitri. Sahabat satu-satunya yang selalu bersamanya dulu di pesantren adalah Adam.
Mereka semenjak Sekolah Dasar di pesantren hingga Sekolah Menengah Atas. Lalu, mereka berpisah saat masing-masing menjalani kehidupannya. Adam bersekolah lagi dan Syarif berhenti untuk bekerja. Namun, mereka selalu bertemu. Adam memiliki keinginan yang kuat untuk belajar sehingga dia meneruskan kuliah dan mengambil jurusan Sastra karena dia suka sastra.
Karena suka dengan sastra itulah, dia selalu menggambarkan Naura sebagai keindahan yang bisa menutupi seluruh dunia ini, itu selalu yang dikatakannya. Mereka sahabat yang selalu bertemu saat malam hari atau ketika berada di mushola desa yang dekat dengan rumah mereka.
Di depan Syarif sendiri, Adam selalu membicarakan Naura. Inilah, itulah. Dunia seolah hanya terisi Naura, oleh karena itu cintanya demikian besar dan ketika ditinggalkan Naura, hanya ratapan yang tersisa.
”Kau belum menikahi Aisyah, Syarif?”
Pertanyaan Adam membuat Syarif terbangun dari lamunannya. Benar saja, Aisyah adalah anak pesantren yang dulu ditaksir oleh Syarif. Cinta pun bersambung, mereka berkomitmen untuk bersama. Namun, karena Adam pesakitan itulah Syarif meminta orangtua Aisyah untuk menunda pernikahan mereka. Demi bisa menjaga sahabatnya itu, Syarif rela menunda kebahagiaannya yaitu menunda pernikahannya. Untungnya, Aisyah tidak komplen dan setia menunggu.
”Kau ini Adam, bagaimana bisa aku menikah sedangkan kamu masih selalu di kamar saja! Aku tak ingin di hari pernikahanku kau tak ada Kawan,” Syarif tak melihat Adam melainkan matanya lurus menatap Danau seperti Adam ketika bicara, dia bertingkah seperti Adam yang selalu melakukan hal itu.
”Sok puitis kamu Syarif, sudah seperti pujangga saja,” senyum Adam merekah dan hal itu membuat Syarif ikut tertawa.
”Aku belajar darimu Kawan, bukankah kamu yang selalu menjawab pertanyaan serius orang lain dengan kata-kata aneh itu.”
Dan, tawa dua sahabat itu pun kembali renyah bersamaan, suara tawa kecil mereka menimpali suara kecipak ikan yang mengambil oksigen dari atas air di Danau Kenanga tersebut.
”Eh Syarif, jawablah pertanyaanku tadi dulu. Kapan kau akan menikahi Aisyah?” Adam kembali bertanya pada pertanyaan yang tadi,dia ingin sahabatnya itu menikah dan tak lagi menungguinya.
”Jadi Adam..., apakah kau sudah baikan? Jika kamu mau berjanji untuk datang pada pernikahanku maka aku akan secepatnya melamar Aisyah. Itupun kalau kamu sudah sembuh total tentunya.”
Adam membenarkan posisi duduknya, memang tubuhnya masih belum sehat benar. Seolah dia baru saja koma untuk beberapa tahun, tubuhnya seolah masih ringkih mungkin hanya butuh beberapa hari pemulihan saja. Adam pun meyakinkan dirinya agar segera pulih dengan baik dan bisa melakukan apapun sendiri. Kesedihan dan ketidakberdayaannya sangat membekas, dia sebenarnya hanya tak bisa menerima kenyataan yang menimpanya.
”Huuffff,” suara napas keluar perlahan dari mulut Adam terdengar juga oleh Syarif, ”Kau tahu Syarif, sebenarnya selama dua tahun lebih aku sadar apa yang terjadi dan aku mengerti semua kondisi. Hanya saja..., aku hanya tak bisa menerima kenyataan yang menimpaku. Sebenarnya aku hanya tak bisa menerima kenyataan dan aku merasa tak ingin hidup lagi.”
Adam menatap Danau lagi, Syarif mendengarkan dengan seksama. Sepertinya, Adam akan bercerita banyak dan Syarif siap mendengarkan cerita sahabatnya itu dan menunggu dengan sabar.
”Aku tak bisa menerima kenyataan kalau Naura meninggalkanku. Lalu..., aku ingin hidupku berakhir saja. Namun..., aku tak bisa dan selalu menangis karena kalian; Ibu dan sahabatku selalu adauntuk menjagaku bahkan selalu mendukungku. Hal itu yang membuat ada semangat untuk hidup namun aku kehilangan semangat untuk bangkit dari keterpurukan. Akhirnya, aku hanya bisa menangis.
Aku adalah orang yang hancur Syarif, aku tak bisa sabar menghadapi ujian dan aku orang yang gagal dalam menghadapi kenyataan. Tapi, kalian orang yang selalu membersamaiku tanpa mengeluh.”
Adam tersenyum dan menatap langit yang indah bertahtakan kecerahan dan matahari yang mengirini dengan nyalanya.