Mimpiku Tergadai Kemiskinan Bapak
Restu dari Bapak
"Lebih baik cacat kaki daripada cacat mimpi, Bu."
Tegar berdiri, meninggalkan Ibunya yang terpaku di lantai dapur. Ia masuk ke kamar, melihat Tulus yang pura-pura tidur. Di bawah dipan, kotak kayu itu masih melompong. Kosong. Seperti harapan Tegar malam itu.
Keesokan paginya, sebelum matahari benar-benar bangun, Tegar sudah berada di luar. Ia tidak menuju sumur. Ia menuju jalanan setapak yang kemarin membuatnya celaka. Dengan kaki yang dibalut kain perca bekas daster Ibu yang sudah robek, ia mencoba melangkah.
Satu langkah... nyeri.
Dua langkah... berdenyut.
Tiga langkah... ia mulai mencoba berlari kecil.
"Ugh!" ia tersungkur di atas embun yang membasahi rumput.
"Mau sampai kapan kamu menyiksa diri sendiri, Gar?"
Tegar menoleh. Di bawah pohon kemiri yang meranggas, berdiri sosok pria dengan jaket olahraga biru. Coach Hendra. Di tangannya, ia memegang sebuah bungkusan plastik hitam.
"Coach? Kenapa jam segini sudah di sini?"
"Saya tahu kamu pasti nekat. Anak seperti kamu nggak akan menyerah cuma karena beberapa jahitan." Coach Hendra mendekat, lalu menyodorkan bungkusan itu.
Tegar menerimanya dengan tangan gemetar. Di dalamnya, ada sepasang sepatu lari. Bukan sepatu baru, warnanya sudah agak kusam, tapi solnya masih sangat tebal dan kuat.
"Itu sepatu saya waktu pertama kali ikut kejurnas sepuluh tahun lalu. Ukurannya mungkin agak besar, tapi bisa kamu sumpal pakai kain. Itu lebih baik daripada lari pakai kulit telanjang."
Air mata Tegar tumpah. "Tapi Coach... Bapak... Bapak nggak akan izinkan."
"Siapa bilang?"
Sebuah suara berat muncul dari balik semak. Bapak berdiri di sana, masih dengan sarung yang dikalungkan di leher. Wajahnya tidak lagi segarang kemarin. Di tangannya, Bapak memegang sebuah amplop lusuh.
"Pak?" Tegar terpaku.
Bapak berjalan mendekat, menatap sepatu tua di tangan Tegar, lalu menatap mata anaknya dalam-dalam. "Kemarin malam, Coach Hendra datang ke rumah saat kamu sudah tidur. Dia bicara banyak sama Bapak."
Bapak menyodorkan amplop itu. "Ini uang hasil jual sepatumu kemarin. Masih utuh. Bapak belum sempat belikan obat Tulus karena Kang Mulyo baru kasih uangnya sore tadi."
Tegar bingung. "Lalu... obat Tulus gimana, Pak?"
Bapak menghela napas panjang, matanya menatap langit subuh yang mulai memerah. "Tulus yang minta. Semalam dia nangis-nangis. Dia bilang, dia lebih baik sesak napas daripada melihat kamu lari sambil berdarah-darah. Dia bilang... dia ingin lihat kamu menang di televisi kota."
"Pak..."
"Pakai sepatu itu, Gar. Lari secepat yang kamu bisa. Tapi ada satu syarat." Bapak menjeda kalimatnya, wajahnya kembali mengeras.
"Apa, Pak?"
"Kalau kamu tidak bawa pulang medali, jangan pernah panggil aku Bapak lagi. Dan satu hal lagi..." Bapak menunjuk ke arah jalanan desa yang mulai ramai. "Kepala Desa sudah mendaftarkan anaknya sebagai penggantimu di daftar utama provinsi. Katanya, kamu sudah didiskualifikasi karena cedera."
Dunia Tegar kembali berputar. "Apa? Tapi Coach..."
Coach Hendra mengepalkan tinjunya. "Itu sebabnya saya ke sini subuh-subuh. Kita harus berangkat ke kantor panitia di kabupaten sekarang juga sebelum datanya dikunci jam delapan pagi. Tapi masalahnya, jalan utama desa sudah ditutup warga karena ada acara bersih desa Pak Kades. Kita nggak bisa lewat sana pakai motor."
"Terus lewat mana, Coach?" tanya Tegar panik.
Coach Hendra menunjuk ke arah tebing curam di balik bukit. Jalur tikus yang dipenuhi cadas tajam dan tanjakan ekstrem. Satu-satunya jalan pintas menuju kabupaten.
"Lewat sana. Dan kamu harus lari, Gar. Karena motor nggak akan kuat nanjak di sana."
Tegar melihat kakinya yang dibalut kain perca. Ia melihat sepatu tua pemberian Coach. Lalu ia melihat Bapaknya yang kini menatapnya dengan penuh harap.
"Lari, Tegar! Buktikan kalau kaki anak miskin ini lebih cepat dari penguasa desa!" teriak Bapak.
Tegar memakai sepatu itu secepat kilat. Rasa sakit di jahitannya masih ada, tapi adrenalinnya jauh lebih besar. Ia mulai berlari menuju tebing. Namun, baru beberapa meter berlari, ia melihat sosok Tulus berdiri di kejauhan, melambaikan tangan dengan lemas sebelum tiba-tiba tubuhnya ambruk ke tanah.
"TULUS!" teriak Tegar.
Ia berhenti. Di depannya adalah jalur menuju impiannya. Di belakangnya, saudara kembarnya jatuh tak sadarkan diri.
Tegar terpaku di tempat. Pilihannya hanya satu: Terus lari demi masa depan, atau berbalik demi nyawa saudaranya?
Lalu, sebuah suara ledakan terdengar dari arah jalan desa, diikuti kepulan asap hitam.
Tegar membeku, pandangannya terbagi antara saudaranya yang ambruk dan kepulan asap hitam di jalan desa. Jantungnya bergemuruh, seolah ikut meledak. Otaknya memerintahkan kakinya untuk berlari, namun kali ini bukan untuk mencapai impiannya, melainkan untuk kembali, menyelamatkan Tulus.
"Tulus!" teriak Tegar lagi, suaranya serak. Ia memutar tubuh, mengabaikan nyeri di kakinya, mengabaikan tatapan Coach Hendra yang penuh kekecewaan, dan yang terberat, tatapan Bapak yang kini memudar harapannya.
Namun, sebelum Tegar sempat melangkah, sebuah tangan kekar mencengkeram bahunya.
"Jangan, Gar!" Coach Hendra menahan. "Tulus ada Bapakmu. Dia akan baik-baik saja."
Tegar memberontak. "Tapi Coach, Tulus jatuh! Dia butuh aku!"
"Dan impianmu juga butuh kamu!" Bapak tiba-tiba menyahut, suaranya lebih keras dari yang pernah Tegar dengar. "Lari, Tegar! Bapak akan urus Tulus. Kamu harus pergi!"
Tegar menatap Bapak. Wajah keriput itu kini basah oleh air mata, namun sorot matanya tajam, penuh tekad. Ada pesan yang Tegar tangkap: ini bukan hanya tentang dirinya, tapi juga tentang kehormatan keluarga, tentang melawan ketidakadilan. Ledakan di jalan desa, penutupan jalan, pendaftaran anak kepala desa sebagai pengganti... semua itu bukan kebetulan. Ini adalah perang yang harus Tegar menangkan.
"Tapi Bapak..."
"Pergi, Tegar!" Suara Bapak bergetar, namun tegas. "Buktikan pada mereka siapa Tegar yang sebenarnya!"
Tegar melihat ke arah Tulus sekali lagi. Bapak sudah bergegas menghampiri Tulus, mencoba membangunkan adiknya. Ada rasa sakit yang tak terhingga melihat Tulus tak berdaya, namun kepercayaan di mata Bapak memberinya kekuatan. Tegar menghela napas panjang, mengepalkan tinjunya, lalu berbalik.
"Baik, Pak! Aku akan lari!" teriak Tegar, suaranya memantul di antara bukit.
Ia mulai berlari. Kakinya terasa perih, balutan kain perca di pergelangan kakinya terasa longgar, namun sepatu tua dari Coach Hendra memberinya cengkeraman yang kuat di tanah. Ia tidak berlari, ia terbang. Melintasi embun yang dingin, melewati semak belukar yang basah, menuju tebing curam yang kini menjadi satu-satunya jalannya.
Coach Hendra mengejar di belakangnya, kakinya yang panjang dan napasnya yang terlatih memudahkan langkahnya.
"Ayo, Gar! Ikuti saya! Jangan lihat ke bawah, fokus ke depan!" teriak Coach.
Tanjakan pertama terasa seperti neraka. Tanah liat yang licin, akar-akar pohon yang mencuat tajam, dan kerikil-kerikil lepas siap menjatuhkannya kapan saja. Tegar terhuyung, namun ia tidak jatuh. Setiap kali ia merasa lelah, bayangan Tulus yang ambruk muncul di benaknya, disusul suara Bapak yang penuh harap. Ia tidak bisa mengecewakan mereka.
"Lebih cepat, Gar! Kita hanya punya waktu kurang dari dua jam!" Coach Hendra terus memotivasinya.