Mimpiku Tergadai Kemiskinan Bapak
Hari Itu Tiba
"Gar, kalau kamu tidak kuat lusa nanti, Bapak tidak akan marah. Kamu sudah menang sejak kamu berani melawan Pak Kades tadi pagi," bisik Bapak sambil mengusap rambut putranya.
Tegar membuka matanya yang sayu. "Bapak tahu kenapa elang bisa terbang tinggi meskipun badai besar?"
Bapak menggeleng.
"Karena dia tidak melawan anginnya, Pak. Dia meminjam kekuatan angin itu untuk naik lebih tinggi. Sakit ini... sakit ini adalah angin saya. Saya akan pakai rasa sakit ini supaya saya tidak berhenti lari sampai garis finish."
Bapak memeluk Tegar erat-erat. Di sudut kamar, Tulus yang pura-pura tidur menangis tanpa suara.
Hari perlombaan tiba. Alun-alun kabupaten penuh sesak oleh atlet-atlet dengan perlengkapan modern. Sepatu bermerek, baju berbahan dry-fit yang mahal, dan minuman isotonik yang berlimpah.
Di tengah kerumunan itu, muncul sebuah pemandangan yang membuat semua mata menoleh. Seorang pemuda kurus, mengenakan nomor dada 072, berdiri dengan satu tongkat kayu di tangan kanan. Kakinya yang satu lagi terbungkus perban tebal hingga ke pergelangan kaki, nampak bengkak dan kemerahan di bagian atasnya.
Budi, yang mengenakan sepatu lari terbaru seharga jutaan rupiah, tertawa mengejek bersama teman-temannya. "Hei, lihat! Ada sirkus satu kaki! Mau lari atau mau mengemis, Gar?"
Tegar tidak menjawab. Ia mengatur posisi di garis start. Ia memposisikan tongkat kayunya dengan mantap. Coach Hendra berdiri di pinggir lintasan, memberikan jempol dengan mata yang tegas.
"Peserta siap!" teriak petugas pemberangkatan.
Tegar memejamkan mata. Ia tidak lagi mencium bau keringat orang di sampingnya. Ia tidak lagi mendengar ejekan Budi. Ia hanya mendengar suara napas Tulus yang lemah dan suara doa Bapak yang tulus.
Dor!
Bunyi pistol start menggelegar.
Ratusan pelari melesat maju. Tegar melontarkan tubuhnya ke depan dengan bantuan tongkat kayu itu. Lompat. Tumpu. Lompat. Tumpu. Ia tertinggal jauh di belakang pada sepuluh meter pertama. Penonton di pinggir jalan mulai berbisik kasihan, beberapa bahkan berteriak menyuruhnya berhenti saja.
Namun, Tegar terus menatap lurus ke depan. Aspal jalan raya yang panas mulai membakar telapak kaki kirinya, namun ia tak peduli. Di dalam hatinya, ia sedang tidak berlari di jalanan kota. Ia sedang berlari menuju masa depan di mana adiknya bisa sekolah, di mana bapaknya tidak perlu dihina lagi.
"Satu langkah lagi, Gar. Satu langkah lagi..." bisiknya pada diri sendiri.
Baru berjalan satu kilometer, perban di kakinya mulai menampakkan noda merah. Darah merembes keluar. Infeksi itu pecah karena tekanan otot yang hebat. Tapi Tegar justru semakin kencang mengayunkan tongkatnya. Wajahnya yang penuh peluh tampak mengeras seperti batu karang.
Ia melewati satu pelari yang kelelahan. Lalu satu lagi. Keajaiban mulai terjadi di sepanjang jalanan kabupaten itu. Orang-orang yang tadinya mengejek, perlahan terdiam. Mereka melihat seorang anak manusia yang sedang bertarung melawan maut hanya untuk sebuah garis finish.
"Ayo, Nomor 072! Jangan menyerah!" seorang ibu-ibu pedagang pasar berteriak histeris sambil melambaikan serbetnya.
Tegar terus melompat. Dadanya serasa mau meledak. Tapi di matanya, garis finish itu sudah terlihat, meski masih berkilometer jauhnya. Ia akan sampai ke sana, meskipun harus merangkak dengan jari-jarinya.
Matahari tepat berada di atas ubun-ubun, membakar aspal jalan raya kabupaten hingga memunculkan uap panas yang menyiksa mata. Kilometer ke-18. Jarak yang menjadi kuburan bagi impian banyak pelari. Di titik ini, paru-paru terasa seperti diisi pasir panas, dan setiap tarikan napas adalah perjuangan melawan rasa ingin menyerah.
Tegar masih bertahan.
Plak. Deg. Plak. Deg.
Bunyi tongkat kayu warunya menghantam aspal kini terdengar lebih berat. Iramanya tidak lagi stabil. Kaki kirinya yang menjadi tumpuan tunggal sudah mulai mati rasa, sementara kaki kanannya yang terinfeksi kini benar-benar menjadi beban yang mengerikan. Perban putih itu kini telah berubah warna menjadi merah tua yang pekat. Darah dan nanah merembes, menetes satu demi satu ke jalanan, meninggalkan jejak horor di belakangnya.
"Gar! Fokus! Lihat depan!" teriakan Coach Hendra terdengar dari arah samping. Sang pelatih terus mengayuh sepeda tuanya, wajahnya penuh kecemasan yang tidak bisa disembunyikan.
Tegar tidak menoleh. Pandangannya mulai kabur. Dunianya hanya sebatas satu meter di depan ujung tongkatnya. Ia tidak lagi merasakan sakit yang tajam; rasa sakit itu sudah berubah menjadi denyut panas yang menjalar ke seluruh tulang belakangnya. Setiap kali ia melompat, guncangan itu menghantam luka infeksinya, membuat kesadarannya hampir hilang.
Sabotase di Tikungan Sunyi
Di depan sana, jalanan mulai memasuki area perkebunan jati yang sepi. Penonton tidak sebanyak di pusat kota tadi. Di sinilah, Budi dan dua temannya yang sudah tertinggal jauh dari rombongan pelari terdepan, sengaja melambatkan lari mereka.
Budi menoleh ke belakang, melihat sosok pincang Tegar yang perlahan tapi pasti mulai mendekati posisinya. Amarah membakar dada anak Kepala Desa itu. Baginya, melihat Tegar masih bertahan adalah penghinaan terhadap harga dirinya yang memiliki segala fasilitas.
"Sialan! Anak cacat ini kenapa belum mati juga?" umpat Budi dengan napas tersengal.
"Bud, lihat itu. Dia cuma pakai tongkat. Kalau tongkatnya patah, habislah dia," bisik salah satu temannya, seorang pemuda berbadan gempal yang juga mengenakan atribut lari mahal.
Budi menyeringai licik. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan sebotol kecil minyak pelumas rantai motor yang sengaja ia bawa. Saat mereka melewati sebuah tikungan tajam yang tertutup bayangan pohon jati, Budi menumpahkan cairan licin itu tepat di jalur yang akan dilewati Tegar. Tidak hanya itu, ia juga menendang beberapa batu koral besar ke tengah jalan.
Setelah itu, Budi mempercepat larinya, bersembunyi di balik tikungan untuk menonton "pertunjukan".
Tegar tiba di tikungan itu beberapa menit kemudian. Tubuhnya sudah limbung. Ia tidak menyadari kilauan aneh di atas aspal hitam itu.
Sret!
Ujung tongkat kayu Tegar menghantam permukaan yang licin. Tanpa ampun, tongkat itu selip. Tubuh Tegar terlempar ke depan, menghantam aspal dengan keras. Luka infeksinya membentur batu koral yang sengaja diletakkan Budi.
"AAAKKKHHHHH!"