Mimpiku Tergadai Kemiskinan Bapak
Pulang dengan Kepala Tegak
Salim tidak menjawab. Ia digiring pergi menuju mobil tahanan, meninggalkan kejayaan palsu yang selama ini ia bangun di atas penderitaan orang lain.
Malam itu, di hotel kecil tempat mereka menginap, mereka bertiga duduk mengitari meja kayu. Di tengah meja, medali emas yang berat dan berkilau itu tergeletak. Tidak ada pesta mewah, hanya nasi bungkus yang mereka beli di kedai sekitar hotel.
"9.78, Lus," Tegar geleng-geleng kepala sambil membelai medali itu. "Kamu tahu apa artinya itu? Kamu adalah orang tercepat di Asia saat ini."
"Bukan aku, Kak," sahut Tulus sambil menyuap nasinya. "Kita. Itu waktu yang kita catat bersama di buku kusam Kakak."
Andreas tersenyum, menyandarkan punggungnya ke kursi. "Besok kita pulang. Federasi di Jakarta sedang gempar. Mereka mencoba menghubungi saya berkali-kali untuk 'memperbaiki' nama mereka. Apa rencana kalian?"
Tulus menatap kakaknya. Tegar menatap adiknya. Sebuah pemahaman tanpa kata terjalin di antara mereka.
"Kami akan pulang ke desa dulu, Kak Andreas," jawab Tulus mantap. "Saya ingin menunjukkan medali ini pada Ibu. Dan saya ingin membangun lintasan lari yang layak di sana, agar tidak ada lagi anak desa yang harus memalsukan domisili hanya untuk diakui negaranya."
Tegar mengangguk. "Dan aku... aku akan mulai menulis buku kedua. Judulnya: Cara Berlari Tanpa Kaki."
Tawa mereka pecah, memenuhi ruangan sempit itu. Di luar jendela, lampu-lampu Singapura bersinar terang, namun bagi mereka, cahaya paling terang tetaplah lampu minyak di rumah kayu mereka di desa, tempat di mana semua harapan ini bermula.
Besok adalah hari baru. Dan bagi Tulus, garis finish hanyalah awal dari lintasan yang lebih panjang: lintasan kehidupan yang kini ia lalui dengan langkah yang merdeka.
Lima tahun telah berlalu sejak malam yang mendebarkan di Singapura. Lima tahun sejak dunia pertama kali mendengar nama seorang pemuda yang berlari dengan aroma kotoran kambing dan doa ibu yang tak terputus. Pagi ini, Desa Karangjati tidak lagi sesunyi dahulu. Jalanan aspal yang dulunya berlubang kini telah mulus, dan di pinggir desa, sebuah kompleks bangunan modern berdiri megah namun tetap menyatu dengan alam.
Kompleks itu bernama "Pusat Pelatihan Atletik Tegar-Tulus".
Di depan gerbang utama, sebuah patung perunggu berdiri tegak. Bukan patung seorang pelari yang sedang membusungkan dada di garis finish, melainkan patung dua orang pria: satu berdiri tegap dengan sepatu lari yang tergantung di lehernya, dan satu lagi duduk di kursi roda sambil memegang sebuah buku catatan. Di bawahnya tertulis kalimat sederhana yang kini menjadi kutipan paling terkenal di dunia olahraga Indonesia: "Kaki mungkin terbatas, tapi mimpi tidak punya garis finish."
Ingatan masyarakat masih segar tentang apa yang terjadi dua tahun setelah kemenangan di Singapura. Tulus tidak hanya berhenti di tingkat Asia. Ia melaju ke Olimpiade di Los Angeles sebagai pelari independen pertama yang mendapatkan dukungan penuh dari komite atletik dunia setelah skandal pemalsuan dokumen yang dilakukan Salim terungkap sepenuhnya ke publik.
Di Los Angeles, Tulus bukan lagi anak desa yang gugup. Ia adalah predator di lintasan. Dunia terpaku saat ia berdiri di samping para raksasa dari Jamaika dan Amerika Serikat. Di final 100 meter putra, Tulus mencatatkan waktu fantastis: 9.72 detik. Angka itu bukan hanya memecahkan rekor Asia, tapi juga membawanya meraih medali emas Olimpiade pertama untuk nomor lari jarak pendek bagi Indonesia.
Saat ia berdiri di podium tertinggi, air mata Tulus mengalir deras. Ia tidak hanya melihat bendera Merah Putih berkibar, ia melihat wajah Ibunya di tribun penonton yang terbang jauh dari desa untuk pertama kalinya. Di samping Ibunya, Tegar duduk dengan kursi roda elektriknya, berteriak sekencang mungkin hingga suaranya serak.
Kemenangan itu mengubah segalanya. Tulus pulang bukan sebagai buronan administrasi, melainkan sebagai pahlawan nasional. Federasi yang dulu sempat membuangnya kini bertekuk lutut, melakukan pembersihan besar-besaran di jajaran pengurusnya. Salim sendiri telah divonis hukuman penjara atas kasus korupsi dan pemalsuan dokumen negara, sementara Revan, anaknya, memilih jalan yang berbeda. Revan kini menjadi manajer tim atletik profesional yang bekerja sama dengan Tulus untuk membangun akademi di desa mereka.
***
Tulus berjalan menyusuri lintasan tartan berwarna biru yang kini melingkari sebagian area persawahan di desanya. Ia tidak lagi menggunakan sepatu lari yang solnya menipis. Ia menggunakan sepatu hasil kolaborasi dengan merk olahraga ternama yang dinamai seri "The Tulus Wings".
"Lus! Jangan melamun! Anak-anak sudah menunggu!" teriak sebuah suara dari kejauhan.
Tulus menoleh dan tersenyum. Tegar sedang mengarahkan sekelompok remaja dari berbagai penjuru daerah. Mereka adalah anak-anak dari keluarga kurang mampu yang memiliki bakat lari luar biasa. Tegar, dengan buku catatan digitalnya sekarang, telah menjadi kepala pelatih teknis dan analisis. Ia dikenal sebagai "The Brain" di balik setiap medali yang dihasilkan akademi mereka.
"Siap, Kak!" Tulus berlari kecil menghampiri kakaknya.
Di lapangan itu, ada sekitar lima puluh anak yang sedang melakukan pemanasan. Mereka tidak lagi dipandang sebelah mata. Di sini, administrasi adalah hal nomor dua; bakat dan kejujuran adalah yang utama.
"Bagaimana progres si Budi?" tanya Tulus sambil menunjuk seorang anak bertubuh kurus dari pelosok NTT.
"Luar biasa. Catatan waktunya untuk 60 meter pertama sudah mendekati catatanmu saat di Singapura dulu. Dia punya explosive power yang langka. Hanya saja, dia masih sering menoleh ke belakang saat lari. Aku sedang melatih mentalnya agar hanya fokus pada garis depan," jelas Tegar dengan antusias. Matanya berbinar, sama seperti sepuluh tahun lalu saat ia pertama kali melatih Tulus di jalanan desa yang berdebu.
Sore harinya, teras rumah kayu mereka yang kini sudah direnovasi—namun tetap mempertahankan bentuk aslinya—dipenuhi oleh tawa. Andreas duduk di sana, menyesap kopi pahit buatan Ibu. Andreas kini menjabat sebagai Ketua Federasi Atletik yang baru, posisi yang ia terima setelah didesak oleh banyak pihak untuk melakukan reformasi total.
"Siapa yang sangka, ya?" Andreas meletakkan cangkirnya. "Dulu kita bertemu di lorong stadion yang pengap, berurusan dengan preman-preman Salim. Sekarang, kalian punya kerajaan atletik sendiri di tengah sawah."
"Ini bukan kerajaan, Kak Andreas," sahut Tulus sambil duduk di lantai teras. "Ini cuma rumah. Rumah bagi mereka yang dulu seperti saya, yang punya kaki untuk berlari tapi tidak punya jalan untuk melangkah."
Ibu keluar membawa sepiring pisang goreng hangat. Wajahnya tampak jauh lebih muda dan tenang. Beban bertahun-tahun merawat anak yang lumpuh dan memikirkan masa depan Tulus telah terangkat. "Ibu cuma senang melihat kalian berdua rukun. Medali emas itu bagus, tapi melihat Tegar bisa mandiri dengan kursi rodanya dan Tulus tetap rendah hati, itu jauh lebih berharga buat Ibu."
Tiba-tiba, sebuah mobil mewah berhenti di depan rumah. Seorang pemuda turun dengan kemeja rapi. Itu Revan. Ia membawa sebuah map besar.
"Maaf aku terlambat," ujar Revan sambil menyalami Ibu dan yang lainnya.
"Ada berita apa, Van?" tanya Tegar.
Revan membuka map itu. "Proposal pembangunan rumah sakit spesialis ortopedi dan saraf di kecamatan kita sudah disetujui. Aku menggunakan sebagian besar aset pribadi ayahku yang berhasil diselamatkan untuk membiayai ini. Aku ingin... aku ingin ada lebih banyak orang yang bisa sembuh seperti harapan Kak Tegar dulu."
Tegar terdiam sebentar, lalu mengulurkan tangannya. "Terima kasih, Revan. Ayahmu mungkin memberikan luka, tapi kamu memberikan obatnya. Itu lebih dari cukup."
Malam itu, Tulus duduk sendirian di pinggir lintasan lari. Ia memegang medali emas Olimpiade-nya yang ia bawa keluar dari lemari kaca. Di bawah sinar rembulan, medali itu berkilau indah.
Ia teringat saat-saat ia harus lari sembunyi-sembunyi agar tidak ketahuan warga. Ia teringat rasa perih di telapak kakinya karena menginjak kerikil tajam. Ia teringat bagaimana rasanya dianggap "ilegal" dan "sampah" oleh sistem yang korup.
Namun, semua rasa sakit itu kini terasa seperti bumbu yang membuat kemenangannya terasa sangat manis.
Tegar mendekat dengan kursi rodanya. "Belum tidur, Lus?"
"Belum, Kak. Lagi mikir... apa lagi yang harus kita kejar?"
Tegar tertawa kecil, suara tawa yang kini penuh dengan kelegaan. "Kita tidak lagi mengejar apa-apa, Tulus. Kita sekarang berlari untuk memberikan jalan bagi orang lain agar mereka bisa mengejar mimpi mereka sendiri. Itu tugas yang jauh lebih berat daripada lari 100 meter."
Tulus mengangguk. Ia berdiri dan mendorong kursi roda kakaknya perlahan menuju rumah.
"Kak, besok pagi jam empat subuh ya?"
"Tentu saja. Aspal desa mungkin sudah berganti tartan, tapi disiplin kita tidak boleh berganti. Aku akan mencatat setiap detik gerakanmu."