Mirna dan Kopi Motivasi

Daru Meyakinkan Dirinya

Daru bersemangat, satu bulan berlalu. Apa yang terjadi, semangat berusaha membuahkan hasil. Setiap hari, dia harus mengontak Sekar yang merupakan asisten yang menjaga kafe milik Mirna. Mirna sendiri sesekali datang untuk mengantar resep kopi yang diraciknya.

Satu bulan, tiga tempat baru sudah dibuka dengan menempati tempat yang cukup strategis. Tentu saja hal itu disesuaikan dengan budget awal. Perkembangan cukup bagus, iklan di media sosial dibuat menarik. Kopi Gugah! Menggugah semangat dan motivasi menikmati kehidupan. Moto yang sederhana. Namun, kini banyak orang yang kenal dengan merek kopi ’Gugah’ tersebut.

Daru membuka tempat sederhana, meminjam tempat toko usaha dan membukanya hanya saat toko sudah tutup yaitu sore hingga malam. Dia menempatkan masing-masing outlet itu satu orang yang menjaganya. Resep sudah diberikan dan setiap kali ada yang memesan, maka tinggal menyeduh sesuai dengan pesanan mereka.

Minuman kopi Gugah bisa diminum di tempat, atau bahkan dibawa pulang. Cup suah dipersiapkan dengan baik, manajemen yang rapih diberlakukan Daru. Dia menggunakan uang pesangon dan tabungannya yang tersisa untuk bertaruh. Dia mengingat rasa kopi yang enak dan menggugah. Maka, dia yakin akan keberhasilannya. Dia sudah tidak memiliki pekerjaan di PT seperti sebelumnya. Kini, dia bisa fokus dan konsisten pada pemasaran kopi racikan dari Mirna.

Awalnya, dia cukup kesulitan untuk memulai. Namun, dia sudah pernah mendapatkan pelajaran saat kuliah dulu, manajemen dalam organisasi dan juga manajemen pemasaran. Dia bisa mengaplikasikannya sekarang. Daru tak menyerah, membuat iklan dan membuat video pendek untuk promosi. Dia melibatkan beberapa anak muda di sekitar komplek tempat kost tinggalnya. Awalnya sepi, hanya satu dua orang yang ingin mencoba, tapi pada akhirnya kini sudah banyak yang menjadi pelanggan dan selalu memesan kopi Gugah.

Daru semakin bersemangat, pesanan terus berdatangan. Sejak itu pula, hubungan Daru dan Mirna semakin intens melalui pesan singkat.

Pesanan lagi dan pesanan lagi. Reseller resmi adalah Daru, mereka membuat kontrak untuk tandatangan perjanjian. Daru menyatukan modal dengan Mirna, dan mereka membuat keuangan yang transparan. Daru meminta keuntungan 20 persen dari laba yang sudah dipotong dengan biaya-biaya.

Semakin intens hubungan mereka, Daru juga semakin terpesona dengan Mirna. Karakter yang menurutnya tepat untuk diperjuangkan sebagai seorang pendamping. Dan, Daru semakin hari semakin tak bisa melupakan wajah Mirna.

Dalam shalatnya, Daru berdoa agar Mirna adalah jodoh untuknya.

Tiga bulan berlalu.

Usaha kopi Gugah semakin diminati, mereka bahkan membuka beberapa cabang di kota lain. Penghasilan Daru kini lebih tinggi ketimbang ketika bekerja di perusahaan lamanya. Dengan persentasi dari laba yang didapatkan kopi Gugah, Daru bahkan bisa mendapatkan tiga kali lipat lebih banyak dari saat dirinya bekerja di perusahaan lamanya. Daru juga rutin mengirimkan uang untuk kedua orangtuanya di kampung.

Tidak salah Daru memilih untuk menjadi reseller utama dari kopi Gugah milik Mirna.

Slurp!

Ah!

Daru sedang di salah satu gerai kecil khusus kopi Gugah. Dia melihat perkembangan di salah satu tempat yang tak jauh dari kafe pusat Gugah, sekitar 5 kilometer. Mereka di tempat kafe pusat juga sudah diganti dengan Kopi Gugah. Beberapa orang datang untuk memesan minuman kopi Gugah dan melewati Daru. Mereka tidak tahu siapa yang memulai memasarkan kopi Gugah. Daru seolah seperti seorang pelanggan yang membeli.

Penjaga yang ada di sana sudah tahu kebiasaan mas Daru. Mereka membiarkan saja, dan juga Daru sering memberi motivasi pada mereka dan berjanji untuk memberikan bonus jika kerja dan pelayanan mereka baik.

Kali ini, Daru melihat dua lelaki yang memesan kopi Gugah, mereka adalah dua mahasiswa. Hal itu terlihat dari jas yang mereka kenakan. Keduanya memegang map skripsi, sepertinya sedang bimbingan. Keduanya meminum kopi Gugah di sebelah Daru. Mereka asyik berbincang, dan salah satu dari mereka memuji kopi tersebut.

”Andai saja ada wanita yang bisa meracik kopi seenak ini, aku pasti akan melamarnya!” ucap salah satu dari mereka spontan.

”Halah! Selesaikan saja skripsimu itu terlebih dahulu. Boro-boro mikirin calon isteri, ketemu pembimbing saja udah keringetan!”

Ha.. ha.. ha..

Keduanya tertawa bersama. Daru ikut tersenyum, dia suka bahwa kopi buatan Mirna disukai banyak orang.

Namun ...

Benar juga kata mahasiswa tersebut. Apa ..., Daru harus mengambil langkah, mereka beberapa kali sudah bertemu dan Mirna menunjukkan bahwa dia adalah tipikal wanita yang shalihah, insyaallah. Begitu pikir Daru. Wanita berjilbab itu begitu cantik, sopan dan bahkan memiliki senyum yang tak bisa dilupakan Daru.

Benar! Daru harus memperjuangkannya!

***

Daru sudah memantapkan dirinya, dia meminta petunjuk dari Allah dalam setiap shalatnya. Dia bertambah yakin untuk serius karena melihat dan memperhatikan beberapa kali saat mereka bertemu. Bahkan, semua karyawan di kafe yang berjumlah dua orang, mereka semua menganggap Mirna adalah wanita yang baik dan tak pernah memarahi mereka.

Hari itu, hari yang sudah ditentukan oleh Daru. Dia ingin mengungkapkan maksudnya, mereka janji bertemu di kafe pusat Gugah untuk membicarakan keuangan dan laba, ini adalah akhir bulan seperti biasanya.

Slurp!

Daru meminum kopinya, dia memesan kopi hitam murni pada Sekar. Nikmatnya kopi membuat Daru tersenyum. Beberapa pelanggan masih duduk di masing-masing meja mereka dan sedang bercengkerama sambil meminum kopinya.

Mirna sedikit terlambat datang, dia sudah konfirmasi pada Daru. Masih ada yang harus dilakukan di sekolah. Itulah salah satu kesibukan utama dari Mirna. Dia adalah seorang guru sekolah, dia menghabiskan sela-sela waktu di rumah selain mengajar dengan membuat racikan kopi Gugah.

Seseorang datang dan masuk pintu, dia mengucapkan salam. Itu adalah Mirna. Mirna tersenyum pada Sekar dan lainnya. dia melihat ke arah Daru yang sudah duduk.

”Sudah lama menunggu, mas Daru?” tanya Mirna anggun sambil tersenyum. Dia pun duduk di seberang meja Daru.

”Belum lama, baru menghabiskan setengah cangkir kopi kok.”

”Dia sudah lama, mbak Mirna. Bahkan sudah hampir satu jam yang lalu!” ucap Sekar menggoda.

Daru pun hanya bisa tersenyum.

Mereka hendak memulai pembicaraan dan Daru akan mengungkapkan niatnya untuk serius pada Mirna setelah pembahasan laporan keuangan kopi Gugah selesai.

”Mama!”

Sebuah suara mengagetkan mereka, seorang anak kecil berjilbab mungil datang bersama dengan seorang wanita cukup tua. Si kecil mungil berlari dan menghambur ke arah Mirna dan minta untuk dipangku.

”Ma.. Mama?” Daru keheranan dan menyipitkan matanya, melihat si kecil yang sempurna dipeluk oleh Mirna.

Mirna menatap Daru, ”Iya, ini anakku, Hilda!”

Anak? Daru mendelikkan matanya lebar-lebar.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!