NAMAKU NURBAYA BUKAN MILIK SIAPA-SIAPA

Batas Dua Dunia

Pagi belum sepenuhnya mekar di Depok, menyapa kampus Universitas Indonesia dengan sunyi yang pelan-pelan pecah oleh derap kaki dan deru motor mahasiswa. Langkah-langkah mahasiswa menyusuri trotoar yang dibatasi pepohonan rindang, tangan merea membawa serta buku, laptop, dan gelas kopi yang hampir dingin.

Gedung-gedung fakultas mulai menampakkan denyutnya. Menyaru dalam hijaunya pepohonan dan langit yang belum benar-benar biru. Seorang perempuan melangkah pelan, menyusuri koridor panjang menuju ruang dosen. Dari kejauhan, sosoknya tampak biasa. Blouse warna gading, celana hitam rapi, sepatu tanpa hak. Rambutnya digelung sederhana. Bibir terkatup rapat nyaris tanpa senyum.Tenang, tak tergesa, dan tak sekali pun menoleh untuk memastikan ada yang memperhatikannya.

Dialah Nurbaya.

Tiga puluh tahun. Dalam dunia akademik yang sering kali tak memberi ruang untuk perempuan muda, ia adalah satu dari sedikit pengecualian. Seorang dosen tetap di Departemen Sosiologi, dengan reputasi yang mulai dikenal bukan hanya karena prestasi akademiknya, tapi juga karena gagasannya yang tajam dan keberaniannya menyuarakan hal-hal yang tak nyaman bagi banyak orang.

Kandidat doktor yang namanya sudah mulai diperbincangkan di kalangan akademik karena tulisan-tulisannya tentang relasi kuasa dalam masyarakat adat dan perempuan. Bagi sebagian mahasiswa, ia terlalu serius. Bagi sebagian lainnya, terlalu tangguh. Tapi siapa pun yang pernah duduk di kelasnya akan tahu, Nurbaya bukan perempuan biasa. Ia bicara dengan kata-kata yang padat dan tegas, tapi tidak pernah kehilangan empati. Ia tidak berteriak untuk didengar; justru karena itulah ia dihormati.

Nurbaya sedang menempuh pendidikan doktoral di universitas yang sama, sambil mengajar penuh waktu. Ia tak pernah menyebut dirinya aktivis, tetapi banyak yang menganggapnya demikian. Ia menulis tentang relasi kuasa, tentang perempuan dan adat, tentang bagaimana sistem sosial menindas dalam diam dan disebut ‘kebiasaan’. Dalam tulisan-tulisannya, ada nada perlawanan yang halus, tersembunyi dalam kalimat yang tampak akademik.

Nurbaya lahir di Bukittinggi, sebagai anak sulung dari pasangan yang cukup terpandang di sana. Ayahnya, Haji Zulkarnain, adalah seorang pedagang sukses dan juga tokoh adat dengan gelar penghulu. Ibunya, Nurhayati, adalah perempuan yang kuat dan lembut, pengajar sastra yang dikenal karena pantun-pantunnya yang dalam dan pedih. Sejak kecil, Nurbaya sudah dibesarkan dalam rumah yang penuh tuntutan dan tradisi. Ia tidak pernah diberi pilihan untuk menjadi 'biasa'. Sebagai anak sulung perempuan dalam keluarga Minangkabau, sejak awal ia tahu bahwa hidupnya bukan miliknya sendiri.

"Kamu bukan hanya anak ayahmu. Kamu anak dari marwah keluarga," begitu kata ibunya suatu malam, ketika Nurbaya baru lulus SMP.

Di Minang, perempuan adalah pemilik pusaka. Tetapi pemilik belum tentu pemegang kendali. Dalam sistem matrilineal, harta diwariskan lewat garis ibu, tapi keputusan sering dipegang oleh mamak, paman dari pihak ibu, atau lelaki yang dipercaya adat. Nurbaya mengerti betul, ia diwarisi beban yang tidak ringan. Ia harus menjaga nama baik, memastikan kehormatan keluarga tetap berdiri, dan pada akhirnya, mewariskan semua itu kepada generasi berikutnya.

Namun dunia yang ia tinggali bukan hanya tanah leluhur. Ia tumbuh di zaman yang berubah cepat.

Nurbaya berpikir, dirinya bukan boneka pusaka. Ia tumbuh dengan otak yang tajam dan rasa ingin tahu yang sulit dibendung. Ia membaca buku-buku sosiologi sejak SMA, menyukai cerita-cerita tentang ketidakadilan dan cara orang melawannya. Setelah lulus SMA, ia menolak tawaran untuk kuliah di Padang dan memilih merantau ke Jakarta. Ayahnya marah besar. Tapi ibunya diam-diam mendukung.

Di Jakarta, ia menemukan ruang untuk berpikir dan bernapas. Ia diterima di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UI, jurusan Sosiologi. Di sanalah dunia baru terbuka. Dunia yang memperlihatkan bahwa nilai-nilai yang selama ini ia anggap kebenaran ternyata bisa dipertanyakan.

Ia membaca Bourdieu, Foucault, dan Fanon. Belajar feminisme postkolonial, menulis tentang masyarakat adat, juga tentang pengalaman pribadinya sebagai perempuan yang berada di persimpangan antara tradisi dan kebebasan. Tulisan-tulisannya dimuat di jurnal mahasiswa, lalu berkembang ke media daring. Tak semua disukai. Tak semua mudah diterima.

Nurbaya tidak menolak asal-usulnya, tapi juga tidak ingin tenggelam dalam romantisme tradisi. Di satu sisi, ia menghormati gelar bangsawan ayahnya. Di sisi lain, ia mempertanyakan mengapa perempuan selalu ditempatkan sebagai pelengkap cerita, bukan pelaku utama. Keberanian itu bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Ia dibentuk oleh banyak hal. Darah, garis keturunan, oleh sejarah keluarganya yang tak pernah bisa benar-benar ia lepaskan.

Beberapa tokoh adat di kampungnya sempat menegur ayahnya. “Anakmu ini, terlalu berani,” kata mereka. Tapi ayahnya hanya diam. Ia marah, tentu. Tapi ia tahu anaknya tidak bodoh. Ia tahu, jauh di dalam diamnya, Nurbaya mencintai akar yang sama yaitu tanah, rumah gadang, nama keluarga.

Setelah lulus S1, Nurbaya mendapat beasiswa untuk S2 di University of Melbourne. Di sana ia bertemu dunia yang lebih luas, dan di sanalah ia bertemu Samuel. Seorang peneliti Australia yang kemudian akan memainkan peran penting dalam hidupnya. Tapi kisah tentang Samuel belum waktunya dibuka.

Di balik semua prestasi dan pencapaian, ada satu hal yang jarang diketahui orang tentang Nurbaya, yaitu kesepiannya. Ia tidak kesepian karena sendiri, ia punya teman, kolega, bahkan pengagum. Ia kesepian karena selalu merasa berdiri di antara dua pilihan. Satu pilihan tentang adat, satu lagi kebebasan. Ia tidak bisa memilih sepenuhnya satu, dan tidak bisa benar-benar melepaskan yang lain.

Hari ini, setelah kelas selesai, Nurbaya duduk di ruang dosen dengan sebuah manuskrip di hadapannya. Ia tengah merevisi naskah untuk jurnal internasional tentang dampak pandemi pada relasi kekeluargaan di komunitas adat. Tulisannya tajam, reflektif, dan personal. Karena di dalam setiap kalimat ilmiah itu, terselip kenyataan keluarganya sendiri—bagaimana ayahnya harus menjual sebagian tanah warisan demi menutupi kerugian perusahaan, bagaimana sang adik yang laki-laki justru memilih merantau dan menjauh dari beban adat, dan bagaimana dirinya yang seorang perempuan akhirnya harus pulang bolak-balik, menjaga nama keluarga agar tak benar-benar runtuh.

Di ruang dosen yang rapi, ia membuka laptop dan mulai memeriksa draft disertasinya. Nurbaya memilih topik “Kontestasi Makna Warisan dalam Masyarakat Matrilineal: Studi Sosiologis di Sumatera Barat Pasca Pandemi.” Tema itu bukan hanya akademik. Itu adalah hidupnya sendiri. Ia menulis tentang perempuan yang diwarisi tanah, tapi tidak bisa menentukan bagaimana tanah itu digunakan. Ia menulis tentang keluarga yang hancur saat usaha bersama jatuh karena tidak ada satu suara. Ia menulis tentang bagaimana pandemi menghantam komunitas adat dengan cara yang berbeda, karena sistem dukungan sosial yang bergantung pada ikatan kekerabatan justru runtuh saat ekonomi lumpuh.

Tulisan itu menggali luka yang masih segar. Ayahnya, yang dahulu dihormati sebagai pengusaha dan tokoh masyarakat, kini tengah terpuruk. Perusahaannya yang bergerak di bidang perdagangan nyaris bangkrut setelah kalah dalam pemilihan bupati. Biaya politik yang dikeluarkan hampir menghabiskan semua simpanan keluarga. Pandemi memperparah keadaan. Proyek-proyek ditunda, kredit macet, dan karyawan tetap harus dibayar. Semua orang bergantung pada Haji Zulkarnain. Tapi siapa yang akan menopangnya?

Secara diam-diam, Nurbaya mulai mengirim uang dari gajinya. Tidak besar, tapi cukup untuk membayar listrik dan kebutuhan sehari-hari kepada adiknya. Ia tidak pernah membicarakannya. Ia tahu ayahnya akan tersinggung. Tapi ia juga tahu, dalam keluarga, beban tak selalu dibicarakan. Kadang hanya dibagi dalam diam.

Di tengah pekerjaannya, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari sekretaris dekan.

Bu Nurbaya, jangan lupa jadwal presentasi proposal S3 minggu depan. Pak Dekan akan hadir.

Ia membalas singkat, lalu melanjutkan membaca.

Hari masih panjang, dan pekerjaannya belum selesai. Tapi di sela-sela tumpukan jurnal dan laporan, pikirannya terbang ke Bukittinggi. Ia ingat rumah gadang yang kini mulai sepi. Dulu, saat lebaran, rumah itu penuh dengan suara anak-anak dan aroma rendang. Sekarang, satu per satu keluarga mulai menjauh. Ada yang pindah, ada yang kecewa karena bisnis keluarga tak lagi menjanjikan. Ada pula yang diam-diam beralih ke pengaruh politik Nur Firman, saingan lama ayahnya, mantan gubernur dua periode yang kini duduk nyaman di Senayan, kaya dan berkuasa berkat jaringan KKN yang sudah seperti gurita.

Nurbaya tahu, cepat atau lambat, ia harus memilih jalan. Apakah ia akan meneruskan warisan yang mulai rapuh itu? Atau melepaskannya dan berjalan sendiri, sepenuhnya sebagai perempuan merdeka?

Untuk sekarang, ia memilih berdiri. Di antaranya. Di batas dua dunia.

Dan itulah yang membuatnya berbeda. Ia tidak sempurna. Tapi ia sadar betul di mana ia berdiri. Dan mungkin, justru karena itu, kisah ini layak untuk diceritakan.

***

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!