Naura
11. Permintaan Diandra
Halimah masuk ke rumah. Sore itu waktu ashar, Halimah meminta Syarif untuk menutup rumahnya, artinya tanda orang antre sudah selesai. Halimah tak mau lagi mengambil airmata puteranya dengan sendok itu. Ini hari Sabtu, esok Adam pasti akan ke Danau Kenanga, dan biarlah Adam menikmati seharinya itu dengan baik dan hari ini biarkan dia istirahat.
Walaupun seperti apa kata istirahat untuk Adam? Adam hanya tertidur saja, meskipun airmatanya mengalir perlahan namun matanya hanya berkedip biasa saja. Tak ada gerakan dan hanya seperti orang pesakitan semata.
Namun, Halimah paham. Sebenarnya, Adam juga mendengar dan merasakan apapun di sekitarnya. Namun, rasa sakit dan cintanya yang teramat dalam itulah yang tak bisa membuatnya bangkit.
Halimah pun masuk ke kamar puteranya itu, dia duduk di sebelah Adam dan mengelus rambut Adam yang mulai memanjang dan sedikit menutupi telinganya. Halimah mendoakan Adam sambil tetap mengelus rambutnya, Adam pun terlihat menggerakkan kepalanya sedikit tanda dia menyukai hal itu.
”Cepatlah engkau sadar Adam..., caramu ini salah untuk cintamu yang gagal. Kau harus sadar Nak, Naura kini sudah meninggalkanmu dan bersama orang lain,” sambil mengucapkan hal itu, Halimah menangis sesenggukan. Tak tahan tentunya seorang Ibu melihat puteranya menjadi pesakitan seperti itu karena dikhianati cintanya.
”Adam ada untuk Naura Ibu...”
Suara lirih Adam itu malah semakin membuat Ibunya tambah isaknya terasa menyayat, kedua airmata Ibu dan Anak itu pun tumpah masing-masing. Adam yang sebenarnya tak kuasa melawan kekuatan cintanya pada Naura, malah membuat Ibunya bersedih. Dia benar-benar tak berdaya pada dirinya sendiri.
Seseorang masuk perlahan dan berdiri bersandarkan pintu menyaksikan hal itu, airmatanya pun turut luruh perlahan satu persatu, dia adalah Syarif.
”Maafkan Adam, Ibu.. Adam... hanya bisa menyusahkan Ibu seumur hidup Adam...” Kini, ucapan Adam bukan lagi seperti biasanya, dia terisak merasa tak berdaya dan merasa bersalah pada Ibunya. Bahkan, Adam mengangkat tangan kanannya perlahan, terus diangkatnya tinggi dan memukul pada bantal yang ada di sebelah kepalanya. Adam memukulnya lagi, meskipun sangat lemah dan tak berdaya, dan airmatanya semakin banyak.
Syarif tak kuasa melihat pemandangan itu, dia pun harus ikut menangis tersedu sambil melorot terduduk bersandarkan pintu. Pilu hatinya, melihat sahabat baiknya dan seorang Ibu yang tersiksa karena masalah cinta itu.
Syarif yang masih memiliki orangtua pun merasakan apa yang dirasakan Adam dan Halimah. Selama ini, dia diizinkan untuk terus membantu keluarga Adam, bahkan dia yang mengurusi semua uang Halimah dan Adam, namun tak pernah sepeserpun dia mengambil untuk kepentingannya.
Adam dan Halimah, sudah dianggapnya keluarganya. Tak terpisahkan, tak ada beda, mereka adalah keluarga.
”Assalamu’alaikum!” suara salam terdengar dari luar, seperti suara seorang lelaki yang tegas. Syarif terkaget, bu Halimah pun menyeka airmatanya.
”Biarkan saya yang melihatnya Bu,” Syarif bergegas sambil mengusap airmatanya. Belum sampai hingga pintu depan rumah Adam, suara salam itu kembali terdengar dengan lantang.
”Assalamu’alaikum!”
Cklik! Ngeeek!
Pintu dibuka oleh Syarif, dia agak jengkel bukankah sudah ditutup untuk hari ini meskipun apapun yang terjadi harusnya orang paham bagaimana keadaan Adam yang sesungguhnya.
”Bukankah...” kalimat Syarif agak tercekat dan berhenti perlahan, satu rombongan itu datang dan ada 3 lelaki yang terlihat kekar dan satu wanita berbaris agak miring. Lalu, di belakang mereka ada seorang Ibu dengan pakaian yang mewah dan seorang wanita berambut panjang hitam dan duduk di kursi roda dan kepalanya menggeleng kesana-kemari.
”Apakah Adam di rumah?” suara lelaki kekar yang bernama Fandi itu tegas dan sopan, tangan kanannya menunjuk ke dalam rumah.
”Adam ada dan dia selalu ada di kamarnya, lalu... ada apa dengan rombongan ini? Bukankah ketika pintu sudah ditutup tidak ada lagi orang yang meminta bantuan Adam?”
”Tapi..., ini sangat penting bagi kami. Kami membawa seorang yang penting untuk...”
”Sudah kubilang tidak ada lagi pelayanan!”
”Ada siapa Syarif” suara Halimah yang keluar dari kamar Adam dan menuju pintu luar menghentikan ucapan Syarif. Fandi langsung paham karena sebelumnya sudah melakukan penyelidikan.
”Ibu..., kami mohon terima kami sejenak. Kami datang dari tempat yang jauh, kami akan membayar berapapun yang Ibu inginkan. Kami mohon...,”
”Cukup Tuan!” Halimah menghentikan ucapan memohon Fandi, Syarif pun juga diam semua terdengar penasaran dengan apa yang akan dikatakan Ibu tersebut.
”Kami tidak membutuhkan uang! Saya hanya membutuhkan anak saya, Adam bisa sembuh dari sakitnya,” suara Halimah sedikit tercekat, airmatanya mengalir perlahan. Dan, semuanya terdiam termasuk Sarah yang melihat hal itu hanya Diandra yang mendengar semata namun dia merasakan kesedihan wanita yang berbicara itu.
”Kami hanya membantu siapa saja yang datang dan meminta airmata puteraku. Kami tidak membuka pengobatan, tapi orang datang kepada kami. Adam juga berpesan agar memberikan airmatanya jika diperlukan oleh orang lain. Tapi..., dia adalah orang yang sakit sebenarnya, dan dia..., menanggung semua kesakitan orang yang datang padanya.”
Semuanya hening, hanya sedu sedan perlahan suara serak Halimah yang masih terdengar lirih.
”Kami mohon Ibu..., beri kami kesempatan dan kami tak akan merepotkan Ibu dan putera Ibu,” wanita setengah baya di dekat wanita yang berada di kursi roda terlihat memohon pada Halimah.
Suasana hening sebentar.
”Baiklah, kalian tunggu disini. Saya akan meminta izin pada Adam apakah dia mau menerima tamu kali ini.”
Halimah pun masuk kembali dan dia menuju kamar Adam. Syarif pun menunggui para tamunya tersebut. Syarif belum berani memasukkan para tamu ke rumah karena bu Halimah belum menyuruhnya.
Tiba-tiba, ada rasa penasaran di hati Diandra. Dia pun bertanya pada Syarif yang masih berdiri di pintu.
”Apakah anda adalah teman dari Adam?”
Syarif terkaget mendengar suara lembut dan merdu itu, dia pun menoleh wanita itu yang duduk di kursi roda. Wajahnya demikian anggun seperti dewi atau seperti badadari, namun matanya tak fokus dan terlihat melihat ruang kosong.
”Be... Benar Nona, saya adalah teman baik dari Adam. Saya yang selalu melayani para tamu yang datang,” agak gugup, Syarif tiba-tiba mengatakan jawaban itu tanpa dia sadari. Wajah cantik itu mampu membuatnya seolah tersihir dan dia lupa sehingga langsung menjawab begitu saja.
Diandra tersenyum mendengar hal itu, ”Benarkah Dia sakit karena cinta dan dikhianati oleh kekasihnya?” Diandra sangat penasaran pada kisah cinta pemuda itu, dan orang orang di sekitarnya hanya diam saja tak berani menyelanya.
Syarif pun seolah pasrah dan menjawabnya, ”Adam sudah sakit dan tersiksa jiwanya lebih dari dua tahun semenjak ditinggal kekasihnya menikah dengan orang lain. Setelah itu, dia hanya terbaring seperti ini saja setiap harinya.”
Diandra tersenyum lagi, namun Halimah sudah datang dan keluar menemui mereka. Mereka menunggu apa yang akan diucapkan oleh Halimah kepada mereka, Halimah pun melihat semua orang termasuk Diandra yang duduk di kursi roda.
”Saya sudah bicara pada Adam, dan dia mengangguk. Jadi, silakan masuk.”
Rombongan itu pun di persilakan masuk, namun yang masuk hanya Diandra, Ibunya serta seorang wanita yang mengawal Diandra dan juga Fandi, sedangkan dua orang pengawal dan juga Syarif duduk di luar rumah namun pintu di tutup karena memang ditakutkan ada lagi orang yang datang untuk meminta bantuan pada Adam.
Keempat tamu itu pun berada di ruang tamu, Diandra dibantu dan oleh Fandi untuk mendorong kursi roda itu.
”Silakan tunggu sebentar, saya akan mengambilkan air itu...”
”Tunggu sebentar Ibu...,” ucapan lembut Diandra menghentikan langkah Halimah yang akan pergi ke kamar puteranya itu.
”Bolehkah aku bicara dengan Adam sebentar?”
Pertanyaan itu sangat aneh bagi Halimah, siapapun yang berobat tak pernah berharap bertemu Adam. Tapi wanita cantik ini ingin bicara, meskipun dia terlihat tak bisa melihat dan lumpuh kakinya.
Namun, Halimah luluh juga oleh permintaan Diandra tersebut. Dia adalah gadis yang manis dengan ujian seperti itu sejak kecil. Sungguh malang nasibnya, mungkin Allah mengirimkan dia agar menjadi pelajaran bahwa musibah yang menimpa Adam belum seberapa.
Jadi ..., meskipun tidak sembuh. Halimah ingin memberikan yang terbaik untuk gadis tersebut.