Mimpiku Tergadai Kemiskinan Bapak
Satu Kaki
Asap hitam mengepul dari knalpot mobil pick-up tua Bapak, meninggalkan gerombolan motor trail Budi yang terpaku dalam debu. Tegar mencengkeram besi bak mobil yang berkarat. Di sampingnya, Tulus menyandarkan kepala pada tumpukan karung goni berisi gabah. Wajah adiknya itu sepucat kertas, namun matanya yang sayu terus mengikuti gerak-gerik Tegar.
"Minum dulu, Gar," suara Bapak parau dari balik kemudi, tangannya sesekali menyeka keringat yang membanjiri dahi. Ia terus memacu mobil itu melewati lubang-lubang jalanan desa yang seolah ingin mematahkan as roda.
Pukul 09.55 WIB. Pendaftaran ditutup tepat pukul sepuluh. Mobil Bapak mengerem mendadak di depan Gedung Pemuda Kabupaten, menimbulkan bunyi decit yang memekakkan telinga.
"Cepat, Gar! Lari!" teriak Coach Hendra sambil melompat turun.
Tegar mencoba melompat, namun rasa nyeri di kaki kanannya mendadak menyengat seperti ditusuk ribuan jarum panas. Ia meringis, memegangi betisnya yang kaku. Di kejauhan, di depan pintu kaca gedung, ia melihat sosok yang sangat ia kenal: Kepala Desa dan Budi sudah berdiri di sana bersama panitia.
"Maaf, waktu pendaftaran sudah habis," suara Kepala Desa terdengar lantang, bergema di lobi gedung yang megah itu. Ia melirik jam tangan emasnya dengan senyum puas.
"Belum, Pak! Masih ada lima menit!" Coach Hendra merangsek maju, menyodorkan map plastik berisi berkas Tegar yang lecek.
"Lihat anak ini, Pak Panitia," Budi menunjuk Tegar yang berjalan pincang dengan napas memburu. "Jangankan lari maraton, jalan saja sudah miring-miring begitu. Desa kami tidak mau menanggung malu kalau dia pingsan di jalan. Coret saja namanya."
Panitia yang memegang bolpoin tampak ragu. Ia menatap Tegar dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kaos Tegar sudah robek di bagian bahu, sepatunya kusam, dan baunya bercampur antara keringat dan lumpur sawah.
Tegar menarik napas panjang. Ia melangkah maju, berdiri tepat di depan meja pendaftaran. Ia tidak melihat ke arah Kepala Desa. Matanya tertuju lurus pada petugas itu.
"Pak," suara Tegar bergetar namun dalam. Ia mengeluarkan sebuah kalung dari balik bajunya—sebuah medali emas hadiah juara satu tingkat kecamatan. "Nama saya Tegar. Saya datang bukan untuk minta kasihan. Saya datang untuk lari. Kalau saya mati di lintasan, itu urusan saya dengan Tuhan. Tapi tolong, jangan biarkan kertas ini kosong tanpa nama saya."
Bapak tiba-tiba muncul di belakang Tegar, menggendong Tulus yang masih lemah. "Anak saya bukan peminta-minta, Pak Kades. Dia punya hak yang sama dengan Budi."
Suasana mendadak hening. Beberapa orang di lobi mulai berbisik. Panitia itu menatap mata Tegar yang merah menahan tangis dan amarah. Dengan gerakan cepat, ia menyambar map dari tangan Coach Hendra dan membubuhkan stempel merah di atas formulir.
"Nomor dada 072. Tegar. Selamat bertanding lusa pagi," ucap panitia itu tegas.
Kepala Desa mendengus kasar, lalu membuang muka. "Kita lihat saja, apa kaki busuk itu bisa melewati kilometer pertama," bisiknya pedas saat melewati Tegar.
Lusa adalah hari perlombaan. Namun, cobaan bagi Tegar baru saja dimulai. Di bawah gubuk bambu di pinggir sawah, Coach Hendra membuka perban di kaki Tegar. Aroma tidak sedap langsung menyeruak.
"Gar..." suara Coach Hendra tercekat.
Luka di telapak kaki Tegar sudah membiru. Nanah mulai merembes di sela-sela jemari kakinya yang bengkak. Infeksi itu sudah menyebar. Kaki itu terasa panas saat disentuh, tanda demam mulai menyerang tubuh pemuda itu.
"Kita ke puskesmas sekarang," tegas Bapak yang baru datang membawa air tajin untuk Tulus.
"Jangan, Pak! Kalau ke puskesmas, dokter pasti melarang Tegar lari. Mereka akan menyuruh saya istirahat total," cegah Tegar. Ia mencoba berdiri, namun langsung ambruk ke tanah.
Coach Hendra memijat keningnya. Sebagai pelatih, ia tahu ini gila. Ini bukan lagi soal olahraga, ini soal nyawa. Tapi ia juga tahu, bagi Tegar, lari adalah satu-satunya jalan keluar dari jerat kemiskinan dan hinaan.
"Dengar, Gar. Dengan kondisi begini, kamu tidak mungkin menumpu pada kaki kananmu. Infeksinya terlalu parah," Coach Hendra menatap sepasang dahan pohon waru yang sudah kering di pojok gubuk.
Ia mengambil parang, memotong dahan itu, dan menyerutnya hingga halus. Ia membuat sebuah tongkat penyangga sederhana dengan bantalan kain bekas di bagian ketiak.
"Latihan dua hari ini bukan tentang kecepatan," kata Coach Hendra sambil menyerahkan tongkat itu. "Tapi tentang bagaimana kamu lari dengan satu kaki. Kamu harus menjadikan tongkat ini bagian dari tubuhmu."
Mata Tegar berbinar melihat tongkat penyangga sederhana itu. Ia mencoba menggunakannya. Senyumnya mengembang. "Dengan kruk ini, saya pasti bisa berlari, Coach!"
"Bagus! Tapi sebelum berlatih, kitabtetap harus ke Puskesmas dulu. Luka ini tetap harus dibersihkan. Kakimu ini aset, Gar. Kalau infeksinya makin parah, bisa-bisanya diamputasi."
Mendengar kata "amputasi", wajah Tegar berubah pucat. Akhirnya dia mengiyakan ajakan Coach Hendra.
***
Matahari sore itu berwarna jingga pekat, seperti menyiram sawah dengan darah. Di jalanan setapak yang berbatu, Tegar mulai bergerak.
Deg. Plak. Deg. Plak.
Bunyi tongkat kayu yang menghantam tanah beradu dengan bunyi satu sepatunya. Tegar meloncat dengan kaki kiri, sementara kaki kanannya yang terbungkus kain tebal dibiarkan menggantung, tidak boleh menyentuh tanah agar infeksinya tidak semakin parah.
"Ayo! Gunakan kekuatan bahumu! Jangan cuma kaki!" teriak Coach Hendra sambil bersepeda di sampingnya.
Baru lima ratus meter, kaos Tegar sudah basah kuyup. Otot bahu menegang dan ketiaknya mulai lecet karena gesekan kruk. Keringat asin mengalir masuk ke luka di kakinya, menimbulkan rasa perih yang membuat Tegar mengerang tertahan.
"Berhenti dulu, Gar! Kamu pucat sekali!" teriak Bapak dari kejauhan, yang sedang mengawasi Tulus di teras rumah.
"Belum, Pak! Belum sepuluh kilometer!" balas Tegar dengan suara serak.
Ia terjatuh. Wajahnya mencium tanah berdebu. Tongkatnya terlempar ke parit. Tegar terengah-engah, memuntahkan cairan bening dari mulutnya. Tubuhnya menggigil karena demam akibat kelelahan.
Dari teras rumah, Tulus mencoba duduk tegak. "Kakak... ayo, Kak... lari buat Tulus..." suara lirih adiknya itu terbawa angin sawah, sampai ke telinga Tegar.
Tegar mencengkeram rumput. Ia merangkak menuju parit, mengambil tongkatnya yang kotor. Dengan sisa tenaga, ia kembali berdiri. Satu kaki. Hanya satu kaki yang ia miliki sekarang untuk merubah nasib.
Ia teringat ucapan ibunya semalam: "Gusti mboten sare, Gar. Sopo sing temen, bakal tinemu (Tuhan tidak tidur, siapa yang bersungguh-sungguh, akan menemukan jalan)."
Ia mulai meloncat lagi. Setiap loncatan adalah doa. Setiap rasa sakit adalah penebusan. Coach Hendra hanya bisa terdiam, matanya berkaca-kaca melihat anak didiknya itu. Ia belum pernah melihat manusia yang begitu keras kepala dalam mempertahankan impian.
Malam harinya, Tegar tidak bisa tidur. Kakinya berdenyut-denyut mengikuti detak jantungnya. Bapak duduk di sampingnya, mengompres dahi Tegar dengan air hangat.