Naura
21. Beristirahatlah
Malam pun menyapa, malam Ahad. Diandra merasa benar-benar tak kuasa melihat kondisi Adam. Bahkan, dia tak pernah keluar dari kamarnya. Ibunya yang benar-benar membersihkan tubuhnya sebagaimana bayi yang dibersihkan oleh Ibunya. Setiap shalat juga demikian.
Entahlah, Diandra tak habis pikir seberapa besar cinta Adam pada Naura hingga benar-benar menjadi sosok seperti bayi yang bahkan bangun susah.
Herannya, ketika waktu shalat datang. Adam akan bergerak untuk wudhu tayamum dan shalat sambil tetap berbaring. Diandra pun beberapa kali meminta izin masuk ke kamar Adam bersama Ibunya saat menyuapi Adam. Adam benar-benar seperti bayi sekarang hanya saja kini dia sering menjawab pertanyaan yang diucapkan Ibunya.
Malam itu, Halimah juga tak bisa tidur di kamarnya sehingga mereka berkumpul tidur di spring bed di ruang tamu. Halimah terbangun saat malam dan melaksanakan shalat malam dengan menggelar sajadah di ruang tamu tersebut.
Diandra merasa ada suara yang terdengar lirih, ada semacam isak tangis yang dia dengar. Diandra pun mulai tersadar dan bangun membuka matanya, Dia melihat sosok Halimah yang tengah duduk bersimpuh dan menengadahkan tangannya keatas. Dia berdoa, diselingi linangan airmata yang isaknya pun terdengar lirih.
Diandra terkesima, sayup-sayup dia mendengar doa yang teralun dahsyat menembus hingga ke langit. Doa seorang Ibu yang nelangsa untuk kebahagiaan anaknya.
”Bangunkan putera hamba ya Allah...”
Sudah berulang kali Diandra mendengar kalimat itu, diiringi isak tangis pula. Benar kata pepatan, kasih sayang Ibu itu tak terkira bahkan tak terbalas oleh intan permata yang memenuhi dunia sekalipun.
Luka seorang anak adalah luka berlipat baginya. Tersayat hati Diandra mendengarkan doa suci dari seorang Ibu tersebut. Diandra pun bangun dan membenahi rambutnya yang terurai. Dia mengikat rambutnya dan berjalan, seolah ada yang menuntun langkahnya dan menuju kamar mandi.
Diandra mengambil air wudhu, lama sekali baginya tak melaksanakan shalat malam. Dulu waktu gelap, dia jarang melakukan shalat malam, kini saat dia sudah bisa jelas melihat dan kakinya normal. Diandra tak mau melalaikannya, mumpun masih ada kesempatan dan Tuhan masih menunjukinya. Diandra pun bergegas dan mengambil mukena dan sajadah. Dia menggelar sajadah tepat di sebelah Halimah, dia pun mulai shalat dengan khusyuk.
Saat shalat malamnya selesai, Diandra ikut menengadahkan tangannya keatas. Dia berharap dengan sungguh-sungguh kesembuhan untuk Adam dan dapat melakukan aktifitasnya seperti sediakala dan dapat bercengkerama dengan Ibunya.
Keduanya tengah sibuk dengan ibadahnya, senyap malam menjelang pagi pun terasa begitu menyesakkan jiwa. Jiwa yang terpanggil untuk datang adalah mereka yang memang digerakkan jiwanya oleh Tuhan untuk menghadapnya. Mereka bukanlah orang yang memamerkan ibadahnya kepada orang lain melainkan mereka memang dituntun dan digerakkan oleh Tuhan.
Ketika sedang khusyuk ibadah itulah, ada isak tangis yang terdengar lirih namun terasa menusuk kalbu. Halimah dan Diandra pun mendengarnya. Mereka mulai menajamkan pendengaran dan mengakhirkan doa mereka sendiri.
Sayup-sayup, suara itu pun terdengar semakin jelas karena heningnya malam sedangkan bi Jamilah masih tertidur.
”Ya Allah...” Suara rintihan itu menyayat, Diandra dan Halimah terdiam, mereka merasa bahwa itu adalah suara seorang dari kamar Adam.
”Tak kuasa aku menahan ujian ini. Biarlah jiwaku hancur saja jika Kau tak memberi kekuatan. Hancurkan saja ragaku jika kau tak memberi kekuatan Tuhan...”
Diselingi tangis yang membuat merinding.
”Ya Allah, jangan kau buat hambaMu ini menjadi beban bagi Ibuku ya Allah. Cukupkan derita ini, Ibuku... oh Ibuku...”
Halimah berderai airmatanya, dia pun tak kuasa menahan airmatanya dan bangkit menuju kamar Puteranya. Benar saja, itu adalah suara Adam. Halimah berlari mendekati Adam yang masih berbaring namun Adam berderai airmatanya.
”Kamu kenapa Anakku, Ibu tak pernah merasa terbebani dengan dirimu. Hidupku adalah hidupmu, dan sakitmu adalah deritaku. Tidak ada beban bagi Ibu Nak,” Halimah duduk di samping Adam yang berbaring, Diandra juga menyusul dan berdiri di dekat mereka.
”Ibu... Ibu... Ibu...”
”Iya Anakku Adam, Jangan cemas kamu akan segera sembuh dan dapat menggenggam raga dan jiwamu kembali. Kamu akan kembali seperti semula, lelaki yang percaya diri dan mampu menyelesaikan segalanya.”
”Ibu..., maafkan Adam Ibu...”
Halimah tak kuasa menahan kesedihannya, dia pun memeluk kepala Adam dan memangkunya di pangkuannya. Memang fisiknya sudah tua, namun masih mampu menampung beban seberat apapun demi puteranya.
”Adam baru saja shalat?”
Adam mengangguk, ”Iya Ibu. Adam bermimpi seorang bidadari menarikku dari kegelapan. Dia menarikku dan mengajakku untuk melihat taman yang indah penuh dengan bunga dan melihat air terjun.
Lalu..., dia berkata, bahwa sudah saatnya kamu mulai bangun karena hari-hari panjangmu akan segera dimulai.”
Halimah dan Diandra mendengarkan kata-kata Adam. Kini mereka tahu bahwa Adam sudah memiliki banyak perkembangan. Bahkan bisa bercerita yang dulu hanya terdiam dan mengangguk atau menggeleng saja.
”Adam lelah Bu, Adam mau tidur. Rasanya..., hampir berbulan-bulan Adam tak tidur Ibu.”
Benar saja, Adam langsung tertidur lelap. Halimah pun merasa bersyukur dan meneteskan airmatanya. Itu adalah kebahagiaan yang tinggi baginya, bagaimana tidak Adam sudah bercerita dan juga Adam bisa tidur nyenyak. Biasanya, ketika Halimah datang melihat puteranya, Adam hanya berkedip setiap saat dan menangis. Tak pernah tidur atau Halimah tak pernah melihat Adam tidur sejak pesakitan dua tahun lebih yang lalu.
Halimah melihat wajah Diandra yang berdiri di dekat kamar Adam itu. Halimah meneteskan airmatanya lagi dan mengucapkan lirih terima kasih pada Diandra, karena dialah bidadari yang datang menarik Adam dari kegelapan itu. Halimah yakin itu, dia diutus Tuhan sebagai penyembuh bagi Adam.
Halimah melihat Adam nyenyak dia pun mengangkat kepala Puteranya itu perlahan dan memindahkannya perlahan di bantal. Adam juga tak terbangun sama sekali, Halimah mengecup kening Adam dan pergi keluar kamar Adam dan Diandra mengikutinya.
”Kamu tidurlah Diandra, masih pukul 03.00, masih bisa untuk tidur. Doamu diijabah oleh Tuhan, Insyaallah. Adam telah mengalami kemajuan sangat baik semenjak kamu ada disini. Entah, Ibu harus membalas budi apa padamu karena kamu adalah penyelamat bagi Ibu dan Adam.”
”Ibu..., jangan bicara demikian. Ibu dan Adam adalah penyelamat bagi saya,” Diandra tersenyum pada Halimah, ”Dengan pertemuan kita, Tuhan membuat mata saya bisa melihat lagi dan saya bisa berjalan. Bahkan Diandra juga tidak tahu Diandra harus membalas apa dengan kehidupan baru yang Diandra peroleh ini.”
Tuhan lagi-lagi memperlihatkan, betapa takdir memang menuntun manusia dan sudah ditulis olehNya. Kemanapun dan dimanapun, manusia tak bisa luput dari kehendak Tuhannya.
Keduanya langsung menghapus airmata mereka masing-masing. Saat itu, Jamilah terbangun melihat kedua orang itu sedang duduk mengobrol.
”Malam-malam begini ada apa Non Diandra, dan Ibu Halimah juga sudah bangun?” Tanya Jamilah yang merasa bingung dengan kondisinya, malam menyapa dan dia juga baru bangun dan tak mengerti kondisi apa yang terjadi.
”Tidak apa-apa bu Jamilah, Kita hanya mengobrol saja. Jika ibu mau shalat malam silakan. Kita akan tidur kembali,” bagitu penjelasan singkat dari Halimah pada Jamilah. Jamilah pun paham dan segera bangkit, jarang baginya shalat malam namun karena sudah dinasehati, dia pun menuju kamar mandi untuk bersiap shalat.
Halimah mengangguk pada Diandra dan rebahan kembali dengan memiringkan tubuhnya ke kanan. Diandra mengikutinya dan tidur di sebelah Halimah, baginya tak mengapa dan tak jadi soal meskipun dia berasal dari keluarga kaya raya.
Halimah masih terlihat meneteskan airmata bahagianya, entah kenapa Diandra menyadari bahwa Halimah masih meneteskan airmata. Diandara pun menggerakkan tangan kirinya dan memeluk Halimah.
Ada kesejukan yang dirasakan Halimah, pelukan lembut dari gadis itu seolah seperti air hujan yang mengguyur lahan kering tandus yang sudah bertahun-tahun tak turun hujan. Atau seperti angin yang menghembuskan noda dan kotoran yang sudah bertahun-tahun tak dibersihkan.
Ada ketentraman yang dirasakan Halimah.
”Terima kasih nak Diandra, Ibu selalu berdoa engkau selalu mendapat perlindungan dari Tuhan dan hidupmu selalu bahagia.”
Dari belakang tubuh Halimah, Diandra pun pelan mengucapkan Amin. Hubungan mereka benar-benar seperti anak dan ibu kandung. Halimah berdoa agar kebahagiaan ini bisa bertahan dan bahkan dia berdoa terlalu jauh, agar Adam dan Diandra bisa menjadi suami isteri atau setidaknya sahabat baik jika memang Tuhan berkehendak.
***
Diandra pagi itu melihat Adam sudah mulai berjalan meskipun tertatih-tatih. Dia berjalan sendiri dan pandangannya sudah mulai seperti manusia normal bukan mata yang kabur dan melamun.
”Kamu mau kemana Adam?” Halimah menghampiri puteranya itu, Diandra masih duduk di ruang tamu melihat keduanya di pintu yang menuju keluar rumah.
”Ibu..., Aku ingin ke Danau Kenanga. Setidaknya, untuk mengucapkan selamat tinggal pada Naura. Adam akan mencoba bangkit dari sakit dan ketidakberdayaan ini. Adam ingin mengucapkan salam perpisahan pada Naura.”
”Tapi... Naura kan sudah pergi Adam. Dia tak ada di Danau Kenanga?”
Adam menatap perlahan dan dalam pada Halimah Ibunya, ”Ibu..., mungkin Naura memang sudah pergi. Raganya sudah pergi jauh meninggalkanku, namun Ibu. Jiwanya masih tertinggal di Danau Kenanga. Dia terpaksa meninggalkan Adam Ibu, Adam akan menyampaikan perpisahan dan Adam akan memulai hari-hari Adam yang baru Ibu.”
Ibu Halimah pun mengangguk dan Syarif juga sudah berada di depan rumah dengan motornya hendak mengantar Adam seperti biasa. Syarif sedang bersama Fandi, semalam Fandi menginap di rumah Syarif.
”Adam...,” suara lembut milik seorang wanita. Diandra.
”Nona Diandra ya,” Adam melirik kearah wanita yang tengah duduk di meja tamu, ”Terimakasih sudah menjagaku selama ini.”
”I... Iya Adam. Bolehkah saya ikut ke Danau?” Ada debar yang tiba-tiba menyeruak di dada Diandra. Entah kenapa, baru kali ini dia merasa kalau Adam benar-benar berkata padanya. Selama ini seolah Adam hanya mengigau.
”Silakan Nona. Kau berhak tahu segalanya,” Adam tersenyum kearah Diandra lalu berbalik dan keluar menuju pintu dan disana ada Syarif dan Sandi.
Adam berjalan tertatih perlahan dan Halimah membantunya perlahan menuruni dua tangga di pintu keluar. Menuju ke arah Syarif yang berada di bawah tenda tempat beberapa orang yang sering berobat alternatif dengan airmata Adam.
”Syarif sahabatku..., Antar aku yang terakhir kalinya ke Danau ya,” senyum Adam tiba-tiba begitu indah dengan mata yang memancar penuh kehidupan. Tertimpa sinar mentari pagi, senyum itu bagai senyuman bayi pertama kali saat dia sudah dilahirkan ke dunia.
”Adam!” Syarif tak percaya, dia mengucek matanya berkali-kali dan terus menerus melakukannya, ”Aku tidak sedang bermimpi kan?” Syarif benar-benar tak percaya, jika itu benar Adam dan dia berkata sahabatku. Artinya, jiwanya telah kembali, dia telah sadar kini.
”Tak perlu bermimpi untuk bisa bersamamu Syarif!”
Syarif tak bisa menahan dirinya lagi, dia berlari menubruk sahabatnya itu. Dia memeluknya erat sekali. Sampai-sampai Adam merasa sakit di tubuhnya yang kini ringkih.
”Sakit Syarif!”
”Tak peduli, aku begitu bahagia Adam!”
Syarif terus memeluk kencang Adam, airmatanya berderai. Ujian akan berlalu, dan angin segar telah kembali. Hujan akan datang pada saatnya yang tepat dan roda kehidupan juga pasti berputar.
Beberapa orang menyaksikan adegan itu merasa bahagia dan tersenyum, mereka melihat ketulusan sahabat dan keluarga. Semua orang merasakan cinta dan ketulusan di dada mereka.