Naura

16. Tiga Sisi Hati

Hari-hari dilalui Naura seperti ribuan waktu yang selalu mengingatkannya masa lalu. Ingat bahwa waktunya telah berlalu begitu cepat. Rasa cinta yang dulu diberikan suaminya, Sandi. Banyak berubah.

Apakah hal itu karena dirinya belum juga memberikan keturunan baginya? Tapi, bukankah mereka sudah berusaha dan masih banyak waktu yang bisa diberikan padanya. Kesempatan itu harusnya diberikan, setidaknya mereka menikah baru beberapa tahun saja.

Rasa cinta suaminya, sudah banyak berkurang. Berbeda saat pertama mereka menikah, kini bahkan tak ada sapaan hangat menanyakan kabar ketika Sandi pulang. Bahkan, suaminya langsung tertidur dengan alasan kelelahan.

Mungkin, pekerjaan di kantor demikian banyak dan cukup menyita waktunya sehingga Naura berusaha memahami kondisi suaminya. Lama kelamaan, Naura mulai terbiasa diacuhkan dan tidak dipedulikan. Sapaan sayang yang dulu sering didapatkan hilanglah sudah.

Sejak merasa kesepian, Naura jadi memikirkan lelaki yang sudah ditinggalkannya, Adam. Entah kenapa, rasa kasihan memenuhi jiwanya lagi. Namun, Naura selalu berusaha menepis perasaannya yang selalu mengarah kepada Adam. Sosok yang dulu selalu membuatnya berbunga-bunga dan selalu tersenyum.

Masa-masa indah itu ..., tidak mungkin akan kembali!

Astaghfirullahal ’adhim. Naura kembali berdzikir melupakan perasaan aneh yang tiba-tiba saja masuk ke dalam pikirannya. Dulu, dia teringat sudah menghancurkan hidup Adam, dan kini seolah dia yang mendapatkan balasan secara langsung.

Bukan karena harta ataupun tak cinta pada Adam. Naura meninggalkan Adam karena hutang keluarga dan menyelamatkan keluarganya. Naura sudah mengikhlaskan itu semua. Namun nyatanya, dirinya bagaikan sedang membakar dirinya dan mencoba menerangi sekelilingnya atau keluarganya.

Lambat laun, setelah menikah. Naura mencoba mengikhlaskan jalan hidupnya dan berusaha sekuat tenaga mencintai suaminya, Sandi. Setahun pernikahannya, dia pun mulai bisa mencintai suaminya dan melupakan Adam.

Entah apapun yang terjadi dengan Adam, Naura mencoba mengubur dalam-dalam nama Adam dari dasar hatinya terdalam.

Kebahagiaan hidup memang membuatnya lupa pada Adam. Naura hanya mendoakan dari jauh semoga Adam segera bangkit dari keterpurukannya dan segera kembali memulai hidup baru. Naura juga berdoa agar Adam menemukan pendamping yang akan mencintainya sepenuh hati.

Namun, dua tahun lebih pernikahan Naura, bahkan hampir mendekati tiga tahun. Semuanya berubah total. Sandi berubah drastis, bahkan seolah dia adalah orang lain ketika di rumah.

Terkadang berhasrat pada Naura, namun lebih sering membiarkan Naura begitu saja seolah tak ada pegangan sama sekali. Pulang sekedar tidur dan dia akan pergi kembali.

Kecurigaan mulai muncul, suaminya itu sering pulang dalam kondisi mabuk. Naura berusaha mengingatkan suaminya namun hanya bentakan yang didapatkan oleh Naura dan memarahinya agar jangan ikut campur urusan suaminya.

Sekian lama, Naura pun diam saja. Hutang keluarganya masih terus terbayang di pikiran Naura, perasaan cinta yang mulai tumbuh juga terkadang goyah. Namun lagi-lagi, hutang dan menyelamatkan keluarganya lebih diutamakan. Naura pun berusaha terus untuk mencintai suaminya karena suaminya adalah imam baginya.

Naura selalu berdoa, suatu hari semoga saja suaminya itu berubah.

Curiga, ya. Meskipun selalu curiga, namun apa daya. Naura hanya bisa menjalani takdirnya. Dia hanya merasa bahwa takdir sedang membalas kepadanya. Orang yang berbuat dzalim, suatu hari akan mendapatkan akibat dari kedzalimannya.

Dia sudah mempermainkan hidup Adam, dan munkin ini adalah ganjaran dirinya di dunia karena sudah mempermainkan perasaan orang yang bersih hatinya seperti Adam.

Hingga, saat itu tiba. Sandi membawa wanita  yang seksi datang ke rumah dan meminta izin untuk menikah lagi.

Pikiran Naura seketika seperti mau pecah dan tak bisa berpikir jernih kembali.

***

Benar-benar tak dapat dipercaya. Diandra bisa berdiri tegak dan matanya melirik kesana-kemari. Dia memperhatikan tiga orang yang baru saja datang tergopoh-gopoh. Diandra sebelumnya ketika ditinggal bi Jamilah, dia menekuk kedua kakinya dan berhasil. Diandra lalu membuka matanya, semua terlihat dengan jelas.

Diandra terpaku, warna apakah yang berada di sekelilingnya di kamar itu. Dia merasa bahagia dan segera memiringkan tubuhnya ke pinggir spring bed, dia mulai melatih kakinya turun.

Diandra menyangga kedua tangannya ke pinggir kasur dan tersenya bisa. Diandra mengangkat tubuhnya mencoba berani. Dan berhasil, saat itulah ketiga orang dengan cepat masuk dan memanggil namanya. Mata-mata mereka saling takjub dan tak bisa mengungkapkan ucapan dengan bibir mereka. Semuanya saling terpaku melihat kondisi Diandra dan angin pagi membelai wajah mereka dengan dinginnya.

”Ayah..., Ibu....”

Kalimat yang diiringi tangis kebahagiaan itu terucap gemetar dari bibir Diandra saking bahagia dan campur aduk perasaannya. Tak bisa lagi perasaan bahkan melukiskannya, kejadian itu adalah mukjizat bagi Diandra dan itu seperti mimpi.

”Ini bukan mimpi kan? Diandra sedang tidak bermimpi kan?”

Diandra menggerakkan tangannya ke depan sebagai bentuk penguatan keyakinan pada kedua orangtuanya. Meskipun dia tak pernah melihat mereka dari kecil, namun kali ini dia sudah memiliki insting bahwa kedua orangtua yang ada di depannya adalah Ayah dan Ibunya.

”Puteriku... Oh!”

Sedu sedan bahagia tiba-tiba memecah kesunyian kamar tersebut. Sarah dan Hamid berhamburan mendekati Diandra dan merangkulnya dari sisi kanan dan kiri. Isak tangis bahagia itu bersatu luruh tanpa bisa dibendung. Tak bisa digambarkan kebahagiaan Hamid dan Syarah melihat mimpi mereka menjadi nyata, Diandra dapat berdiri dan melihat mereka.

Diandra sendiri masih tak percaya bahwa dirinya bisa tegak berdiri dan dia menatap ruangan tersebut. Ayahnya, Ibunya hingga bi Jamilah. Diandra mengoceh demikian banyak dan bertanya pada Ibunya soal warna yang selalu membuatnya penasaran. Dia bertanya apakah ini warna putih, warna merah, warna hijau, warna kuning dan semua warna.

Sarah Emin begitu bahagia, dia bahkan seperti seorang yang seperti muda kembali dan bersemangat menjelaskan semua hal lagi pada puterinya.  Tak lepas dari itu, Hamid bahkan tetap tak bisa menahan airmatanya, puterinya yang disayanginya sudah bisa melihat dan berdiri dengan tegak.

”Puteriku, ayo coba berjalan!” saking antusiasnya, Hamid langsung tak sabar dan memegang tangan Diandra untuk membantunya berjalan.

Benar! Tadi Diandra hanya berdiri, dan bagaimana kalau melangkah? Bagaimana rasanya berjalan dan melangkah. Benar, harus dicoba.

Diandra mengangguk pada Hamid, Ayahnya. Dia sedikit gemetar di kaki kanannya dan tangannya masih dipegang oleh Hamid. Tangan kiri Diandra juga langsung dipegang oleh Sarah. Kedua orangtua itu saking bahagia dan ingin berada di momen paling berharga bagi seorang anak. Seperti anak kecil yang belajar berjalan, orangtua akan sangat ingin melihat perkembangan mereka dan melihat langkah demi langkah kecil yang mereka buat.

Diandra mulai menggerakkan pelan kaki kanannya ke depan, bergerak perlahan karena takut jatuh tentunya. Kaki itu bergerak ke depan mulai maju, dan itu berhasil bergerak. Senyum mereka semua merekah, bahkan bi Jamilah sangat terharu melihat hal itu.

Perlahan, telapak kaki kanan Diandra maju dan menyentuh lantai di depannya. Tubuhnya bergerak maju sedangkan kedua orangtunya hanya membantu menjaga keseimbangan dengan memegang tangan Diandra. Kaki kiri Diandra maju bergantian, dan benar-benar berhasil, beberapa langkah sudah dibuat.

”Kini..., biar Diandra jalan sendiri Ayah, Ibu.”

Hamid dan Sarah paham hal itu, mereka pun melepaskan pegangannya pada Diandra. Mereka teramat bahagia, mereka melihat hal yang seolah tak mungkin. Diandra berjalan di depan mereka dengan langkah yang perlahan dan menjauh dari mereka hingga ke pintu keluar.

Sampai di pintu keluar kamar hotel itu, Diandra berbalik dan senyumnya mengembang kembali dan dia berjalan lagi menuju orangtuanya. Mereka saling tersenyum dan akhirnya  pagi itu mereka terus berbincang dengan sangat gembira.

Pada akhirnya pagi itu mereka langsung sarapan pagi, bersama para pengawal dan mereka sangat bahagia dan mengucapkan selamat pada Nona mereka, Diandra. Diandra pun dapat mengenali siapa Sandi dan pengawal yang lainnya. Dia melihat wajah, ya wajah manusia yang hanya menjadi imajinasinya selama ini.

Bahkan, dia betah melihat wajahnya di depan cermin. Ya, cermin yang bisa memantulkan gambar sehingga dia bisa melihat wajahnya sendiri. Dulu, semua hanya cerita yang diceritakan padanya dan pikirannya membayangkan. Kini, semua dibuktikannya dan melihat sendiri.

Diandra tersenyum sendiri melihat wajahnya di cermin, seolah sedang bicara dengan dirinya sendiri.

”Apakah aku cantik Ibu?” Di depan cermin itu, Diandra bersama Ibunya yang berdiri di belakangnya.

Sarah melihat wajah puterinya yang terpantul di cermin, ”Kamu adalah wanita paling cantik yang ada di dunia ini Diandra.”

Senyuman malu Diandra sudah cukup merasa tersanjung dengan pujian Ibunya itu. Dia tersipu malu, pipinya merona merah. Itu juga menjadi pengalaman baginya bagaimana seseorang yang malu dipuji dan wajahnya bisa menjadi kemerah-merahan. Dia seperti anak kecil yang tengah belajar apa saja.

Benar, dia seperti anak kecil. Begitu juga yang dialami Sarah untuk memahami puterinya, dia paham karena selama ini hanya kegelapan yang dilihat oleh Diandra.

”Ayahmu sangat gembira, bahkan dia ingin berlibur setidaknya seminggu dengan kita disini. Dia sudah mempercayakan perusahaan-perusahaan dengan kakakmu sehingga kita bisa bersantai disini.”

”Benarkah?” Diandra semakin bahagia.

”Benar Puteriku,” kebahagiaan Sarah juga lengkap kini, dia ingin Diandra setidaknya berlibur untuk mengobati semua deritanya selama ini. Nanti, jika pulang ke rumah diharapkan Diandra bisa melupakan kesulitan yang pernah dialaminya.

”Tapi Ibu...,” Diandra tiba-tiba berbalik dari cermin dan menatap Ibunya, ”Lelaki itu, Adam. Aku baru ingat padanya, Diandra harus menemuinya sekarang juga.”

Sarah kaget dan juga teringat segera dengan pemuda sakit itu. Tentu saja, semua ini juga terjadi karenanya. Kebahagiaan tersebut membuat mereka lupa pada sosok Adam. Dan juga, tiba-tiba Sarah teringat sumpah yang diucapkan oleh Puterinya soal sumpah menikahi Adam. Sarah pun langsung ketakutan sendiri dengan sumpah Puterinya, apakah hal itu akan dilakukannya.

”Diandra akan pergi melihat Adam, jika Diandra sembuh Adam juga harus sembuh.”

Sarah pun terdiam, Diandra bergegas memilih pakaiannya dan segera keluar dari kamar. Ibunya mengikutinya tanpa ekspresi karena masih bingung dengan apa yang akan terjadi selanjutnya pada Puterinya itu.

Para pengawal termasuk Fandi pun diajak serta, namun mereka hanya berlima ketika menaiki mobil; Diandra, Ayahnya, Ibunya, bi Jamilah dan Fandi.

Mereka pun berangkat dari hotel, yang lainnya dibiarkan menunggu di hotel. Di perjalanan, Diandra selalu tersenyum kebahagiaannya ini adalah segalanya dan dia ingin tahu seperti wajah orang yang sudah menolongnya itu. Dan..., tiba-tiba saja jantungnya berdetak tak biasanya. Hal itu tak lain karena sumpahnya yang dia buat, dia berjanji akan menjadi isteri bagi Adam dan melayaninya.

Apakah dia sanggup menepati janjinya itu?

***

”Tapi kenapa Mas? Bukankah...” airmata Naura hampir saja menetes. Izin menikah lagi dari suaminya Sandi itu teramat tiba-tiba. Di sebelahnya, wanita yang terlihat seksi dengan pakaian kerja itu seolah sedikit ragu dan tertunduk. Wanita itu adalah Firla Romana, dan dia adalah sekretaris baru yang satu tahun ini bekerja di pabrik tempat suaminya mengurus pabrik pengolahan kelapa sawit milik ayah dari Sandi yaitu Rodin.

”Aku sudah memikirkannya matang-matang Isteriku. Sudah lama sekali Bapak memintaku untuk segera memberikan cucu untuk keluarga dan kita sudah berusaha dua tahun lebih untuk hal itu. Aku mohon, kamu memberikan aku izin untuk menikah lagi.”

”Tapi Mas...,” suara Naura agak tercekat dan serak, ”Kita sedang menjalani terapi, mungkin..., Naura akan bisa hamil untuk beberapa saat Mas.”

”Tapi sampai kapan aku akan menunggu Naura? Ini sudah terlalu lama,” nada suara Sandi agak meninggi sedikit. Dia berharap dengan kedatangannya dengan Firla langsung akan membuat Naura langsung luluh karena kesungguhan niat mereka.

Naura meneteskan airmatanya perlahan, ”Pertimbangkanlah baik-baik Mas, rumah tangga yang sudah kita bangun selama ini...”

”Cukup Naura!” suara lantang Sandi membuat ucapan Naura terhenti, ”Cukup, Mas akan menikahi Firla dan memiliki anak darinya. Kita akan tetap menjadi suami isteri dan jika perlu aku akan memisahkan rumah untukmu dan untuk Firla.”

”Aku hanya... ingin kita bisa saling mengerti dan mencintai selamanya Mas,” nada suara Naura terasa sesak. Beberapa waktu memang Sandi terlihat aneh dan seolah tak perhatian padanya. Namun, Naura tak menyangka hari ini hal itu terjawab sudah.

”Mbak Naura,” ada suara yang tiba-tiba terdengar dari mulut Firla yang menor dan sensual, ”Aku akan menjadi istri yang baik dan akan berbagi cinta dengan mbak Naura dengan baik. Aku bisa melahirkan anak untuk mas Sandi mbak. Jadi, izinkanlah kami.”

Kata-kata manis dari Firla itu seolah langsung menusuk jantung Naura, apakah ini rasanya hati yang sakit? Apakah ini juga yang dirasakan Adam ketika meninggalkannya? Dan, tiba-tiba Naura langsung teringat Adam yang dulu ditinggalkannya di Danau Kenanga. Apakah ini hukuman baginya yang menghancurkan cinta Adam?

”Jangan lakukan itu Mas, Naura mohon. Aku akan melakukan apapun untuk kita tapi jangan ada wanita lain di kehidupan kita Mas.”

”Sudah Naura! Aku tak mau lagi mendengar penyangkalan darimu, aku mencintaimu Naura tapi aku juga mencintai Firla. Aku ingin poligami, hal itu dibolehkan dalam agama. Kamu harus menerimanya Naura.”

Naura terisak mendengar hal itu, dia tidak menyangka bahwa suaminya yang dulu teramat mencintainya bisa dengan mudah berbagi cinta dengan wanita lain. Tak bisa lagi Naura berkata kecuali airmatanya yang mewakili kondisi hatinya.

”Ayo Firla, kita ke pabrik dulu dan persiapkan pernikahannya,” Sandi berdiri dan membuka tangannya. Firla pun menyambut tangan Sandi dan mereka meninggalkan Naura sendirian dalam kesedihannya.

Teganya mas Sandi, begitu pikiran Naura bereaksi dalam hatinya terdalam. Seseorang muncul dari ruang dalam, dialah Fatma yang selama ini menjaga dan merawat rumah Sandi dan Naura. Fatma tahu bagimana sakitnya nyonyanya itu, dia memberanikan diri duduk di sebelah Naura.

Fatma juga memiliki anak, dia paham bagaimana kesedihan seorang wanita seperti Naura. Tanpa sadar, Fatma mengelus rambut Naura yang tertutup kerudungnya. Tangis Naura semakin serak dan dia tak kuat lalu menyandarkan kepalanya ke pundak bi Fatma.

Langit pun menjadi saksi, akan kisah setiap manusia. Apapun yang menimpa, tak lain itu semua dari Allah dan juga karena sebab yang kita perbuat. Kini, Naura menyadari satu hal. Meninggalkan Adam adalah sebuah kesalahan, Adam yang terluka dan merasakan kepedihan seperti neraka, kini dia juga akan mencicipi kehidupan seperti neraka dunia.

Adam! Maafkan aku. Naura membatin diselingi airmatnya yang turut membersamai kesedihannya dan menetes hingga dagunya.

***

Sebuah mobil melaju perlahan mendekati sebuah danau, di Danau Kenanga itu terlihat dua orang sedang berada di pinggirnya. Satu orang tengah duduk membelakangi dan menghadap danau yang indah. Lalu, satunya bersandar di pohon jambu.

Mobil pribadi itu berhenti sekira 10 meter di bawah pohon, pintu itu terbuka dan seorang wanita yang bagai bidadari berwajah pualam turun dan berhati-hati menurunkan kakinya. Rerumputan hijau menyambut kakinya yang memakai sandal tersebut.

Dedaunan rumput menyapa kaki itu dan wanita itu yang tak lain adalah Diandra berjalan perlahan melewati rerumputan. Namun, dia berhenti seketika lalu melepas kedua sandalnya dan ditaruhnya kembali di dalam mobil. Dia bertelanjang kaki dan menginjak rerumputan indah yang belum pernah dia bayangkan demikian indah kakinya tertusuk-tusuk daun rumput itu. Rasanya seperti di alam yang sangat indah, bau tumbuhan yang sejuk, sinar matahari yang memeluknya dan juga angin sepoi yang mengipasi kulitnya.

Indah tak terperikan.

Rombongan Diandra itu sebelumnya datang ke rumah Adam. Namun, disana hanya ada bu Halimah yang sedang membersihkan rumah dan mengatakan kalau Adam diantar Syarif ke Danau Kenanga.

Dari bu Halimah itulah, rombongan itu mendapatkan kisah bagaimana Adam ditinggalkan Naura di Danau Kenanga. Dan setiap hari Ahad, Adam akan berada di Danau Kenanga meskipun hanya menatap air di danau barang seharian. Tak peduli apapun, Adam akan melakukan hal itu.

Kisah cinta yang aneh, Diandra pun semakin penasaran dan bergegas meminta Fandi mengantarkannya ke danau itu.

Perlahan, Diandra berjalan lurus menuju lelaki yang tengah membelakanginya dan menatap danau Kenanga. Di sisinya agak jauh, Syarif melihatnya dan menganggukkan kepalanya pada Diandra. Di sisi lain, keluarga Diandra masih di dalam mobil dan belum turun.

Diandra semakin dekat dengan Adam, rasa penasarannya membuncah ingin mengetahui bagaimana wajah orang yang menyelamatkan hidupnya sehingga dia bisa melihat indahnya kehidupan dan berlari dengan kedua kakinya sendiri.

Semakin dekat hingga berjarak 1 meter saja. Tapi, Adam masih saja tak menanggapi langkah kakinya sama sekali kecuali tetap diam menatap air yang terpantul sinar matahari.

Diandra membungkukkan punggungnya, kepalanya amat dekat dengan Adam dan disanalah dia melihat wajah itu dengan sempurna dari dekat. Wajah Adam, wajah yang kurus dan mata yang teduh. Apa yang terjadi pada pandangan Diandra saat melihat Adam?

 

Ada apa dengan Diandra yang terpaku melihat wajah yang tersenyum itu?

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!