Mimpiku Tergadai Kemiskinan Bapak
Ikatan Batin Si Kembar
Bau karbol yang menyengat menusuk hidung Coach Hendra. Ia mondar-mandir di depan pintu ruang operasi RSUD Kabupaten. Di tangannya, sebuah koran sore dengan headline besar: "NOMOR 072: JALAN BERDARAH MENUJU KEHORMATAN." Di bawahnya, foto Tegar yang sedang merangkak menyentuh garis finish terpampang nyata.
"Keluarga Tegar?" seorang perawat keluar dengan wajah tegang.
Bapak berdiri seketika, topinya diremas kuat-kuat. "Saya, Mbak. Saya bapaknya. Gimana anak saya?"
"Infeksinya sudah masuk ke aliran darah. Kondisi dek Tegar kritis. Tim dokter sedang berusaha melakukan pembersihan jaringan atau debridement. Kita berdoa agar tidak perlu ada tindakan amputasi lebih lanjut pada sisa tungkainya."
Bapak lemas, terduduk di kursi besi yang dingin.
"Bapak... Kak Tegar akan bangun, kan?" Tulus menarik ujung baju Bapak. Wajahnya pucat, napasnya terdengar satu-satu, berat dan pendek.
"Bangun, Le. Kakakmu itu batu. Tanah desa kita sudah masuk ke nadinya," bisik Bapak sambil memeluk Tulus.
Tiba-tiba, lorong rumah sakit riuh. Serombongan orang berseragam safari dan kamera televisi mendekat. Di depan mereka, seorang pria paruh baya dengan perut buncit—Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga—tersenyum lebar ke arah kamera.
"Mana pahlawan kita? Mana Tegar?" tanya Kepala Dinas itu dengan nada yang dibuat-buat ramah.
Coach Hendra menghadang. "Dia sedang di dalam, Pak. Berjuang nyawa. Bukan untuk sesi foto."
"Lho, jangan salah paham, Coach. Kami datang membawa kabar baik. Bapak Bupati sangat terkesan. Ini," ia mengangkat sebuah map tebal, "Dana taktis untuk pengobatan total Tegar sampai sembuh. Bahkan, ada beasiswa khusus untuknya."
Bapak hanya diam, matanya nanar menatap pintu operasi.
"Pak," panggil seseorang dari kerumunan wartawan. "Apa benar ini semua karena kelalaian panitia yang membiarkan atlet difabel berlari di jalur umum hingga disabotase?"
Kepala Dinas berkeringat dingin. "E-eh, itu sedang kami investigasi. Yang penting sekarang adalah kemanusiaan!"
Empat jam kemudian.
Tegar dipindahkan ke ruang ICU. Tubuhnya dipenuhi kabel dan selang. Kaki kanannya dibungkus perban tebal yang dilapisi plastik. Ia tampak begitu kecil di atas ranjang putih itu.
Perlahan, kelopak matanya bergerak.
"Gar? Tegar? Ini Coach, Gar," bisik Coach Hendra.
Tegar mencoba bicara, tapi masker oksigen menghalanginya. Ia memberi isyarat dengan tangan yang bergetar agar masker itu dibuka sebentar.
"Ssssh... jangan banyak gerak dulu," ucap Bapak sambil mengusap dahi Tegar yang masih panas.
"Pak..." suara Tegar serak, hampir menyerupai gesekan amplas.
"Iya, Nak? Bapak di sini. Tulus juga di sini."
"Budi... gimana?"
Bapak mendengus. "Bapaknya sibuk minta maaf di TV. Budi cuma kram, tapi malunya sampai ke ubun-ubun. Sudah, jangan pikirkan mereka."
"Uang... tadi ada orang... bilang uang..." Tegar menoleh ke arah meja di samping ranjang, tempat map beasiswa dan bantuan itu diletakkan.
"Itu bantuan buat kamu, Gar. Kamu bisa operasi di Surabaya. Pakai alat canggih. Kamu bisa punya kaki palsu yang paling mahal supaya bisa lari lagi," ucap Coach Hendra dengan semangat. "Dunia sudah melihatmu, Gar! Donasi masuk dari mana-mana. Rekening Bapakmu sudah penuh!"
Tegar terdiam lama. Matanya beralih ke Tulus yang duduk di kursi roda di pojok ruangan. Tulus mencoba tersenyum, meski bibirnya membiru. Tulus batuk-batuk kecil, memegangi dadanya yang tampak berdenyut tak beraturan di balik kaos tipisnya.
"Sini... Lus..." panggil Tegar.
Tulus mendekat, memegang tangan kakaknya yang bebas dari infus. "Kakak hebat. Tulus bangga punya kakak juara."
Tegar menatap Bapak, lalu menatap Coach Hendra dengan tatapan yang tajam—tatapan yang sama saat ia memutuskan bangkit di hutan jati tadi.
"Coach... Pak..."
"Iya, Gar?"
"Tegar tidak mau... kaki baru."
Bapak terperangah. "Maksudmu apa, Le? Itu uang buat kamu sembuh!"
"Kaki Tegar... biar begini saja. Tegar sudah terbiasa dengan satu kaki dan tongkat kayu. Tanah desa tidak butuh kaki robot untuk dicangkul."
"Tapi infeksinya, Gar! Kamu bisa kehilangan lebih banyak lagi!" Coach Hendra memprotes keras.
Tegar menggeleng lemah. "Ambil saja... ambil semuanya. Tapi Tegar punya satu syarat."
"Apa syaratnya? Sebutkan saja, Nak," sahut Bapak dengan air mata mulai menggenang.
Tegar menarik napas panjang, sebuah tarikan napas yang seolah memeras seluruh sisa tenaganya. Ia mencengkeram tangan Tulus dengan kuat.
"Pindahkan semua dana itu... semua bantuan, semua beasiswa, semua uang donasi... ke rekening pengobatan jantung Tulus."
Suasana ruangan mendadak mati suri. Tulus terbelalak, air matanya jatuh seketika.
"Gak! Gak mau! Itu buat Kak Tegar!" teriak Tulus histeris. "Kaki Kakak sakit! Tulus gak apa-apa, Kak!"
"Diam, Lus..." potong Tegar tegas. "Setiap malam... Kakak dengar detak jantungmu yang tidak beres itu. Setiap malam Kakak takut... kalau besok Kakak bangun, jantungmu sudah berhenti."
"Tapi Gar, kamu atlet! Kamu masa depan bangsa ini!" Coach Hendra mencoba membujuk.
"Atlet tanpa hati itu kosong, Coach. Hati saya ada di adik saya," Tegar menatap Bapak. "Pak, tolong. Tegar mohon. Hubungi dokter jantung di Jakarta. Bawa Tulus besok. Kaki Tegar bisa menunggu, tapi jantung Tulus... Tegar tahu, waktunya tidak banyak lagi, kan?"
Bapak menutup wajah dengan kedua telapak tangannya, bahunya berguncang hebat. Ia tahu. Ia tahu selama ini Tulus bertahan hanya dengan jamu dan doa, karena mereka tidak punya sepeser pun untuk operasi katup jantung.
"Gar... tapi kalau kamu tidak operasi sekarang, kakimu harus..." Bapak tidak sanggup melanjutkan kata 'diamputasi total'.
Tegar tersenyum, senyum paling tulus yang pernah dilihat Coach Hendra. "Potong saja kalau memang harus. Tegar masih punya satu kaki untuk berdiri, dan dua tangan untuk memeluk kalian. Tapi kalau Tulus pergi... Tegar tidak punya alasan untuk lari lagi."
Di luar ruangan, tanpa mereka sadari, mikrofon salah satu stasiun TV masih menyala di dekat pintu yang sedikit terbuka. Seluruh percakapan itu tersiar langsung ke jutaan pasang mata di seluruh negeri.
Tiba-tiba, monitor detak jantung di samping ranjang Tegar berbunyi tit... tit... tit... dengan cepat. Wajah Tegar mendadak pucat pasi. Ia memegangi dadanya, lalu tubuhnya mengejang.
"Dokter! Suster!" teriak Coach Hendra.
Tegar terengah-engah, matanya membelalak menatap langit-langit. "Pak... janji... Tulus dulu..."
"Tegar! Bangun, Gar!" Bapak mengguncang bahunya.
Perawat berlarian masuk, mendorong Bapak dan Tulus keluar. Pintu ICU tertutup rapat. Lampu merah di atas pintu menyala.
Di koridor, Tulus jatuh tersungkur dari kursi rodanya, memegangi dadanya sendiri yang terasa sesak luar biasa, seolah-olah ada ikatan batin yang sedang ditarik paksa.
"Bapaaakkk! Kak Tegar, Pak!" tangis Tulus pecah, menggema di lorong rumah sakit yang sepi.
Di saat yang sama, di layar televisi di ruang tunggu, terlihat berita baru: Kepala Desa resmi ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi dana desa setelah penggeledahan mendadak sore ini. Namun, tak ada yang peduli pada berita itu. Semua mata tertuju pada pintu ICU yang tertutup rapat, di mana seorang pemenang sedang mempertaruhkan nyawanya demi memberikan detak jantung bagi kembarannya.
Apakah pengorbanan Tegar akan berujung sia-sia? Ataukah ini akhir dari perjalanan sang legenda satu kaki?