NAMAKU NURBAYA BUKAN MILIK SIAPA-SIAPA
Percikan Api 2
Melihat kondisi abak yang semakin parah, dan mendengar tangisan amak yang tak henti-hentinya, Nurbaya mulai goyah. Apakah ia benar-benar harus mengorbankan segalanya demi prinsipnya? Apakah kebebasannya lebih berharga daripada kesehatan dan kehormatan abak?
Rasa bersalah terus menghantuinya. Ia merasa seperti anak durhaka yang telah menyebabkan penderitaan orang tuanya. Namun, di sisi lain, ia tidak bisa membayangkan hidupnya bersama Nur Firman, seorang pria yang ia benci dan yang hanya melihatnya sebagai alat.
Ia merenung, mengingat kembali percakapannya dengan Samuel. “Itu pemerasan, Nurbaya. Murni pemerasan. Ini bukan Minang yang kukenal, ini kejahatan.” Kata-kata Samuel berulang di benaknya. Apakah ia harus menyerah pada kejahatan ini? Apakah ia harus membiarkan dirinya menjadi korban?
Nurbaya tahu, ia tidak bisa mengambil keputusan ini sendirian. Ia membutuhkan kekuatan, dukungan, dan mungkin, sebuah keajaiban. Pertarungan ini bukan hanya tentang dirinya, tapi tentang membela kebenaran di tengah jaring kekuasaan yang gelap. Namun, ia merasa semakin terisolasi, seolah semua orang di sekitarnya telah menyerah dan hanya menunggu dia untuk melakukan hal yang sama.
Hari-hari berikutnya di Minang terasa seperti siksaan bagi Nurbaya. Rumah sakit menjadi saksi bisu penderitaan abak, dan Nurbaya merasa setiap detiknya adalah beban. Amak tak henti-hentinya membujuk, bahkan meratap, agar Nurbaya mengubah keputusannya. "Nur, abakmu tidak bisa begini terus. Dia butuh ketenangan. Dia butuh kamu menerima lamaran itu, agar semua masalah ini selesai."
Tidak hanya amak, kunjungan dari kerabat dan tokoh adat semakin sering. Mereka datang bukan untuk menghibur, melainkan untuk menekan. Setiap percakapan selalu berujung pada satu topik: pernikahan Nurbaya dengan Nur Firman sebagai satu-satunya solusi.
"Kamu harus memikirkan nama baik keluarga kita, Nur," kata salah seorang bibi dari pihak ibu, dengan nada menasihati yang menusuk. "Kita ini keluarga terpandang. Kalau sampai abakmu masuk penjara, atau nama kita tercoreng karena utang, bagaimana muka kita di hadapan masyarakat? Kamu mau melihat abakmu kehilangan semua wibawanya?"
Nurbaya mencoba menjelaskan, "Tapi ini bukan jalan yang benar, Bibi. Ini pemerasan. Ini tidak adil."
"Adil? Apa itu adil di mata kamu? Adil itu ketika keluarga kita aman, ketika abakmu sehat, ketika nama baik kita terjaga! Kamu terlalu banyak berpikir seperti orang kota, Nur! Di sini, adat itu lebih tinggi dari hukum!" tegas bibi itu, membuat Nurbaya terdiam.
Bahkan teman-teman masa kecilnya, yang dulu selalu mendukungnya, kini menjaga jarak. Beberapa dari mereka mengirim pesan singkat yang bernada simpati bercampur nasihat untuk "mengikuti kata hati orang tua." Nurbaya merasa dunia seolah bersekongkol melawannya.
Di sisi lain, Nur Firman tidak tinggal diam. Ancaman-ancamannya mulai terwujud. Selain masalah pasokan toko kelontong dan perizinan kebun durian, Nurbaya mendengar kabar bahwa beberapa aset keluarga, termasuk sebagian kecil tanah warisan yang tidak terdaftar atas nama abak, mulai digugat oleh pihak ketiga dengan alasan yang tidak jelas. Ini jelas merupakan taktik Nur Firman untuk semakin mencekik keluarga Haji Zulkarnain secara finansial, memaksa mereka bertekuk lutut.
Samuel, yang masih berada di Minang, bekerja tanpa lelah. Ia menghabiskan hari-harinya di perpustakaan hukum daerah, mencari celah dalam perjanjian utang abak, atau mencari kasus-kasus serupa yang pernah ditangani. Ia juga mencoba menghubungi beberapa pengacara lokal yang dikenal berintegritas, namun kebanyakan dari mereka menolak, beralasan "tidak ingin terlibat masalah dengan Nur Firman."
"Pengaruhnya sangat kuat, Nur," kata Samuel suatu malam, saat mereka bertemu diam-diam di sebuah kafe terpencil. "Dia seperti gurita yang tentakelnya menyebar ke mana-mana. Setiap kali aku mencoba mencari informasi, seolah ada tembok tak terlihat yang menghalangiku. Bahkan beberapa kenalanku di kepolisian Jakarta menyarankan untuk berhati-hati. Mereka bilang Nur Firman punya jaringan yang luas, bahkan sampai ke pusat."
Nurbaya menghela napas. "Lalu, apa yang harus kita lakukan, Sam?" Suaranya terdengar putus asa.
"Kita tidak bisa menyerah," tegas Samuel, menatap Nurbaya dengan mata penuh keyakinan. "Aku yakin pasti ada celah. Setiap orang punya kelemahan, setiap kejahatan pasti meninggalkan jejak. Kita hanya perlu menemukannya."
Ia mengeluarkan sebuah laptop kecil dan beberapa dokumen. "Aku sudah mengumpulkan beberapa informasi awal tentang Nur Firman. Dia punya beberapa perusahaan cangkang yang terdaftar atas nama orang lain. Ada juga beberapa proyek pembangunan yang dia kelola, yang diduga melibatkan praktik korupsi. Tapi buktinya masih lemah, Nur. Kita butuh sesuatu yang lebih kuat, sesuatu yang bisa menjeratnya tanpa bisa dia bantah."
Nurbaya menatap dokumen-dokumen itu. Angka-angka dan nama-nama yang asing, namun di baliknya tersimpan potensi kehancuran bagi Nur Firman. Sebuah harapan kecil kembali menyala di dadanya.
Samuel terus menggali informasi. Suatu malam, ia menemukan sesuatu yang menarik. Sebuah artikel lama dari sebuah media lokal yang membahas tentang proyek pembangunan jalan di daerah terpencil yang mangkrak, padahal dananya sudah cair. Proyek itu dikelola oleh salah satu perusahaan yang terafiliasi dengan Nur Firman.
"Ini bisa jadi celah, Nur," kata Samuel, menunjukkan artikel itu kepada Nurbaya. "Proyek mangkrak, dana cair. Ini bau-bau korupsi. Kalau kita bisa membuktikan bahwa Nur Firman terlibat langsung dalam penyelewengan dana ini, kita bisa menjeratnya dengan kasus yang lebih besar dari sekadar pemerasan utang."
"Tapi bagaimana caranya?" Nurbaya bertanya, matanya memancarkan keraguan. "Bukti-bukti itu pasti sudah disembunyikan rapi."
"Kita butuh informan dari dalam," Samuel merenung. "Seseorang yang tahu persis bagaimana Nur Firman bekerja, bagaimana dia memanipulasi proyek-proyeknya. Seseorang yang punya akses ke dokumen-dokumen internal."
Nurbaya terdiam. Ia memikirkan semua orang yang dikenalnya yang mungkin memiliki informasi seperti itu. Tiba-tiba, sebuah nama muncul di benaknya. Seseorang yang dulu dekat dengan Nur Firman, namun kini dikabarkan telah berselisih dengannya.
"Ada satu orang," kata Nurbaya pelan. "Namanya Pak Syamsul. Dia dulu adalah tangan kanan Nur Firman, mengelola beberapa proyeknya. Tapi kudengar, mereka berselisih paham beberapa tahun lalu. Nur Firman bahkan mengancamnya dan keluarganya."
Mata Samuel berbinar. "Itu dia! Dia mungkin punya informasi yang kita butuhkan. Tapi kita harus sangat hati-hati. Jika Nur Firman tahu kita mendekatinya, dia bisa bertindak lebih dulu."
Rencana itu terdengar gila dan sangat berisiko. Mendekati mantan tangan kanan seorang manipulator kejam seperti Nur Firman bisa berakibat fatal. Namun, Nurbaya merasa ini adalah satu-satunya kesempatan mereka.
Nurbaya dan Samuel memutuskan untuk mencari Pak Syamsul. Mereka melakukan penyelidikan diam-diam, mencari tahu keberadaan Pak Syamsul yang kini hidup terpencil di sebuah desa kecil di pinggiran nagari. Mereka tahu, mereka harus bergerak cepat dan tanpa menarik perhatian.
Setelah beberapa hari mencari, mereka akhirnya menemukan rumah Pak Syamsul. Sebuah rumah sederhana yang tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan. Nurbaya dan Samuel datang di malam hari, memastikan tidak ada yang melihat kedatangan mereka.
Pak Syamsul, seorang pria paruh baya dengan wajah lelah dan mata yang menyimpan banyak rahasia, tampak terkejut melihat Nurbaya dan Samuel. Ia mengenali Nurbaya sebagai putri Haji Zulkarnain.
"Ada apa kalian datang kemari?" tanya Pak Syamsul, suaranya pelan dan waspada.
Nurbaya menjelaskan tujuan kedatangan mereka, tentang utang abak, lamaran paksa Nur Firman, dan ancaman yang menimpa keluarganya. Ia juga menyebutkan tentang proyek mangkrak yang dikelola Nur Firman.
Pak Syamsul mendengarkan dengan seksama, sesekali menghela napas berat. Ada kilatan amarah di matanya ketika nama Nur Firman disebut.
"Saya tahu banyak tentang Nur Firman," kata Pak Syamsul akhirnya, suaranya penuh kepahitan. "Dia bukan hanya pemeras, dia adalah penipu ulung. Dia menghancurkan banyak orang demi kekuasaannya. Saya sendiri adalah salah satu korbannya. Dia mengancam keluarga saya, membuat saya kehilangan segalanya. Saya terpaksa hidup bersembunyi seperti ini."
"Apakah Anda punya bukti, Pak Syamsul?" tanya Samuel, suaranya penuh harap. "Dokumen, rekaman, apa pun yang bisa menjeratnya?"
Pak Syamsul terdiam sejenak, menatap Nurbaya dan Samuel bergantian. Ada keraguan di matanya, keraguan yang muncul dari ketakutan.
"Saya punya beberapa dokumen," kata Pak Syamsul pelan. "Dokumen-dokumen yang bisa membuktikan bagaimana dia memanipulasi proyek, bagaimana dia menggelapkan dana, dan bagaimana dia menjebak orang-orang seperti abakmu. Tapi ini sangat berbahaya. Jika Nur Firman tahu saya membantu kalian, nyawa saya dan keluarga saya dalam bahaya."
"Kami akan melindungi anda, Pak Syamsul," kata Nurbaya, suaranya mantap. "Kami akan memastikan anda dan keluarga anda aman. Kami hanya ingin keadilan ditegakkan."
Pak Syamsul menghela napas panjang. Ia melihat ketulusan di mata Nurbaya, dan tekad yang kuat di mata Samuel. Ia teringat akan penderitaannya sendiri di tangan Nur Firman. Mungkin ini adalah kesempatannya untuk membalas dendam, untuk menegakkan keadilan yang selama ini ia impikan.
"Baiklah," kata Pak Syamsul akhirnya, sebuah keputusan yang berat namun penuh keberanian. "Saya akan membantu kalian. Tapi kalian harus berjanji, kalian akan menjamin keselamatan saya dan keluarga saya. Dan kalian harus berjanji, kalian akan menghancurkan Nur Firman."
Nurbaya dan Samuel mengangguk serempak. Sebuah aliansi tak terduga telah terbentuk, sebuah aliansi yang didasari oleh darah dan dendam di balik nama keluarga. Pertarungan sesungguhnya baru saja dimulai. Mereka tahu, dengan bukti dari Pak Syamsul, mereka memiliki kesempatan untuk menjatuhkan Nur Firman, namun risiko yang mereka hadapi juga semakin besar.
***