Mimpiku Tergadai Kemiskinan Bapak

Dukungan Tulus

Tegar mempercepat langkah. Napasnya memburu, dadanya terasa sesak. Keringat membasahi seluruh tubuhnya, bercampur dengan air mata yang entah sejak kapan menetes. Ia melewati pohon-pohon besar yang menjulang, bebatuan tajam yang seolah siap mengoyak sepatunya, dan jurang di sisi tebing yang menganga, seolah siap menelannya.

Tiba-tiba, sebuah suara deru mesin terdengar dari bawah. Tegar menoleh sekilas. Dari balik pepohonan, ia bisa melihat beberapa motor trail melaju kencang di jalanan desa yang kini sudah bersih dari asap. Motor-motor itu dihiasi bendera kecil bertuliskan nama Kepala Desa.

"Mereka mau menghentikan kita, Coach!"

"Jangan pedulikan mereka! Fokus pada langkahmu!"

Tegar mematuhi. Ia melompat melewati batang kayu yang melintang, menaiki bebatuan curam, dan meluncur di turunan licin dengan hati-hati namun cepat. Ia bisa merasakan otot-otuhnya berteriak protes, namun adrenalinnya mengalahkan segalanya. Sepatu tua itu, warisan dari seorang juara, seolah memberinya kekuatan magis.

Setelah perjuangan yang terasa tak berujung, mereka akhirnya mencapai puncak tebing. Dari sana, Tegar bisa melihat pemandangan luas kabupaten di kejauhan. Sebuah pemandangan yang tak pernah ia bayangkan akan ia lihat dalam kondisi seperti ini. Namun, jalan di depan masih panjang, dan waktu terus berjalan.

"Sudah berapa jauh lagi, Coach?"

"Kurang lebih sepuluh kilometer lagi. Kita harus lari di jalan raya sekarang."

"Tapi motor-motor itu..."

"Tidak ada waktu untuk takut, Gar! Ini kesempatan terakhirmu!"

Mereka mulai berlari menuruni tebing, lalu menyusuri jalanan desa yang mulai ramai oleh aktivitas pagi. Beberapa warga menatap mereka dengan heran, namun Tegar tak punya waktu untuk peduli. Ia terus berlari, napasnya tersengal-sengal, namun tekadnya tak tergoyahkan.

Tiba-tiba, suara deru motor trail semakin mendekat. Sebuah motor berhenti di samping Tegar. Di atasnya, duduk seorang pemuda dengan jaket kulit hitam dan senyum meremehkan.

"Wah, wah, lihat siapa ini? Si anak miskin yang nekat mau ikut lomba?" kata pemuda itu, yang tak lain adalah anak Kepala Desa, Budi.

Di belakangnya, rombongan motor trail lain ikut berhenti, mengepung Tegar dan Coach Hendra.

"Minggir, Budi! Jangan halangi jalan kami!" teriak Coach Hendra.

"Oh, Tuan Coach. Santai saja. Saya hanya ingin memastikan kalau Tegar tidak menyusahkan dirinya sendiri. Kompetisi ini terlalu berat untuknya, apalagi dengan kaki pincang begitu," ejek Budi.

Tegar menatap Budi dengan kemarahan yang membara. Ia tahu, Budi dan Bapaknya sengaja melakukan semua ini untuk menggagalkan impiannya.

"Aku tidak akan menyerah, Budi! Aku akan tunjukkan padamu siapa yang akan menang!"

"Omong kosong! Kamu bahkan tidak akan sampai ke garis start, pecundang!" Budi tertawa keras, diikuti oleh teman-temannya.

Tiba-tiba, Coach Hendra melangkah maju, tangannya mencengkeram kerah jaket Budi.

"Dengar baik-baik, Budi! Tegar adalah atlet masa depan. Kamu tidak akan bisa menghentikannya!"

Budi berusaha melepaskan diri. "Apa-apaan ini, Coach?! Lepaskan aku!"

Tepat pada saat itu, sebuah mobil patroli desa datang dan berhenti di dekat mereka. Dari dalamnya, keluar Kepala Desa dengan wajah merah padam.

"Ada apa ini? Budi! Lepaskan dia!" teriak Kepala Desa.

Budi segera melepaskan diri dari cengkeraman Coach Hendra.

"Pak Kades, anak Anda ini mencoba menghalangi Tegar untuk mendaftar kompetisi!" kata Coach Hendra.

Kepala Desa tersenyum sinis. "Menghalangi? Saya hanya khawatir dengan keselamatan Tegar. Kaki seperti itu, tidak mungkin bisa berlari. Saya tidak mau dia celaka."

"Itu bukan urusan Anda, Pak Kades!" Tegar menyahut. "Saya akan tetap lari, bagaimanapun caranya!"

Kepala Desa tertawa. "Kamu terlalu sombong, Tegar. Sudahlah, pulang saja. Biarkan Budi yang mewakili desa kita. Dia sudah siap, fisiknya prima, tidak seperti kamu."

"Tidak! Aku tidak akan menyerah!" teriak Tegar. "Aku akan buktikan kalau anak miskin ini bisa menang!"

Tiba-tiba, dari arah belakang Tegar, terdengar suara klakson mobil yang nyaring. Sebuah mobil pick-up tua berwarna biru melaju kencang, lalu berhenti mendadak di samping mereka. Pintu mobil terbuka, dan Bapak Tegar keluar dari dalamnya, bersama Tulus yang kini terbaring lemah di bak belakang mobil.

"Bapak?" Tegar terkejut.

"Tulus sudah sadar, Gar! Dia bilang, dia ingin melihatmu sampai ke garis start!" kata Bapak, matanya memancarkan semangat yang baru. "Naik, Gar! Kita akan ke kabupaten bersama-sama!"

Kepala Desa dan Budi terkejut melihat kedatangan Bapak dan Tulus. Mereka tidak menyangka Bapak akan berani datang, apalagi membawa Tulus dalam kondisi seperti itu.

"Tunggu dulu, Pak! Apa yang Anda lakukan?!" teriak Kepala Desa. "Anda tidak bisa seenaknya membawa mobil seperti ini di jalan desa!"

"Ini darurat, Pak Kades! Anak saya harus segera mendaftar!" kata Bapak, tidak gentar.

Tegar menatap Bapak, lalu Tulus yang terbaring lemah namun tersenyum tipis kepadanya. Ia tahu, inilah saatnya.

"Ayo, Coach!" Tegar naik ke bak belakang mobil, duduk di samping Tulus. Coach Hendra pun ikut naik.

Bapak langsung tancap gas, meninggalkan Kepala Desa dan rombongan motor trailnya yang kini hanya bisa menatap dengan kesal. Mobil pick-up tua itu melaju kencang, membelah jalanan desa, membawa Tegar menuju takdirnya.

Di dalam mobil, Tegar memegang tangan Tulus. "Aku akan menang, Lus. Aku janji."

Tulus tersenyum, mengangguk lemah. "Aku percaya padamu, Kak."

Coach Hendra menepuk bahu Tegar. "Kita akan sampai tepat waktu, Gar. Percaya padaku."

Tegar melihat ke luar jendela. Matahari sudah mulai naik, cahayanya menerangi jalanan. Di depannya, terbentang jalan raya yang ramai, dan di ujung sana, impiannya menanti. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, namun satu hal yang pasti: ia tidak akan menyerah. Ia akan berlari, berlari secepat yang ia bisa, demi Bapak, demi Tulus, dan demi dirinya sendiri. 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!