Naura

15. Membuncah Bahagia

Di hotel, penginapan di kota yang dekat dengan desa yang ditempati Adam. Rombongan dari ibukota pusat yang berangkat 6 orang beristirahat masing-masing. Diandra satu kamar dengan asisten wanita, sedangkan ibunya Sarah sekamar dengan suaminya yang datang tadi malam menyusul mereka.

Di ujung sebuah kamar, nampak wanita muda tertidur begitu nyaman seolah kelelahan yang sangat baru saja menyertainya. Wanita yang sudah agak tua juga tengah berbaring di kursi yang besar di sebelah kamar. Kamar itu vip, sehingga sangat besar ruangan dalam kamar itu dan sang asisten perempuan itu menjaga Nonanya.

Suara derum mobil dan motor mulai terdengar, satu-satu. Pagi mulai menyapa di waktu subuh tersebut. Ada gerak jemari lenting milik Diandra yang mulai bergerak. Satu satu. Jemari yang bersih dan indah itu gerak perlahan dari telunjuk, kemudian jari tengah, lalu jari kelingkin. Sepertinya pemiliknya mulai sadar dari tidur malamnya dan seperti biasa untuk memulai mempersiapkan dirinya untuk bangun dan bergerak.

Jari-jarinya seperti resonansi, matanya yang tak bisa melihat dan kakinya yang lumpuh memang membuat hidupnya berbeda dari kebanyakan orang lain.

Sambil mulai mengembalikan kesadarannya dari tidur, gadis cantik itu pun berdoa untuk mempersiapkan diri memulai hari ini. Ibunya cukup telaten mengajarkannya permasalahan paling prinsip untuk memulai segala hal dengan doa terlebih dahulu. Dan, itu  menjadi kebiasaan yang tak pernah ditinggalkannya.

Jamarinya, baik kanan dan kiri semakin terlihat saling bergantian bergerak, melengkung ke atas dan ke bawah, bergantian. Imajinasi Diandra juga ikut melayang sebagaimana dia selalu hanya bisa membayangkan dalam imajinasi setiap informasi yang didapatkannya melalui telinganya. Imajinasinya selalu bermain, itulah nikmat baginya seperti nikmat tak terperikan ketika seseorang normal yang memiliki mata yang bisa melihat dan dengan mata itu mereka berimajinasi melihat panorama keindahan dunia.

Kesadaran Diandra pun sudah pulih, itu adalah cara khas Diandra untuk mencoba mengembalikan ingatannya. Iya, ini hari Ahad dimana kemarin dia sudah mengunjungi rumah pemuda yang viral airmatanya bisa menyembuhkan orang yang sakit.

Benar!

Bukankah dirinya sudah melakukan terapi dengan mengusapkan kedua matanya yang buta dan juga kakinya yang lumpuh? Ini adalah hari Ahad, dia bangun sudah, kini artinya dia sedang membual bisa sembuh dan berimajinasi kembali betapa indahnya jika itu benar-benar terjadi dan dirinya sembuh. Sungguh, indah.

Diandra tersenyum sendiri, meskipun dirinya belum berani mencoba membuka matanya. Dia tak berani membuka matanya karena takut imajinasinya hanya sekedar bualan semata. Lebih indah menikmati imajinasinya dan dia bisa tertipu dalam khayalan bahwa dia bisa melihat.

Tapi, bagaimana kalau dia benar-benar bisa melihat dan itu benar terjadi?

Diandra menggerak-gerakkan kulit matanya seperti orang yang memejem dan menutup sambil menggoda bola matanya. Hendak membuka, tapi ada ketakutan jika memang seperti biasa tapi juga ingin membuka bagaimana kalau benar-benar bisa melihat. Perasaannya tiba-tiba campur aduk, tak seperti sebelumnya yang bahkan tak percaya akan terapi dari airmata Adam tersebut.

Diandra harus yakin, bahwa segalanya dari Tuhan dan tak perlu khawatir soal berhasil atau tidak. Toh, selama ini dia hidup tetap bahagia meskipun tak bisa melihat dan kakinya lumpuh.

Namun, Diandra mencoba untuk berekspresimen, seperti ujicoba yang sering dia dengarkan dari kisah-kisah yang diceritakan Ibunya.

Diandra mencoba merasakan kedua kakinya, kakinya memang tak bisa digerakkan meskipun sudah melakukan terapi kedokteran namun seolah hanya sebatas merasakan kakinya namun seperti kayu dan tak bisa dia gerakkan.

Masih memejam, Diandra mencoba merasakan kakinya kembali. Dia merasakan dari pahanya hingga ke ujung jarinya. Kini dia merasakan di ujung jarinya.

Mulai!

Diandra mencoba menggerakkan perlahan ibu jari kakinya, bisakah? Dan, sekuat tenaga dia menggerakkan jempol kakinya. Entah kenapa, sepertinya dia merasakan ada yang bergerak dari kakinya, apakah itu benar?

Ada kebahagiaan yang muncul tiba-tiba dan Diandra tiba-tiba ada sensasi yang lain tak seperti biasanya. Tadi, benar-benar nyata bukan, bukan khayalan bukan? Dia merasakan salah satu jarinya bergerak.

”Bibi! Bi Jamil!”

Jamilah yang dipanggil Bibi itu terkaget dari tidurnya di sofa yang berada tak jauh dari Diandra. Dia tergagap dan segera bangkit sesegera mungkin mendekati Nonanya.

”Ada apa Nona Diandra? Apa Nona mau saya bantu duduk di kursi roda?”

Belum ada jawaban, namun Jamilah merasa heran karena bibir Diandra terlihat tersenyum bahagia, apa yang membuat gadis itu bahagia? Jamilah pun penasaran.

”Bibi...,”

”Iya Non, ada apa?”

”Bibi, Bibi... coba lihat baik-baik kedua kaki Diandra dan katakan apa yang terjadi Bi.”

Jamilah menjadi penasaran, dilihatnya kedua kaki Diandra yang biasa selonjoran dan menghadap ke atas jari-jarinya. Tak ada apapun.

”Kaki Non Diandra kenapa? Tidak apa-apa Non, biasa saja.”

”Tunggu Bi, lihat baik-baik ya. Diandra akan mencoba sekali lagi.”

Diandra masih saja menutup matanya, dia kembali merasakan kedua kakinya dan terpusat pada jari-jarinya. Diandra mencoba memaksakan dirinya menggerakkan jari-jarinya. Dan benar saja, keajaiban seolah tejadi dan itu belum pernah terjadi sebelumnya. Ibu jari kaki dan dua jari di sebelahnya tergerak perlahan seperti maju dan mundur begitu saja.

”Masyaallah! Non, jari non Diandra bergerak!” Wajah Jamilah sontak sumringah seperti takjub pada keadaan non Diandra.

”Benarkan Bi..., Diandra tidak bohong. Kaki Diandra terasa bergerak-gerak.”

Jamilah langsung paham apa yang harus dilakukannya. Dia meminta non Diandra untuk menunggu sebentar dan dia akan menuju kamar Tuan dan Nyonyanya yaitu Hamid dan Sarah. Kamar mereka hanya bersebelahan dan mereka harus menyaksikan perkembangan ajaib yang didapatkan oleh Diandra tersebut.

Diandra pun mengiyakan, Jamilah langsung bergegas keluar dan menuju kamar Tuan dan Nyonyanya. Dia mengetuk pintu dan Nyonya Sarah diceritakan hal kaki Diandra dapat bergerak.

Sarah pun segera memberitahukan suaminya yang masih tertidur karena terlihat kelelahan. Namun, ketika diceritakan hal dari Jamilah tersebut. Lelaki itu langsung bangkit antusias dan mengganti bajunya untuk segera menuju kamar hotel puterinya.

Beberapa menit kemudian mereka bertiga; Hamid, Sarah dan bi Jamilah berbarengan memasuki kamar dimana Diandra tidur. Mereka masuk kamar tersebut dan ada ruangan lagi karena ketika masuk pintu itu adalah ruangan tamu di kamar hotel itu dan mereka segera memasuki ruang kamar.

Namun, mereka tak dapat berkata apapun tentang apa yang dilihat oleh mata ketiga orang tersebut. Semuanya melongo terdiam begitu saja, seperti seseorang yang melihat keajaiban tak terkira yang belum pernah dilihatnya. Mereka benar-benar terdiam seribu bahasa dan tak bersuara.

Di depan mereka, di dekat kamar tidur Diandra. Diandra sudah berdiri dan senyumnya mengembang dan menampakkan giginya yang putih cemerlang. Diandra berdiri bahkan matanya terlihat sembab melihat ketiga orang yang baru saja datang tersebut.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!