NAMAKU NURBAYA BUKAN MILIK SIAPA-SIAPA
Haruskah Menyerah Juga?
Keputusan Nurbaya untuk "menyerah" kepada Samuel melalui telepon adalah titik balik yang pahit. Kata-kata itu terucap dengan berat, diiringi isakan yang tak tertahankan, dan meninggalkan lubang menganga di hatinya. Ia tahu, dengan pernyataan itu, ia telah melepaskan genggaman terakhir pada kebebasannya, pada masa depannya bersama Samuel.
Samuel, di ujung telepon, hanya bisa terdiam, suaranya parau menahan kepedihan. Cinta mereka, yang dulunya adalah benteng terkuat, kini telah retak, hancur oleh ketidakberdayaan yang begitu besar.
Setelah percakapan itu, Nurbaya merasa jiwanya kosong. Ia masih menjalankan rutinitasnya: mengurus abak yang sudah pulang dari rumah sakit, mendengarkan ratapan amak, menghadapi tekanan dari keluarga dan adat. Namun, ia melakukannya dengan hati yang mati rasa. Ia telah membuat keputusan yang paling sulit dalam hidupnya. Ia telah memilih untuk mengorbankan dirinya, demi keluarganya. Namun, ia bertanya-tanya, apakah pengorbanan ini akan benar-benar membawa kedamaian, ataukah hanya akan menciptakan penderitaan yang lebih dalam?
Nur Firman tidak menunggu lama. Begitu ia tahu Nurbaya telah "menyerah" (meskipun Nurbaya tidak pernah secara eksplisit mengatakan akan menikah dengannya, hanya bahwa ia tidak bisa lagi melawan), serangannya terhadap Nurbaya tidak berhenti, justru semakin intens. Kali ini, targetnya adalah kehidupan pribadi Nurbaya, menyeretnya ke dalam lumpur opini publik yang kotor.
Desas-desus tentang hubungan Nurbaya dengan Samuel, yang selama ini hanya menjadi bisikan di kalangan teman dekat, tiba-tiba menjadi santapan publik. Cerita-cerita miring mulai beredar. Nurbaya digambarkan sebagai wanita genit yang "bermain api" dengan pria kota, tidak menghargai adat, dan menjalin hubungan terlarang di belakang orang tuanya. Detail-detail palsu ditambahkan, dilebih-lebihkan, dan disebarkan dari mulut ke mulut, dari grup WhatsApp ke grup WhatsApp lainnya di nagari.
"Lihatlah Nurbaya itu," bisik-bisik terdengar di pasar. "Sudah tahu abaknya sakit karena utang, malah asyik pacaran dengan pria bule. Tidak punya malu!"
"Dia itu memang tidak cocok jadi istri pemimpin adat. Terlalu modern, tidak tahu adat istiadat," timpal yang lain.
Nurbaya merasakan pandangan menghakimi di mana-mana. Setiap kali ia keluar rumah, ia merasa seolah semua mata tertuju padanya, menelanjangi setiap gerak-geriknya. Ia mendengar bisikan-bisikan, melihat tatapan sinis, dan merasakan aura permusuhan yang jelas. Ia merasa seperti penjahat yang telah melakukan dosa besar, padahal ia hanyalah korban.
Fitnah itu tidak hanya berhenti pada hubungannya dengan Samuel. Kisah-kisah tentang "perilaku tidak pantas" Nurbaya selama kuliah di Jakarta, hobi-hobinya yang dianggap "terlalu bebas" untuk seorang perempuan Minang, bahkan cara berpakaiannya, semuanya diungkit dan dijadikan bahan cemoohan. Privasinya dihancurkan, dan ia merasa telanjang di hadapan publik yang menghakiminya.
Amak, yang mendengar semua fitnah itu, semakin tertekan. Ia seringkali menangis di hadapan Nurbaya, meminta Nurbaya untuk tidak lagi keluar rumah, atau setidaknya, untuk tidak lagi bertemu Samuel. "Nur, amak tidak sanggup lagi mendengar omongan orang. Mereka bilang kamu sudah mencoreng nama baik keluarga. Abakmu juga semakin malu."
Nurbaya mencoba menjelaskan, "Semua itu fitnah, Mak! Aku tidak pernah melakukan hal-hal yang mereka tuduhkan."
"Tapi mereka percaya, Nur! Mereka sudah terlanjur percaya!" Amak meratap. "Satu-satunya cara untuk menghentikan semua ini adalah dengan kamu menerima lamaran Nur Firman. Kalau kamu menikah dengannya, semua fitnah itu akan berhenti. Mereka akan melihat kamu sebagai wanita yang patuh, yang menyelamatkan keluarga."
Tekanan dari amak, yang kini juga menjadi korban fitnah, semakin membebani Nurbaya. Ia tahu amak tidak bermaksud jahat, namun keputusasaan amak membuat Nurbaya merasa semakin terpojok.
Dampak dari serangan reputasi ini tidak hanya terasa di nagari, tetapi juga merambah ke kehidupan profesional Nurbaya di Jakarta. Hal itu terasa sekali saat Nurbaya kembali menjalani rutinitasnya sebagai dosen. Setelah berita-berita miring tentang dirinya mulai beredar di media lokal dan menyebar ke media sosial, kampus mulai memberi tekanan halus.
Awalnya, hanya tatapan aneh dari rekan-rekan kerja, atau bisikan-bisikan di koridor. Kemudian, ia mulai dipanggil oleh dekan dan kepala program studi. Mereka berbicara dengan nada prihatin, namun intinya jelas: reputasi Nurbaya mulai mempengaruhi citra kampus.
"Nurbaya, kami memahami situasi pribadi anda," kata Dekan, seorang wanita paruh baya yang biasanya ramah, namun kini wajahnya tampak serius. "Tapi, sebagai seorang akademisi, anda adalah representasi dari universitas ini. Berita-berita yang beredar, meskipun kami tahu itu mungkin tidak benar, telah menciptakan persepsi negatif di kalangan mahasiswa dan orang tua. Ini bisa mempengaruhi jumlah pendaftar, bahkan akreditasi program studi kita."
Kepala program studi menambahkan, "Kami menyarankan anda untuk menyelesaikan masalah pribadi ini secepatnya, Nurbaya. Atau, setidaknya, untuk sementara waktu, mungkin anda bisa mengambil cuti mengajar. Agar suasana di kampus tidak terganggu."
Nurbaya merasa seperti ditampar. Ia telah bekerja keras untuk membangun kariernya, untuk menjadi seorang dosen yang dihormati. Kini, semua itu terancam hancur karena fitnah dan intrik seorang pria kejam.
"Saya tidak melakukan kesalahan apa pun, Pak Dekan, Ibu Kaprodi," kata Nurbaya, suaranya bergetar menahan amarah. "Semua itu adalah fitnah yang disebarkan oleh pihak yang ingin menjatuhkan saya."
"Kami tahu itu, Nurbaya," kata Dekan, nada suaranya lebih lembut, namun tetap tegas. "Tapi persepsi publik itu penting. Kami tidak ingin mengambil risiko. Kami berharap anda bisa memahami posisi kami."
Nurbaya keluar dari ruangan itu dengan hati hancur. Ia tahu apa artinya ini. Mereka tidak memecatnya secara langsung, tetapi mereka menekannya untuk "menyingkir" sementara waktu. Ini adalah bentuk hukuman, sebuah pengasingan yang menyakitkan. Ia merasa kariernya, impiannya untuk menjadi seorang profesor, kini terancam hancur.
Nur Firman tidak hanya mengandalkan media lokal. Pengaruhnya yang luas juga mencakup beberapa media nasional. Setelah berita di portal lokal, beberapa artikel serupa mulai muncul di media-media yang lebih besar, meskipun dengan bahasa yang lebih halus, namun tetap menggiring opini publik.
Artikel-artikel itu tidak lagi secara eksplisit menyebut Nurbaya sebagai "anak durhaka," tetapi mereka menggunakan narasi yang sama; "Dilema Putri Pemangku Adat: Antara Cinta dan Tanggung Jawab Keluarga." Nurbaya digambarkan sebagai wanita muda yang "terjebak dalam dilema yang rumit," antara "keinginan pribadi" dan "tanggung jawab adat." Nur Firman, di sisi lain, terus digambarkan sebagai "pengusaha dermawan" yang "ikhlas membantu keluarga yang sedang kesusahan."
Opini publik mulai terbentuk. Nurbaya digambarkan sebagai sosok yang egois, yang tidak mau berkorban demi keluarganya. Samuel, meskipun tidak disebut namanya, diidentifikasi sebagai "kekasih dari Australia" yang "tidak memahami adat dan budaya lokal." Masyarakat, yang mudah terpengaruh oleh narasi media, mulai melihat Nurbaya sebagai antagonis dalam cerita ini.
Nurbaya membaca semua berita itu dengan hati perih. Ia merasa seperti karakter dalam drama yang telah dituliskan oleh orang lain, tanpa bisa mengubah alur ceritanya. Setiap kata yang ia baca terasa seperti cambuk yang menghantam jiwanya. Ia tidak bisa membela diri. Setiap kali ia mencoba bicara, suaranya seolah tenggelam dalam riuhnya opini yang telah digiring oleh Nur Firman.
Samuel, dari Jakarta, mencoba melawan. Ia menghubungi beberapa jurnalis investigasi yang ia kenal, mencoba memberikan versi cerita yang sebenarnya. Namun, kebanyakan dari mereka menolak, beralasan "tidak ingin terlibat dalam konflik yang terlalu sensitif." Beberapa bahkan terang-terangan mengatakan bahwa mereka telah menerima "pesan" untuk tidak memberitakan sisi lain dari cerita ini.
"Dia punya tangan panjang di mana-mana, Nur," kata Samuel suatu malam, suaranya terdengar frustrasi. "Dia bisa mengendalikan narasi. Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa."
Keputusasaan Samuel semakin terlihat jelas. Ia telah mencoba semua cara yang ia tahu. Jalur hukum, investigasi, bahkan media. Namun, setiap upaya selalu menemui jalan buntu, atau bahkan berbalik menyerang mereka. Ia merasa kalah oleh sistem yang begitu korup dan kuat.
Suatu malam, Samuel menelepon Nurbaya. Suaranya terdengar sangat berat, lebih berat dari biasanya.
"Nur," katanya, ada keheningan panjang. "Aku... aku sudah memikirkannya. Aku rasa... aku harus kembali ke Australia untuk sementara waktu."
***