Naura

10. Meyakinkan Diandra

Malam itu, keluarga Hamid makan bersaama. Diandra dan Ibunya sedang makan malam di meja makan. Perlahan, Diandra sudah terbiasa makan sendiri dengan sendoknya. Diandra hanya diambilkan makanan di piringnya oleh Ibunya, atau oleh asistennya kemudian dia akan memakannya sendiri dengan perlahan.

Dia sudah terbiasa melakukannya, sehingga tidak merasa kesulitan apapun saat memilih makanan yang akan masuk ke mulutnya. Pertama, dia menanyakan lauk makanannya, lalu meraba letaknya dan kemudian menggunakan sendoknya.

Beberapa menit berlalu, seseorang datang dengan langkahnya yang tegap. Diandra tersenyum, itu adalah suara langkah kaki Ayahnya, Abdul Hamid. Hamid pun tersenyum dan melihat senyuman puterinya itu, dia mendekati Puterinya dan mengecup rambut hitam terurai puterinya itu.

”Ayah sudah makan malam? Ayo makan bersama dengan kami Ayah.”

Senyum puterinya itu benar-benar membuat kepenatan di kantor seolah hilang seketika. Hamid memiliki beberapa perusahaan dan semuanya juga sudah terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Perusahaan- perusahaan yang dikelolanya sangat baik dan berkesinambungan, kesuksesannya didapatkan dengan kerja keras. Putera pertamanya yang sudah menikah, Elfan juga sudah diberikan langsung amanah perusahaan sebagai direktur utama untuk mengelolanya.

Elfan sendiri sudah memiliki satu orang anak, dan mereka tinggal di rumah mereka sendiri. Kadang setiap malam minggu mereka akan berkumpul untuk makan bersama dan berkumpul.

”Sepertinya makanan malam ini spesial?” ucap Hamid sambil duduk di hadapan puterinya berseberangan meja makan tersebut.

”Ayah mau makan?” Sarah Emin melihat suaminya dan ketika melihat anggukan suaminya, Sarah langsung mengambilkan makanan dan menaruhnya di piring, mengambil beberapa lauk yang ditunjukkan suaminya dan menghidangkannya di depan suaminya.

Hamid menikmati makanannya, lalu matanya teralih kepada isterinya, Sarah. Hamid sedikit mengangguk dan memberikan kode dengan matanya. Sarah langsung paham bahwa hal itu adalah tanda apakah isterinya itu sudah menceritakan keinginan mereka untuk mengobati puterinya kepada seorang lelaki bernama Adam yang ada di ujung pelosok sebuah desa.

Hamid sangat mencintai puterinya itu, apapun akan dilakukan untuk kebahagiaan puterinya yang cantik itu. Meskipun terkesan tak masuk akal, namun dia sudah melakukan kroscek melalui beberapa utusan, dan mereka yakin berita itu benar karena mereka langsung ke TKP.

Sarah pun mengangguk tanda bahwa dia sudah saling berkomunikasi dengan puterinya soal pengobatan alternatif tersebut.

Hamid pun menikmati lagi makanannya, dia tak mau membahas hal tersebut ketika puterinya sedang menikmati makanannya. Biarkan terlebih dahulu, bukan saat yang tepat untuk mengatakan hal itu ketika sedang makan. Saat makanan sudah habis dan puterinya itu meminum air putih. Saat itulah dia mulai membicarakan masalah tersebut.

”Puteriku..., kamu sudah berbincang bukan dengan Ibumu soal...?”

”Sudah Ayah...,” Diandra langsung tersenyum menatap ayahnya, meskipun tak bisa melihat dia tahu darimana suara ayahnya berasal. Senyuman itu nampak cantik, secantik wajahnya.

”Tapi..., Ayah dan Ibu tidak perlu susah memikirkan kebahagiaan Diandra. Diandra sudah bahagia bersama ayah dan ibu. Jadi..., tidak perlu susah payah lagi untuk menyembuhkan mata Diandra. Operasi dua kali sudah membuat Diandra sadar, bahwa Diandra cukup untuk bahagia bersama ayah dan ibu saja.”

”Puteriku Diandra..., maukah kamu mengabulkan satu permintaan ayahmu ini. Sekali ini saja, setelah itu Ayah dan Ibu tak akan lagi memaksamu melakukan pengobatan atau terapi. Hanya satu kali ini saja, kamu ikut dengan Ibumu untuk berobat lagi. Ayah janji, ini adalah yang terakhir kalinya.”

Diandra terdiam sejenak, dia menunduk dan mengambil napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan.

”Sebenarnya, Diandra sudah tidak mau lagi melakukan terapi. Mungkin, kesembuhan terutama mata bagi Diandra adalah keinginan yang berlebihan kepada Tuhan. Diandra sangat ingin sembuh dan dapat melihat wajah Ayah dan Ibu. Namun, kenyataan seolah menolak hal itu. Tapi, jika ingin mengobati mata Diandra, dan itu bisa membuat Ayah dan Ibu bahagia, maka untuk yang terakhir kalinya. Diandra akan patuh pada Ayah dan Ibu.”

Penjelasan itu membuat Hamid dan Sarah terenyuh. Kedua mata mereka mengalir air bening begitu saja. Keduanya lantas berdiri dan menghampiri puterinya yang masih duduk di kursi rodanya dan mereka memeluk Puterinya itu sambil terisak, sendu dan suasana menjadi merinding karena cinta mereka.

”Terima kasih Puteriku, ini yang terakhir kali Ayah meminta padamu. Semoga ini adalah jawaban Tuhan untukmu agar kamu dapat sembuh dan dapat melihat,” Hamid sekali lagi mengecup ubun-ubun Diandra yang ditutupi rambut hijam panjang.

Mata jernih Diandra menatap lurus ke depan, tak terasa air bening menetes hingga ke dagunya. Baginya, kebahagiaan kedua orangtuanya adalah segalanya.

Diandra kemudian dipersiapkan untuk persiapan keberangkatannya menuju sebuah desa yang berbeda pulau dengan tempat tinggalnya. Dia kesana bersama beberapa orang dan juga Ibunya sekaligus. Ayahnya hanya mengantarkannya sesuai rencana, namun akan segera menyusul puterinya itu setelah urusan pekerjaannya selesai. Dia harus membuat persiapan beberapa hal pada perusahaan agar semua tak terbengkalai dan juga mempercayakan pekerjaan pada wakilnya.

Persiapan di lakukan, hari yang sudah ditentukan itu pun datang. Diandra dikawal dengan baik, dia juga bersama Ibunya. Mereka berangkat dengan pesawat yang sudah dipesan khusus. Perjalanan itu sudah kesekian kalinya dilakukan Diandra, beberapa kali juga melakukan pengobatan alternatif meskipun semuanya berujung pada kegagalan. Kali ini, Diandra sendiri tidak yakin akan keberhasilan terapi aneh, terapi airmata. Dia hanya mengucapkan pada orangtuanya bahwa ini yang terakhir kalinya.

Pesawat landing, mereka turun. Dikawal tiga orang dan satu wanita. Mereka berenam, 4 pengawal dan juga Diandra dan Ibunya. Mereka pun segera dipersiapkan mobil dan menuju tempat daerah yang diarahkan oleh salah satu pengawal yang sudah terlebih dahulu cek lokasi sebelumnya yang ditugaskan oleh Hamid kepadanya.

Namanya Fandi, Diandra mengetahui dari Fandi tersebut soal kabar berita terapi alternatif airmata. Fandi yang sudah memiliki dua anak dan masih kecil itu pun menjelaskan beberapa hal yang diketahuinya pada Nonanya yaitu Diandra soal pemuda yang dipercaya airmatanya mampu menyembuhkan orang yang sakit.

”Pak Fandi sudah bertemu dengan pemuda itu?” Diandra bertanya pada Fandi di dalam mobil yang melaju menuju tempat lokasi. Lokasinya pun jauh dari bandara, sehingga mereka cukup lama dalam perjalanan darat tersebut.

”Saya tidak bertemu dengannya Non, lelaki itu namanya adalah Adam. Dia hanya tidur di kamarnya dan yang masuk ke kamarnya hanya Ibunya dan temannya. Ibunya itu masuk ke kamar dan keluar membawa sendok yang di dalamnya ada air yang dipercaya adalah airmata pemuda itu.”

Diandra merasa penasaran, ”Bukankah itu bisa saja penipuan, tak ada yang tahu persis air itu air apa bukan?”

Fandi memikirkan kata-kata Nonanya itu, benar juga. Bisa jadi itu juga penipuan, namun warga disana setelah ditanya oleh Fandi bahwa itu benar terjadi. Adam adalah pemuda yang bahkan dulu disebut gila karena cinta.

”Warga di sekitarnya semuanya mengatakan bahwa Adam adalah sosok yang baik dan memang dia sakit karena ditinggalkan kekasihnya. Kekasihnya menikah dengan orang lain, dan sejak itu Adam menjadi gila karena setiap hari di kamarnya kecuali pada hari Ahad. Adam akan pergi ke pinggir danau hingga sore dan hanya melamun. Selain itu, Adam akan tidur di kamarnya dan selalu menangis.”

”Sungguh aneh,” Diandra baru mendengar ada cinta yang demikian, dia merasa tertarik dengan kisah tersebut. Meskipun dia tak mengalami kesembuhan, namun dia ingin melihat kisah cinta sejati tersebut. Di dunia ini, masih ada orang yang mencintai hingga begitu luar biasa.

”Lalu..., apakah soal ada orang yang bisa sembuh dari sakitnya setelah menggunakan airmata pemuda itu pak Fandi?”

Fandi tersadar dengan pertanyaan Nonanya itu, ”Benar Non, saya sudah mengkonfirmasinya kepada orang yang pernah berobat. Ada yang sembuh dari lumpuhnya bahkan ada yang sudah stroke tak bergerak namun bisa pulih kembali.”

Benar-benar aneh. Diandra semakin penasaran, pemuda dengan airmata ajaib dan cintanya yang hancur.

Ini pengalaman yang menarik perhatiannya, dia ingin mendengar kisah itu langsung dari tempatnya.

”Sepertinya kamu antusias Puteriku?” Sarah mengelus rambut puterinya itu dengan lembut.

”Aku tertarik dengan kisah cinta yang aneh itu Ibu. Meskipun, Diandra tak sepenuhnya yakin dengan penyembuhannya tapi Diandra ingin menyaksikan cinta abadi tersebut.”

”Kamu harus yakin bisa sembuh Puteriku. Jika kamu yakin, Tuhan pasti memberikan jalannya bukan?”

Diandra tak mau berdebat dengan Ibunya, dia pun terdiam. Dalam hatinya, dia masih ragu dengan airmata ajaib tersebut. Jika bisa sembuh? Diandra hanya berharap bisa melihat saja, kalau kakinya biarlah dia di atas kursi tak masalah. Dia ingin melihat warna dunia. Tapi..., benarkah semua itu bisa terjadi?

Entahlah!

Apapun yang menjadi kompensasi jika dirinya bisa melihat maka tak peduli apapun itu. Diandra akan menyanggupinya.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!