Mimpiku Tergadai Kemiskinan Bapak

Dipisahkan Nasib Disatukan Rasa Sakit

"Saya sudah biasa melarat, Pak. Tapi saya tidak biasa menjadi pengecut," Tulus menoleh ke arah kamera ponsel Andreas. "Untuk seluruh masyarakat Indonesia... nama saya Tulus. Saya berlari tanpa bantuan obat, tanpa bantuan uang suap. Jika 9.89 detik ini harus dihapus karena administrasi kotor, biarlah. Karena bagi saya, garis finish yang sebenarnya adalah saat saya bisa melihat kakak saya tersenyum tanpa rasa malu."

Tegar terisak hebat, namun kali ini bukan isak kesedihan. Ia merasa dadanya penuh. "Itu adikku... itu adikku!"

Tiba-tiba, sesosok pemuda muncul dari kegelapan lorong. Revan. Ia masih menggunakan seragam lari mahalnya, namun matanya sembab. Ia berjalan melewati ayahnya tanpa menoleh.

"Revan? Mau ke mana kamu?" tanya Salim bingung.

Revan berhenti di depan Tulus. Ia melepaskan medali perunggu yang entah bagaimana ia dapatkan karena posisi tiga besar lainnya didiskualifikasi teknis sebelumnya. Ia melempar medali itu ke lantai.

"Simpan bualanmu, Pa," ucap Revan pelan, suaranya sarat kekecewaan. "Aku melihatnya dengan mataku sendiri. Dia bukan manusia. Dia angin. Dan Papa hanya mencoba menangkap angin dengan uang saku Papa yang menjijikkan."

Revan menatap Tulus. "Tulus... lari tadi... itu adalah hal paling indah yang pernah kulihat. Jangan berhenti. Kalau federasi membuangmu, aku yang akan membiayai latihanmu secara mandiri. Bukan sebagai anak Salim, tapi sebagai sesama pelari yang malu karena kalah terhormat."

Salim terduduk lemas di lantai stadion yang dingin. Kekuasaannya runtuh di tangan anaknya sendiri dan keberanian seorang anak desa.

"Lus," panggil Tegar lemah.

Tulus berlutut di depan kakaknya. "Iya, Kak?"

"Ayo pulang. Ibu pasti sudah memasak sayur lodeh kesukaanmu. Kita rayakan kemenangan ini di bawah lampu minyak rumah kita, bukan di bawah lampu sorot yang palsu ini."

Tulus tersenyum lebar. Ia mendorong kursi roda Tegar menjauh dari hiruk-pikuk media, menjauh dari Salim yang hancur, dan menjauh dari kemewahan Jakarta yang ternyata lebih berdebu daripada jalanan desa mereka.

Di pintu keluar stadion, Andreas menepuk bahu Tulus. "Dua minggu lagi ada kualifikasi mandiri untuk kejuaraan di Singapura. Mau ikut?"

Tulus menoleh ke arah Tegar. Tegar mengangguk mantap.

"Tentu saja, Kak Andreas. Tapi syaratnya satu," ucap Tulus jenaka.

"Apa?"

"Buku kusam Kak Tegar harus penuh dengan analisis baru. Karena saya mau lari di bawah 9.80 detik di Singapura nanti."

Mereka tertawa pecah, suara tawa yang membasuh semua luka dan trauma sepuluh tahun lalu. Di bawah langit Jakarta yang mulai memutih karena fajar, tiga pria itu berjalan pulang membawa kemenangan yang tak akan pernah bisa ditulis oleh tinta apa pun di atas kertas: kemenangan atas diri sendiri.

Satu bulan kemudian.

Sebuah paket besar tiba di teras rumah kayu di desa. Tulus membukanya bersama Ibu dan Tegar. Di dalamnya terdapat sebuah kursi roda elektrik terbaru dengan teknologi paling mutakhir, dan sebuah surat tanpa nama pengirim.

“Untuk sang otak di balik 9.89 detik. Teruslah mengasah berlian itu. Dunia belum siap melihat apa yang akan kalian lakukan di Singapura nanti.”

Tegar mencoba kursi itu, matanya berbinar. Ia bisa bergerak dengan kecepatan yang hampir menyamai jalan kaki Tulus tanpa harus menguras tenaga.

"Lus, lihat! Aku bisa mengejarmu sekarang!" seru Tegar kegirangan.

Tulus tertawa, ia mengambil sepatu larinya yang sudah mulai menipis solnya. "Jangan senang dulu, Kak. Karena besok pagi, latihan kita dimulai jam empat subuh. Aspal desa ini sudah rindu dengan hentakan kaki dewa kecepatan."

Ibu hanya bisa menggeleng sambil tersenyum dari balik pintu, melihat kedua putranya kembali menemukan hidup mereka di antara debu dan harapan yang kini telah menjadi nyata.

***

Udara pagi di pesisir desa masih terasa menggigit, namun bagi Tulus, dingin adalah kawan lama. Napasnya teratur, membentuk uap putih tipis setiap kali ia mengembuskan napas. Di sampingnya, suara motor listrik dari kursi roda baru Tegar mendesing halus. Kursi roda itu bukan sekadar alat bantu; itu adalah simbol bahwa martabat mereka tidak bisa dibeli, namun prestasi mereka diakui oleh sosok misterius yang mereka duga adalah Revan yang sedang menebus dosa ayahnya.

"Fokus pada drive phase-mu, Lus! Condongkan badanmu sedikit lagi ke depan di sepuluh meter pertama. Jangan terburu-buru tegak!" teriak Tegar. Tangannya memegang stopwatch digital, matanya tak lepas dari setiap pergerakan otot paha adiknya.

Tulus tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk kecil, lalu kembali meledak dari posisi starting block darurat yang ia buat dari bongkahan kayu yang dipaku ke tanah.

Drap! Drap! Drap!

Hentakan kakinya membakar aspal desa yang kasar. Di kepalanya, ia tidak lagi membayangkan wajah licik Salim atau sorot lampu Stadion Madya. Ia membayangkan lintasan biru di National Stadium Singapura yang akan ia injak satu minggu lagi. Ia berlari bukan untuk membuktikan Salim salah—karena dunia sudah tahu itu melalui video Andreas—tapi ia berlari untuk membuktikan bahwa kebenaran memiliki kecepatannya sendiri.

Keberangkatan yang Sunyi

Keberangkatan mereka ke Singapura tidak dilepas oleh upacara resmi federasi. Tidak ada jaket seragam merah-putih dengan logo Garuda yang mengkilap di dada. Status administrasi Tulus masih "digantung" oleh birokrasi yang terluka akibat skandal Salim. Namun, Andreas tidak tinggal diam. Mantan pelari nasional itu menggunakan seluruh tabungan dan koneksinya untuk mendaftarkan Tulus melalui jalur undangan mandiri.

"Kita berangkat sebagai 'Tim Independen'," ujar Andreas saat mereka berada di ruang tunggu bandara. Ia mengenakan kaos hitam polos, senada dengan Tulus dan Tegar. "Tidak ada negara yang membiayai kita, tapi seluruh rakyat yang menonton video itu di media sosial mendoakan kita. Itu beban yang lebih berat daripada sekadar membawa medali emas, Lus."

Tegar duduk di kursi roda elektriknya, memangku tas berisi sepatu lari Tulus dan buku catatan kusamnya yang kini sudah bersampul baru. "Kita tidak butuh restu orang-orang yang duduk di balik meja kayu jati itu, Kak Andreas. Kita punya restu dari aspal yang sering kita injak dengan keringat."

Di sudut bandara, seorang pemuda bertopi rendah dan bermasker mendekat. Ia meletakkan sebuah amplop cokelat di samping tas Andreas tanpa mengucap sepatah kata pun, lalu berbalik pergi dengan langkah cepat.

Tulus mengenali postur itu. "Revan?" bisiknya.

Andreas membuka amplop itu. Isinya adalah tiket pesawat kelas bisnis untuk Tegar agar kakinya tidak kram selama penerbangan, serta secarik kertas pendek: “Lari untuk mereka yang tidak punya suara. Ayahku mungkin masih berkuasa di kertas, tapi kamu berkuasa di lintasan. Sampai jumpa di garis finish.”

Tulus menatap punggung Revan yang menghilang di kerumunan. Ada rasa hormat yang tumbuh di antara dua pemuda yang dipisahkan oleh nasib namun disatukan oleh rasa sakit yang sama terhadap sosok Salim.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!